Wisang Geni Part Two Bab 7 bag-1 John Halmahera
Posted on 08 Juli 2014 ( 0 comments )
Beralih pada Gayatri. Beberapa saat sebelum melukai suaminya dengan serangan gelap, benak dan perasaan Gayatri diliputi rasa benci. Pengaruh sihir dan doktrin Arjapura telah menyalin pikirannya menjadi seorang asing. Dia bukan lagi Gayatri yang dulu.
Cintanya yang begitu besar pada suaminya tumpang-tindih dan campur baur dengan dendam dan kebencian. Dibenaknya masih terngiang suara Arjapura, yang selama beberapa hari mengiang di telinganya. “Dia menipu kamu, gurunya membunuh kakekmu, dia suami yang jahat, pukul dia, bunuh dia!”
Sesaat ketika berlari memeluk suaminya, rasa cinta dan kangen menguasai pikirannya. Tapi saat berikut telinganya mendengar bentakan keras bagai guruh di siang bolong. “Pukul sisi perutnya Gayatri! Pukul dia Gayatri!” Itulah bentakan Arjapura sang majikan yang menggunakan ilmu pendam suara tapi yang dialiri tenaga sihir.
Dan Gayatri yang selama sepuluh hari menjadi budak Arjapura dan yang pikirannya sudah dikuasai Arjapura, secara tidak sadar mengerahkan segenap tenaganya dan memukul sisi perut suaminya.
Ketika pukulannya mengena seketika dia gembira. Saat berikut dia terpahna menatap wajah heran suaminya yang bertanya kepadanya, “mengapa kamu memukul aku?”
Dia mundur dua langkah.
Niatnya akan menyerang dengan jurus susulan, tertunda. Dia bingung. “Mengapa aku memukul suamiku?” Bisiknya. Tetapi dia tak menemukan jawaban.
Saat itulah pukulan maut Sekar menerjangnya. Jurus cumangkrama yang digelar dengan tenaga-dalam segoro ciptaan Nenek Sapu Lidi tak bisa dianggap main-main.
Sesaat bingung saat berikutnya Gayatri sadar sepenuhnya. Tak punya waktu untuk berkelit dia terpaksa mengerahkan segenap tenaga-dalam menahan gempuran Sekar.
“….Deeesssss” dua pukulan saling bentur.
Gayatri melempar diri dua meter ke belakang, guna menghindari luka dalam. Dia memang kalah tenaga. Untuk sesaat Gayatri tak mampu bergerak, dia harus menenangkan tenaga-dalamnya yang kalang kabut.
Lain hal dengan Sekar, benturan itu tak memengaruhi tenaga-dalamnya.
Mengandalkan tenaga-dalam segoro dan ringan tubuh wimanasara dia meminjam tenaga benturan untuk melayang ke arah lain. Meluruk ke laki-laki jubah hitam.
Mengulang beberapa detik ke belakang.
Pada saat Sekar berteriak ”heeeiiii” saat itu Manohara dan Prawesti masih belum sadar apa yang terjadi. Ketika Sekar berkelebat menyerang Gayatri sambil berteriak memeringati suaminya dari serangan Arjapura, ”Geni awassss!!” Saat itulah mereka sadar bahaya maut mengancam Wisang Geni.
Kejadian itu sangat cepat. Terpaut lima meter dari suaminya, Prawesti dan Manohara nyaris kejang saking kagetnya. “Mas Geni awasss …..” teriak Manohara.
“Geni aku datang !!” Teriak Prawesti. Tak hanya berteriak, dia menghambur maju. Manohara yang berdiri di sampingnya ikut menyerang, memotong serangan Arjapura.
Gerakan dua macan betina terlambat.
Mereka datang setelah Wisang Geni terkena pukulan maut Arjapura. Namun kedatangan keduanya dengan serangan ganas telah menolong jiwa Wisang Geni, karena menggagalkan serangan susulan Arjapura. Kalau saja serangan susulan Arjapura melanda Wisang Geni, dipastikan pendekar Lemah Tulis itu akan tewas.
Dua macan betina ini meluruk langsung ke Arjapura karena melihat pendekar Himalaya ini telah melukai Wisang Geni yang mundur sempoyongan sambil muntah darah segar.
Demi mencegah serangan susulan, mereka menyerang dengan pukulan paling mematikan. Menyerang tanpa memikirkan pertahanan. Bertindak secara naluriah didasari cinta dan kesetiaan untuk menyelamatkan sang suami. Bela pati!
Sekar bukan sembarang pendekar, dia telah mewarisi seluruh ilmu Nenek Sapu Lidi dan mendapat banyak petunjuk Wisang Geni sehingga ilmu silatnya jauh lebih mumpuni. Karenanya gerak Sekar secara naluriah itu sangatlah pesat. Tampak hebatnya ringan-tubuh wimanasara yang dilatih di tengah amuk ombak segoro kidul.
Saat itu pikiran yang menjadi sumber gerak Sekar yang serba cepat dan telengas hanya terpusat pada menolong menyelamatkan suaminya.
Selang satu detik, Sekar sampai di dekat suaminya. Tapi dia tak keburu mencegah pukulan pertama Arjapura yang lantas melanda lengan bagian atas Wisang Geni.
“Daaaasssss ….” Lengan Wisang Geni mengeluarkan asap. Pukulan dingin yang saking dinginnya seperti ledakan salju.
Terdengar suara Wisang Geni, “Uuuuhhh…”
Pada saat yang sama dalam keadaan melayang Sekar meraup batu kerikil dari tanah. Lima batu kerikil melesat ke tapak tangannya. Dalam keadaan biasa, gerakan melayang di udara sambil meraup kerikil dari tanah, belum tentu bisa dia lakukan. Tapi saat itu gerakannya sempurna. Kerikil itu lantas disambit ke arah Arjapura. Seluruh tenaga-dalam segoro menerbangkan kerikil yang melesat membawa angin keras.
Arjapura kaget setengah mati. Dia batal menyerang susulan.
Itulah yang dimau Sekar.
Dia tahu tak sempat menangkis bokongan Arjapura, tapi masih bisa mencegah serangan susulan. Masih dalam gerak melayang dia mengirim pukulan keras dari jurus mawunyangken (menyakiti hati). Perbedaan melempar kerikil dengan pukulan itu hanya satu detik. Susulan yang nyaris berbarengan.
Dua serangan itu dilakukan dengan cepat dan ganas. Selama hidupnya Sekar jarang terlibat tarung adu nyawa, tapi kali ini justru jauh lebih penting dari sekedar adu nyawa.
Baginya Wisang Geni jauh lebih penting dari siapa pun di muka bumi. Bahkan lebih penting katimbang dirinya sendiri. Kesetiaannya sebagai isteri berwujud dalam serangan bela pati. Dia harus selamatkan suaminya.
Dan serangan itu bertujuan merebut waktu untuk menolong suaminya.
Apa yang telah dia lakukan tak akan bisa ditiru siapa pun, bahkan dirinya sendiri tak akan mampu mengulang semua gerakannya itu. Besarnya cinta pada suaminya menjadikan dia pendekar sangat digjaya dalam sekian detik itu.
Wisang Geni berada antara sadar dan pingsan.
Tenaga-dalamnya berantakan. Pukulan Gayatri telah melumpuhkan dirinya. Serangan Arjapura yang mengena telak lengan atasnya telah mengguncang seluruh tubuhnya.
Tenaga wiwaha kini terkubur. Tak ada lagi yang tersisa.
Racun dingin Himalaya sudah merangsek ke dalam tubuhnya, menerobos semua jalan darahnya. Dia tahu ajalnya sudah dekat.
Dia melihat sosok isterinya yang melayang ke arahnya. Dia sempat berbisik, ”Sekar pergi selamatkan dirimu, selamatkan anakku.” Lalu pandangannya gelap, hitam pekat diwarnai kebyar bintang-bintang kecil. Pikirannya kosong.
Seketika Wisang Geni merasa tubuhnya lemas, limbung, akan rubuh.
Saat itu pikiran Sekar hanya dipenuhi siasat menolong suaminya. Dia mendengar bisikan suaminya. Keinginan untuk adu jiwa dan bela pati, dia singkirkan.
Bisikan itu memastikan nyawa suaminya berada di ujung tanduk. Luka parah. Tampak ketika Wisang Geni muntah darah. Merah dan segar. Itulah tanda luka parah. Sekarat.
Sekar tahu satu detik pun sangat berarti. Tak ada gunanya bertarung bela pati, melawan Gayatri dan laki-laki jubah hitam itu. Lebih penting adalah menolong suaminya.
“Lari! Lari bersama Geni!” Teriak pikirannya. Selanjutnya bertindak secara naluriah dilandasi kecerdasannya. Dia bersiul panjang dua kali, memanggil kudanya si Dawuk.
Beralih pada Arjapura.
Hanya sesaat Arjapura gembira. Saat berikut dia sibuk mengelak dari sambitan kerikil Sekar yang mengarah mata, pelipis, jantung, leher dan alat jantan. Dia tak pernah menyangka Sekar memiliki ilmu-silat yang begitu tinggi, karenanya dia sangat terkejut, membuat gerakannya terhambat dan sibuk menghindar.
Selang sesaat kemudian hanya terpaut satu detik serangan susulan Sekar menerjangnya, salah satu pukulan ganas dari 17 jurus sapwa tanggwa digerakkan tenaga segoro itu lebih mengejutkannya lagi, angin pukulan itu terasa bagai air bah yang membawa bencana.
Tapi dia bukan sembarang pendekar, ilmu-silatnya sesungguhnya lebih tinggi dari Sekar. Namun perasaan gembira sesaat atas keberhasilan memukul Wisang Geni berbaur rasa terkejut serangan kerikil Sekar membuat geraknya terhambat.
Detik berikut Arjapura sadar dan pikirannya pulih, dia menyambut serangan Sekar dengan memukul keras. Dua tangannya bergerak ke dua arah, menyerang Sekar dan memukul Wisang Geni.
Dia belum puas hanya memukul Wisang Geni satu kali, dia ingin melumat tubuh musuh pembunuh putra harapannya. Itulah serangan mematikan yang sangat mematikan.
Tapi dia terkejut, angin serangan keras menyerangnya dari dua arah. Dia melirik. Dua wanita, Prawesti dan Manohara menyerangnya dengan ganas.
Prawesti tiba lebih cepat, serangannya ganas mengarah pelipis dan dada Arjapura. “Terimalah jurus Lemah Tulis.” Teriaknya.
Manohara menyerang Arjapura sambil berseru,”Sekar bawa Geni pergi!” Dia tidak lagi memanggil dengan sebutan mbakyu saking kritisnya situasi.
Prawesti ikut teriak. ”Pergi Sekar, pergi! Jangan pikirkan kami, pergi cepat.”
Arjapura mengubah keputusan.
Pukulannya ke arah Sekar tetap dilanjutkan karena itulah pemunah serangan Sekar. Serangan ke arah Wisang Geni dialihkan ke Prawesti.
“Daaaassss …. Daaassss ….” Pukulan Arjapura beradu dengan pukulan Sekar.
Wanita ini sangat cerdik. Bahkan sangat cerdas. Dalam waktu yang sangat singkat itu dia telah merancang jalan lolos bagi suaminya.
Menyerang memukul mundur Gayatri. Menyerang Arjapura dengan sambitan kerikil dan pukulan keras. Bersiul memanggil kuda. Semua dilakukan ringkas, cepat dan saling susul. Ringan tubuhnya pun sangat ungkulan.
Meminjam benturan tenaga Arjapura, dia melesat ke arah suaminya, menjambret lengan Wisang Geni sambil kakinya menjejak tanah dan melayang pergi. Saat itu kudanya berlari di dekatnya. Dengan ringan dia hinggap di punggung si Dawuk, meletakkan tubuh suaminya melintang di pangkuannya. Melecut kudanya.
Dia menoleh ke belakang, berseru, ”adik, kalian cepat lari. Aku pergi!!”
Saat itu dia melihat Prawesti terhuyung mundur sambil muntah darah. Detik berikutnya, Manohara terlempar membentur pohon. Dia tak sempat melihat apakah dua temannya mati atau masih hidup karena Dawuk sudah membawanya kabur dengan kecepatan maksimal.
Suara Sekar tersendat di tenggorokan.
Dia melecut kudanya. Dia berbisik pelan. “Maaf adik-adik, aku ikuti naluri selamatkan Geni.” Tanpa sadar dia menitik air mata. “Mungkin Mano dan Westi mati.”
Tak pernah dia menyangka hanya dalam waktu singkat, keluarganya berantakan. Tapi dia menguatkan diri, melecut si Dawuk menjauhi pertarungan.
Si Wulung kuda tunggangan Wisang Geni seperti punya firasat akan nasib majikannya, ikut kabur mengikuti Dawuk kekasihnya. Uniknya si Putih, Batari, kuda tunggangan Gayatri juga ikut-ikutan kabur bersama, mengikuti Wulung, kekasihnya.
Gayatri yang terpukul mundur oleh Sekar dan harus menenangkan tenaga, pada saat itu tenaganya sudah normal. Dia melesat mengejar ingin menghalangi gerak Sekar. Tapi mana bisa mengimbangi ilmu ringan-tubuh Sekar. Dia melihat tiga kuda berikut Wisang Geni dibawa kabur Sekar. Dia bersiul memanggil si Batari. Tapi kali ini si Putih membangkang, kuda betina ini lebih memilih Wulung dibanding majikan.
Beberapa detik Arjapura tertahan gebrakan tiga pendekar wanita itu. Sehebat apa pun dia tetap saja terhalang. Berturutan dia memukul Sekar dan Prawesti, berlanjut membentur tangan Manohara terus menerobos menghantam dada Manohara.
Prawesti kalah tenaga, terlempar ke belakang sambil muntahkan darah segar. Tubuhnya membentur pohon dan ambruk diakar pohon. Manohara cerdik, menarik senjata keris panjang dan menikam Arjapura.
Terpecah perhatian melihat Sekar berhasil melarikan Wisang Geni dan melihat Prawesti muntah darah, Manohara berteriak, “lari!”
Manohara menangkis, tapi pukulan kedua Arjapura melanda dada. Tubuhnya terguncang terlempar lima langkah, muntah darah dan terjerembab di sisi tubuh Prawesti.
Gayatri menghampiri Prawesti dan Manohara. “Dasar goblok! Mau korban jiwa untuk suami yang tidak mencintai kalian… goblok…” Serunya.
Arjapura menggenggam tangan Gayatri.
“Wisang Geni pasti mati. Tak ada orang bisa hidup kena pukulan racun kalajengking biru.” Dia tertawa keras, sambil menengadah ke langit. “Sudah impas, hutang nyawa bayar nyawa. Dengarlah putraku Wasudeva, ayahmu sudah membalas hutang nyawamu.”
“Wisang Geni mati. Dua isterinya mati. Dibunuh pendekar asing dari Himalaya.” Kabar itu cepat tersiar ke penjuru desa. Semua pendekar mendengar kabar mengejutkan itu. Mendengar kabar itu Kalandara dan dua muridnya lari menuju Barat. Prastawana, Gajah Watu dan beberapa murid juga berlari ke tempat pertarungan.
Tiba di tempat kejadian. Beberapa orang mengelilingi dua tubuh yang terkapar.
Kalandara dan dua muridnya datang lebih awal. Mereka memeriksa Manohara yang tampaknya belum mati tapi sekarat. Selang beberapa detik orang-orang Lemah Tulis menerobos kerumunan. Prastawana memegang nadi Prawesti. Tak ada tanda kehidupan. Prawesti tewas.
“Prawesti mati!” Desis Prastawana.
“Mano adikku jangan mati.” Dumilah menjerit pilu.
“Aku lihat dia dipukul laki-laki asing berjubah hitam,” kata seorang saksi.
“Isteri Wisang Geni yang asal Himalaya bersama laki-laki asing jubah hitam bertarung lawan Wisang Geni dan tiga isterinya.”
“Jubah hitam pergi bersama isteri Wisang Geni yang asal Himalaya.” Kata Saksi lain.
“Isteri yang bernama Sekar melarikan Wisang Geni yang luka parah.”
Kalandara sibuk mengurut Manohara. “Jangan bicara, guru akan menolongmu.”
Terdengar suara lirih Manohara, patah-patah. “Gayatri bertengkar dengan Mas Geni. Laki-laki Himalaya memukul mas Geni secara curang. Kami bertarung. Mas Geni luka parah. Sekar menolong membawa kabur Mas Geni, semoga mereka selamat.”
“Kamu tak boleh mati, guru membantumu.” Kata Kalandara yang tangannya menempel di dada muridnya.
Manohara tersenyum. “Maafkan aku guru.”
“Jangan bicara lagi.” Bisik Kalandara sambil mengerahkan tenaga-dalam, berusaha menolong muridnya.
“Dingin…. Aku dingin…” Tubuh Manohara mengejang, saat berikut wajahnya kaku, dia memejam mata.
“Jangan, jangan mati adikku.” Bisik Kemara dengan isak tertahan.
Manohara tidak menjawab, diam tidak bergerak. Mati.
Kalandara berkata dengan isak tangis. “Mengapa dia mati? Dia masih muda.”
Tiga wanita itu menangis.
Beberapa orang yang mengerumuni ikut merasa sedih.
Gajah Watu, Prastawana dan murid-murid Lemah Tulis ikut berduka. Bagaimanapun juga ketidakcocokan dengan Kalandara, namun mereka tak bisa ingkar bahwa Manohara itu isteri Wisang Geni, sang ketua.
“Kita akan sempurnakan mayat Manohara di rumah kita,” bisik Kalandara.
Tanpa ragu Kemara menggendong mayat Manohara, lalu bersama gurunya dan Dumila meninggalkan desa menuju Lembah Bunga.
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







