Cinta 100 Juta Dollar Eps 36
Posted on 26 Januari 2018 ( 0 comments )
Episode 36
Hampir empat bulan bertemu dan bicara dengan Kid Salasa, Salina sadar akan perasaannya. Dia mencintai lelaki itu. Dia menaruh perhatian besar pada keselamatan diri Kid. Dia tak mau Kid kalah. Dia selalu berdoa menghendaki Kid menang, bukan sebab ingin bukunya nanti laris.
Dia menghendaki Kid menang lantaran dia tahu di ujung sana Christopher siap menghancurkan Kid. Dia mau Kid yang menang. Dia tahu kondisi Kid tidak prima saat ini, beberapa kejadian yang direncana bandar judi telah memorakporanda jadwal latihan Kid. Sebaliknya kondisi Christopher lebih prima. Kekalahan Kid sudah terbayang di atas kertas. Itu sebab dia merasa sangat tegang.
Salina memerhatikan kesibukan di kamar ganti. Dengan suara serak, ia tuangkan laporan dan komentar ke atas tape genggam. Dia sadar kondisi fisik dan mentalnya yang letih dan tegang tidak memberi peluang menuang laporan lebih rinci. Tapi sedikit laporan yang dia lihat, dia berharap waktu menulis bisa mengingat segala yang rinci.
Salina tak tahan lebih lama berada di kamar. Pada saat ketegangannya memuncak Felix masuk ruangan. ”Sepuluh menit lagi, Pacheco. Partai terakhir baru saja selesai.”
Seorang wanita cantik berbusana merah seksi naik ke atas ring. Tangan Madeline memegang mike. Sambil melenggang-lenggok mengitari ring dia bicara.
“Selamat datang di Sentul City di gedung bersejarah ini. Delapan tahun sudah gedung ini menjadi saksi monumental kejayaan bulutangkis Indonesia di peta dunia. Tidak sekali pun tim merah putih kehilangan gelar juara dunia tunggal dan ganda putra. Mereka selalu perkasa jika tampil di gedung ini.
“Mereka telah menyiram gedung ini dengan keringat dan menanam tradisi kejayaan di sini. Dan malam ini, di gedung ini, seluruh bangsa Indonesia di mana saja berada, berharap dan berdoa agar salah seorang putra terbaiknya, Yalas Salasa atau dikenal dengan Kid Salasa menjadi petinju Indonesia pertama yang memenangkan tiga gelar juara dunia alias menjadi juara dunia sejati tinju kelas welter…” Suara aktris Madeline membakar semangat para suporter yang bersorak-sorak.
Sorak sorai “In ...do ....ne .. sia...” Berulang-ulang menggaung.
Pacheco merencana keluar lebih cepat. Kid harus berada di ring lebih dahulu dan lebih awal mengadakan kontak dengan penonton. Panitia menjadwal Christopher tiba lebih awal. Tetapi Pacheco sengaja melanggar aturan untuk menggoyahkan kubu lawan.
Penonton mengelu-elu kedatangan Kid sambil menyanyi koor lagu patriotik.
”In …. ...do ... nesia, merah darahku, putih tulangku ......”
Ketika Kid berada di atas ring, suara penonton lebih menggema lagi. ”Kid ..... me…nang …Kid…me..nang…”
Salina memandang keliling. Luar biasa. Lautan manusia.Tak ada ruang kosong. Seputar ring petugas keamanan dengan anjing doberman berdiri bagai patung, mereka menghadap penonton, mengawasi penonton. Di perbatasan ring side dengan tribun berderet petugas lain.
Di tribun ring-side, Salina mengenali Halim Buntaran dan Edward putranya. Juga Soleman dan Filip, Menteri Olahraga, Menteri Luar Negeri, Menteri Budaya dan Pariwisata, Menteri Penerangan. Salina juga mengenal Kolonel Supangat bersama bossnya.
“Ke mana Faisal, Sarmanto dan Raimond, ketiga Letnan yang selama ini sangat membantu sekuriti di sekeliling Kid Salasa? Mereka pasti sedang bertugas.” bisik Salina ke tape genggamnya.
Pacheco berbisik kepada Kid yang tengah menggerak-gerakkan tangan dan kakinya agar tetap dalam kondisi panas. ”Gringo itu akan meneror kamu, jangan diam, kamu balas dengan teror. Sekarang ini saatnya do or die[1]. Kid, fokus dan konsentrasi!”
Sesaat kemudian terdengar gema sorak sorai penonton. Ada yang bersorak tapi sebagian besar mengumandangkan koor “huuuuuu .... huuuuu” ketika Christopher dan rombongan menuju ring.
Begitu masuk ring mendadak the Truck lari menghambur ke arah Kid. Big Charlie dan Ken Martin susah payah menahan amuk petinjunya. Christopher memaki maki Kid. “I’ll kill you son of a bitch!”[2] Wajah the Truck tampak beringas dan bersungguh-sungguh. Kid tak bereaksi.
Ulah gertak the Truck memancing kembali rasa gentar Kid. Petinju Morotai ini merasa jantungnya berdegup kencang. Kid berusaha memerangi rasa gentarnya. Tadi di kamar ganti dia telah pasrah total kepada Yang Maha Kuasa dan memohon dengan tulus agar diberi kemenangan. Kini rasa gentar itu muncul kembali,
Pacheco sebagai pelatih berpengalaman merasa apa yang dirasa Kid. ”Tak ada masalah Kid. Tatap dia, Kid, dia bukan apa-apa bagimu. Kau bisa melayaninya. Ingat baik-baik di ronde awal kau jalankan hit and run mainkan apa yang disebut float like a butterfly and sting like a bee.[3] Dia tak akan bisa menyakitimu.”
Pada saat menjelang bel berbunyi Kid merasa tubuhnya fit. Jalan darahnya terasa lancar. Itu kerja Victor si tukang urut. Sekali lagi pada saat terakhir Kid Salasa berdoa dalam hati. ”Ya Allah, jauhkan dan luputkan aku dari segala bentuk kecelakaan ataupun musibah. Beri aku petunjuk, kekuatan dan kecerdasan dari sisiMu untuk menaklukkan musuhku ini, amin.”
Jantung Kid masih berdegup kencang saat wasit dari Inggris pertemukan mereka di tengah ring. Christopher tak perduli teguran wasit. Dia melototi Kid, bergaya seperti macan hendak menerkam mangsa.
Wasit membaca detail peraturan. Christopher tidak mendengar, Kid juga tak mendengar. Mata mereka bertatapan. Christopher menatap dengan geram dan penuh kebencian. Kid merasa jantungnya berdegup. Dia melihat sepasang mata musuhnya bagai dua bola matahari yang panas membara dan siap membakar dia hidup-hidup.
Kleng! Ronde Satu.
The Truck menghambur keluar dari pojok biru. Kid menari berputar sambil melontar jab-jab tajam. The Truck tak perduli, dia maju terus. Kid menjauh. Truck memburu, menyergap dan menggiring Kid ke tali lalu ia melontarkan tiga pukulan swing kombinasi hook dengan segenap kekuatan. Strategi yang diterapkan Big Charlie.
“Kau langsung menuju lawanmu. Berlari lebih bagus biar lawan kena pengaruh tekanan mental. Jangan hiraukan jabnya, lepaskan beberapa pukulanmu yang paling keras, tak perduli dia memblok rapat sekeliling kepalanya, kau tetap lontarkan dua, tiga atau lima pukulan kerasmu. Pukul dia dengan keras. Memang dia akan memblok dan pukulanmu akan sia-sia. Tujuannya biar dia dibawah tekananmu.”
Strategi itu mengena. Dua pukulan Christopher merangsak double cover yang dipasang Kid di sekitar kepala. Pukulan itu tidak memberi hasil. Dua tangan Kid kokoh dan rapat membentengi kepala. Namun Kid merasa getaran hebat dan sakit di lengannya. Tubuhnya ikut bergoyang. Itu pukulan keras dengan bobot yang bisa merontokkan tembok sekalipun!
Kid menghindar sambil melontarkan jab-jab keras ke wajah lawan. Dua bulan terakhir Pacheco melatih khusus jab-jab. “Satu sasaran, satu titik, mata dan alis. Lakukan seperti ular black mamba mematuk mangsa, patuk, tarik kembali tanganmu dan patuk lagi dalam tiga detik kamu harus bisa mematuk tiga kali.”
Satu lagi senjata khusus yang dilatih Pacheco. Pukulan uppercut silang ke rusuk atau iga musuh. Kid dilatih memukul dengan gerak kaki yang mendorong. “Pukulanmu akan berlipat kerasnya. Dua atau tiga kali mengena di satu tempat, musuhmu akan sesak nafas. Hanya menunggu saatnya dia kamu kanvaskan.” Kata Pacheco.
Kid tampak mahir dengan jab-jabnya, ibarat serangan ular black mamba. Tetapi petinju Amerika itu memainkan kepalanya, leher seperti pegas memantulkan kepalanya ke kiri-kanan dan atas bawah. Tampak Christopher memamer bahwa jab Kid tak perlu ditakuti dan sulit untuk bisa mengenainya.
Beberapa kali the Truck berhasil menjangkau dan mengurung Kid. Ia kemudian memukuli badan Kid di pojok ring. Sesaat kemudian Kid melepaskan diri dengan clinch merangkul kepala lawan. Wasit memisah lalu keduanya terpencar lagi. Truck memburu, Kid menghindar dengan melontarkan jab-jab yang telak mengena wajah lawan. Titik targetnya mata dan kening.
Satu menit menjelang akhir ronde Kid ambil inisiatip menyerang dengan jab dan straight. Dua kali jabnya mendarat di mata kanan lawan lalu straight kanan menerpa pelipis kiri lawan. Penonton teriak memberi semangat. Kid menyerang terus, memukul dan menari.
Bunyi bel ronde satu berakhir.
Waktu interval satu menit, Pacheco meyakinkan Kid bahwa the Truck tidak hebat, dia cuma kuat dan kejam. ”Dia mau tarung rapat, jangan mau, kau tetap mainkan jab-jab, jauhi dia, jika dia berhasil merangsek maju, kau rangkul dia, clinch! Pertahankan jarak, kau akan menang, dia tak akan mampu mendekatimu, dia tak bisa memukulmu selama kau bisa jaga jarak.”
Pacheco benar satu hal, tetapi dia tidak tahu lainnya, Kid tahu benar bahwa Christopher benar-benar telah dipersiapkan matang.
( Bersambung Eps 37 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







