Wisang Geni Part Two Bab 6 (sambungan)

Posted on 29 Juni 2014 ( 0 comments )


      “Dessss…” Dua tangan bentrok.

      Gayatri terhuyung-huyung. Wajahnya pucat. Kaget, tahu tenaganya melemah.

      “Benar dugaan paman, kamu terluka, jurusmu bagus, tapi tenagamu lemah. Maaf, paman hanya menguji kamu, mencari tahu kamu terluka atau tidak. Ternyata kamu terluka. Itu sebab kamu naik kereta?” Arjapura bicara dengan senyum ramah.

      Gayatri diam sesaat, berpikir. “Tampaknya dia tidak punya maksud buruk, lagipula dia sahabat ayah.” Tanpa ragu lagi, dia mengaku tenaga-dalamnya sulit dikumpulkan.

      “Pasti para penjahat itu telah mencampur makananmu dengan racun.”

      “Kemarin aku makan bersama mereka. Tadi pagi dan siang juga.” Gayatri bertanya. “Racun apa, paman? Apakah paman punya obat?”

      Arjapura menghampiri, lalu memegang nadinya. “Ini racun biasa, hanya membuat kamu lemas, sekarang baru sebagian tenagamu yang hilang, nanti malam mungkin tenagamu hilang seluruhnya. Mereka merencana akan memerkosa kamu malam nanti.” Dia memerintah Gayatri duduk di kereta. “Aku akan membantumu dengan tenaga-dalam. Ulurkan tanganmu.”

      Hampir satu jam Arjapura mengerahkan tenaga panasnya.

      Gayatri merasa tubuhnya hangat, segar  dan nyaman.

      Dia membuka mata, memperhatikan laki-laki separuh baya yang sedang memejam mata dengan wajah berkeringat. “Paman ini sungguh tulus membantuku. Aku bersalah telah mencurigainya, apalagi dia datang ke tanah Jawa untuk berdagang, dia tak menyebut balas dendam kepada Wisang Geni, malah dengan jujur dan jiwa besar mengakui putranya mati dalam tarung yang adil.”  

       Gayatri tidak tahu semua itu siasat Arjapura.

      Laki-laki itu memang membantu-pulihkan tenaga-dalam Gayatri tetapi diam-diam tenaga panas itu justru mengaktifkan reaksi birahi dari racun dalam tubuh Gayatri.

      Gayatri merasa tubuhnya segar, berkeringat. Dia gembira tenaga-dalamnya mulai pulih, diam-diam dia berterimakasih. Dia memperhatikan Arjapura, tubuhnya yang gempal dengan dada berbulu hitam, basah keringat menguarkan aroma laki-laki. Jantung Gayatri berdebar mengencang. Wajahnya merona merah ketika sepasang mata Arjapura melek dan menatapnya tajam.

      “Sudah. Cukup sekian dulu. Sekarang bagaimana rasanya?” Tanya Arjapura sambil mulai melancarkan sihir lewat pandangan matanya.

      “Tenagaku mulai pulih, rasanya segar dan bersemangat.” Gayatri menyahut sekaligus mengusir rasa malu karena sempat terpikirkan olehnya kejantanan laki-laki itu.                                                     

      “Tidak lama lagi malam tiba, sebaiknya istirahat di sini, tapi sebaiknya menjauh dari mayat-mayat ini, besok aku antar kamu ke desa Gondang menemui suamimu. Tetapi aku hanya mengantar sampai batas desa, aku tak mau bertemu suamimu.”

      Gayatri mengangguk.

      Arjapura menjalankan kereta kuda, berhenti di tempat yang banyak pepohonan.

      Beberapa saat kemudian suara guruh menggelegar, sahut-sahutan dengan halilintar yang memekak telinga.

      “Hari akan hujan. Kamu tetap di dalam kereta. Kuda-kuda akan kuikat dipohon supaya tidak lari.” Arjapura melepas tali kekang dua kuda kereta.

      Gayatri menyahut. “Paman, kudaku jangan diikat, dia lebih suka bebas, lagipula dia tak akan lari jauh.”

      Arjapura mencabut golok pendek dan mulai menebang pohon-pohon kecil. Cepat dan cekatan, dalam beberapa menit dia telah mendirikan gubuk kecil. “Kamu tidur di kereta, biar paman tidur di sini sambil menjagamu.”

      “Terimakasih paman.” Sahut Gayatri bersemangat mengetahui tenaga-dalamnya mulai pulih. “Aku sudah pulih, paman!”

      “Bagus, tidurlah, besok pasti semangatmu makin besar.”

      Hujan deras mencurah dari langit, air menetes deras dari sela-sela rimbunan pohon di tengah hutan. Gayatri gelisah. Masih terbayang wajah terutama sepasang mata Arjapura yang lembut mesra penuh kasih sayang.

      Di luar hujan deras. Udara sangat dingin. Tapi tubuhnya berkeringat, panas. Jantungnya berdebar-debar. Dia duduk sila, melakukan semedi. Tapi gagal. Pikirannya tak bisa fokus. Malah membayang tubuh Wisang Geni, masa-masa romantis dimana dia didekap dengan peluk dan ciuman. Birahinya mulai bangkit.

      Dia ingat pengalaman pertamanya dengan Wisang Geni. Dia gelisah, merasa gairah. Bunyi butiran hujan yang deras menghantam atap kereta terdengar bising. Di luar kereta, hujan deras. Udara malam dingin, hujan menambah dingin.

Gayatri mulai merasa dingin tapi dalam tubuhnya justru hangat oleh birahi. Racun bius sudah bekerja dan tiba di fase serangan puncak. Gayatri melamun. “Oh Geni, dimana kamu? Aku kasmaran sentuhan dan ciumanmu.”

Dia membayang lagi pengalaman paling hebat dalam hidupnya, ketika Wisang Geni merenggut perawannya di rumah penginapan desa Gondang di tengah malam. Dia tak pernah lupa kejadian itu. Wisang Geni mengaku bernama Ambara dan berjanji akan mengawininya. Tetapi itu tidak penting. Belaian itu. Ciuman itu. Gayatri gelisah, semakin gelisah ketika dia melamun detail percintaannya.

Bius racun birahi itu makin mendesak ke fase puncak, melumpuhkan akal sehatnya.

Di luar kereta, di gubuk sederhana, Arjapura semedi, mengerahkan segenap tenaga-dalam menyihir Gayatri, membuat Gayatri makin merindukan sentuhan suaminya. Sentuhan lelaki.

      Gayatri makin gelisah. Nafasnya terasa panas. Dia berusaha tidur, memejam mata. Tapi justru makin gelisah. Pada klimaksnya dia mengintip dari tirai. Diantara putihnya kabut hujan tampak Arjapura duduk sila di atas pokok kayu.

      Tiba-tiba saja Gayatri berseru. “Paman …. Paman!!” Suara itu keluar begitu saja, tanpa sadar dan tanpa maksud tujuan.

      Arjapura melompat ke kereta. Dari luar dia mengintai kedalam. “Ada apa? Ada musuh?”

      Gayatri tak mampu berpikir waras. Birahinya sudah menguasai akal pikirannya. “Paman, aku sakit paman, kamu naiklah kemari.”

      “Sakit? Tadi kan sudah sembuh?” Arjapura masih memainkan tipudayanya. Dia masuk ke dalam kereta. Dia melihat perempuan itu membelakanginya. Tampak kulit punggungnya yang putih, agak terbuka karena pakaian sarinya acak-acakan.

      “Gayatri balik badanmu, lihat aku!” Suara Arjapura bagaikan perintah.

      Dia menanam sihir kuat dalam suaranya. Dia tahu Gayatri tak punya lagi pertahanan diri, sudah patuh dan pasrah padanya. Racun itu sudah bekerja dan membawa Gayatri pada kondisi yang tidak lagi sanggup menggunakan akal sehatnya.

      Gayatri membalik badan, memandang Arjapura.

      Arjapura menatap dengan sihir yang lebih kuat melalui mata dan kata-katanya. “Kamu memerlukan aku Gayatri. Kamu kedinginan. Kamu ingin ditemani, dipeluk, disayang.”

      Wajah Gayatri merah. Dia tidak lagi memikirkan malu, karena desakan nafsu birahi sudah meledak membakar seluruh tubuh.

      Suaranya bergetar, serak dan parau. “Peluk aku, paman, aku kedinginan. Peluk aku.”

      Tidak pernah terpikir olehnya, akan terjerembab dalam nista selingkuh, aib yang teramat besar bagi seorang istri. Akal sehatnya terkubur jauh dibawah rangsangan birahi, pikirannya yang cerdas lenyap ditelan nafsu manusiawi yang seringkali membuat manusia terjerumus dalam kejahatan dan pengkhianatan. Gayatri menjadi korban tipu daya Arjapura yang memang punya niatan menghancurkan Wisang Geni dari segala aspek.

 

      Matahari mulai bersinar, menyiram bumi dengan kehangatan yang menghidupi semua mahluk hidup. Gayatri membuka mata, seiring pintu hati dan akal sehatnya mulai bekerja. Dia ingat kejadian semalam.

      Tiba-tiba ada rasa malu ketika sadar Arjapura sedang memeluknya. Tangan laki-laki itu berada diatas dadanya. Suaranya bergetar. “Paman apa yang telah paman lakukan padaku?”

      Arjapura tetap memeluknya. Menanam sihir lewat ucapannya. “Kamu ingat Gayatri, tadi malam kamu memanggil dan menyuruh aku masuk kereta. Katamu, kamu kedinginan, minta dipeluk. Lalu kamu membalik tubuh dan menciumi aku. Aku tak bisa menolakmu, kau wanita paling cantik yang pernah kutemui. Aku tak berdaya, tak sanggup menahan diri, apalagi kamu begitu agresif dan haus cinta. Maafkan aku Gayatri.”

      Tangan Gayatri memegang erat tangan Arjapura yang hendak memisah diri. “Jangan pergi paman, tetap peluk aku.” Gayatri merasa birahinya memuncak lagi.

      “Hari sudah pagi. Kamu harus cepat sampai di Gondang.”

      “Tidak perlu ke Gondang. Bawa aku ke tempat sepi, paman. Kamu telah memberi aku warna lain dalam permainan asmara” Dia memeluk erat Ajapura.

      Selesai bercinta. Gayatri berbisik. “Paman aku lapar.”

      “Tunggu di sini. Aku berburu ayam hutan.” Arjapura melompat, berlari pesat.

      Tak lama kemudian dia menenteng dua ekor ayam hutan ukuran besar. Cekatan dan gesit dia memanggang ayam setelah dibumbui dengan bumbu yang dibawanya.

      “Ini bumbu buatanku, mengingatkan kamu akan masakan Himalaya,” kata Arjapura.

      Gayatri melompat turun dari kereta. Gerakannya gesit karena tenaganya sudah pulih.

      Dia duduk di samping Arjapura. “Baunya harum, pasti rasanya lezat.” Katanya.

      Arjapura tertawa. “Aku selalu membawa bumbu ini.”

      Gayatri tidak tahu bahwa bumbu itu sudah dicampur racun bius pembangkit birahi.

      Mereka makan dengan lahap.

      Gayatri tidak curiga. Tanpa sadar dia menelan racun bius yang tidak hanya merangsang birahi juga rasa ketagihan. Arjapura tidak hanya menguasai sihir juga berbagai jenis racun. Bagi Arjapura racun bius itu, untuk memperkuat daya tahan tubuh.

      Malam harinya, setelah memuaskan hasrat si perempuan, Arjapura menggunakan sihir sejenis hipnotis untuk menggali semua perasaan dan pengalaman Gayatri.

      Sepanjang malam di tengah permainan cinta, Gayatri menceritakan keluh kesahnya. 

      “Dulu dia kasmaran padaku. Dia membuat aku mabuk kepayang. Belakangan setelah aku melahirkan Anggreni, dia menjauh dan jarang bercinta denganku. Dia lebih mencintai istrinya yang lain, dia melupakan aku.” Kata Gayatri.

      “Perkawinanmu dengan Wisang Geni tidak direstui kakek dan leluhurmu. Dia dari kasta rendah, kamu lebih tinggi, kakekmu pasti kecewa dan menangis mengetahui cucunya kawin dengan murid dari musuh besarnya, kawin dengan laki-laki kasta rendah. Dia telah menyihir kamu dan ayahmu.” Tegas Arjapura sambil menatap tajam Gayatri. Lalu dia memegang pipi perempuan itu, ”pandang aku, Gayatri. Tatap mataku!”

      Dia mulai menanamkan pengaruh sihir melalui pandangan mata.

      Mata Gayatri tak berkedip menatap mata Arjapura yang tampak merah saga, bulat besar dan mengirim sinyal panas. Gayatri tidak berdaya, dia telah dikuasai sihir sepenuhnya. Sebenarnya pengaruh sihir itu tidak akan bertahan lama, pada saatnya akan melemah. Namun Arjapura selalu menambah porsi sihirnya pada setiap kesempatan, membuat Gayatri terbelenggu sihir terus-menerus.   

      Arjapura melanjutkan dengan kata-kata yang lebih jelas. “Kita semua orang Himalaya masih menganut tradisi kasta. Perkawinan atau percintaan atau kehidupan suami istri tak akan bisa langgeng jika seorang istri datang dari kasta yang lebih tinggi dari suaminya. Itu sebab hubunganmu dengan Wisang Geni makin memburuk, hubungan itu tidak bisa langgeng, para dewa akan mengutuk kamu.”

      “Tapi suamiku mencintai aku.” Debat Gayatri setengah hati.

      “Dia tidak cinta padamu. Dia menipu kamu. Dia membohongi kamu.” Suara Arjapura yang didorong kekuatan sihir, meledak dan memendam dalam-dalam di benak Gayatri.

      “Memang dia bohong, dia menipu aku. Dia merampas perawanku dengan bujuk rayu dan tipuan, dia tahu bahwa aku sedang mencari Suryajagad untuk balas dendam kekalahan kakek. Dia menodai aku, perbuatannya itu menggagalkan rencana balas dendamku.”

      “Suryajagad telah membunuh kakekmu.”

      “Tidak. Bukan begitu ceritanya. Kakek hanya kalah, tetapi tidak luka. Dan kakek tidak mati karena pukulan Suryajagad.” Kata Gayatri yang masih dalam pengaruh sihir.

      “Kamu salah Gayatri! Kakekmu terkena pukulan beracun Suryajagad, dia dipukul dengan cara pengecut. Dan dia mati karena pukulan beracun itu.” Sekali lagi kata-kata itu menusuk sampai ke alam bawah sadar. Provokasi beracun itu telah meracuni pikiran Gayatri. “Kamu harus balas dendam!” Desak Arjapura.

      Gayatri menyahut lemah. “Suryajagad sudah mati. Aku tidak bisa balas dendam!”

      “Bunuh Wisang Geni! Dia murid kesayangan Suryajagad.” Desak Arjapura. “Dengan demikian kakekmu akan bahagia dan berterimakasih padamu dan dia akan membalas jasa kebaikan cucunya di kehidupan akan datang. Sebaliknya Suryajagad akan menangisi kematian Wisang Geni, itulah balas dendam untuk membalas kebaikan kakekmu.”

      “Aku mencintai Wisang Geni, dia suamiku, aku sangat mencintainya.”

      “Gayatri, kamu tertipu. Kamu tidak cinta Wisang Geni. Kamu membencinya.”

      “Tidak! Aku tidak membencinya, aku mencintainya.” Suara Gayatri melemah.

      “Kamu tidak mencintai Wisang Geni, kamu benci dan akan membunuhnya! Katakan Gayatri, kamu tidak cinta Wisang Geni!”

      Gayatri berkata tegas. “Aku tidak cinta Wisang Geni. Aku membencinya!”

      “Katakan, kamu akan membunuh Wisang Geni untuk balas dendam kematian kakekmu!”

      “Aku akan membunuh Wisang Geni untuk balas dendam kematian kakek.” Tegasnya.

      “Kamu tahu Gayatri, kalau Wisang Geni mati maka Suryajagad akan sakit hati dan tersiksa dimanapun dia berada dan kakekmu akan tertawa bangga padamu. Bukankah kamu sangat menyayangi kakekmu? Dan kakekmu sangat menyangi kamu?”

      “Benar paman, aku harus membalas dendam kakek.” Suara Gayatri sarat amarah.

      Hari itu juga Arjapura membawa Gayatri ke hutan yang sepi, yang belum pernah dijamah manusia, dia mendirikan gubuk sederhana.

      Dua hari berlalu, hubungan mereka sudah bagaikan suami istri. Gayatri tidak lagi memanggil paman melainkan kekasih atau Arja atau Pura atau suamiku.

      Pada hari kelima di hutan, Gayatri makin ketagihan bius birahi.

      “Arja kekasihku, jangan lupa mengoles dengan bumbu lezat,” dia selalu mengingatkan jika mereka memasak makanan. “Aku tidak bisa makan jika tidak dioles bumbu.” Gayatri ketagihan bumbu masak yang sesungguhnya adalah obat bius.                                                                                                                       

      Dan selama itu Arjapura berhasil menanam kebencian dan dendam dalam diri Gayatri terhadap Wisang Geni. Dendam dan benci yang semakin dalam.


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com