Cinta 100 Juta Dollar Eps 30
Posted on 20 Januari 2018 ( 0 comments )
Episode 30
Jakarta bukanlah ibukota kalau tak didukung kehidupan malam yang gemerlap dan kelam. Gemerlap sebab sepanjang malam diterangi aneka warna lampu neon. Kelam karena disana-sini pintu maksiat terbuka lebar. Manusia tinggal memilih jalan menuju surga yang kekal atau surga dunia yang semu yang bergelimang dosa. Seperti juga semua lelaki pencari hiburan. Mereka tinggal memilih pub diskotik atau hiburan lain sesuai tebalnya kantong.
Road To Heaven, salah satu diskotik kenamaan di mangga besar. Dari nama saja sudah menunjuk adanya penawaran tangga menuju kepuasaan duniawi yang semu. Kata orang sulit mencari perempuan jelek disitu karena semua pramunianya cantik menawan. Ibrahim masuk bersama Anwar Gogolomo dan Roni Skeleng, dua teman yang baru datang dari Ambon. Diskotik hiru pikuk, bising diterangi lampu kelap-kelip.
Ada seorang lelaki mengantar mereka ke meja paling strategis di tengah ruangan. Tak lama kemudian pelayan mengantar minuman yang dipesan. Seorang lelaki datang ke meja dan berbisik di telinga Ibrahim. Ibrahim berdiri dan mengikuti orang itu. Kepada dua kawannya, ia memberi isyarat untuk duduk menanti.
Lelaki itu mengetuk pintu, terdengar suara dari dalam. “ Masuk.”
Ibrahim masuk, pengantar tidak ikut masuk, hanya memberi hormat kepada pria separuh baya yang duduk di kursi. Pintu dibelakang Ibrahim ditutup. Di kamar itu masih ada lelaki lain, tinggi besar dengan dada bidang, berdiri dekat kursi kosong depan meja.
Mara Prahara berdiri. “Silahkan duduk. Bung Ibrahim.”
Ibrahim duduk tanpa basa-basi. Sudah lama ia mendengar nama Mara Prahara, tetapi baru kini bertatapan langsung. Tadi pagi ia menelepon lelaki ini dan minta waktu untuk bertemu, Mara memilih diskotik miliknya sebagai tempat pertemuan.
Lelaki ini tidak luar biasa. Tetapi bahwa ia bisa sampai pada posisi sekarang ini, tentu perjalanan panjang melewati lorong-lorong penuh perkelahian dan pembunuhan. Mara kini boleh berbangga dan menikmati keringatnya yang penuh darah.
Ibrahim langsung kepersoalan. Meminta baik-baik agar Utari dibebaskan pergi dari sini. Ia janji Utari tidak akan membuka rahasia apapun tentang Titin Aprilia, Mara Prahara dan perusahaanya. Utari hanya merasa tak kerasan dan ingin berkumpul dengan ibu dan adiknya.
Mara Prahara menghela napas berat. “Kalau boleh aku bertanya, apa hubungan Bung dengan Utari? Kekasih?”
“Sementara hanya teman, namun tak kupungkiri aku menyukainya.”
Lelaki berbadan besar disamping Ibrahim tertawa sinis dengan suara tertahan. Ibrahim menoleh. Mendadak Ibrahim berdiri sambil kakinya mendorong kursi ke belakang. Saat bersamaan ia berputar dan memukul wajah si pria.
Lelaki itu terlempar ke belakang. Ia tak sempat bereaksi. Gerakan Ibrahim cepat dan hanya butuh tiga detik mengirim lelaki itu terkapar di lantai. Darah menetes dari hidung dan mulutnya. Ibrahim melirik. Mara tenang-tenang duduk sambil merokok. Mara tersenyum ketika mata mereka saling tatap.
“Aku tak suka ada yang menertawakan ucapanku.” Kata Ibrahim lirih.
Mara tertawa. “Dia Taisen. Baru sekali ini kulihat dia mencium kanvas. Tapi aku tak heran. Pukulanmu mungkin sama keras dengan abangmu. Dan kau Taisen kau boleh tunggu diluar.”
Taisen berdiri, menghapus darah dengan punggung tangan sambil melotot menatap Ibrahim. Ia mengepal tinju.
Mara menggeleng kepala, tertawa. “Taisen kau terlalu lamban untuknya.”
Lima belas menit berlalu, Ibrahim dan kawannya keluar dari diskotik yang makin hingar-bingar. Sampai di pintu luar, Anwar menggerutu. “Mengapa pulang boss. Beta balong puas ba dansa.”
Ibrahim belum sempat menjawab ketika mereka berpapasan dengan empat pria yang berjalan buru-buru. Tak terhindar lagi terjadi tabrakan bahu dengan bahu. Tiba-tiba Ibrahim berteriak sambil memegang perutnya. ”Aduuh”
Gerakan reflex Ibrahim cepat luar biasa. Tangan kirinya mendekap perut dimana tertancap sebuah pisau kecil sementara bahu kanan ditarik ke belakang kemudian bagai per berpegas pukulannya melanda wajah pria yang menusuknya. Terdengar suara seperti tulang retak dan kepala lelaki itu tersentak ke belakang diikuti tubuhnya.
Pada saat bersamaan tiga lelaki asing itu sudah berhambur ke Ibrahim. Saat yang sama ketika mendengar suara gaduh, Gogolomo dan Skeleng cepat menyesuaikan diri. Mereka berpencar disamping Ibrahim dan menyambut serangan lawan. Sekejap saja dua anak Ambon itu saling bertukar pukulan dengan tiga lawan.
Tamu-tamu lain yang ada disitu lari serabutan. Dari luar pagar datang delapan orang. Kawan dari empat lelaki tadi. Mereka menghambur ke arah Ibrahim bertiga. Terjadi tawuran. Ibrahim bertiga dikeroyok. Perkelahian tidak imbang.
Ibrahim dengan tangan tetap mendekap perut berusaha memblok pukulan lawan, hanya sekali ia sempat melontarkan pukulan dahsyatnya, tepat melanda dagu seorang lawan, terdengar bunyi tulang retak. Dan orang itu tumbang, pingsan sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
Tinju Gogolomo dan Skeleng juga memakan korban. Tetapi perkelahian tetap tak imbang apalagi sebagian lawan ada yang menggunakan senjata tajam. Tahu bahwa keadaan kritis, Gogolomo berteriak, “Skeleng, katong mati rame-rame!”
Itu tanda Gogolomo siap mati. Tetapi pasti ada dua atau tiga pihak musuh yang akan celaka lebih dahulu.
Tiba-tiba terdengar suara keras. “Hei ini katong pung tamang, mari baku pilang rame-rame.” Empat lelaki datang membantu.
Perkelahian makin seru, Ibrahim terkapar dilantai. Gogolomo dan Skeleng bertahan dekat Ibrahim. Empat lelaki itu sangat membantu, desakan lawan berkurang.
Tiba-tiba terdengar letusan senjata api, dua kali tembak ke udara, mendadak para pengeroyok lari serabutan, menghilang cepat. Mereka datang dan pergi bagai angin. Seorang lelaki menerobos kerumunan ternyata letnan Faisal.
Sasana Daruba tak pernah sepi. Tamu selalu berdatangan dari mana-mana. Seperti biasa anak-anak muda berkumpul di beranda rumah yang luas. Tak ada kursi disitu. Hanya belasan tikar plastik. Malam itu udara dingin. Di ruangan dalam yang ber AC, Kid duduk berdua Salina. Kaki Kid terlunjur diatas meja. Malam itu tak ada wawancara mereka mengobrol biasa.
“Bagaimana tangapan pak Dubes?”
“Tak ada apa-apa ayahku tak pernah memaksakan kemauan kepadaku. Kemarin aku bicara cukup lama dengan ayah. Katanya terserah padaku, apa yang kurasa baik tentu baik. Katanya aku bukan anak kecil lagi, tetapi sudah dewasa dan bisa memilih sendiri tapi terus terang saja dia memang terkejut!”
“Terkejut bagaimana ?”
“Iya kaget, kok mendadak aku memutuskan menerima lamaran seorang petinju?”
“Lantas kau bilang apa ?
“Kusebut namamu lantas ayah cepat menjawab, wah kalau namanya Kid Salasa itu memang petinju beneran. Pertama sekali yang ayah tanya apa agamamu.
Kid tersenyum puas. Ia merasa malam ini sangat istimewa. Dan ia tak henti-hentinya memandang wajah rupawan Salina meskipun tanpa make-up. Tadi waktu shalat magrib di sasana, seperti biasa Salina menghapus make-up.
“Ada pesan untukmu dari ayah,” kata Salina.
“Ayah mendoakan kau menang, bukan sebab kau pacar puterinya, tapi sebab kau pertahankan gengsi Indonesia di mata dunia. Pesan kedua kalah atau menang kau harus ke London melamarku.”
“Ayahmu hebat, pesannya itu patriotis. Tapi kau lebih hebat lagi untuk melamarmu aku harus terbang dari Jakarta ke London. Tak apalah asal kita terbang berdua, sebab aku takut naik pesawat.”
Terdengar ketukan pintu. Kiai Durachim masuk. “Ada telepon dari rumah sakit Gatot Subroto, Ibrahim dirawat di ai-si-yu.”
Kid, seperti tak percaya. Ia menarik kakinya dari atas meja. “Apa? Ibrahim di rumah sakit, kenapa? Tabrakan?”
Mobil Volvo itu melaju kencang, Salina dibelakang setir, Kid duduk disampingnya dengan membisu. Kiai Durachim dan Pacheco di jok belakang.
Salina melihat letnan Faisal dan letnan Sarmanto ada disitu. Seorang wanita cantik duduk dipembaringan dekat kepala Ibrahim. Utari mau apa dia kesini? Salina pernah mengenal Utari sebab Ibrahim pernah mengajaknya ke sasana.
Kid melihat adiknya terbaring dengan mata terpejam tubuhnya penuh dengan balutan perban yang dibeberapa tempat ada berkas darah. Tampaknya Ibrahim lagi tidur.
Dokter jaga mengatakan tak perlu khawatir. Memang banyak luka tapi tidak membahayakan jiwa. “Dia akan sembuh hanya perlu waktu. Luka dilambungnya tak terlalu dalam, pisau ini tertahan oleh tebalnya baju dan jaket. Dua tulang rusuk retak, juga tak bahaya. Tulang pundak memar. Tak berbahaya. Dua kawannya lebih baik kondisinya, beberapa luka ringan bekas tusukan, memar dan tulang retak”
Kid tak banyak berbicara. Ia memperoleh keterangan cukup banyak dari letnan Faisal, Gogolomo dan Skeleng. Dalam perjalanan pulang Kid diam seribu bahasa. Salina diam. Juga kiai Durachim dan Pacheco. Salina turun didepan rumahnya didaerah Tebet. Mobil Volvo melaju ke Bogor. Pacheco mengambil alih setir.
Begitu sampai di sasana. Kid langsung menuju ruang latih. Tanpa membuka pakaian lagi, ia menghantam punching-bag. Pacheco teriak. “Kid jangan melukai tanganmu. Tahan dirimu Kid.”
Mendadak saja Kid berteriak keras dan menggema ditengah malam buta. Ia berteriak berulang-ulang. Seluruh kemarahan ia tumpahkan dalam teriakan yang menyeramkan itu. Kid benar-benar marah. Ia membanting beberapa gelas dan piring. Menendang pintu, melempar kursi kayu ke jendela kaca.
Anak-anak muda yang sedang rehat di serambi berlari masuk mengira ada perkelahian. Mereka berhenti di ambang pintu melihat Agus Bumbum menghadang. “Raja Kao ngamuk, kalian diluar saja.”
Anak-anak muda itu kembali ke serambi.
Pacheco terpukau melihat bagaimana Kid mengumbar amarah.
“Kalau dia bertarung dengan emosi seperti itu dan dengan kepala dingin, aku yakin Christopher berada dalam kesulitan besar,“ Bisiknya.
Agus Bumbum masuk menghampiri Kid. “Boss tadi ada pengendara motor tidak dikenal, dia titip surat untukmu katanya penting, dan menyangkut keselamatan Ibrahim. Karena penting Satpam penjaga gerbang menerima, tak berani menolak.”
“Mana orangnya ?”
“Sudah pergi. Hanya berhenti memberi surat saja.”
“Satpam kenal orangnya ?”
“Tidak, dia pakai helm. Nomor plat motornya pun tidak terlihat.”
Kid hendak menerima surat itu, tapi kiyai Durachim lebih cepat menyambar surat dari tangan Agus. Kiyai membuka pelan-pelan lalu membacanya. Kid melihat air muka ayah angkatnya berubah, tampak marah, gemas, dan geram. Kiyai menimpan surat dalam kentong celananya.
Pagi itu satu jam setelah menyelesaikan latihan rutin. Kid sedang melahap sarapan pagi. Sejak beberapa hari makanan dan minuman petinju Morotai itu tidak lagi dikontrol Pacheco. Tidak ada lagi resep ilmiah yang bagi Kid terasa membosankan. Yang ada kini hanya makanan kesukaan Kid, semua serba ikan laut, telor ayam, daging sapi atau daging kambing. Sayuran sedikit. Sering kali Salina mendampingi Maisaroh dan Salero yang masak, terkadang Salina sendiri yang masak.
( Bersambung eps 31 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







