Cinta 100 Juta Dollar Eps 31
Posted on 20 Januari 2018 ( 0 comments )
Episode 31
Kid melahap tuntas makanan di meja, ikan cakalang rica dan dabu-dabu khas Morotai. Salina gembira melihat bagaimana Kid melahap habis. Ia belajar resep itu dari ibu Maisaroh beberapa waktu lalu.
“Kid jangan terlalu kenyang.” Tegur Salina.
“Masakanmu semakin lezat. Tak kusangka kau cepat belajar resep ibu.”
Pertemuan pers itu dijanjikan jam sebelas. Semua media cetak dan elektronik diundang termasuk media luar negeri. Hari itu konsferensi pers padat dikunjungi media.
Semua orang yang masuk ruangan harus melalui security ketat. Berlaku untuk semua orang. Tak ada perkecualian. Semua perlengkapan alat tulis, kamera diperiksa teliti. Ini urusan resmi yang disesuakan perebutan gelar juara dunia.
Ruangan Ball-room hotel penuh sesak. Dua ratus kursi, semua terisi undangan. Kid ditemani Pacheco dan Marbella. Istri Pacheco dengan bahasa Indonesia campur Inggris mengawali konferensi. Tetapi perhatian wartawan tak tercurah padanya perhatian orang beralih kepada Salina yang bercelana jin dan blus putih dibungkus jaket kulit.
Salina memasuki ruangan dengan anggun dan sedikit kikuk. Salina tahu ia akan disorot terkait kisah asmaranya dengan Kid. Ia merasa bimbang hadir disini. Tetapi tadi pagi Kid telah menyuntik keberanian padanya.
“Kau tak boleh lari dari kenyataan bahwa kau dan aku ada hubungan yang tak lama lagi menjadi resmi.”
Meski akhirnya berani hadir tidak urung Salina terlambat beberapa saat. Ia mengambil tempat duduk di kursi paling pinggir dikelompok barisan belakang. Sebab deretan depan sudah terisi. Wartawan yang duduk disampingnya menegur. “Eh anda nggak keliru seharusnya duduk di depan?”
Salina tersenyum. “Aku disini saja.”
Wartawan itu mendesak. “Apa benar kabar anda merebut kekasih orang? Merebut Kid dari Magda anak orang kaya yang cantik jelita? Jika benar itu suatu langkah maju dalam jurnalistik.”
Salina tak menjawab. Memang ia tak perlu menanggapi pertanyaan itu. Karena saat itu perhatian penanya tertuju ke pembicaraan didepan. Kid Salasa!
“Seperti dikatakan manager saya, kita dahulukan soal pribadi saya. Ini hanya suatu pernyataan sikap saya terhadap tulisan di koran yang menyinggung kehormatan saya. Wartawan tersebut telah dengan sengaja menulis hal-hal yang tidak proporsional dari sisi kehidupan pribadi saya.
“Sebagai laki-laki saya tersinggung, mengungkit persoalan pribadi saya, itu sama saja dengan menempeleng saya. Sebagai anak Indonesia saya tersinggung. Saya sedang konsenterasi pada pertarungan saya, pertarungan yang membawa serta harkat bangsa dan gengsi bangsa. Tetapi wartawan itu kelihatan sengaja merusak konsenterasi saya. Sebagai warga negara yang baik maka saya telah melapor ke polisi dan menuntut wartawan itu.“
Seorang wartawan bertanya. “Anda mengatakan tulisannya tidak proporsional, dibagian mana?”
Kid membaca catatan yang ada di atas meja, yang disusun staff pengacaranya.
“Antara lain pada komentar nona Magdalena. Ternyata komentar itu tidak pernah diucapkan Magda. Saya punya bukti rekaman pembicaraan saya dengan Magda tadi malam via telepon.“
Kid menekan tombol tape sambil menyorong mike didekatnya.
Terdengar suara desis kaset diikuti suara Kid. “Magda ini aku Kid Salasa dan pembicaraan kita ini direkam, akan kuberikan kepada polisi dan juga kubaca dalam konferensi pers. Kamu sudah membaca koran tadi pagi?”
Terdengar suara perempuan yang agak jauh. “Aku baca. Kid itu berita ngawur, aku tak pernah wawancara dengan wartawan itu. Terima kasih Kid, kau percaya padaku. Kau mau buat konferensi pers, wah itu bagus biar orang juga tahu bahwa aku tidak seperti itu. Jika kau mau menuntut wartawan itu ke pengadilan aku juga mau menuntut dia, kita sama-sama Kid, kemarin hari Minggu pagi seorang wartawan datang ke rumah dan bertanya apa benar anda Magdalena kekasih Kid Salasa ?”
“Dia minta waktu wawancara tapi kutolak, aku tidak bersedia. Lalu kusilahkan ia pulang. Kid semua yang ditulisnya tidak benar!”
“Magda kau punya saksi yang mendengar pembicaraanmu itu?”
“Ada pembantuku mbok Tini dan temanku Laksmi yang kebetulan nginap di rumahku. Mereka berdiri disampingku dan aku memang tidak mempersilakan wartawan itu masuk.”
Seorang wartawan asing bertanya. “Apakah anda pernah wawancara dengan pers khusus persoalan ini?”
“Tidak! Selama ini saya tidak mau meladeni pertanyaan menyangkut pribadi saya. Anda yang pernah wawancara dengan saya pasti tahu itu.”
Wawancara memanas ketika memasuki sessi tanya jawab pertarungan. Kid Salasa menegaskan, dia sudah siap fisik dan mental meladeni Christopher the truck. Tetapi ia tidak membicarakan detail latihan. Ini komitmennya bersama Pacheco.
Emosi Kid sempat terpancing ketika ditanya masalah Ibrahim, yang kini terbaring di rumah sakit. “Saya tidak tahu apakah itu perbuatan sengaja atau tidak sengaja, tetapi saya rasa orang-orang itu hendak merusak konsenterasi saya. Agar konsenterasi saya terpecah itu maunya.”
Kid menambahkan bahwa ia memang cukup terpukul. Ia marah karena adiknya dikeroyok hampir sepuluh orang. “Tak perlu saya pungkiri, konsenterasi saya memang terganggu dalam masalah ini dan jika itu tujuan seseorang agar konsenterasi saya berantakan, maka dia berhasil. Saya akui saya memang terganggu, tetapi persiapan tarung saya tidak terganggu. Fisik, mental dan konsenterasi saya pada saatnya nanti akan berada pada titik puncak alias prima dan terpusat kepada satu sasaran, membungkam mulut Christopher yang suka ngoceh itu.”
Tentang pasar tarohan yang mengunggulkan dirinya, Kid mengatakan ia tak tahu apa-apa soal itu. “Saya yang diunggulkan atau lawan saya yang diunggulkan bagi saya sama saja, sebab saya memang harus menghajar Christopher. Pasar tarohan itu cuma mainan orang-orang yang punya duit dan suka judi.”
“Siapa lawan anda berikutnya ?”
“Kalau saya menang, ini bukan takabur, agama saya melarang takabur, tetapi saya yakin bakal menang. Nah, kalau saya menang, maka saya akan beri kesempatan kepada siapa saja untuk menantang saya. Dalam situasi seperti saya, bukan saya yang memilih lawan, tetapi lawan yang memilih saya.”
“Usia sudah agak senja, masih berapa lama lagi anda bertahan?”
“Mungkin dua pertarungan besar lagi baru saya undur diri.”
Ada seorang yang tidak senang dengan jawaban Kid ini. Salina. Ia menggerutu dalam hati. “Kau sudah janji padaku bahwa ini pertarunganmu yang terakhir. Dan kau akan undur diri. Sekarang kau malah berjanji pada pers akan bertarung dua kali lagi.”
Tetapi ada satu hal yang memuaskan Salina, dia telah mendesak Kid agar surat ancaman lewat pengendara motor, jangan diumumkan. Biar letnan Faisal yang mengurusnya. Salina masih ingat bunyi ancaman dalam surat itu.
“Kalau mau keluargamu, ibumu, pacarmu selamat maka kau tak boleh menang, Ibrahim adalah contohnya.”
Delapan tahun nama Mara Prahara berkibar dipenjuru ibukota, di lorong-lorong sampai ke anak pejabat, nama itu dikenal. Kalau perlu membereskan suatu persoalan dengan jalan kekerasan hubungi Mara Prahara. Pasti beres. Bukan Mara yang membereskan tapi anak buahnya.
Di Jakarta orang berpikir seribu kali mau berurusan dengan Mara Prahara. Sekarang setelah menimbun kekayaan hasil dari pemerasan dan pelacuran, dia bagai seorang raja muda. Dia punya rumah mewah, istri dan anak, empat mobil mewah, dua belas perusahaan, juga diskotik. Semua ada, uang dan kekuasaan. Tak ada orang yang berani membenturnya.
Malam itu tak akan pernah dilupakan Mara Prahara. Diskotik miliknya yang laris dan mewah di Mangga Besar, hancur berantakan. Dua belas anak buahnya masuk rumah sakit dengan tubuh yang perlu direparasi. Sebagian dari mereka tulang rusuk patah, hidung melesak, kepala retak dan lain sebagainya.
Anak-anak muda teman dan sahabat Ibrahim datang tak cuma merusak diskotik mewah itu, tetapi juga menghajar anak buah Mara. Mereka menuntut balas atas pengeroyokan yang dilakukan terhadap Ibrahim.
Malam itu Mara Prahara cemas ketika Ibrahim hampir mati dikeroyok di depan diskotiknya. Dia tak ada konflik dengan sasana Daruba. Dia telah memenuhi permintaan Ibrahim membebaskan Utari dari ikatan kontrak namun akhirnya dia diserang juga.
Dia menelepon ke sasana Daruba menjelaskan persoalan. Tetapi Kid Salasa tak mau menemuinya. Dia menelepon Alex Patahpatah, anak Tulehu yang jadi raja di Priok, menjelaskan bahwa dia tak tahu apa-apa tentang pengeroyokan itu.
Apa kata Alex? “Kau perlu menjelaskan pada semua kawan Ibrahim di Jakarta kenapa Ibrahim dikeroyok dua puluh orang lebih didepan diskotikmu.
“Mereka bilang, dulu Mara miskin jadi dia perlu bantuan kita, tapi sekarang Mara sudah kaya dan dia tidak mau berkawan dengan kita, malah kita dianggap musuhnya.” Itu ucapan yang ditiru Alex kepada Mara Prahara.
Mara Prahara bersama dua pengawalnya datang ke rumah sakit menjenguk Ibrahim. Disana ia bertemu beberapa orang tapi tak ada yang meladeninya bicara. Mereka membalas dengan tegur sapa namun tak ada yang mau bicara.
Mara Prahara sudah berusaha optimal untuk menjelaskan pada pihak Alex Patahpatah tetapi sia-sia, pihak Alex tak mau terima. Tiada jalan lain terpaksa Mara mengaktifkan seluruh anak buahnya. Siap-siap.
Mara juga menyuruh anak buahnya menyelidiki siapa yang mengeroyok Ibrahim, belakangan baru diketahui bahwa pengeroyokan dilakukan anak-anak dari diskotik TOTT Top Of The Top namun sudah terlambat. Seandainya cepat memperoleh kabar dan memberitahu Alex, diskotik itu tentu selamat.
( Bersambung eps 32 )
Comments







