Wisang Geni Part Two Bab 6-7
Posted on 29 Juni 2014 ( 0 comments )
Bab 6 (Lanjutan)
Hari ketujuh. Gayatri sudah lupa daratan. Tubuhnya yang tadinya gemuk dan sehat, berubah kurus dengan wajah tirus. Matanya cekung, sinar matanya redup.
Hari itu Arjapura dan Gayatri mampir di warung makan di sebuah desa kecil. Mereka sedang menikmati makanan ketika seorang wanita tua kurus langsing terseok-seok berjalan ke arah warung.
Wanita tua itu mengenakan jubah kuning yang penuh tambalan namun bersih, wajahnya bersih bening dengan rambut hitamnya panjang terurai. Tampak tua namun masih cantik. Wanita itu berhenti di ambang pintu, melihat dalam warung, dan matanya bentrok pandangan Gayatri yang mengawasinya sambil tetap menyuap makanan.
Wanita tua tampak menghela nafas panjang.
“Mengapa nenek tua itu menatap aku?” Bisik Gayatri dalam hati. “Oh dia kelaparan, tidak punya uang membeli makanan, tetapi dia tak mau mengemis sebab bukan pengemis.” Berpikir demikian, timbul rasa kasihan, Gayatri bangkit dari kursinya.
“Mau kemana kamu?” Tanya Arjapura.
“Nenek itu kelaparan, aku mau memberinya makanan.” Gayatri menuju ke meja pemilik warung, mengambil sepinggan nasi dengan ayam bakar, membungkusnya dengan daun waru. Juga air minum satu kendi kecil.
Gayatri menghampiri dan menyodorkan makanan itu kepada si nenek. “Nek, ini makanan, buat bekal di jalan,” kata Gayatri.
“Terimakasih,” kata wanita tua itu sambil matanya yang tajam menatap Gayatri, tatapan yang sejuk dan ramah. “Kasihan. Kamu sakit.” Bisiknya.
Gayatri tersenyum. “Tidak nenek, aku tidak sakit.” Dia melangkah kembali ke meja. Dua langkah, dia menoleh ke belakang. Dia heran, nenek tua itu sudah pergi. Matanya memandang keluar warung, mencari-cari tetapi si nenek tidak kelihatan.
Gayatri duduk kembali melanjutkan makan. Tanpa sadar dia menggumam sendiri, agak keras. “Kemana nenek itu? Aneh, dia bisa menghilang begitu saja?”
Arjapura tidak menanggapi.
Hanya dalam waktu sepuluh hari Arjapura telah menyempurnakan rencananya, mengubah Gayatri dari seorang istri setia yang sangat mencintai suaminya menjadi istri culas yang ingin menghancurkan suaminya.
Hari itu Arjapura mengajak Gayatri ke desa Kandangan. Gayatri tidak bertanya untuk apa ke desa itu, dia sudah manut dan patuh kepada Arjapura bagaikan budak yang nyawanya berada di tangan sang majikan.
Dalam sepuluh hari itu tidak hanya mental pikiran Gayatri yang berubah, juga tubuhnya yang kini lebih kurus dan langsing. Parasnya agak pucat, muram dan kusam. Pipinya cekung, matanya kuyu, pandangannya tidak lagi berseri, tidak bergairah. Namun dia tetap saja Gayatri yang parasnya cantik liar.
“Kita langsung ke Kandangan. Wisang Geni pasti hadir di sana.” Kata Arjapura.
“Pertemuan itu tepat tengah bulan waisaka. Masih ada waktu lima hari,” Jawab Gayatri.
“Baiklah, kita nginap di sini. Kita berangkat satu hari sebelum pertemuan, kita tunggu Wisang Geni di batas desa, sebelum dia bergabung dengan banyak orang, agar lebih mudah membunuhnya.” Dia memegang dua pundak Gayatri, lalu menatap tajam. “Gayatri, kamu sungguh-sungguh ingin membunuh Wisang Geni membalas dendam kakek Lahagawe?”
“Iya, tekadku sudah bulat, dendam kakek harus dituntaskan. Seperti rencanamu, aku akan memukulnya, membuyarkan tenaga dalamnya dan saat itu kamu menyerang dengan jurus maut. Hanya dengan cara itu kita bisa mengalahkan Wisang Geni.” Kata Gayatri.
Arjapura berbisik. “Jangan berubah pikiran, Gayatri.”
Gayatri memeluk Arjapura. “Tapi ilmu-silat Wisang Geni jauh di atas kemampuanku.”
“Akan kuajari cara mengalahkan Wisang Geni.” Bisik Arjapura.
Gayatri makin tenggelam dalam pengaruh sihir dan birahi, memeluk erat Arjapura sambil berbisik. “Benarkah?”
Arjapura tertawa. “Banyak jurus andalanku yang tidak diketahui orang. Mengalahkan dan membunuh Wisang Geni bagiku bukan persoalan sulit. Kamu bisa lihat nanti dalam tarungku dengan penjahat yang sudah memerkosa dan menipu kamu.”
“Aku percaya kamu bisa mengalahkan dia.” Tegas Gayatri.
Arjapura menyusun rencana detail menyerang musuh besarnya. Sebagian dikerjakan Gayatri, sisanya akan dia selesaikan. Sebenarnya dia merasa belum saatnya membunuh Wisang Geni tetapi kesempatan bagus di depan mata, sayang jika dibiarkan lewat.
Bab Tujuh
Tarung Hidup Mati
Satu hari menjelang pertemuan besar tiga perguruan di Kandangan. Di bagian Timur hutan perbatasan desa suasana sepi. Kabut dan embun masih bergantung meski sinar matahari mulai menerangi hutan. Udara sejuk.
Satu kilo menjelang masuk desa tampak Wisang Geni berjalan bersama tiga isterinya, Sekar, Prawesti dan Manohara. Mereka menuntun empat ekor kuda.
Dari jauh terdengar ringkikan kuda. Ternyata Batari, tunggangan Gayatri. Kuda putih itu berlari menghampiri pacarnya, Wulung. Kedua kuda meringkik panjang lalu berlari jingkrak memperlihatkan kegembiraan, lalu menjauh dari rombongan majikannya.
“Itu pasti Gayatri.”seru Manohara.
“Benar perkiraanmu, ternyata kita bertemu Gayatri disini,” tukas Prawesti menjawil lengan Sekar. Tiga perempuan ini berbisik-bisik, tak mau pembicaraan mereka didengar Wisang Geni yang melangkah lima meter di depan.
“Kukira dia ikut pulang ke Himalaya.” Kata Manohara.
Menanggapi gurauan Manohara, Prawesti berbisik. “Sebaiknya memang begitu, di sini dia hanya memancing masalah.”
Sekar diam. Firasatnya berbisik sesuatu bakal terjadi. Jantungnya berdebar-debar. Dia merasa tegang. “Apa? Ada apa?” Bisiknya.
Dari kerimbunan pepohonan, muncul Gayatri dengan langkah gontai. Tubuhnya yang tadinya gemuk tampak kurus dan langsing. Wajah jelitanya tampak memucat ketika dia berjalan cepat, setengah berlari menghampiri Wisang Geni.
Wisang Geni berseru. “Itu dia … Gayatri…”
Gayatri berlari menghampiri suaminya, sambil berseru pelahan. “Mas Geni!”
Wisang Geni melihat laki-laki berjubah hitam yang tadinya jalan berdampingan dengan isterinya, berhenti sesaat lalu melangkah perlahan menghampiri. Terpaut sepuluh meter.
“Siapa dia?” Sesaat Wisang Geni seperti mengenal lelaki itu. Tapi tidak ingat di mana pernah melihatnya.
Saat berikut Gayatri memeluk suaminya. Wajahnya yang jelita tampak berkeringat dan agak pucat, ketika dia berbisik mesra. “Geni, aku rindu ….”
Wisang Geni merangkul isterinya, menghibur. “Lihat aku sengaja mencarimu ….” Dia tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Ada tenaga dingin yang sangat besar menerobos sisi perutnya, menikam dan mengiris bagai pisau gergaji.
Dia terkejut. Seketika dia merasa lumpuh.
Pada saat berbarengan tenaga wiwaha bereaksi menolak. Tapi terlambat.
Pukulan dingin itu telah menekan dan menghalangi reaksi tenaga wiwaha. Bahkan tenaga wiwaha yang biasanya bereaksi spontan terhadap pukulan lawan, kini buyar terpencar, membuat Wisang Geni benar-benar lumpuh.
Saat itulah pikiran Wisang Geni memastikan pukulan dingin itu bersumber dari tangan Gayatri. Dia tak mengerti sebab musabab Gayatri memukulnya.
“Mengapa kamu memukul aku?” Suaranya lirih parau penuh tandatanya dan keheranan.
Tak ada jawaban dari mulut Gayatri yang saat itu mundur dua langkah.
Pikiran Wisang Geni belum normal. Masih bingung. Saat itu matanya menangkap gerakan pesat dari laki-laki berjubah hitam yang datang bersama isterinya. Tiba-tiba dia teringat Wasudeva. “Tapi Wasudeva sudah mati..” Bisiknya.
Seketika dia sadar nyawanya terancam.
Tapi terlambat. Kejadian pukulan Gayatri dan saat Wisang Geni memergoki lelaki jubah hitam menyerangnya, hanya dalam hitungan detik. Terlalu singkat untuk bisa berpikir mengelak atau menghindar.
Dia tak pernah menyangka ada kejadian seperti itu.
Gayatri memukulnya pada saat yang tidak terduga, saat mana pikirannya tidak menaruh curiga. Dia tak pernah curiga pada isterinya, dulu maupun sekarang.
Saat pikirannya kosong, otomatis tenaga wiwaha ikut “tidur”, saat itulah pukulan membokong Gayatri mengena telak membuyarkan tenaga wiwaha, tenaga-dalam yang selama ini menjadi perisai dirinya menghadapi berbagai macam pukulan musuh. Tenaga wiwaha kini cerai berai dalam tubuhnya. Tidak lagi bisa dihimpun menjadi satu kesatuan.
Celakanya, saat bersamaan itu pukulan Arjapura melanda dengan membawa angin dingin. Itulah pukulan racun dingin Himalaya, pukulan mematikan.
“Mampus kau, ini hutang nyawa putraku Wasudeva!!” Teriak laki-laki jubah hitam.
Mendengar seruan si jubah hitam seketika Wisang Geni mengetahuinya sebagai Arjapura, ayah Wasudeva. Tapi mengapa bisa bersama-sama dengan Gayatri, isterinya?
Dia tak sempat berpikir. Saat itu dia tahu persis jiwanya terancam. Tubuhnya masih lemas akibat perbuatan culas Gayatri dan pukulan Arjapura itu membawa hawa maut. “Mati aku sekarang,” bisiknya.
Wisang Geni menggeram memancing tenaganya.
Seperti biasa jika menghadapi bahaya yang mengancam jiwa, secara otomatis tenaga wiwaha bereaksi. Namun saat itu tenaganya terhalang akibat pukulan Gayatri yang begitu telak. Dalam keadaan terjepit, tenaga wiwaha memperlihatkan kehebatannya.
Tenaga wiwaha yang terhimpun sejak lima tahun sudah menyatu dengan tubuh dan pikiran Wisang Geni masih bisa menerobos rintangan racun dingin pukulan Gayatri.
Dengan sisa-sisa tenaga yang sudah terpencar ke seluruh tubuh, sebagian kecil tenaga wiwaha sempat mengalir mengikuti jalan pikiran dan geraman sang majikan. Itulah yang menyelamatkan Wisang Geni dari maut.
Dia melihat pukulan dahsyat Arjapura mengancam dadanya. Dia sadar jika pukulan itu menggelontor dadanya, tulang-tulang dada dan seisinya akan remuk, nyawa pasti melayang. Pukulan Arjapura dadakan, telengas, keji, ganas dan cepat.
Tak ada waktu untuk mengelak.
Apalagi tenaga wiwaha hanya sebagian kecil yang bisa digunakan. Namun sebagai pendekar kelas utama dia bergerak refleks, menggeser dan memutar tubuh bagian atas, membiarkan pukulan lawan menghantam lengan bagian atas. Hanya itu dayanya.
Beralih pada Sekar.
Saat Gayatri berlari menghampiri Wisang Geni, saat itu Sekar tidak menaruh curiga. Dia melihat laki-laki berjubah hitam berdiri lima meter di belakang Gayatri, dan sepuluh meter terpisah dari Wisang Gni. Jubah hitam melangkah terus mendekati Wisang Geni.
Ketika melihat Gayatri memeluk suaminya. Mendadak Sekar kaget, bagai disengat listrik ribuan volt. Teringat akan firasatnya! Firasat membisik akan terjadi suatu kejadian.
Ternyata benar. Dia melihat gerak tangan Gayatri. Tangan kiri tetap memeluk leher Wisang Geni. Tapi tangan kanannya melepas rangkulan, bergerak turun dan mengayun sejengkal ke belakang. Lalu memukul sisi perut Wisang Geni.
Saat itu Sekar hanya bisa berseru keras. ”Heeeiiii…”
Dan Sekar tidak hanya berteriak.
Meskipun agak terlambat tapi refleksnya bergerak cepat. Dia melesat menggunakan ringan-tubuh yang paling mumpuni, jurus wimanasara, gerakan bagai pesatnya panah sakti. Tujuannya menyerang Gayatri, mencegah perempuan itu melancarkan jurus susulan yang pasti akan membahayakan jiwa Wisang Geni.
Sekejap melihat pukulan Gayatri dan tubuh limbung Wisang Geni, dia tahu persis suaminya terluka parah dan tak mungkin bisa menghindar dari jurus susulan Gayatri.
Ternyata Sekar salah hitung, Gayatri tidak menyerang susulan. Gayatri justru melangkah mundur dengan wajah pucat pasi.
Sekar terkejut bagai disambar petir ketika matanya menangkap gerakan pesat laki-laki berjubah hitam yang menyerang Wisang Geni dengan pukulan mematikan.
Tidak mungkin dia bisa memotong serangan itu dan menolong Wisang Geni karena tubuhnya sedang melayang mengarah Gayatri. Dia hanya bisa berseru keras, suaranya melengking memberitahu suaminya. “Geni…awas…”
Tadinya hanya ingin mengusir Gayatri, kini kebencian tumpah sepenuhnya menyerang perempuan yang pernah menjadi sahabatnya dan setempat tidur. Tidak tanggung-tanggung dia memilih jurus maut cumangkrama (menyetubuhi) salah satu dari 17 jurus aneh sapwa tanggwa warisan Nenek Sapu Lidi, jurus yang telengas dan mematikan.
(Bersambung)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







