Wisang Geni Part Two Bab 6 by John Halmahera

Posted on 29 Juni 2014 ( 0 comments )


Bab Enam

Cinta dan Dendam  

 

      Tanpa terasa sudah hampir empat tahun kita tinggal di Welirang. Setiap pertemuan pasti diakhiri perpisahan, kita masih punya tugas dan kewajiban. Aku harus kembali ke Himalaya, kalian tetap di sini.” Katanya kepada Wisang Geni.

      Yudistira berhenti sejenak, sambil memandang alam sekitarnya dia melanjutkan. “Sayang harus berpisah dengan alam yang begini indah, entah kapan aku kembali lagi ke sini, gunung yang indah, subur dan hijau.”

      Satyawati berdiri di sisi suaminya menggandeng Gayatri. “Anak mantu Geni, istrimu bersikeras mengantar kami ke Jedung. Sebaiknya kamu menjemputnya.”

      Gayatri memotong ketus. “Tidak perlu, ibu. Aku pulang sendiri. Nanti ketemu di desa Gondang, kumpul bersama para murid Lemah Tulis, rencananya kita semua mau ke Kandangan. Ada keramaian di sana.” Gayatri berkata sambil mengerling tajam suaminya.

      Wisang Geni menyahut. “Aku akan jemput kamu.”

      “Tidak perlu. Tadi malam kita sepakat bertemu di Gondang. Tidak perlu ada perubahan lagi.” Suara Gayatri masih ketus. Matanya tetap bersinar tajam mengawasi suaminya. Dalam hati dia ingin suaminya ikut mengantar ke Jedung.

      Satyawati menghela napas, dia sering gelisah melihat hubungan Gayatri dengan Wisang Geni yang tak pernah akrab lagi sejak satu tahun belakangan. Dia merasa tidak nyaman harus meninggalkan Gayatri dalam keadaan seperti itu.

      Dia pernah mengusul agar Gayatri bersama Anggreni ikut ke Himalaya, semacam liburan untuk satu atau dua tahun. Tapi Wisang Geni berkeras tak mau berpisah dengan putrinya. Penolakan itu memancing kemarahan Gayatri. “Aku tahu watak Gayatri sangat keras, sama keras dengan ayahnya. Dia tak pernah mau mengalah.” Katanya dalam hati sambil memeluk erat putrinya. Dia memandang Wisang Geni  dan tersenyum.

      Mereka mengucap kata perpisahan. Yudistira menciumi Anggreni dengan kasih sayang. Satyawati menangis memeluk cucunya.

      Gayatri menciumi putrinya. “Aku akan kembali secepatnya, Angga kamu baik-baik bersama bibimu yah.” lalu kepada Sekar dia berkata seramah mungkin. “Aku selalu percaya kamu menyayangi Angga, sampai jumpa di Gondang.”

      “Aku sayang Angga seperti sayangku pada Seno.” Sahut Sekar.

      Gayatri memandang Wisang Geni, tapi tak bergerak ketika suaminya menghampiri.

      Wisang Geni memeluknya. Sesaat laki-laki itu merasa ada penolakan dari tubuh istrinya. Tapi dia tetap memeluk. Mereka berkata-kata dengan saling berbisik, tak mau didengar orang.

      “Aku tahu kamu tidak suka tubuhku gemuk begini. Tetapi aku janji akan berubah, aku akan menguruskan tubuh, biar kamu kasmaran lagi padaku.” bisik Gayatri menahan tangis.

      “Aku selalu mencintaimu, percayalah hubungan kita akan membaik.”

      “Iyah Mas, aku selalu mencintaimu, jaga Angga baik-baik. Aku pergi tidak lama, setelah kapal berangkat, aku segera menemuimu di Gondang.” Gayatri menangis ketika suaminya memeluk dan mengecup dahinya. Kecupan yang hangat dan lama.

      Dia ingin berteriak, minta suaminya bersikeras ikut mengantar atau menjemputnya, bukan sekadar basa-basi. “Mengapa kamu tidak ikut mengantar, mengapa?” Tetapi pikirannya tidak sinkron dengan mulut dan lisannya. Dia tetap diam.

      Pagi itu rombongan Yudistira meninggalkan Welirang. Gayatri ikut mengantar dengan menunggang Batari, kuda putihnya.

      Ketika Wisang Geni menghampiri mereka berdua, Sekar berbisik. “Kemarin katamu ada yang ingin kamu bicarakan dengan aku. Soal apa?”

      Wisang Geni tertawa. “Ada seseorang yang ingin kuperkenalkan kepada kalian, namanya Atis, cucu pendekar Merapi Ki Sagotra.”

      Sekar kaget, bertanya. “Maksudmu istrimu?”

      “Iya Atis sudah jadi istriku, dua purnama lalu.”

      “Dimana dia sekarang?” Tanya Sekar. Dalam hati dia mengeluh dan kecewa, tetapi tidak diperlihatkan, mimiknya tidak berubah.

      “Aku titipkan pada kakeknya, nanti akan kujemput.”

      “Jadi istrimu lima. Ada rencana menambah lagi?” Sekar memaksa senyum.

      “Aku tidak berencana banyak istri. Tapi aku heran banyak perempuan mau jadi istriku, dan kelemahanku adalah sulit menolak perempuan cantik.” Dia menggoda. Diam sesaat dia menambahkan, “Atis juga cantik.”

      Ketika itu Manohara dan Prawesti ikut bergabung. Wisang Geni kemudian memanggil Gajah Nila dan Gajah Lengar serta beberapa murid lain, memberitahu perihal Atis.

 

      Setelah nginap semalam di pelabuhan Jedung, esok siangnya kapal tiba dari Puchet. Beberapa penumpang menuruni jembatan kapal. Para kuli penjual jasa antri dan bersiap-siap bekerja mengangkut barang.

      Perbaikan dan pengaturan yang lebih tertata di pelabuhan melancarkan arus turun naik barang dan penumpang. Biasanya kapal akan menunggu sampai sepuluh hari sejak tiba baru bisa berlayar, kini penantian lebih singkat hanya tiga atau empat hari.

      Siang itu Minten dan para pelayannya bersiap melayani orang banyak. Dia puas dengan suasana pelabuhan yang mulai ramai. “Tamu mulai banyak, tingkatkan lagi pelayanan kita,” kata Minten kepada adiknya dan juga para pelayannya.

      Tadinya Arjapura berada di ruang depan warung, dia cepat menyelinap keluar lewat pintu belakang. Mata jelinya, melihat rombongan Yudistira sedang mendatangi pelabuhan.

      Dia menghilang dalam kerumunan orang. Hatinya berdebar mengetahui rombongan itu sedang mengatur barang-barangnya. “Mereka pulang ke Himalaya,” gumamnya lirih.

      Dia mencari informasi, ternyata rombongan yang berlayar, Yudistira, Arjun, Shankar, Satyawati, Ayeshak, Susmita dan anak kecil Nanggala. Tidak ada nama Gayatri. “Istri Wisang Geni itu pasti tetap tinggal bersama suaminya.”

      Arjapura tidak hirau masalah itu, dia gembira karena Yudistira dan Satyawati pulang. Mendadak muncul rencana dalam pikirannya. “Jadi Gayatri akan pulang ke Welirang sendirian, atau Wisang Geni datang menjemputnya?” Dia tersenyum licik.

      Arjapura menghubungi seorang penjaga pelabuhan, memberinya uang. “Perhatikan perempuan cantik berbaju hitam itu, namanya Gayatri. Dia mengantar keluarganya, setelah kapal berangkat, dia tinggal sendirian, nah kamu tawarkan makan di warung Minten. Katakan masakan di warung itu paling enak, bisa juga untuk tempat menginap. Wanita muda itu dalam keadaan berduka, jadi perlu perlindungan.”

 

      Gayatri memandang dengan mata berkaca-kaca kapal yang makin lama makin kecil  di kaki langit. Dia menghirup nafas dan melepasnya dengan perasaan galau. Hatinya serasa kosong. Kepergian ayah dan ibunya sangat memukul batinnya. Sekian lama bergaul dan berlindung dalam kasih sayang orangtuanya, kini mendadak hilang.

      Matanya memandang ke laut lepas, seakan berharap kapal kembali. Dan keluarganya kembali ke Welirang, dia bisa bermanja lagi di pangkuan ibunya. Timbul gejolak perasaan, “mengapa aku tidak ikut ke Himalaya, Wisang Geni sudah tidak  seperti dulu.”

      Suaminya kini lebih berat sebelah kepada Sekar. Kecantikan Sekar tidak mengendur meskipun sudah punya putra. Tetapi tubuhnya sendiri berubah menjadi gemuk. Hal itu mungkin yang membuat Wisang Geni tidak lagi segairah dulu-dulu ketika masih pengantin baru. Tetapi Gayatri tak berpikir itu buah perbuatannya sendiri yang tak mau menurut anjuran ibunya untuk mengurangi makan atau merawat tubuh supaya tetap langsing.

      Dia bahkan menyusun alasan mempersalahkan Wisang Geni yang berlaku tidak jujur dan tidak adil padanya. Bulan terakhir Gayatri makin putus asa, dia ingin pulang bersama orangtuanya. Namun kasih sayangnya terhadap Anggreni, telah menahan langkahnya. Tak mungkin dia berpisah dengan anaknya. Tapi dia juga mengakui masih mencintai suaminya.

      Meski terkadang kecewa dan iri hati pada Sekar yang melahirkan anak laki-laki sedangkan dia dikaruniai anak perempuan namun dia mulai menyesuaikan diri. Dia tertawa bahagia setiap melihat anaknya menyusu dengan rakus. Sudah satu tahun berhenti menyusu namun Anggreni tetap minta dimanja dalam pelukan ibunya. Bagi Gayatri kini Anggreni adalah cahaya hidup dan tambatan hatinya.  

      Saat itu Gayatri bukan lagi seorang pendekar perkasa, lebih tepatnya seorang wanita, seorang ibu dan istri yang merasa terpencil di dunia yang asing. Sendiri, keterasingan, tak ada teman, tak ada yang mencintainya, tak ada yang bisa dipercaya.

      Gayatri mendengar langkah mendekatinya. Seorang laki-laki petugas pelabuhan. “Nona pendekar sebaiknya istirahat dulu di warung Minten, masakannya lezat. Setelah perasaan risau mereda baru nona melanjutkan perjalanan.”

      Melihat pandangan curiga Gayatri, laki-laki itu tersenyum ramah. “Keadaan pelabuhan kini lebih aman dibanding dulu-dulu. Tugas kami petugas keamanan melindungi tamu karenanya aku hanya membantu nona pendekar istirahat di warung Minten, masakannya enak dan murah.” Kata petugas pelabuhan itu.

      “Baik.” Kata Gayatri sambil menuntun kuda  putihnya.

      Minten masuk kedalam mempersiapkan pesanan.

      Minten tersenyum ketika suaminya, Arjapura, membantu menyediakan tuak.

      Tanpa setahu istrinya, Arjapura mencampur tuak dengan bubuk racun bius. Siapa yang menelan bubuk racun itu, akan kehilangan sebagian tenaga dalam. Tetapi pengaruh paling besar adalah rangsangan birahi yang akan mencapai puncaknya pada hari kedua.

      Gayatri tidak menaruh curiga, dia makan dan minum dengan lahap. Racun bius mulai bekerja perlahan-lahan. Gayatri hanya merasa kantuk dan lemas. Dia tidak curiga karena perasaannya masih diacak-acak kepergian orangtuanya.

      Sore itu hujan deras membuat Gayatri terpaksa bermalam di warung. Minten melayani, mengira tamunya sakit, memberinya kamar yang terbaik. “Sebaiknya nona pendekar nginap di sini semalam ini.” Kata Minten dengan ramah.

      Gayatri mengangguk lemah. “Iya, terimakasih, aku nginap di sini.”

      “Besok pagi nona pendekar bisa menggunakan jasa ekspedisi Brantas untuk mengantar. Mereka punya kereta kuda. Nona bisa melanjut perjalanan dengan beristirahat di kereta. Kalau setuju, besok pagi akan kupanggil ekspedisi Brantas itu.” Tutur Minten.

      Saat itu Gayatri dalam kondisi rapuh. Perasaan yang sedang galau serta rasa kantuk akibat obat bius membuat Gayatri cepat-cepat masuk kamar. Gayatri semedi beberapa saat, tidak merasa curiga akan tenaganya.

      Sesungguhnya tenaga-dalamnya berkurang separuh namun sebab tidak digunakan bertarung maka Gayatri tak pernah tahu apa yang menimpa dirinya. Sepenanakan nasi melatih tenaga-dalam rasa hangat menjalari sekujur tubuhnya. Dia pun tidur pulas.

      Arjapura berbisik pada istrinya. “Kasihan pendekar itu, dia sedih ditinggal keluarganya, menyebabkan tubuhnya lemah. Mungkin saja dia sakit. Bagus juga kamu tawarkan ekspedisi kereta kuda. Dia mau pulang kemana?”

      “Katanya, ke Gondang. Mas Pura, sebaiknya kamu ikut mengantar dia.”

      “Memang sebaiknya aku mengawasi dari kejauhan, takut terjadi sesuatu padanya.”  Jawab Arjapura yang semakin bergairah dengan rencananya.

      Besok pagi tujuh pendekar Brantas siap didepan warung dengan kereta yang ditarik dua ekor kuda. Kereta berukuran panjang dan lebar dua meter itu dilengkapi atap, dinding dan tirai sehingga Gayatri yang berbaring didalamnya tidak terlihat.

      Gayatri merasa nyaman. “Kudaku jangan diikat, biar dia bebas. Jika kuperlukan akan kupanggil.” Kata Gayatri kepada kepala rombongan ekspedisi.

      Dari kejauhan Arjapura membuntuti.

      Hari pertama rombongan nginap di desa kecil yang merupakan pos perhentian semua  ekspedisi Brantas. Mereka melayani Gayatri, makan dan minum dengan penuh hormat.

      Keesokan hari mereka melanjutkan perjalanan. Siang hari istirahat, makan.

      Sore hari mereka memasuki kawasan hutan lebat. Saat itulah Arjapura menyerang. Sekali gebrakan, dua murid Brantas tewas.

      “Kurangajar! Dasar penjahat, kalian meracuni makanan lalu sekarang merencanakan memerkosanya.” Teriak Arjapura sambil tetap menyerang gencar.

      Lima pendekar Brantas kaget. Tak pernah menyangka akan diserang seorang pendekar yang ilmu-silatnya begitu unggul. Sekali serang, dua rekannya tewas.

      Mendengar suara ribut perkelahian Gayatri melompat keluar dari kereta. Dia melihat seorang laki-laki tegap, berpakaian hitam dikepung para pengawalnya. Dia mendengar ucapan Arjapura tadi,  bahwa dia diracuni, dia kaget.

      “Benarkah aku diracuni?”  Berpikir demikian dia memutar dua tangannya mengerahkan tenaga-dalam, mempersiapkan jurus andalan.

      Seketika dia terkesiap mengetahui tenaganya tidak terkumpul sebagaimana mestinya. Tenaga-dalamnya tidak lancar mengaliri dua tangan dan kakinya. “Tenaga dalamku tidak bisa kugunakan sepenuhnya, ternyata benar aku keracunan!” Bisiknya.

      Gayatri lalu mengamati pertarungan.

      Saat itu terdengar teriakan saling susul. Tiga pendekar Brantas terkapar tak bernyawa. Dua lainnya yang menjadi pimpinan masih bertahan.

      Sejak awal perkelahian mereka hendak protes membantah tuduhan. Tetapi serangan Arjapura sengit dan telengas, membuat mereka tak mampu bicara.  

      “Kalian pantas mati, aku tak mungkin mengampuni penjahat licik dan pemerkosa macam kalian.” Seru Arjapura. Dalam beberapa jurus berikutnya dua pendekar Brantas itupun tewas mengikuti lima rekannya. Mereka mati penasaran.

      Arjapura memandang Gayatri. Seorang wanita matang dengan perawakan tubuh agak gemuk. Dia pura-pura mengingat-ingat lalu menepuk dahinya. “Aku ingat sekarang, kamu Gayatri putri Yudistira?”

      “Kamu siapa?” Tanya Gayatri, pandangannya curiga, penuh selidik.

      Selama ini keduanya tidak pernah bertemu muka. Hanya satu kali Gayatri pernah melihat Arjapura ketika laki-laki itu berkunjung ke rumahnya bertemu ayahnya. Itu pun sekilas dan tidak secara langsung. Tetapi wajah Arjapura yang sangat mirip Wasudeva, membuat jantungnya berdebar.

      “Aku pamanmu Arjapura, sahabat ayahmu!” Serunya girang. “Beberapa tahun lalu aku  melihatmu di rumahmu. Eh kamu tidak ikut pulang bersama ayahmu?”

      Gayatri masih curiga, menggeleng. “Aku tidak ikut. Aku menetap di tanah Jawa, suamiku akan menjemputku di desa Gondang.”

      “Aku tahu, suamimu Wisang Geni, pendekar hebat yang membunuh putraku Wasudeva, benarkah?” Suaranya datar malah terdengar ramah karena diulas senyum.

      Gayatri mengangguk, tetap curiga. “Jangan-jangan paman ini datang untuk balas dendam, lalu apa yang akan dilakukan padaku?” Pikiran ini membuatnya tidak nyaman.

      “Tidak usah khawatir. Aku sudah mendengar cerita matinya Wasudeva dalam tarung yang jujur, satu lawan satu. Lagipula aku dalam perjalanan dagang, dua istriku dan beberapa murid saat ini berada di Karangploso sedang menjual barang dagangan yang kami bawa dari Puchet. Kami tidak lama di tanah Jawa, mungkin bulan depan sudah kembali ke Himalaya.” Arjapura tersenyum, lalu bertanya. “Mengapa kamu naik kereta dan diantar orang-orang ini, apakah kamu terluka?”

      “Tidak paman, aku sehat-sehat saja.”

      “Kamu tidak bisa membohongi aku,” Arjapura menyerang dengan pukulan keras.

      Gayatri kaget, tak menyangka akan diserang. Tidak tinggal diam, dia berkelit dan balas memukul. Arjapura menangkis.

      “Dessss…” Dua tangan bentrok.

      Gayatri terhuyung-huyung. Wajahnya pucat. Kaget, tahu tenaganya melemah.

      “Be


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com