Cinta 100 Juta Dollar Eps 28
Posted on 17 Januari 2018 ( 0 comments )
Episode 28
Tentu saja Magda tak mendengar teriakan hati Kim. Kalau saja mendengarnya, ia akan terkejut setengah mati. Magda tak tahu dan tak pernah punya pengalaman bisnis modern di zaman edan. Kim hanya ingin tenaga Magda untuk mencapai maksudnya, yakni membius Kid dan ia sukses. Begitu maksud sudah tercapai, maka Magda pun dicampakan. Ini bisnis modern kata orang, sekarang ini zaman edan yang lebih mengerikan katimbang zaman jahiliyah, sekarang ini zaman manusia makan manusia.
Waktu itu sehari setelah mengunjungi Kid yang sakit, Magda datang mengunjungi Kimberley. “Kim mantera dukun Parto jitu, Aku bertemu Kid yang sedang istirahat, tidak latihan. Aku menatap matanya. Matanya menatap aku dengan penuh cinta. Oh sungguh aku bahagia. Kim, terimakasih.” Kata Magda waktu itu.
Waktu itu, Kimberley bersorak gembira. Ia memang benar-benar gembira tetapi bukan seperti dugaan Magda. Bahwa Kid mencintai Magda. Bukan itu. Kim gembira lantaran obat bius sudah bekerja. Merongrong, dan merusak program latihan Kid.
Itu saja sudah cukup, memang Kim hanya ingin mencuri enam atau delapan hari program latihan Kid. Itu saja sudah seperti lonceng kemenangan bagi kubu Christopher. Pasti the Truck akan menang, artinya kekasihnya akan memenangkan banyak uang, dan makin kaya. Dan mereka akan segera menikah.
Kemarin Magda datang dengan cerita lain, Kid mendepaknya. Ia telah memilih Salina wartawati itu. ”Aku lebih cantik lebih menarik, aku lebih kaya kenapa kau tidak memilihku? Kenapa kau memilih dia Kid? Kenapa?”
Waktu itu Kid menjawab datar. ”Justru kau lebih cantik, dan banyak kelebihan, maka aku tak bisa mengawinimu. Kau bukan pasangan yang tepat untuk aku. Kau harus memperoleh pasangan yang tepat, baru kau bahagia.”
Magda merasa terpukul cintanya ditolak. Hampir semua pria yang dikenalnya tergila-gila padanya dan mendambakan cintanya. Tetapi Kid malah menolak. Magda marah, ia sudah merendahkan diri dengan menyatakan cinta, tetapi petinju Morotai itu tak tahu diri berani menolaknya.
Tiba-tiba Magda tersentak jangan-jangan Salina menggunakan dukun, Salina pasti menang karena dukunnya lebih jago dari dukun Parto. Pikiran ini membuat Magda melangkah ke Kimberley. Ia tak lagi merasa malu. Magda mengadu dan menangis seperti anak kecil. Dan Kimberley muak melihat Magda.
Kimberley tumpahkan rasa muaknya. “Magda kau pasti telah melanggar syarat dan pantangan. Tidak mungkin mantra dukun Parto membentur tembok. Belum pernah kejadian. Kau pasti telah berbuat salah dan ini memalukan. Aku tak mungkin mengantar kamu kesana, aku malu. Kau harus pergi sendiri, kau harus berani tanggung jawab karena telah melanggar pantangan itu.”
Magda masih setengah sedu-sedan berkata dengan nada tinggi. “Sumpah mati aku tak berbuat apapun yang melanggar pantangan. Semua kukerjakan sesuai aturan, air itu kusuntik ke botol aqua-nya tak ada yang melihat!”
“Iya tetapi kau mengaku alat suntikmu jatuh dan membiarkan tergeletak di tanah, itu adalah kesalahanmu, seharusnya alat itu kau kembalikan padaku. Perjanjian memang begitu, sekarang ini kau sendiri yang harus kembali ke dukun Parto. Kau mengaku salah dan mematuhi apa kata dukun, dan minta ampun kepadanya. Aku hendak pergi ada janji dengan seseorang jam lima sore ini.” Kim bergegas menuju pintu.
Magda seperti layangan putus, tak lagi punya semangat. Ia berdiri dari sofa empuk itu, melenggang dengan lemas ke pintu. Kimberley memandangnya dengan mata berkaca-kaca. ”Magda jangan putus asa laki-laki bukan cuma Kid Salasa seorang, kau cantik masih banyak laki-laki antre mempersuntingmu.“
Akting Kimberley sempurna. Diluar Kim tampak begitu prihatin akan nasib Magda, tetapi dalam hati ia tertawa geli.
Tidak lama Magda keluar, Kimberley memanggil sekretarisnya. ”Kalau nona Magda tadi datang lagi kapan saja, bilang aku sedang keluar negeri. Pokoknya aku tak mau lagi menerimanya, atur semua itu!”
Beberapa menit kemudian Kim sudah di atas mobil Mercedes, jalanan sore itu macet, tetapi pikirannya justru terang benderang. Dari mobil ia menelepon seseorang dan dalam perjalanan menemuinya.
Setengah jam kemudian mobilnya memasuki Paradise Plaza, apartenen elit dikawasan Kebayoran. Hampir semua orang kaya, pria maupun wanita punya apartemen disitu. Mereka membeli tanpa sepengetahuan istri atau suami mereka dan menjadikan sebagai tempat kencan, selingkuh atau bersantai.
Sekuritinya ketat dan serba rahasia menyebabkan tak satu pun nama penghuni, pemilik atau penyewa bocor keluar. Kimberley berbicara lewat hape. Tak lama kemudian pintu lift terbuka, Kim naik menuju tingkat empat belas. Ia memencet bel. Terdengar suara laki-laki. Kim menyahut, saat berikut pintu terbuka, Kim masuk.
Kim melihat kekasihnya sedang duduk di meja tulis. Tumpukan map dan kertas bertaburan di meja. Kim berjalan memutar menghampiri kekasihnya dari belakang lalu melingkarkan lengan ke leher Edward Buntaran.
“Kau hebat Kim, usahamu menyebabkan Kid tidak berlatih enam hari. Itu sama saja dengan memberi kemenangan kepada kubu Amerika. Tetapi Pacheco dan orang-orang pandai menyembunyikan rahasia, pers tak tahu ini, begitu juga kubu Amerika. Memang bagus, dengan demikian pasar tarohan tetap menjagoi Kid.”
“Mereka pandai menyembunyikan rahasia, tetapi kau lebih pintar dari mereka . seingatku, baru kemarin aku memberitahumu. Dari mana kau peroleh rahasia itu?”
“Uang bisa membeli manusia, Kim. Eh bagaimana dengan perempuan bernama Magda itu, sudah kau putus hubungan dengannya?”
‘Sudah, baru saja tadi ia kuusir “
Terdengar dering telepon. Edward menjangkau telepon saku. Saat berikut terdengar suara dari seberang. Sekitar lima menit ia mendenger lalu menutup telepon.
Kimberley bertanya, “bagaimana situasinya?”
“Senua bagus. Tinggal tunggu waktu saja. Hari itu seseorang akan menelpon aku dengan kode khusus. Itu artinya Kid sudah meneguk air bius. Satu jam sebelum tarung Kid versus the Truck dimulai aku menutup semua pasangan. Tengah malam dan besoknya aku tinggal memungut sekitar empat puluh milyar rupiah dari jalanan.”
“Kalau ada yang tak beres atau gagal misalnya, kau rugi berapa?”
“Tak tahu, aku tak menghitung, tak pernah memikirkan bahwa aku akan rugi. Karena mustahil terjadi.”
Hari 80 Kid merasa kondisi tubuhnya semakin membaik. Ia bisa memantau dari air seninya. Jika dari pagi sampai tengah hari air seninya bening pertanda ia sehat dan fit. Sebaliknya jika agak keruh berarti kondisi kurang fit, terlebih-lebih jika sampai berwarna kuning itulah pertanda dalam kondisi minus.
Malam ini Kid Salasa merasa sendiri. Tak seperti biasanya. Sekarang ia seperti menghadapi banyak musuh. Banyak persoalan datang mengepung. Dalam pertarungan terdahulu ia bisa memusatkan pikiran terhadap lawan. Sekarang ini untuk kosentrasi ia butuh waktu lebih lama.
Kid tidak setuju pendapat Pacheco yang menuduh Salina sebagai gara-gara.
“Wawancara itu tidak bagus, mengganggu kosentrasimu, membuatmu tidak relaks, sehingga kau tidak bisa mengendurkan syarafmu. Itu sebabnya kau tampak lebih tegang belakangan ini.” kata Pacheco.
Kid tak mau menyinggung wibawa Pacheco. Dengan pelan dan rasional ia berusaha meyakinkan pelatih Mexico itu bahwa kehadiran Salina di waktu istirahat justru membuat relaks. Pacheco tidak yakin namun akhirnya mau percaya ketika Kid mengaku mencintai Salina.
Pacheco lantas menyuruh Kid cepat menyelesaikan urusan dengan Salina agar bisa lebih kosentrasi. Mulanya Kid anggap tidak sulit mengucapkan kata kuno itu, namun kenyataan sebaliknya. Setiap hendak mengatakan “aku cinta padamu”, mulutnya serasa terkunci. Mengingat itu Kid tertawa sendiri. Lebih mudah melepaskan jab dan lebih mudah mengucap kata putus kepada Magda.
Persoalan dengan Magda selesai. Ia merasa menyesal dan tak enak melihat Magda pergi dengan membawa luka dihati. Bukan karena Magda salah satu orang yang dicurigai menyuntik obat bius ke minumannya. Bukan sebab itu melainkan Magda bukan wanita yang cocok untuknya, terlalu banyak perbedaan.
Bagaimana dengan Salina? Kid merasa semangat bangkit ketika mengingat Salina. Perempuan itu tidak secantik Magda, tetapi cara ia berbicara, cara ia berjalan, cara ia duduk seakan seonggok medan magnit yang bisa menyerap seantero perhatian laki-laki yang bernama Yalas Salasa.
Kemarin malam ia berhasil mengucap kata-kata cinta dan ingin memperisterinya. Meski sempat gemetar dan berkeringat, Kid merasa ia telah melepas beban seberat gunung dari pundaknya. Tanpa sadar ia menghembus napas lega. Lalu menatap Salina, dilihatnya gadis itu gugup.
Kid tidak tahu, saat itu Salina seperti menari diatas awan. Hati gadis itu berbunga-bunga. Sudah lama ia menanti kalimat itu dari mulut lelaki yang dia cintai. Ia hendak menjerit gembira tetapi ia justru terdiam diri, merunduk dan memandang ujung sepatunya. Persis tingkah laku gadis-gadis di zaman Siti Nurbaya.
Kid tertawa, mengingat bagaimana ia memanfaatkan waktu wawancara itu guna mencurah isi hatinya. ”Aku memang rencana mengundurkan diri tapi nanti setelah aku berhasil memperisteri seorang gadis yang kucinta. Malam ini aku akan melamarnya menjadi isteriku, gadis itu adalah kau Salina. Maukah kau menjadi isteriku Salina?”
Melihat Salina membisu Kid kembali bertanya. Kali ini Salina memberanikan diri menjawab. “Kau sungguh-sungguh Kid?”
“Aku sungguh mencintaimu. Aku serius dan sungguh-sungguh melamarmu. Kamu mau menjadi istriku?”
Pernyataan yang pertama bagai mimpi untuk Salina, yang kedua seperti ledakan bintang. Gemerlap dan cahaya terang. Salina merasa jantungnya melonjak.
“Aku mau. Yalas.”
Suara itu terdengar merdu ditelinga Kid. Mendadak Kid melihat taperecorder di mejanya, pitanya masih berputar. Semua tentu terekam tanpa sengaja, Salina juga melihat itu dan keduanya tertawa bahagia. Kebahagian yang terekam otentik dan tidak dibuat-buat.
( Bersambung eps 29 )
Comments







