Cinta 100 Juta Dollar Eps 34

Posted on 26 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 34

Aku tak akan main-main menghadapi seorang juara dunia macam Kid Salasa, aku harus ekstra serius. Tak boleh main-main, tak boleh punya rasa kasihan, tak boleh memandang enteng. Kejar dia, hajar dia, lumat dia. Kalau dia lari dan menari macam kupu-kupu akan kuburu, kusergap dan kugiring dia ke sudut, disitu baru enak aku melumat tubuhnya. Kid Salasa seorang petinju besar, tetapi aku lebih besar, aku akan melumat dia.” Komentar Christopher dalam konferensi pers.  terakhir.

Di Sasana Daruba, kesibukan makin meningkat ketika matahari mulai terbit. Banyak mobil parkir di sepanjang jalan. Tadi pagi Kolonel Supangat dan kolonel Agung Wibowo mendampingi Menteri Olahraga mengunjungi Kid.

Rombongan itu masuk kamar khusus Kid setelah melewati sekuriti ketat. Menteri menyatakan senangnya, sekuriti itu bagus, tak pilih bulu. Mereka masuk tepat saat Kid sedang sarapan pagi. Menteri melihat arlojinya, jam sembilan. Menteri heran.

Kunjungan itu sangat mendadak, tak seorangpun yang memberitahu. Tak heran Kid serba salah, tangannya masih belepotan nasi dan kuah ikan. Salina di sampingnya pun bangkit tersipu-sipu. Menteri menyuruh mereka melanjutkan makan.

”Ini kunjungan yang tidak tepat waktu” Kata Menteri sembari duduk.

Kalau saja Menteri tidak duduk, mungkin Kid dan Salina akan berdiri terus. Agar familiar dan tidak mengganggu sarapan Kid, Menteri meminta sebuah piring kosong. Ia ikut makan. Dan Menteri sekali lagi heran. Ia tak kuasa membendung rasa herannya.

Pacheco yang berada di situ menjelaskan bahwa selama ini, Kid Salasa telah melalui program latihan dengan tepat skedul, hasilnya baik. Ia kini dalam kondisi prima. Pacheco gagap tak bisa menjawab pertanyaan tentang menu makanan yang tidak ilmiah.

Memang makanan di atas meja itu tampak unik, sagu merah dan sagu kasbi, ikan cakalang bakar dan panggang rica, dabu-dabu dan kuah santan kelapa.

Kid tertawa melihat Pacheco gugup. ”Bapak Menteri, saya bebaskan Pacheco dalam soal makanan. Tugasnya kini cuma melatih fisik atau tekhnik, serta strategi tanding. Itu saja agar dia bisa konsentrasi penuh. Soal lain termasuk makan dan minum, saya sendiri yang mengurusnya. Makanan ini, Pacheco juga suka.” Kata Kid sambil menatap Pacheco yang tersipu-sipu.

Kid melanjutkan, “Makanan ini merupakan salah satu dari metode saya untuk menang. Perlu Pak Menteri ketahui, saya terpaksa absen latihan selama enam hari karena kebobolan seorang pengkhianat dalam kubu saya. Saya memutuskan kembali ke fitrah asal, kembali ke masa dulu sewaktu saya masih merintis jalan menuju gelar OPBF.”

Pak Menteri menoleh ke Pacheco. Pelatih Mexico ini manggut-manggut.

”Mulanya kami bertengkar. Saya tidak mau Kid melakukan kebodohan itu. Tetapi itu salah satu jalan. Kid benar. Absen enam hari itu telah menggagalkan seluruh skedul persiapan. Saya tidak mungkin sembunyikan ini dari Kid. Dia seorang juara dunia, dia tahu persis itu. Dia tahu sebagaimana saya tahu, bahwa dia tidak mungkin mencapai seratus persen kondisi yang kita programkan dulu.”

Menteri olahraga merasa pusing. Ia minum segelas air dingin. Ia mendengar terus keterangan aneh yang kini meluncur dari mulut Kid Salasa. ”Saya makan segala macam kesukaan saya, tak ada diet. Pacheco dan dokter hanya membatasi makan pada jam-jam tertentu. Untuk lebih mengenal menu, Pacheco ikut makan. Dan dia suka.

Mendadak Salina memotong, “Pacheco juga baru kemarin mengetahui bahwa selama ini Kid sering bangun malam melakukan shalat dan berdoa. Pacheco marah besar, ia protes dan mau walk out. Untung tak jadi”

Menteri ini menoleh ke Pacheco,

“Kid berhasil meyakinkan saya, dia bilang, coach kita sudah bertahun-tahun kerjasama. Aku mau menang, aku tak mau kalah, kemauanku untuk menang sangat besar sebab aku yang bertarung. Tahun-tahun yang lalu kamu memberi gelar kepadaku, sekarang giliranku memberi hadiah kemenangan dan gelar kepadamu.”

“Dan anda setuju ?” Tanya Menteri.

“Yah setuju, saya kenal siapa Kid Salasa. Lagipula saya suka hal-hal yang aneh, hal penemuan baru. Dalam program latihan, sering saya masukkan penemuan baru. Ini  penemuan baru ala Morotai. Kedengarannya gila dan edan, tetapi saya suka ini.”

Menteri Olahraga merasa mual dan sesak dada.

“Ini gila! Benar-benar gila, Mexico tua ini sama gilanya dengan anak Morotai itu! Dan aku harus bertumpu harapan kepada dua orang gila ini? Oh Tuhan apa dosaku?Gumamnya dalam hati. Tak seorangpun bisa membaca kecamuk perasaan Tuan Menteri karena air mukanya kelihatan tenang dan wajar.

”Makanan ini enak, siapa kokinya?

Pacheco menuding Salina. Salina putri dubes itu, Tuan Menteri“

Oh jadi anda orangnya yang jadi pemberitaan asmara segitiga itu?” Kata Menteri agak sinis. Dalam hati ia menambahkan, “Orang gila yang ketiga!”

Salina tersipu malu.

Keluar dari sasana, Tuan Menteri membisu sepanjang jalan. Supangat dan Agung Wibowo merasa ada yang tak beres. Tapi tak tahu apa yang tidak beres itu.

Suasana sunyi dalam limousine dipecahkan suara Tuan Menteri.

“Aneh dan gila! Bagaimana mungkin kita harus menaruh harapan kepada orang-orang gila itu. Aku belum pernah melihat persiapan acak-acakan dan tidak professional seperti kejadian tadi. Dan aku harus tersiksa sepanjang hari, menanti-nanti pertarungan ini, kemudian setelah itu harus datang melapor kepada Tuan Presiden, menyatakan bahwa aku gagal. Bagaimana aku harus melewati hari ini?”

Supangat diam, Agung Wibowo coba menetralisir.”Semua sudah kita kerjakan optimal, kita kebobolan obat bius, itu memang tak bisa dimaafkan. Tetapi adalah lebih baik kebobolan waktu itu, sehingga kita bisa mencegah tidak kebobolan lagi. Aku melihat spirit besar dalam tubuh anak Morotai itu ketika Tuan Menteri pidato singkat menyinggung gengsi bangsa dan negara, kulihat matanya berkaca-kaca, bening dan menyorot tajam. Aku pasti ia akan berkelahi sampai mati!”

Apa gunanya spirit dan tekad kalau fisik tidak menunjang?”

Bagaimana Tuan Menteri begitu yakin bahwa fisiknya buruk? Maaf Tuan Menteri ini adalah dialog tukar pikiran. Lagipula pengalaman di lapangan mengajarkan kepada kita spirit besar terkadang bisa membuat lawan ciut nyali. Tuan Menteri, kita masih punya harapan, meskipun kecil, sangat kecil.”

Agus Bumbum lari menemui Salina yang sedang memperhatikan beberapa pembantu ring memijat Kid Salasa. Para pembantu  itu tiba tiga hari lalu, mereka para professional sejati di bidang masing-masing.Tukang urut, tukang bedah dan tukang hitung yang diimpor langsung dari MICBPA Miami Country Boxing Professional Association.

Tukang urut dan tukang bedah sedang memeriksa  sekujur tubuh Kid, jika saja ada kelainan maka akan segera diatasi.

Agus memberitahu Salina bahwa ada telepon untuknya dari Paris.

Terkejut Salina mendengar suara itu. Yah, suara Magda, “Hai Sali, apa kabar? Aku ada di Paris sekarang. Baru beberapa jam aku disini. Kemarin berangkat mendadak. Aku ingin bicara dengan Kid, tapi tak mungkin, ia pasti sedang konsentrasi. Jadi biar kamu saja yang sampaikan. Tak usah sekarang, nanti sehabis pertarungan pun boleh. Kudoa dia menang, dan dia pasti menang, aku tahu itu, aku punya firasat kuat”

Salina tak sempat memotong bicara Magda yang begitu bersemangat. Dan Salina juga mersa sulit, sebab selama ini keduanya tak pernah bicara baik-baik. Kalaupun bicara maka itulah pertengkaran. Bertengkar memperebutkan Kid.

‘Kau dengan siapa disana, Magda.” Begitu suara itu keluar dari mulutnya Salina merasa semua perasaan tidak simpatinya kepada Magda lenyap seketika.

“Dengan siapa, yah tentu saja dengan kekasihku Mas Totok. Kau mau dengar suaranya, nah ini dia,…..

Suara seorang lelaki. “Hallo Salina apa kabar?”

“Baik..baik…selamat bersenang-senang di Paris,” jawab Salina.

Suara Magda terdengar kembali. ”Sali, aku sudah cerita semuanya kepada Mas Totok, jadi tidak perlu aku bicara pelan-pelan. Dia lagi dengerin, tapi masa bodoh, the past’s dead, yah kan masa lalu itu sudah mati. Sal, dulu itu aku berkelahi hebat dengan Mas Totok. Aku kabur dan pelarianku di Jakarta yah berkenalan dengan Kid Salasa. Aku belajar banyak dalam hidup di Jakarta, di Paris tak ada pelajaran begituan. Aku sebenarnya ingin nonton Kid bertarung, tetapi aku juga ingin memperbaiki hubunganku dengan Mas Totok. Hebatnya lagi dia mengancam aku, kalau mau datang ke Paris sekarang ini waktunya, kalau tidak, tak perlu lagi kenal aku. Sali, aku gembira bisa memutuskan suatu pilihan, hal yang selama ini tak pernah berani kulakukan, aku selalu lari apabila ada pilihan sulit di depanku. Oh ya tarung tinju itu disiarkan di televisi, aku akan nonton dan berdoa untuk Kid.

Pembicaraan di telepon cukup lama dan Pratomo yang menanti giliran terpaksa geleng-geleng kepala. Dasar perempuan, telepon dari Paris yang setiap menit harganya puluhan dolar bisa berlangsung lebih setengah jam. Bagaimana lagi kalau interlokal jarak pendek, ke Purwakarta misalnya, mungkin bisa sehari. Gumamnya.

( Bersambung eps 35 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com