Cinta 100 Juta Dollar Eps 32
Posted on 22 Januari 2018 ( 0 comments )
Episode 32
Begitu mendengar rusaknya diskotik miliknya yang paling laris, Mara Prahara naik pitam, dia menelpon Alex Patahpatah. “Lex apa-apaan ini, kau cari mati? Berani kau merusak harta bendaku, kau sudah berani melawanku?”
“He he he Mara, kau sudah kaya, kau bukan Mara Prahara yang dulu lagi. Dulu kau berani sebab kau tak punya tanggungan, miskin tidak punya uang, tak ada bini, anak pun tak punya. Sekarang kau kaya, kau tak senekat dulu. Kau takut mati Mara. Karenanya aku yakin keberanianmu telah tergadai.
“Mara jangan kau gertak Alex, percuma kawan. Kalau kau masih bicara besar dan main gertak, nanti kau lihat mau jadi apa rumah mewahmu itu. Apa kau tak sayang mobil mewahmu atau kau mau lihat anak isterimu sengsara? Kau berurusan dengan Alex yang miskin tapi banyak teman. Jangan coba Mara, ini Alex Patahpatah masih seperti dulu, patah leher orang dulu baru bicara.”
Keringat dingin membasahi keningnya. Mara tak bisa bicara. Apa yang dikatakan Alex Patahpatah benar semuanya. Ia kini tak punya keberanian lagi. Uang telah membeli seluruh keberaniannya. Untuk setiap urusan ia kini lebih mengandalkan uang, membayar orang. Dulu ia nekat sebab tak punya uang.
“Baik Lex kita tetap berkawan. Kau salah telah menyerbu diskotik-ku sebab seperti kubilang aku tak ikut campur. Baiklah, anggap semua tak pernah terjadi. Aku sudah lupa peristiwa itu. Lagipula malam itu tak ada apa-apa, tak ada orang menyerbu diskotik-ku, dua belas anak buahku yang dirawat dirumah sakit, itu lantaran kecelakaan mobil dijalan tol, bukan sebab perkelahian, gimana? Oke?”
“Ceritamu itu bagus, Mara. Baik…”
“Hei jangan tutup dulu, ada yang penting. Alex pengeroyokan itu sudah kuselidiki, itu ulah anak perguruan Tangan Besi yang punya saham besar diskotik Molimo alias TOTT Top Of The Top. Itu berita paling akurat, Lex. Kau tahu kan sumberku.”
Molimo diskotik yang hebat, salah satu paling hot dan panas di kawasan Hayam Wuruk. Pertunjukan paling diandalkan adalah menggelar aktris Mandarin, Filipina dan Thailand, suara tak perlu merdu, yang penting gaya panggung erotis dengan busana minim. Suara merdu tak akan diperhatikan orang, karena pasti tenggelam oleh suara musik yang bising, hiruk dan pikuk.
Diskotik biasanya tutup pada siang hari. Dia hidup hanya untuk memberi nafas pada kehidupan malam ibukota. Tetapi Molimo tidak tidur pada siang hari. Pada siang hari-hari tertentu diskotik melayani tamu khusus dengan door price tinggi.
Didalamnya banyak pilihan. Ada meja judi dari pasangan bernilai rendah sampai yang paling tinggi. Dari koin ribuan rupiah, sampai satu juta rupiah. Ada strip-tease artis Thailand, Filipina dan Mandarin. Ada massage dan segala rupa hiburan yang menjadi asesoris dan fatamorgana dunia semu.
Siang hari, lima hari setelah penyerbuan diskotik Road to Heaven, serombongan anak-anak muda berkeliaran di sekitar Molimo. Pada jam yang ditentukan, mereka bergerak serentak. Serbuan ke Molimo tak bisa dibendung.
Hiruk pikuk. Para pengunjung di dalam ruangan lari berhamburan. Beberapa pengawal dan petugas keamanan diskotik tak berdaya. Beberapa kali terdengar letusan senjata api, tetapi kemudian senyap. Serbuan berlangsung singkat.
Tak lebih lama dari lima belas menit. Keadaan sunyi, diskotik hancur berantakan. Dinding kaca, meja judi, bar tempat minum, dekorasi panggung, lukisan-lukisan, uang dan koin berserakan dimana mana. Lima menit setelah suasana sunyi itu, datang mobil polisi.
Ada orang yang menelepon kantor polisi memberitahu terjadi perkelahian di diskotik Molimo gara gara judi dan tari telanjang, banyak yang mati.Ternyata tak ada korban yang mati.Tetapi yang luka parah dan serius tak terhitung jumlahnya, terutama mereka yang berpakaian seragam diskotik dan seragam keamanan. Dua puluh lebih korban masuk rumah sakit, bagian gawat darurat.
Tak lama kemudian, datang mobil Mercedes model paling akhir, mengilat diterpa sinar mentari siang. Lelaki berkacamata hitam turun dari mobil dikawal dua orang, satu di kanan satu di kiri. Ketiganya berpakaian rapi.
Lelaki itu melihat berkeliling kemudian merogoh telepon dari saku jasnya. “Pak, saya mau kerusakan ini ditangani tuntas, lebih cepat lebih bagus, jika boleh diantara tiga hari ini sudah ada diantara teroris itu yang ditahan. Saya ingin lihat siapa pemimpinnya. Tiga hari ya Pak!”
Dari reruntuhan pintu dan jendela, Letnan Faisal menggamit lengan Letnan Raimond. ”Itu dia Tokek!”
“Mas, dia kan Richard….”
“Kau tak akan heran jika ingat kata kata ahli kriminal, namanya aku lupa, katanya dibalik setiap sukses disitu ada kejahatan.
“Perusahan rekaman 1177 Dodosisi cuma kamuflase. Dia memang mencetak beberapa kaset yang laris di pasaran. Diantaranya banyak kaset misi agama, dari Islam, Kristen sampai Hindu, Budha. Pemilik perusahaan itu berperan sebagai bandar judi paling terkemuka di Asia Tenggara. Tetapi hanya sedikit orang yang mengenalnya. Itupun dengan nama samaran Tokek.
“Misterius. Baru hari itu saya melihatnya dengan mata kepala sendiri. Namanya Tokek, tapi orangnya ganteng. Dalam pergaulan sehari-hari ia dikenal sebagai Richard Pancoran, pemilik dan boss perusahaan rekaman Dodosisi.”
Supangat terkejut mendengar laporan Faisal. ”Maksudmu Richard, saudara sepupu Edward Buntaran?”
“Iya Richard yang itu, tak ada Richard yang lain, Bro”
Letnan Faisal melanjutkan bicara. ”Mas, sekarang ini, hari Jumat jam 14.00 tepat, kita punya kesempatan menyapu bersih gengnya Tokek sekaligus memutus jalur Asia Tenggara di Jakarta, yang sudah menelan banyak korban. Anda siap Mas ?”
“Dari mana informasimu?”
“Dari Raimond, dia punya koneksi orang kepercayaan Richard di perusahaan rekaman itu. Hari ini ada pertemuan besar di bengkel Richard di kawasan kota. Aku sudah kirim anak buah kesana. Memang bakal ada pertemuan. Dari saat ini kita cuma punya waktu setengah jam. Biasanya pertemuan mereka paling lama hanya berlangsung sepuluh menit.”
Mata mereka bertatapan sejenak. Supangat meraih telepon bergagang merah. Sesaat kemudian ia bicara dengan seseorang. “Iya, Pak, di depan kita menghadang naga raksasa, dia paduka yang terhormat Richard Pancoran.”
Supangat meletakkan gagang telepon. Dia menatap Faisal. “Tak boleh main hakim sendiri. Aku tak mau jatuh korban terutama di pihak kita. Putuskan kabel Asia Connection itu, kerjakan!”
Faisal berdiri tegap,”Siap boss.”
Bangunan bengkel besar di kawasan Harmoni itu menyita areal seribuan meter. Di depan berupa bengkel mobil, dibelakang rumah bertingkat dengan garasi di lantai bawah. Siang itu banyak mobil mewah antri menanti giliran servis, cuci, ganti oli atau ganti ban.
Jam dua lewat dua menit Jumat siang itu, dua mobil sedan tua memasuki pekarangan bengkel.yang satu masuk kedalam, satu lagi antri di luar seperti menghalangi semua mobil yang keluar masuk.Tiga orang keluar dari mobil depan. Dua lainnya dari mobil yang di belakang. Dua mobil itu lalu mencari ruang parkir kosong.
Pada saat sama sebuah Peugeot tua berhenti di depan garasi rumah bertingkat, di belakang bengkel. Tampaknya mogok. Pengemudi keluar dan memeriksa mobil.
Di belakang mobil itu sebuah sedan Ford Laser berhenti karena terhalang jalannya. Itu memang jalan sempit satu arah. Tiga lelaki keluar dari mobil Ford. Seorang diantaranya merusak gembok, seketika pintu garasi terbuka. Ketiganya menerobos masuk.
Kejadian berlangsung cepat. Di bengkel, Letnan Faisal dan Letnan Raimond menerobos masuk ke dalam, Letnan Sarmanto, Letnan Syaiful, Letnan Kandar berpencar secara diam-diam.
Faisal dan Raimond menerobos sampai ke dalam. Beberapa orang yang protes langsung dihantam dengan pukulan karate. Sekejap kemudian Faisal dan Raimond sudah ada di ruangan. Di situ ada tujuh orang yang sedang rapat .
Salah seorang mencabut pistol dari dalam jasnya. Raimond tak menunggu, menembak persis di dadanya. Orang yang lain kaget dan secara reflek mengangkat tangan. Faisal bergerak cepat, mendekati Tokek dan mengirim pukulan keras ke rahang yang licin bagai kaca. Tokek langsung terkapar. Tetapi sebelum tubuhnya jatuh ke lantai, Faisal menangkapnya. Langsung diborgol.
Saat itu di luar, Sarmanto dan dua rekannya menghantam beberapa petugas bengkel yang coba-coba mengejar Faisal dan Raimond. Saat yang sama tiga buah sedan berhenti di depan bengkel, Sembilan orang turun dari dalam memburu ke dalam, menghantam siapa saja yang menghalang.
Detik yang sama Sarmanto, dua rekannya, dan dua mobil itu sudah berada di luar pekarangan. Sementara Faisal dan Raimond yang membawa Tokek, dalam perlindungan tiga temannya cepat keluar dari pintu garasi. Mereka naik dua mobil itu, menghilang. Lima mobil di bawah komando Sarmanto juga kabur pada saat bersamaan.
Operasi itu hanya berlangsung tak lebih dari tujuh menit. Selesai dengan hanya satu korban jatuh di pihak lawan.
Selang sesaat setelah kejadian itu, beberapa orang berpakaian jas lengkap dengan dasi berlarian dari dalam bengkel. Diantaranya ada yang membopong temannya yang luka. ”Cepat lari, semua lari ada bom di dalam!”
Tak sampai lima menit. Bengkel itu kosong blong. Semuanya lari keluar. Terjadi ledakan-ledakan hebat disusul kebakaran. Api menjalar cepat karena adanya bensin dan oli. Sekejap saja seluruh isi bengkel dan mobil-mobil mewah yang tak sempat dikeluarkan, ludas dilalap si jago merah. Berita terakhir, penyelidikan polisi, ternyata tak ada ledakan bom. Itu kebakaran biasa karena kelalaian pegawai yang membuang puntung rokok sembarangan.
( Bersambung 33 )
Comments







