Cinta 100 Juta Dollar Eps 33
Posted on 22 Januari 2018 ( 0 comments )
Episode 33
Supangat memuji operasi itu yang dinilainya berkualitas tinggi. Orang yang ditembak Raimond tidak mati. Peluru menembus bahunya sehingga perlu perawatan dokter. Tetapi tak membahayakan jiwanya.
Kolonel Supangat mengikuti Letnan Faisal ke ruangan interogasi di bagian lain gedung. Ruangan itu terletak di bawah tanah, dengan perlengkapan AC dan pintu-pintu besi. Sangat rahasia untuk masuk ke situ perlu beberapa kode dan kartu rahasia.
Pintu besi terbuka. Supangat melihat Richard Pancoran, jasnya robek di sana sini. Mukanya babak belur. Darah kering menghiasi wajahnya yang pucat seperti kertas. Tangan kanannya patah. Ia duduk tidak nyaman. Rupanya ada yang tak beres dengan tulang punggungnya.
Supangat marah. “Kenapa dia babak belur. Tadi kalian ambil dia dalam keadaan sehat. Kenapa sekarang rusak begini?”
“Keadaannya memang begini waktu kita jemput tadi. Tetapi saya tak menjamin ada rekan yang mau mengantar dia pulang. Apalagi di tengah jalan sekarang ini banyak orang yang ingin berhitung dengan Richard.” Kata Faisal dengan suara datar.
“Kalau kondisi begini yang namanya sehat, aku tak tahu lagi bagaimana kondisi yang tidak sehat.” Supangat pura-pura menggerutu.
Tiba-tiba Richard berteriak. ”Tak usah bersandiwara, kalian sudah ngerjain aku sampai babak belur. Kamu tak bisa apa-apain aku. Tidak mungkin aku bisa dipenjara. Jadi lebih baik katakan saja apa yang kalian inginkan, berapa milyar yang kalian minta.”
“Kami tak minta apa-apa. Hanya katakan bagaimana caranya kami bisa melihat Kid Salasa menang. Katakan caranya !” Ujar Faisal.
Richard tertawa terpingkal pingkal.
Supangat marah. Tetapi masih bisa kendalikan diri. “Kenapa tertawa, ada yang lucu?”
Richard berhenti tertawa. Wajahnya meringis sakit. Tertawa membuat lukanya makin terasa ngilu. ”Sistem mulai diputar dua bulan lalu. Sudah diatur agar Kid Salasa yang kalah. Sistem itu tak bisa dihentikan di tengah jalan, tak seorangpun bisa. Akupun sudah tak bisa lagi menghentikan. Sistem itu cuma akan berhenti pada saat pertarungan selesai. Dan saat itu dunia akan melihat Kid Salasa kalah!”
“Kau harus bisa hentikan itu semua! Kalian yang atur, kalian juga harus bisa menghentikan,” teriak Supangat.
Richard meringis kesakitan. ”Seandainya aku dibayar sepuluh trilyun rupiah pun sekarang ini aku tak bisa menghentikan sistem itu. Sudah kasep, kata orang Jawa.”
Di ruang kerjanya Kolonel Supangat menatap berkas-berkas di mejanya, Letnan Faisal dan Letnan Sarmanto termenung di sofa di hadapan meja. Jalan buntu. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan.
Kerja tiga bulan lebih, memeras tenaga dan pikiran terasa percuma. Kemenangan sudah di tangan, tetapi kenyataannya mereka kalah.
Richard tak berbohong. Sistem itu sudah berjalan jauh. Tokek sendiri sudah tak tahu dimana kunci-kunci dari mata rantai yang membelenggu Kid Salasa. Tokek menjalankan sistem itu tidak cuma dengan satu dua jalan. Tetapi banyak jalan. Dengan kemungkinan besar mencapai sasaran.
Supangat merasa kalah total. Satu bukti yaitu ketika Kid kena obat bius sehingga harus istirahat enam hari. Itu saja sudah fatal. Karena Kid tak akan bisa mencapai kondisi puncak pada hari H nanti. Dengan menangkap Tokek mereka berharap mampu menebus kesalahan tadi ternyata hasilnya nihil.
Sekarang ini usaha menyelamatkan Kid dari kekalahannya tergantung pada Kid sendiri. Dia berjuang sendiri menghadapi Christopher, sementara Faisal dan grupnya akan berupaya mencegah serangan dari luar. Hanya itu yang bisa dilakukan.
Supangat tahu bahwa sejak beberapa hari lalu. Semua jalan masuk menemui Kid Salasa dipasang pagar manusia sebagai sekuriti. Kid tak boleh menemui sembarang orang. Kid tak boleh menerima kiriman makanan atau bingkisan dari luar. Bahkan karangan bunga ucapan selamat berjuang untuk negara dan bangsa hanya jadi hiasan di pekarangan. Kid hanya boleh makan dari apa yang dibawa Salina atau Kiyai Durachim.
Faisal pernah protes pada Kiyai, kenapa begitu percaya pada Salina.
“Tak bisa dijelaskan itu insting,” jawab Kiyai.
Masih banyak peraturan lain yang ditegakkan di sasana Daruba. Supangat merasa semua sudah terlambat. Sistem yang diputar Tokek sedang berjalan dan siap menggilas Kid Salasa tanpa mereka kuasa mencegah.
“Mesin sudah jalan lancar, tak ada hambatan. Ibarat mobil jaguar meluncur di jalan tol. Jalan mulus dan pasti nyampe di tujuan.” Kata Edward.
Sambil melapor, Edward tak pernah lepas dari senyum. Itu senyum yang biasa dikulum orang-orang yang merasa diri sebagai pemenang. Edward memang pemenang dalam permainan apapun.
Halim memandang putranya. Edward adalah kebanggaannya. Putra mahkota yang sudah siap sewaktu-waktu mengganti dia diatas kursi kerajaan Buntaran Grup yang asetnya berbilang triliunan rupiah.
Satu hal yang membuat Halim senang, kabar bahwa Kid Salasa pernah absen latihan selama enam hari. Itu fatal buat seorang petinju. Halim tahu persis tentang itu meski dia tidak menguasai ilmu melatih. Artinya Kid tak akan bisa mencapai top kondisi. Hal itu sama dengan kepastian Kid bakal kalah.
Edward juga menjelaskan perihal cideranya Ibrahim. Beberapa hari lalu anak Morotai itu masuk rumah sakit, ruang gawat darurat. Lebih duapuluh luka jahitan di perutnya selain beberapa tulang rusuk retak. Ini pasti merusak konsentrasi Kid.
Tetapi Edward tidak menceritakan bagaimana tindak balas teman-teman Ibrahim. Diskotik Molimo yang hancur berantakan dan beberapa anak buah Richard sepupunya menjadi penghuni ruang gawat darurat.
Edward juga tidak menceritakan peristiwa bengkel milik sepupunya yang ludes ditelan si jago merah. Semua kerugian itu atas nama Richard tetapi sebagian saham juga milik Edward. Kerugian di dua tempat itu diperkirakan duapuluh milyar rupiah.
Dia juga tidak menceritakan bahwa Richard sepupunya yang ganteng itu diculik dan sampai saat ini belum ketahuan rimbanya serta belum ada kontak dengan para penculik.
Edward dikejutkan suara ayahnya. ”Edu, bagaimana pasar tarohan?“
“Sekarang ini tujuh banding empat untuk Kid Salasa. Besok bisa berubah menjadi tujuh lima tetapi kecil kemungkinan.”
“Kapan, kamu pasang tarohanmu?”
“Besok jam tujuh tepat. Antara jam dua sampai jam empat, aku menunggu telepon dari orang dalam kubu Kid. Jika urusannya beres aku akan pasang tujuhpuluh lima. Jika tak beres, aku tetap akan pasang pada sisi yang sama tapi cuma tiga puluh.”
Halim Buntaran menelepon seorang eksekutif bank. Memberitahu bahwa besok siang jam dua akan ada transaksi besar antara limapuluh sampai tujuhpuluh lima milyar rupiah. Harap disiapkan. Urusan detil baru besok diberikan.
Pembicaraan di telepon cukup lama di sela-sela pertanyaan Halim tentang situasi belakangan. Halim memang baru tiba dari lawatan dua minggu bersama Tracy Del Fuor, ke Wina dan Oslo sehingga perlu banyak informasi.
Halim kemudian menelepon Tracy. ”Cuti seharimu dibatalkan, besok kau harus masuk, aku mau berkunjung ke tempat King Duva, juga sasana Daruba serta kubu Christopher.”
Di seberang sana, di atas pembaringan Tracy yang keletihan menggerutu. “Benar-benar tak ada kata rehat dalam kamusnya.”
Sabtu hari yang paling ditunggu-tunggu seluruh pecinta tinju. Pertarungan antara dua juara dunia kelas welter, Kid Salasa juara kubu WBC lawan Christopher the truck pemegang gelar WBA. Gelar yang diperebutkan adalah gelar juara dunia sejati.
Pertarungan ini diramalkan akan seru lantaran kedua petinju sangat bernafsu ingin saling melumat lawan. Jauh hari sebelum pertarungan, dua petinju ini berulang kali terlibat komentar yang saling menghina dan memanaskan suasana. Tak heran seluruh tiket ring side habis sekitar dua pekan sebelum hari Sabtu.
Di pasar gelap tiket ring side bisa diperoleh dengan harga hampir lima kali lipat harga resmi. Bagi yang uangnya pas-pasan bisa nonton lewat TV di rumah dengan menyewa decoder seharga limaratus ribu rupiah.
Fantastis sekali, jumlah duaratus limapuluh ribu decoder ternyata tak cukup memenuhi minat pemirsa. TVRI menjanjikan hari Sabtu ini sekitar lima puluh ribu decoder akan tiba. Pertarungan ini memang ditunggu tunggu.
Sejak pagi hari kegiatan di dua kubu kelihatan sibuk. Pacheco dengan hati kebat-kebit hanya bisa mengharap datangnya keajaiban. Dia tahu persis kondisi Kid Salasa mencapai sekitar delapanpuluh lima persen. Pacheco seorang Katolik, hanya bisa berdoa agar kondisi Kid Salasa yang pas-pasan itu sudah lebih dari cukup untuk mengimbangi si truck Amerika.
Di kubu Amerika, Big Charlie dengan penuh optimistis meyakinkan petinjunya bahwa ia akan sanggup melumat Kid Salasa. Pada saat-saat terakhir Big Charlie peroleh kabar bahwa kubu Kid menyembunyikan rahasia besar, bahwa Kid Salasa pernah absen enam hari latihan menjelang pertarungan.
“Bagus kalau begitu Chris tak perlu terlalu lama berada diatas ring,” komentarnya dengan semangat.
Christopher merasa tubuhnya sangat fit. Belum pernah sebelumnya ia mencapai puncak kondisi seperti sekarang. Perasaan seperti ini, dalam kondisi terbaik atau tidak, selalu dirasakan setiap petinju menjelang hari tanding dan Big Charlie memastikan sinar optimistis memancar dari mata petinjunya.
Namun bagaimanapun kondisinya, Kid Salasa tetap seorang juara. Ia pernah mengKO Ci Soon. Dan wajah Manacin sampai babak belur disayat jab tajam Kid Salasa. Kid seorang talenta besar, jadi tak boleh dianggap enteng, hal ini ia pesankan pada Chris.
Christopher bukannya tak tahu. Dia tahu persis Kid adalah lawan paling berat yang harus dihadapi. Dia sudah mempelajari berulang-ulang dua partai rekaman Kid, lawan Manacin dan Ci Soon. Anak Morotai itu punya kecerdasan dan nyali, dua bakat yang jika kumpul dalam diri seorang petinju maka dia bisa menjadi besar.
Anak Morotai itu tak pernah takut. Dia tak makan gertak. Hal itu bisa dilihat pada caranya bertinju. Dia selalu menatap datangnya pukulan. Matanya tak berkedip melihat pukulan yang mengarah ke wajah. Ini yang membuat pada saat-saat terakhir Kid mampu mengelak pukulan yang sebenarnya sudah harus mengenainya.
“Itu kehebatan Kid Salasa, seperti yang dimiliki Muhammad Ali dan Sugar Ray Leonard. Tetapi justru lewat kelebihannya itu kau akan menjatuhkannya. Dalam posisi merunduk saat kau maju infight ke pertarungan jarak dekat, kau hanya perlu melihat kakinya untuk memperkirakan jarak. Saat itulah kau melayangkan pukulan hook seperti milik Joe Fraizer atau Mike Tyson. Akan kulatih kau agar mahir melepas senjata itu, harus akurat dan powerfull sehingga begitu kena, dia akan mencium kanvas.” Kata-kata Charlie itu terbukti kemudian. Dia benar-benar telah menurunkan senjata mengerikan itu kepada Christopher.
( Bersambung eps 34 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







