Wisang Geni Part Two Bab 7 bag 3

Posted on 10 Juli 2014 ( 0 comments )


Sekar menunggang si Dawuk tanpa tujuan.

Dia mengarah ke Barat, berpikir akan memutar ke Utara menuju Lemah Tulis. Tapi apa yang akan diperbuat di Lemah Tulis, siapa yang sanggup menolong Wisang Geni?

Tiba-tiba dia teringat dua neneknya, Dewi Obat dan Sapu Lidi di Lembah Cemara. Seketika pikirannya jernih, dua neneknya pasti bisa menolong.

“Aku harus cepat, harus lolos dari kejaran Gayatri dan laki-laki itu.” Sekar menangis terisak-isak. Niatnya menuju Timur ke Lembah Cemara tetapi dia membiarkan kudanya berlari ke Selatan, menjauh dari tempat kejadian.

Air mata mengalir deras menyusur pipinya yang halus.

Dia tidak tahu misteri dalam tubuh suaminya. Darah Wisang Geni mengandung anti racun yang dipasok guru Waragang sejak kecil. Anti racun ini mulai menolak racun dingin kalajengking biru Arjapura. Tenaga wiwaha meskipun sangat kecil ikut memerangi bisa racun dingin pukulan si Jubah Hitam.

Misteri inilah yang menyelamatkan nyawa Wisang Geni. Tetapi hanya sementara, untuk sembuh diperlukan pengobatan khusus.

Sekar meraba nadi leher suaminya yang masih dalam keadaan belum sadar. Kondisi suaminya sangat lemah, nyaris tak ada tanda kehidupan. “Celaka.” Katanya.

Dia menghentikan kuda, melompat dan menggendong suaminya turun, membaringkan di rerumputan di balik batu besar. Dia menempelkan tangan ke punggung suaminya. Ketika mengibas dua tangan mengerahkan tenaga-dalam, tanpa sengaja tangannya membentur tabung kecil yang dia sembunyikan di belahan dadanya.

Seketika dia teringat Susmita. Beberapa waktu lalu di Welirang, Susmita memberinya tabung kecil. “Ini pil penyambung nyawa. Orang yang sekarat  jika makan pil ini usianya akan nyambung lima atau sepuluh hari. Terimalah Sekar, dua untukmu, aku masih punya lima buah, mungkin suatu waktu kamu butuh ini.”

Sekar merogoh saku, mengeluarkan pil dari tabung. Bentuknya kecil, keras putih mengilat seperti batu pualam. Suara Susmita seperti masih mengiang di telinganya. “Pil ini keras karena sudah beku, kamu basahi dengan liur dalam mulutmu, kerahkan tenaga panas. Pelan-pelan dia akan lumer. Telan, maka kamu akan tahu khasiatnya.”

Tangannya menimang-nimang pil pualam itu.

Dia mengingat pengkhianatan Gayatri. “Mereka sama-sama dari Himalaya, tapi tak mungkin Susmita menipu aku, apa untungnya dia menipu? Selama ini dia bersahabat denganku, tak  mungkin dia menipuku.”

Sekar tahu dia tak punya banyak waktu untuk berpikir. “Kalau harus mati oleh tipuan Susmita, biarlah aku mati bersama suamiku. Tak perlu takut, Seno juga berada di tangan  nenek, tak ada yang perlu aku risaukan. Tapi Anggreni di Welirang, kasihan dia. Bapaknya sekarat dilukai dan dikhianati ibunya.”

Dia masukan pil dalam mulut lalu mengerahkan tenaga panas. Saat kemudian pil lumer. Rasanya dingin, amat dingin. Dia memegang mulut suaminya. Jarinya membuka paksa lalu  dia mencium dan mendorong lumeran obat menerobos mulut suaminya.

Lumeran obat tidak tersisa sedikitpun dimulutnya. Tapi rasa dingin masih melekat di lidah, dia menelan ludah. Sedikit bekas pil penyambung nyawa tertelan olehnya.

“Masih ada satu pil lagi. Mungkin akan dibutuhkan nanti. Kalau ini racun, biarlah kita berdua mati sambil berpelukan. Oh Geni jangan mati, aku masih ingin menikmati hidup di sisimu.” Bisik Sekar sambil memeluk erat dan menciumi wajah suaminya.

Beberapa saat berlalu Sekar masih rebah disamping suaminya, tangannya memeluk dan mengurut tubuh kekasihnya sambil mengerahkan tenaga-dalam.

Tiba-tiba dia merasa tubuhnya segar, ada semacam tenaga halus menyebar di sekujur tubuhnya. Rasanya sejuk, dingin yang nikmat. Apa itu?

Pikirannya masih bertanya-tanya, ketika dia mendengar suara suaminya.

“Sekar, bawa aku ke lembah kera. Aku mau dikubur di samping guru Lalawa.”

Terkejut. Sekar melepas pelukannya. Dia memandang suaminya. Mata Wisang Geni masih terpejam. Terdengar bunyi nafasnya. Wisang Geni belum mati.

“Oh Susmita, maafkan kalau aku curiga padamu, terimakasih obatmu telah menolong suamiku.” Bisik Sekar.

Bibir lelaki itu bergerak pelan. “Lembah kera di bukit Lejar.”

“Iya suamiku. Aku tahu tempatnya, kamu telah menceritakan pengalamanmu di lembah kera padaku. Letaknya sudah terekam dalam benakku, bagaimana dengan lukamu?”

“Tidak tahu. Lengan dan tubuh bagian kananku mati rasa, ada dua jenis rasa dingin dalam tubuhku, yang satu sangat dingin bagaikan gergaji yang mengiris daging, otot dan tulangku, satunya lagi dingin sejuk, sungguh aneh.”

Pil mujarab Susmita yang dingin sejuk mulai membangkitkan tenaga wiwaha dan anti-racun dalam tubuh Wisang Geni dan membendung racun dingin kalajengking biru.

“Geni, dingin yang satu racun pukulan musuh, dingin yang sejuk itu pil salju pemberian Susmita. Jangan bicara lagi, aku bantu dengan tenaga dalam.” Berkata demikian Sekar memaksa suaminya duduk. Dia menempel tangannya ke dada Wisang Geni. Lalu tenaga segoro membanjir keluar menerobos ke dalam tubuh suaminya.

Sepenanakan nasi berlalu. Sekar memandang mesra wajah suaminya. Tampak wajah berewokan itu mulai berkeringat.

Sekar menunggang si Wulung, satu tangannya mengendali kuda, satu lainnya melingkar memeluk Wisang Geni yang duduk di depannya.

“Bagaimana tenagamu?” Tanya Sekar.

“Tak ada tenaga, lumpuh. Aku lebih lemah dari orang biasa. Racun dingin Arjapura sangat dahsyat, racun itu gabung dengan pukulan dingin Gayatri semakin merusak tenagaku. Kupikir, obat Susmita itu hanya bertahan beberapa hari.”

“Aku akan meracik ramuan nenek, obat yang pernah menyelamatkan kamu dulu. Aku yakin kamu akan sembuh. Tapi mengapa ke Lembah Kera, bukankah ke rumah nenekku lebih bagus. Dia bisa menyembuhkan lukamu.”

Wisang Geni tersenyum pahit. “Aku hidup dan selamat jika berada di Lembah Kera, atau kalau memang harus mati kuburkan aku di samping kuburan guru Lalawa. Itu sebabnya kamu harus membawaku ke Bukit Lejar,  kamu mau …?”

Sekar mencium leher suaminya, berbisik mesra. “Kemana kamu perintah, aku manut suamiku. Aku isteri yang tak punya apa-apa selain cinta dan kesetiaanku padamu. Jika kamu mati aku ikut mati, aku tak mau hidup merana mengenang dan merindu kamu. Kita akan berkuda terus sampai malam hari lalu istirahat.”

“Seandainya aku pingsan dalam perjalanan, tetaplah menuju bukit Lejar. Kamu harus berburu waktu, ajal sedang memburuku. Rasanya hidupku telah tiba di penghujung jalan, aku hanya mau mati di sisi makam guru Lalawa.”

Wanita itu menangis.

Airmatanya membasahi pipinya. “Jangan mati Geni. Jangan tinggalkan aku. Apa yang tersisa bagiku jika kamu mati? Berjanjilah untuk berjuang hidup, demi aku, demi Sekar.”

Tak pernah selamanya Wisang Geni merasa tidak berdaya. “Aku lemah dan tak berdaya, Sekar. Lukaku parah, kini aku lebih lemah dari orang biasa.”

Mereka berhenti dua kali untuk mengisi perut. Sekar menggunakan kesempatan mengumpulkan bahan obat. Setelah meramu lalu memaksa suaminya makan.

Sore hari menjelang gelap, mereka tiba di desa Pagu. Sekar tak mau masuk desa, memilih bermalam di hutan. Esoknya sebelum matahari terbit, mereka melanjut perjalanan, berganti-ganti kuda sehingga mampu menempuh perjalanan lebih cepat.

Dia melecut kudanya secepat mungkin, “Wulung, Dawuk dan Batari, aku harus memaksa kalian. Kita harus berburu  waktu, demi menolong majikanmu.”

Tiga ekor kuda seperti faham situasi kritis memaksa diri berlari secepat-cepatnya. Hari kedua menjelang sore mereka tiba dilereng Barat gunung Kelud. Samar-samar di antara kabut dan embun yang mulai menaungi lereng gunung, Sekar melihat sebuah kuil tua.

“Itu kuil, kuil apa? Apakah ada orang?” bisiknya.

Wisang Geni mendengar bisikan isterinya. Dia menyahut pelahan. “Kalau tak salah itulah kuil Ngancar, kuil pemujaan Batari Laksmi, kuil tua konon tempat para dewa berkumpul.  Mungkin tak ada orang sebab sudah bertahun-tahun tak dikunjungi orang.”

“Kamu tunggu di sini, aku akan menyelidik. Secepatnya aku kembali.” Sekar melompat dari punggung Dawuk, menyeret kuda-kuda itu kebalik batu besar. “Kalian diam,  jangan bersuara.” katanya pada tiga kuda teman setianya.

Matahari sudah hampir terbenam.

Sekar menggelar ringan-tubuh yang paling mumpuni, mengelilingi bagian luar dan bagian dalam kuil. Ternyata benar  kuil itu kosong. Karena telah lama tidak dikunjungi orang, kuil tampak porak poranda. Di sana sini dedaunan kering dan debu berserak, udara juga pengap.

Dia kembali menemui Wisang Geni. Menurunkan suaminya dari punggung kuda lalu memapahnya ke ruangan dalam kuil.  “Kita bermalam di sini. Esok pagi sebelum matahari terbit, kita langsung menuju Bukit Lejar.” Sekar berkata lirih kepada suaminya.

(Bersambung ke Bab 8 bag 1)

 

*** 



Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com