Cinta 100 Juta Dollar Eps 29

Posted on 17 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 29

Persoalan dengan Magda sudah selesai. Dengan demikian ia telah menyenangkan hati ibunya, juga ayah angkatnya. Urusan cintanya dengan Salina sudah beres. Sore tadi ia membawa Salina kehadapan ibu dan bibinya. Mengatakan kepada kedua orang tua itu bahwa Salina adalah calon istrinya.

Tetapi Kid Salasa belum bisa melenyapkan bayang-bayang ketakutan. Ia takut kecolongan lagi. Kalau sampai itu terjadi habis sudah segalanya. “Sekarang ini aku tidak bisa mempercayai siapapun kecuali ibu, bibi, kiyai, adikku dan kau calon isteriku. Yang lain tak boleh kupercaya! Katanya kepada Salina.

Salina bertanya, bagaimana dengan Pacheco?”

Ia pasti jujur, professional sejati, ia tak akan mengkhianatiku. Aku percaya Pacheco dan Marbella.

“Kalau dia tahu kau mencurigainya dia pasti akan kecewa dan ini bisa merusak hubungan baik kalian. Lebih baik kau bicara dengannya.”

Alasan Salina bisa diterima Kid. Akhirnya Kid bicara dengan Pacheco. Ternyata Pacheco justru gembira bahwa Kid berpikir demikian. “Aku senang itu artinya kau waspada. Dan aku bisa lebih leluasa mendampingimu, lebih bagus begitu Kid semua makanan, minuman bahkan juga minuman saat tanding ada dalam tanggung jawabmu. Aku hanya akan mengurus masalah tekhnik saja.”

Malam ini Kid masih boleh berpikir tentang banyak hal. Tetapi esok hari dia harus memikirkan the Truck, juara Amerika yang siap menggilasnya sampai rata dengan tanah.

Petinju Amerika itu sudah tiga pekan beradaptasi dengan lingkungan Jakarta. Gringo itu berkomentar bahwa fisik dan mentalnya sudah siap. Ia sudah menyatu dengan iklim maupun suasana Indonesia, khususnya Jakarta.

Ini negeri yang indah, dan penduduknya sangat menyenangkan. Aku mencintai negeri ini tapi aku merasa sedih bahwa pada hari itu aku akan memukul salah seorang penduduk Indonesia yang bernama Kid Salasa. Aku akan memukul anak nakal yang tak tahu diri itu.”

Ulah dan gaya berbicara Christopher memang menarik sebagai sumber berita. Pers tak sehari pun absen menulis berita tentang the Truck. Para wartawan tak pernah sepi dari berjaga-jaga di sasana Daruba dan sasana the Truck.

Perang dingin antara dua kubu berlangsung terus dari hari ke hari. Melibatkan bukan cuma Kid Salasa dengan Christopher, tetapi juga para pembantunya. Yang paling seru terjadi di salah satu diskotik di kawasan Mangga Besar.

Dendam Agus Bumbum terhadap George belum impas. Malam itu ada berita  George bersama Henk Tracy dan Ken Martin sedang minum-minum di diskotik. Kontan Agus melesat dengan taxi ke Mangga Besar. Ia mengajak serta pak Didin yang jago silat, bersama Pisoki dan Bakar.

Perkelahian pecah di dalam diskotik. Meja kursi berantakan. Botol beterbangan ke mana-mana. Jerit perempuan, sumpah serapah laki-laki, suasana hiruk pikuk. Petugas keamanan diskotik kewalahan tak mampu membendung amuknya tukang-tukang pukul kedua kubu.

Semua luka-luka, George, Ken Martin dan Pisoki nginap dirumah sakit. Ketiganya menderita luka-luka serius yang masing-masing membutuhkan sekitar limabelas jahitan. Esoknya perkelahian ini jadi santapan pers. Dan pers menyebutnya sebagai awal dari perseteruan berdarah antara Kid Salasa dan Christopher.

Pratomo termenung, ia masih merasakan, hangatnya uang limapuluh lembar seratusan yu es dollar yang diterimanya siang tadi. Sebanyak itu juga akan dia terima nanti kalau tugasnya beres.

Yah kalau beres. Kalau tidak beres? Kalau tertangkap basah, nasibnya akan sama dengan kisah beberapa pemain dan pelatih sepakbola yang terkena skandal suap. Karir  hancur, tak mungkin bisa mencari nafkah lagi di arena tinju.

Pratomo gemetar. Ia enggan melakukan ini. Risikonya terlalu besar. Ia juga tidak mau mengkhianati Pacheco dan Kid Salasa. Selama ini Kid menggajinya dengan baik. Memasukan bius ke makanan atau minuman Kid, sungguh terkutuk.

Tetapi sekarang sudah terlambat dia sudah menerima separuh uang yang dijanjikan. Lagipula keluarganya sangat membutuhkan uang.

Dua bulan belakangan ini ekonomi keluarganya hancur berantakan, istrinya dipecat dari perusahaan. Simpanan uang ludes dimeja judi. Sebagian lagi guna memenuhi keinginan isteri mudanya. Uang istri pertamanya Sriati ludes untuk belanja sehari-hari dan mengurus pekerjaan baru.

Pratomo terpojok. Hanya dalam waktu dua bulan, terutama satu bulan terakhir waktu isterinya dipecat, ekonomi keluarganya hancur berantakan. Ia tak punya apa-apa lagi. Uang jasa dua termen yang dibayarkan Kid dari kontraknya ludes. Masih ada satu termen lagi yang akan diterimanya pasca pertarungan.

Hutangnya tidak terbayar gara-gara pemakaian kartu kredit yang tanpa perhitungan. Dia tak mungkin bisa melunasi hutangnya yang membengkak sesuai persentase bunga. Pratomo tak punya pilihan, ia menerima tugas khianat. Dia  tahu sedang bermain api, salah sedikit api akan membakar seluruh tubuhnya. Tetapi ia tak perduli, itu sebab ia mengirim anak istrinya pulang ke rumah mertuanya di Purwakarta.

Jam sepuluh malam dia melepas keluarganya berangkat dengan mobil carteran. Mereka membawa barang seperlunya, hampir semua dolar diberikan kepada isterinya. Ia hanya menahan dua lembar sekadar keperluannya.

Pratomo menghela napas berat, ia menyembunyikan dari mana asal uang tersebut, tetapi pandangan isterinya seakan mengorek semua rahasia dalam dadanya. “Hati-hati Mas Tomo, apapun yang terjadi aku dan anak-anak akan menantimu.” Kata isterinya.

Pratomo masih bimbang, tapi ia ingat betul ucapan si pemberi uang. “Kau sedang berurusan dengan bisnis raksasa, pak Pratomo. Mereka tak kenal kasihan, sedikit saja kau buat kesalahan, aku dan kau mati dicincang.  Keluarga kita pun terancam!”

“Kid akan sakit lagi, sekarang makin dekat dengan hari pertarungan. Kid tak mungkin mencapai peak pada saat tarung.” Pratomo merasa dirinya tak berharga lagi.

Petang itu kolonel Agung Wibowo diutus tuan presiden meneliti perkembangan lanjutan berita negatif tentang Kid Salasa. Beberapa hal perlu ditanyakan kepada Menteri Olahraga. Lebih tepatnya suatu tuntutan. Hal ini membuat Menteri  berkeringat meskipun AC diruangan mendesis kencang.

Sejak pagi ia gelisah setelah membaca salah satu koran ibu kota. Berita ekslusif karena pada kenyataan tak ada yang menulis berita yang sama. Judulnya menyita empat kolom dengan huruf-huruf hitam dan besar. “Skandal cinta menjelang tarung”.

Berita itu menulis pecahnya kosentrasi Kid Salasa menjelang tarung. Seharusnya ia memusat pikiran pada pertarungan malah sibuk mengurus cintanya kepada dua wanita. Yang seorang Magdalena, putri jutawan dari Berlian group, yang seorang lagi novelis dan wartawati Salina Puspakencana puteri Dubes di London.

Yang menarik adalah komentar Magdalena yang ditemui wartawan media tersebut di rumah orangtuanya di kawasan elit, istana kapuk muara karang. Aku memang pernah jadi kekasih Kid Salasa, tetapi kini tidak lagi. Waktu itu aku sering nginap di sasana, tentu saja di kamar ibundanya. Empat hari lalu ia  memutus hubungan dengan aku tanpa alasan yang jelas. Katanya kami tak cocok.

Penulis berita melanjutkan. Hubungan selama dua tahun putus karena Kid Salasa telah beralih kepada Salina. Padahal selama ini Magdalena konon sering membantu Kid dengan dana yang besar terutama saat Kid memburu gelar juara Pasifik.

Menteri cepat mengambil keputusan. Ia menelepon kolonel Supangat  memintanya datang ke kantor. Kebetulan kantor hanya bersebelahan dan hanya memerlukan waktu sepuluh menit jalan kaki.

“Memang tadinya ada yang serius. Ada komplotan terorganisir rapi sedang menyusun rencana menjatuhkan Kid Salasa, agar dia kalah dalam pertarungan nanti. Diduga komplotan itu berhasil membujuk salah seorang dari kubu Kid, tetapi siapa pengkhianat itu belum kami ketahui. Dan sedang kami telusuri.”

Keterangan Supangat mengejutkan Menteri dan Agung Wibowo.

“Sehari dua ini kami akan menghajar habis komplotan itu. Diduga dibelakang mereka ada seorang konglomerat, juga ada beking dari aparat. Semua akan kami sikat, sesuai instruksi yang saya terima.”

Menteri Olahraga dan kolonel Agung Wibowo manggut-manggut setuju.

 Supangat melanjutkan dengan bersemangat “Kabar cinta segitiga itu memang ada, tapi masalahnya tidak serius. Kid Salasa memang terlibat dengan dua wanita bahkan lebih dari dua, tapi hanya sebatas hubungan teman. Media terlalu membesar-besarkan. Tampaknya Kid sangat berang. Esok pagi, katanya dia akan menyelenggarakan konferensi pers soal ini. Dia akan menuntut si wartawan tersebut.”

“Mungkin saja wartawan itu dibayar seseorang untuk memancing kemarahan Kid. Hal ini akan menggangu konsenterasi petinju kita. Kata kolonel Agung Wibowo.

Bisa jadi, itu sudah masuk analisa kami. Dan kalau itu disengaja untuk memancing kemarahan Kid, tampaknya sudah berhasil. Kid memang sangat berang. Tetapi saya rasa tak perlu khawatir. Kid tahu apa yang harus ia lakukan menyangkut pertarungan. Dia bukan anak kecil. Dia profesional bahkan sudah level dunia.” kata Supangat.

Menteri olahraga tiba-tiba menyela. “Yang kami inginkan adalah Kid Salasa bisa tampil prima sekaligus memenangkan pertarungan. Ini yang paling dimaui tuan presiden. Karenanya Kid tak boleh gagal!”

( Bersambung eps 30 )

 


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com