Wisang Geni Part Two Bab 5 by John Halmahera
Posted on 28 Juni 2014 ( 0 comments )
Bab Lima
Pertarungan Trawas
Begitu keluar dari lembah, Wisang Geni bersiul. Tak lama berselang si hitam Wulung muncul, mengibas-ibas kepala, mengangkat dua kaki depan lalu meringkik. Dia senang bertemu majikannya. Saat berikut kuda Atis muncul menghampiri.
Mereka menunggang kuda, Wisang Geni di punggung Wulung dan Atis di kudanya sendiri. “Aku maunya berdua di punggung Wulung seperti kemarin.” Ujar Atis menggoda.
“Dulu kamu sakit, sekarang sudah sembuh.”
“Dulu belum jadi isteri, sekarang sudah jadi sisianmu.”Sambil dia melirik menggoda.
“Jadi kemana, ke lereng Argo?” Wisang Geni bertanya.
Tampak wajah Atis yang berduka. Dia mengangguk. “Iya, gunung Argo.”
“Aku janji Tis. Tiga puluh hari aku sudah akan menjemput kamu.”
“Awas bohong, kamu sudah janji, sudah bersumpah akan menjemput aku.” Atis diam sejenak, parasnya muram. “Tapi tiga puluh hari waktu yang lama, aku akan merindu kamu setiap hari, setiap malam.”
Atis menangis. Teringat akan berpisah dengan Wisang Geni.
Tujuh hari kemudian mereka tiba di lereng Argo.
Dari kejauhan tampak rumah di tengah kerimbunan pepohonan. Tiga bayangan melesat bagaikan melayang menghampiri Wisang Geni dan Atis. Ternyata mereka, pendekar Merapi Sagotra dan dua sahabatnya Grajagan dan Pancasona.
Ketiganya terkejut melihat Atis duduk dipangkuan Wisang Geni di punggung kuda. Tangan Wisang Geni memeluk tubuh isterinya. Seketika Sagotra mengenali Wisang Geni.
“Hei Geni, kamu apakan cucuku?” Suaranya keras agak membentak.
Atis menyahut tidak kalah kerasnya. “Kakek jangan ikut campur, awas kamu macam-macam, aku tinggal pergi lagi!”
Sagotra diam. Dua sahabatnya juga diam.
Pancasona membuka suara. “Atis muridku ada persoalan apa? Kamu pergi cukup lama, membuat kami bingung mencarimu.”
“Guru juga jangan ikut campur urusanku dengan kangmas Geni.”
“Kangmas?” Seru Grajagan, bertanya sekaligus terkejut.
Wisang Geni menyahut datar. “Atis sudah jadi isteriku.”
Tiga orangtua itu menyahut serentak, terkejut. “Haahh isterimu?”
Atis melompat, salto ke belakang, berdiri tepat di belakang suaminya, masih di atas punggung Wulung. Tangannya mengelus wajah dan rambut suaminya, dia berkata ketus pada tiga orangtua itu.
“Aku lebih berani dari kalian bertiga, kalian saling mencinta tapi tak pernah berani kawin. Setelah umur sudah sangat lanjut baru kumpul bersama. Itu cinta yang aneh. Aku lebih berani, kami saling mencinta, lalu kami kawin, jadi suami isteri, apakah itu salah?”
Pancasona berteriak girang. “Lihat, itu ajaranku. Kalau cinta yah cinta, jangan lari. Kalau saling cinta harus kawin. Ternyata Atis sudah jadi isteri Wisang Geni wah itu hebat muridku, kamu membuat pendekar banyak isteri itu kasmaran padamu.”
“Guru!” Atis berseru keras.
“Iya, iya, aku salah bicara.” Pancasona tersenyum geli.
Sesaat suasana hening.
Sagotra memecah kesunyian. “Wisang Geni, sekarang maumu apa?”
Wisang Geni berdua Atis melompat turun dari punggung Wulung. “Aku mau titip Atis di sini, tiga puluh hari lagi aku menjemputnya.”
Sagotra memandang Atis.
“Iya kek, itu rencana kita berdua. Mas Geni masih harus selesaikan urusannya, setelah itu dia menjemputku dan membawa aku ke Welirang. Boleh aku tinggal disini, sementara saja? Kalau tidak boleh, aku pergi ke Lemah Tulis saja.”
”Ohh kakekmu senang kamu tinggal disini.” Sagotra menoleh ke Wisang Geni. “Katamu tigapuluh hari, awas jangan sampai lupa menjemput cucuku. Kalau kamu mempermainkan cucuku, aku marah Geni!”
“Aku mencintai Atis, kamu tak perlu khawatir.” Tegas Wisang Geni.
“Mas kamu nginap di sini beberapa malam, mau kan? Katakan iyah.” Atis memeluk suaminya tanpa merasa risih pada kakek dan dua gurunya.
“Satu malam.”
“Tiga malam saja.” Atis memeluk suaminya, merebah kepalanya di leher suaminya.
Wisang Geni berbisik. “Baiklah, tiga malam.”
Atis melepas pelukannya. “Kek aku pinjam rumahmu tiga malam, kalian bertiga tidur di luar. Kakek harus setuju.” Matanya berkedip-kedip memandang Sagotra.
Pendekar Merapi yang hebat digjaya itu tak berdaya. Dia menoleh menatap dua temannya. Grajagan dan Pancasona tersenyum.
“Kita dikuasai anak kecil ini.” Kata Grajagan.
“Hei guru, aku bukan anak kecil!” Seru Atis.
Grajagan cepat menyahut. “Maaf aku salah omong, kamu bukan anak kecil lagi, kamu sudah dewasa. Malah sudah kawin.”
“Eh Atis kamu sudah sanggama dengan suamimu?” Pancasona ingin tahu.
“Sudah. Tiap hari. Guru sudah merasakan?” Atis tersenyum menggoda.
“Anak nakal, berdebat denganmu aku tidak pernah menang.” Tukas Pancasona.
Saat itu hari masih sore. Tiga pendekar tua tampak berbisik-bisik, berunding.
“Kakek, apa yang kalian bisik-bisik, mau membohongi aku?” Teriak Atis.
Sagotra mendorong Grajagan, menyuruh temannya yang bicara. “Atis muridku, karena Wisang Geni sudah jadi suamimu, maka kami bertiga harus menguji ilmu-silatnya, ingin tahu kemampuannya melindungi kamu.” Kata Grajagan.
“Mau main curang, mengeroyok suamiku?” Seru Atis berang.
“Tidak. Kita tanding satu lawan satu, sekadar uji ilmu-silat.” Potong Pancasona.
Atis menoleh suaminya. “Kamu mau? Kalau tidak mau, biar aku yang menolak.”
“Jajal ilmu-silat, aku juga ingin main-main,” Wisang Geni gembira. Dia menghadap tiga pendekar tua itu. “Siapa yang maju duluan?”
Sagotra mendorong Pancasona. Perempuan tua ini mendorong Grajagan.
“Kamu maju duluan!” Perintah Pancasona.
Grajagan melangkah maju. “Geni, aku tahu ilmu-silatmu tinggi, tetapi aku juga sudah menyempurnakan sewu braja. Ayo kita jajal.”
“Silahkan mulai Ki.” Wisang Geni memutuskan menggunakan jurus langit kumpulan jurus yang dia ciptakan saat dilanda duka kematian isterinya Walang Wulan. Tiga kumpulan rasa suwung wenganing bumi (ikhlas membuka dan membelah bumi), ngesti suwung wenganing bumi (suasana hening membuka bumi), wongmati ora kesasaban bumi (orang mati tidak dikubur). Dalam tiap kumpulan memecah belasan jurus menyerang yang mengandung kesedihan, amarah dan dendam.
Grajagan memainkan andalannya sewubraja yang punya banyak perubahan tak terduga. Intinya adalah gerak lamban mengatasi kecepatan, tampaknya bergerak lamban namun bisa tepat pada saatnya menangkis atau memukul. Pukulannya panas membawa tenaga besar, gabungan tenaga-luar dengan tenaga-dalam. Inilah jurus tangan kosong murni, tanpa senjata namun sanggup menantang musuh yang bersenjata.
“Jangan mengalah, Mas. Kalau kamu kalah, guru akan mengejek aku.” Teriak Atis.
“Murid apa kamu ini, mengapa membela orang luar?” Kata Sagotra.
“Dia bukan orang luar, dia suamiku. Aku harus membela dia, itu kewajiban seorang isteri yang setia.” Seru Atis, sambil melotot memandang kakeknya. “Kakek tidak tahu urusan suami isteri, jadi diam saja Kek.”
Sagotra bergumam di dekat Pancasona. “Sampai kapan pun kita kalah silat-lidah dengan Atis, otaknya cerdas dan mulutnya tajam.”
Pancasona menggamit lengan Sagotra. “Lihat tarung itu.”
Pertarungan berlangsung ketat. Wisang Geni meladeni tenaga Grajagan. Adu tenaga, adu jurus, adu kecepatan. “Tiga tahun lalu aku pernah menyaksikan kamu memainkan sewubraja menghadapi pendekar Kuangchou. Hebat, sekarang tenagamu makin berbobot, jurus makin tajam dan lancar. Selamat Ki Grajagan.” Wisang Geni memuji.
Sepertinya tarung imbang. Tetapi sebenarnya Wisang Geni lebih unggul. Dia membaca arah pukulan Grajagan dengan baik. Beberapa kali sengaja adu tenaga.
“Tarrr …. Tarrr …. Tarrr…” Terdengar benturan tapak tangan, keras macam bunyi ledakan ketika batu bertemu batu. Sewubraja mirip-mirip gelap-ngampar kontra tamparan jurus langit yang menggunakan tenaga wiwaha.
Terdengar teriakan Atis. “Guru, mundur saja guru, mumpung masih imbang. Jika mas Geni menggelar jurus angin leysus, kamu bisa di terbangkan ke pulau sempu.” Atis tertawa geli melihat Grajagan mulai kewalahan.
“Jurus apa itu, jurus siluman?” Sahut Grajagan.
“Itulah jurus angin ribut yang digunakan Wisang Geni mengakhiri tarung lawan pendekar Kuangchou, masih ingat kamu?” Teriak Nyi Pancasona.
Grajagan ingat sepakterjang Wisang Geni dalam tarung dengan pendekar Kuangchou tiga tahun lalu. “Benar juga, kalau dia gunakan jurus angin ribut, aku bakal kewalahan jadi daripada malu lebih baik mundur!” Berpikir demikian Grajagan melompat mundur beberapa tombak. “Kita imbang, tidak kalah dan tidak menang!”
Atis berteriak. “Curang, kalah yah kalah, tidak perlu malu, kamu tetap guruku, tidak mungkin aku memecatmu!” Atis tertawa geli.
“Kamu aneh. Tadi itu tarung imbang. Tidak kalah, juga tidak menang. Bukankah begitu Wisang Geni?” Grajagan bertanya.
“Iya Ki, kita imbang. Sewubrajamu maju pesat, aku kewalahan.” Sahut Wisang Geni.
“Ah Dimas Geni, kamu menghibur aku.” Grajagan tersipu.
Berikutnya Pancasona maju. “Kini giliranku!”
Nyi Pancasona menyerang menggunakan pedang baja tipis yang mengilat diterpa sinar mentari sore. Jurus pedang daladala sudah puluhan tahun dia dalami, tak heran gerakannya lancar dan bersinambungan tak putus-putus. Pedangnya baja lemas yang bisa menampar seperti sabuk, saat lain kaku bagaikan pedang baja.
“Wisang Geni cabut senjatamu hadapi jurus daladala ini.”
“Maaf, aku tidak membawa senjata, lagipula tidak terbiasa pakai senjata.”
Pancasona menunda serangannya. “Tidak adil. Kalau kamu tangan kosong, sudah pasti kamu menang, jurus tangan kosongmu tak ada tandingan di tanah Jawa. Aku mau menguji sampai dimana kemajuan jurusku ini, jadi kamu harus pake senjata!”
Atis berteriak. “Guru Sona, kamu curang, menyuruh suamiku tarung dengan senjata yang tak pernah dilatihnya, itu jelas-jelas perbuatan curang, menipu lawan.”
Timbul kegembiraan Wisang Geni berseru. “Tis, aku pinjam kerismu!”
Tak bisa menolak, Atis melempar kerisnya, sambil protes. “Guru Sona memang suka curang, selalu mau menang sendiri.”
“Eh Atis, kalau dia tak bisa mengatasi daladala, itu artinya dia tak bisa melindungimu, dia harus dipecat sebagai suami!” Pancasona tertawa cekikan, menggoda muridnya.
“Siapa berani memecat suamiku, Guru, jangan membuat aku marah!” Teriak Atis.
Pancasona mengalih perhatian pada Wisang Geni. “Terima seranganku!”
Pedang lemas itu menyerang dengan tusukan, tamparan, sabetan, tidak memberi ruang sedikitpun bagi Wisang Geni untuk mengelak. Serangan tak pernah putus.
Wisang Geni terkesiap. Jurus pedang pendekar wanita ini maju pesat. Kecepatan pedang mendesaknya, dan dia hanya bisa lolos pada detik-detik terakhir ketika ujung pedang hanya satu jengkal dari tubuhnya.
Dua puluh jurus berlalu.
Keris Wisang Geni seakan tidak berguna. Dia hanya bisa meloloskan diri menggunakan ringan tubuh dan sentilan jari tangan kirinya.
Pada saat kritis Wisang Geni menemukan cara menghadapi daladala.
Tadinya dia sungkan dan tak ingin melukai Pancasona, hal ini membuatnya terdesak. Memasuki jurus duapuluhlima Wisang Geni mencecar pergelangan tangan Pancasona dengan keris maupun sentilan jari tangannya. Dia menggunakan garudamukha prasidha yang jurus-jurusnya dirancang untuk permainan bersenjata.
Seketika pertarungan berubah. Lolos dari situasi kritis, Wisang Geni kini menyerang gencar. Serangannya tertuju pergelangan dan siku tangan. Kini Pancasona yang terdesak. Sepuluh jurus berlalu, Pancasona tak berdaya membendung desakan.
Tiba-tiba Wisang Geni melompat mundur.
“Cukup, cukup, aku menyerah kalah! Jurus daladala makin hebat.” Seru Wisang Geni.
Atis berteriak. “Tidak bisa begitu! Guru Sona yang kalah!”
Pancasona tertawa melihat muridnya begitu bersemangat membela suami. “Suamimu menang, Atis. Dia memang pendekar nomor satu.”
Atis berteriak gembira. “Mas Geni sudah menang dua
Comments







