Cinta 100 Juta Dollar Eps 35
Posted on 26 Januari 2018 ( 0 comments )
Episode 35
Pratomo tahu persis telepon di sasana disadap. Itu sebab ia menelepon ke Purwakarta. Bicara singkat dengan istrinya, menjanjikan dua hari setelah pertarungan dia akan pulang dan berkumpul lagi dengan mereka. ”Ma, doa’in agar Kid menang.”
Dalam dirinya terjadi gelut pikiran seperti perang antara kucing hitam dan kucing putih, yang dimenangkan kucing hitam, kejahatan akhirnya menang. Pratomo pun sama. Pertemanan dengan Kid yang bertahun-tahun bekerja sama tertindih bujukan rupiah.
Sekarang sudah kasep. Ia tak bisa mundur lagi. Satu jam lagi, ia harus mencari telepon umum. Menelepon nomor yang sudah disepakati. Ia tak tahu siapa orang yang dihubunginya. Dan ia hanya perlu mengatakan, ada berita penting sungai Bengawan Solo meluap. Itu kalau urusannya beres kalau urusannya tidak beres dia harus mengatakan, banyak orang mengungsi akibat banjir Bengawan Solo.”
Pratomo tahu persis, keselamatannya terancam jika tak menelepon pada saatnya. Bahkan juga anak istrinya terancam. Ia tahu kini terlibat konspirasi judi besar, karena menyangkut uang dalam omzet ratusan juta dollar.
Sejak awal seharusnya ia sudah tahu. Ketika istrinya dipecat. Uangnya ludes semua di meja judi. Istri gelapnya ikut-ikutan merongrong. Di sana sini ia dihadapkan jalan buntu. Sampai ia berhutang kepada sobat baiknya. Tanpa sadar ia telah digiring dan akhirnya kini dia berdiri di mulut buaya.
Ia harus masuk ke mulut buaya itu.Tak ada jalan mundur. Menyesal pun tak ada gunanya. Dua hari lalu ia telah menyuntik obat bius kentang rebus makanan Kid. Dan dia lihat Kid melahap kentang rebus waktu makan siang jam dua.
Kid positif sudah makan kentang bercampur bius. Pada saatnya nanti bius itu akan bekerja, Kid akan kehilangan sebagian tenaganya tanpa dia tahu. Dan dia akan dihajar habis oleh Christopher. Dia merasa bulu kuduknya berdiri. Dia merasa dirinya bukan lagi Pratomo yang dulu. Kini dia merasa ada Pratomo lain dalam dirinya.
“Aku berdosa telah mengkhianati orang yang berjasa kepadaku. Ini bukan cuma dosa tetapi hantu yang akan mengejar aku kemana saja aku pergi. Aku telah berbuat hal paling rendah. Ini sama dengan mengkhianati bangsaku. Semua orang di negeri ini ingin Kid menang, tetapi aku seorang justru menghalangi kemenangan Kid bahkan aku yang membuat Kid kalah.”
Pikiran dan penyesalan itu tak sanggup menahan langkahnya. Semua sudah kasep, meskipun ia tidak menelepon sekarang ini, Kid tetap kalah. Tak ada lagi sesuatu yang dapat menghalangi kemenangan Christopher the truck.
“Semua sudah kasep!” gumam Pratomo sambil memutar nomor telepon umum yang letaknya sepuluh kilometer dari Sasana.
Terdengar suara dari seberang sana,”Iya, suami Minten disini “
Suara Pratomo gemetar. “Ada berita penting sungai Bengawan Solo meluap.”
”Kau yakin itu?”
“Seratus persen yakin!”
“Hari Senin siang kau telepon ke nomor telepon ini persis jam dua siang, beritanya sama, nanti akan diberitahu dimana kau ambil paket pernikahan.”
Pertarungan Berdarah
Sentul International Sporthall berkapasitas limapuluh ribu penonton suatu asset nasional paling monumental. Itulah arena kebanggaan supremasi bulutangkis Indonesia. Pers menjuluki “kuburan” bagi pebulutangkis Eropa, Korea, Cina, India dan Jepang. Bertanding di gedung ini belum sekali pun Indonesia kehilangan gelar tunggal putra dan ganda putra.
Jam tujuh persis acara diawali tiga partai tambahan. Acara puncak yakni partai Kid Salasa versus Christopher diperkirakan mulai jam 21.00. Penonton berdatangan sejak jam lima pagi. Mobil dan sepeda motor berebut lahan parkir. Jam satu siang mobil terpaksa parkir di bahu jalan tol, sepeda motor parkir di lahan pinggiran jalan tol maupun pekarangan rumah penduduk. Pengendara disiplin berjalan kaki.
Dari berbagai penjuru pintu masuk tol jagorawi bagai semut beriring mereka menuju satu titik. Dan sekitar jam enam sore, satu jam sebelum partai pertama digelar, gedung sudah tenggelam di tengah lautan manusia. Diperkirakan empatpuluh ribu orang memadati, overkapasitas, memaksa sebagian orang berdiri berjejal.
Meski tak membayangkan bakal terjadi lautan manusia, panitia tak mau spekulasi menyangkut keamanan dan keselamatan jiwa manusia. Bahkan untuk mengantisipasi penonton yang tak kebagian tiket, yang biasanya membuat onar panitia menyediakan beberapa layar raksasa yang dihubungkan dengan siaran langsung tvri.
Jam tujuh persis, terdengar raung sirene mobil dan sepeda motor polisi yang mengantar sebuah bus membelah lautan manusia. Berselisih waktu lima menit datang bus lain juga dengan patroli pengawal dan raung sirene. Bus depan membawa rombongan Christopher sedang bus kedua mengangkut rombongan Kid Salasa.
Christopher masuk kamar ganti dengan bayangan Kid Salasa dalam benaknya. Petinju Amerika ini memroyeksikan seluruh pikiran untuk menghantam, menghajar dan menghancurkan Kid Salasa.
“Hari ini Kid Salasa akan kujadikan daging cincang. Aku akan melumatnya sehingga tak lagi berbentuk.” Desisnya berulang-ulang.
Sudah dua hari ini the Truck memusatkan perhatian pada Kid Salasa, tekadnya menghancurkan petinju Morotai itu, menggasaknya sampai rusak.
“Dalam kondisimu seperti sekarang tak ada petinju yang bisa tahan pukulanmu. Hajar dia tanpa belas kasihan, tumpahkan amarah dan bencimu pada tubuhnya.” Kata sang pelatih Sebastian Big Charlie membakar semangat primitif anak asuhnya.
Pernyataan itu ada buktinya. Ketika sparring lawan Roland the mad dog beberapa hari setelah sparring Kid lawan Samuel Puerto Rico. Roland minta ampun, tak tahan menerima bogem keras the Truck. Roland minta berhenti setelah enam ronde dari jadwal delapan ronde.
Hal itu dipaparkan Roland kepada Pers, “Aku pernah sparring dengan Kid juga Christopher, tetapi kemarin kurasakan pukulan the Truck jauh lebih keras. Kemajuannya pesat, aku yakin itu pasti karya Big Charlie corner man nomor satu di muka bumi ini. Dan kalau saja Kid Salasa tidak bertambah hebat dibanding saat lawan Manacin, kupikir dia tidak akan tahan bogem baja the Truck. Kukatakan Christopher berbahaya, bisa membelah kepala banteng dengan tinjunya.”
Big Charlie sibuk menangani anak asuhnya sambil berkata. ”Chris, kau sudah sampai di gerbang reputasi dan uang, yang menjadi ambisi setiap petinju. Dua-duanya tak akan kau peroleh jika tak bisa menyingkirkan Kid Salasa. Kau tahu Chris, anak Indonesia itu harus kau singkirkan dari jalanmu, gilas dia dengan pukulan-pukulanmu yang paling mengerikan. Patahkan tulang rusuknya, hidungnya.”
Hari ini orang yang paling dibenci the Truck adalah Kid Salasa.
Kid juga tak bisa membendung rasa muaknya mendengar komentar sombong petinju kulit putih Amerika itu. Kid muak dan benci terhadap Christopher, tetapi dibalik itu diam-diam dia merasa ragu dan gentar. Perasaan itu menyelinap dalam dirinya setiap mendengar nama lawannya disebut.
Ragu, bisakah dia menang. Dia menyaksikan rekaman tarung the Truck, pukulan keras dan gerakan agresif the Truck menimbulkan rasa gentar dalam diri Kid Salasa. “Perasaan gentar ini tak pernah ada sebelumnya saat bertarung lawan Manacin. Jujur kukatakan aku merasa aneh dengan perasaanku. Apakah sebab aku tahu kondisiku cuma delapanpuluh lima persen dari target?” Tutur Kid kepada Salina dan Kiyai Durachim dua hari sebelum hari H.
Kiyai Durachim menatap bergantian Kid dan Salina. “Takut adalah bagian dari hati dan pikiran. Manusia yang tak punya rasa takut, berarti dia berada di luar sistem, artinya dia super hebat atau dia gila! Takut adalah awal dari sikap waspada, bagian dari sikap hati-hati dan turunan dari naluri membela diri.
“Apakah kaupikir tentara yang berangkat perang tidak dihinggapi rasa takut? Mereka takut! Apa kaupikir polisi yang ditugaskan menumpas teroris tidak takut? Semua mereka takut. Dan karena takut itulah mereka selamat. Dari takut itu lahir sikap hati-hati dan waspada.
“Tak perlu merasa aneh dengan rasa takutmu. Dulu kau takut namun tidak kau rasakan. Sekarang sebaiknya kau atasi, jangan terlalu dipikirkan. Pasrah, serahkan semuanya kepada Allah. Kau telah bekerja keras, berlatih keras. Menang dan kalah, keputusan Allah. Bukan kamu, bukan Christopher. Allah memiliki semua yang ada di bumi dan di langit, dan Allah menentukan kepada siapa kemenangan akan diberikan.
“Terkadang takut membuat orang salah jalan.Takut miskin mereka pergi ke dukun, minta kekayaan. Takut tidak memperoleh jodoh mereka pergi ke dukun. Takut kalah mereka minta kekuatan dari dukun. Itu syirik.Yang benar adalah kita meminta kepada Allah, karena Dia yang memiliki semuanya.”
Kata-kata Kiai Durachim masih terngiang di telinga. Di kamar ganti ketika Pacheco sibuk persiapkan tubuhnya, Kid Salasa berpikir tentang tujuan hidupnya. “Semua sudah kulewati. Sekarang kemenangan yang harus kuraih, dan aku harus menembus hadangan Christopher petinju ganas yang siap melumat diriku.”
Di ruang ganti Pacheco mengumumkan tim yang membantunya di corner nanti. Tugas kiyai Durachim menangani air minum. Victor ahli terapis bertugas memijit menghilangkan letih dan mengaktifkan kembali fungsi otot dan urat yang letih. Morgan the cutman tugasnya mengobati luka di bagian wajah. Felix si tukang hitung memberi informasi kepada Pacheco pengumpulan angka ronde demi ronde.
Pratomo merasa tersisih. Dia menggumam dalam hati, “kenapa aku tak lagi diajak membantu di corner? Apakah ulahku membubuhi obat bius ke makanan Kid ketahuan seseorang? Ah tak mungkin, aku tahu persis tak ada orang yang tahu.”
Tetapi Pratomo tidak tahu bahwa saat ia membubuhi bius ke beberapa butir kentang rebus, pada saat yang sama Salina masuk kamar. Gadis itu cepat berbalik dan sembunyi di balik pintu. Salina memergoki semua perbuatan Pratomo. Ia kemudian melapor kepada kiyai Durachim. Kejadiannya jam dua siang, tujuh jam sebelum tarung.
Sembunyi-sembunyi kiyai mengganti semua makanan dengan yang baru. Dia memberi kesan seolah tidak tahu menahu soal kentang rebus yang tercampur obat bius. Sementara semua makanan diperiksa ke lab lewat jasa Letnan Faisal.
Pratomo tak tahu perkembangan terakhir. Dia beranggapan rencananya matang dan tak seorangpun yang tahu pengkhianatannya. Karenanya ia kecewa tidak terpilih sebagai pembantu corner man.
Salina merasa beruntung siang itu timbul keinginan meminjam novel karangan Mario Puzo. Kid menyuruhnya mengambil di rak buku di kamarnya. Salina melihat Pratomo menyelinap ke kamar Kid pada saat Maisaroh dan Salero shalat. Kalau saja tak timbul keinginan membaca karya Mario Puzo, mungkin sekali lagi Kid akan termakan obat bius. Salina bergidik.
Dua hari belakangan Salina merasa tegang tak seperti biasa.Tak ada nafsu makan. Tidur sulit memejam mata. Rasa tegang membuat mekanisme organ tubuhnya semrawut. Buang air pun sulit. Dia cepat tersinggung dan cepat marah.
Di kamar ganti di tengah kesibukan Pacheco dan tim, Salina hampir tak mampu bernafas. Rasa tegangnya terlalu berlebihan. Perasaan seperti ini tidak dia alami waktu nonton Kid sparring lawan petinju Puerto Rico yang ganas. Tetapi kini lain. Dan dia tahu sebabnya.
( Bersambung eps 36 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







