Cinta 100 Juta Dollar eps 22

Posted on 08 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 22

Sakit 5 Hari

Esok harinya setelah sparring lawan Samuel, Seperti biasa Kid Salasa masih berlatih ringan, penyesuaian fisik. Lari mendaki bukit di belakang sasana. Sore harinya shadow boxing dan lompat-tali. Malam harinya Kid tampak lesu.

            Esok harinya Kid semakin lesu bahkan tak mampu bangun pagi. Tidak biasanya.

Pacheco dan tim sudah siap-siap untuk lari sepuluh kilometer menanti dengan sia-sia. Kid tidak muncul. Pacheco yang kemarin malam tidak tidur di kamar Kid menyuruh Pak Didin memanggil Kid. 

“Kid sakit dia tak  bisa latihan!” Suara masseur tua itu agak gemetar.

Kabar sangat mengejutkan Pacheco. Menurutnya kabar aneh, selama menangani Kid belum sekali pun laki-laki Morotai itu sakit. Ia tercengang mulut serasa kelu. Saat berikut dia berlari ke kamar Kid. Dilihatnya, Kid telentang di pembaringan dengan kepala berbantalkan dua tangan.

Dia menatap mata anak asuhnya. Tampak seperti sumur tanpa dasar. Tangan Pacheco meraba kening Kid. Tidak panas. Suhu normal. Dia meraba pergelangan tangan, denyut nadi lemah  antara ada dan tidak. Dia curiga ada sesuatu dibalik sakitnya Kid.

Pacheco menoleh menatap isterinya. “Hanya letih.” Lalu dengan bahasa Spanyol meminta Marbella mengusir semua orang keluar kamar.

Marbella meminta maaf dan memerintah semua orang keluar kamar.

Pacheco menatap anak asuhnya. “Apa yang kau rasakan ?” Tanya Pacheco dengan suara gemetar.

“Tak tahu coach. Lemas tak bertenaga dan ngantuk sejak kemarin sudah kurasakan tanda-tanda ini tapi kupikir hal biasa, mungkin semangatku lagi menurun. Tetapi tadi pagi aku tak mampu bangun, tenaga seperti lenyap, mata hampir tak bisa kubuka, ngantuk sangat ngantuk dan lemas.”

Jantung Pacheco bedebar kencang.

Ada apa ini? Apa yang terjadi? Pacheco teriak pada Marbella. “Tunggu apa lagi? Cepat panggil dokter Franky dan Murad, dua-duanya!”

Masih dalam keadaan panik Marbella cepat merogoh hape dan menelpon dua dokter dimaksud. “Kode merah, dokter dipanggil Pacheco. Cepat datang, Kid sakit.”

Sebuah mobil sport warna putih, berhenti depan pintu. Magda melangkah pongah sambil menegur pak Didin dan Agus Bumbum dengan mengumbar senyum pesona.

“Kid latihan dimana?”  

Hari ini libur, Kid di kamar!“ Pak Didin menyahut tak bersemangat. Magda agak heran tapi melangkah terus. Dia masuk kamar tanpa mengetuk pintu.

Dalam kamar hanya ada Inem pembantu wanita yang sedang membersihkan lantai. Inem adalah mata-mata dari Lenan Faisal. Tampak Kid rebahan di pembaringan, Magda menyapa ramah, duduk di pembaringan sambil meraba kening Kid.

Aroma parfum Calvin Klein Euphoria yang menguap dari tubuh Magda sesaat merangsang membangkitkan semangat Kid, tetapi tak bertahan lama. Ibarat sepercik api menerangi malam kemudian padam lagi, seperti itulah semangat Kid Salasa.

Kid mengenal Magda sudah lebih dari satu tahun, sejak memenangkan gelar dunia. Ketika itu Kid sedang belanja di toko buku. Anak sekolah, remaja dan orang tua meminta tanda tangan, termasuk Magda.

Beberapa kali Magda bertemu Kid, tapi hanya terbatas percakapan biasa. Dia  gadis cantik yang memilih orbit pergaulan kalangan atas. Sehingga memerlukan seorang juara dunia, Kid Salasa sebagai kartu yang bisa dibanggakan pada teman-teman, tak lebih dari itu.

Dua kali Magda, mengundang Kid. Ia membawa Kid dan Pacheco ke pesta dansa kalangan atas, memperkenalkan kepada teman-temannya. Keesokan harinya, Magda akan bercerita betapa Kid Salasa berlutut memohon cintanya. Itu memang mode pergaulan kalangan atas. Kebanggaan gadis-gadis elit menceritakan betapa banyak pria terkenal bersimpuh di telapak kaki mereka.

Kid mengganggap Magda teman biasa. Kawan iseng. Mereka berjumpa beberapa kali selama perkenalan, tidak sering. Dua bulan belakangan Magda sering mencari Kid. Bahkan terang-terangan, tanpa malu-malu, dia perlihatkan pada orang sekitar bahwa dia  mengejar cinta sang juara. Terkadang secara tak langsung Magda mengungkap cintanya kepada Kid.

Dalam pandangan Kid, Magda adalah gadis kelas atas, anak orang kaya, suka pesta.  Magda terlalu berani mengungkap perasaan suka kepada lelaki yang disukainya. Dan Kid terbiasa berjumpa wanita Indonesia tipe pemalu, risih melihat gaya hidup Magda yang serba luar negeri.

Busana yang dikenakan paling tidak harganya belasan juta, semua merk perancang kelas dunia, begitu juga perlengkapan kosmetik. Serba luar negeri.

Sekali waktu Maryam mengomentari. “Kak Yalas. Biaya hidup Magda kalau kuhitung bisa mencapai jutaan rupiah per hari. Selera Magda, selera jet-set. Suka diskotik dan pesta. Jajan di restoran pilihan. Mainan ke Singapura atau Bangkok dengan pesawat first class. Mobil mahal, rumah mewah serba AC, permadani Turki, perabotan Italia. Tiga pembantu rumah tangga juga baby sitter kalau punya anak. Kakak mau kawin dengan perempuan macam itu?” Maryam benar-benar tidak menyukai Magda.

Kid geleng-geleng kepala. “Dia teman biasa.”

      “Aku suka Salina, ibu juga suka, bibi juga suka, semua menyukai Salina.”

      Kid teringat percakapan dengan adiknya, dia setuju pendapat mengenai Salina tetapi dia tak bisa menolak Magda. Dia membiarkan tangannya dielus Magda. 

“Kid jangan melamun.” Kid tersentak dari lamunan. Gadis itu melanjutkan  dengan suara gemetar. “Kid aku ingin kau melamar aku, kini aku telah siap jadi isterimu.”

Kid tercenung. Tak pernah terpikirkan Magda melamar. “Seorang gadis cantik, kaya dan intelek melamar aku? Ini mimpi? Apakah ini Amerika Eropa atau Indonesia?

Kid menatap mata Magda melihat kilauan bintang di mata bening itu, Magda sungguh cantik. Tak pernah Kid menemukan gadis secantik Magda, gadis cantik seperti ini cuma bisa ditemukan dalam film-film Hollywood. Sekarang bidadari ini duduk disisinya, pantat si gadis nempel di pahanya. Meskipun terhalang busana dan celana tetap saja Kid terangsang. Bidadari ini melamar aku,” gumam Kid dalam hati.

Sesaat Kid lupa kondisi fisiknya. “Apa katamu?”

Magda tersenyum membuat kecantikannya makin berbinar. Dalam hati Magda berterimakasih kepada Kimberley, ternyata air mantera dukun Parto sangat mujarab. Ia melihat pancaran nafsu dari mata Kid. Magda merasa bahagia saat itu, yakin Kid akan jatuh ke pelukannya, tunggu waktu saja.

Lantas dengan segala kekuatan batin mengucap kalimat yang sudah dipersiapkan berhari-hari. “Lamarlah aku, aku sudah siap jadi isterimu.”

Mendadak Kid  menjadi seperti orang tolol, ketika teringat ancaman ibunya. Kau harus menikah dengan gadis muslimah. Dia teringat Maryam adiknya, “aku tidak suka Magda, ibu juga tidak suka Magda.”

Seperti orang tolol, Kid mengulang kata-kata ibunya. “Tapi kita beda agama….”

“Aku sudah mempelajari Islam, aku siap jadi isterimu, Kid.” Tegas Magda.

Seharusnya Kid bahagia dengan ucapan Magda. Tetapi kenapa dia merasa hal itu seperti biasa-biasa saja. Malah terkesan aneh.

Pada saat yang sama, Magda tertawa dalam hati. “Mempelajari Islam bukan berarti masuk Islam.”

Tentu saja Kid tidak tahu apa yang dipikirkan Magda. Kid bingung. Saat itu dalam relung hati yang paling dalam, Kid sadar dia tidak mencintai Magda.

Magda menanti dengan penuh harapan. Ia masih menggengam tangan Kid. Saat itulah Pacheco masuk ruangan, diiringi Marbella, dokter Franky dan dokter Murad.

Magda memaki dalam hati. Kurangajar. Mereka menggangu saat-saat paling penting dalam hidupku. Sialan kau Mejiko tua jelek!”

Pacheco melarang orang lain masuk. Kondisi fisik Kid harus dirahasiakan. Dia memberi tanda pada isterinya. Marbella menggamit lengan Magda. “Sorry nona cantik, silahkan anda tunggu di luar.”

“Aku tunggu disini, aku mau tahu Kid sakit apa?”

Marbella menggeleng. “No.. no... no.. Kid tidak sakit, ini latihan rahasia.” Lalu dia mengantar Magda keluar kamar. Gadis itu menggerutu. Marbella mengunci kamar.

Dokter Murad saling pandang dengan rekannya dokter Franky.

“Apa yang kamu makan dan minum sejak dua hari kemarin?” Tanya Franky.

“Makan dan minum seperti biasa.” Tegas Kid.

“Masakan ibu dan minuman air mineral, semuanya steril.” Tegas Pacheco.

“Jangan kaget, ini tanda-tanda obat bius.” Kata Murad.

Pacheco, Marbella dan Kid terkejut.

“Tak perlu terlalu khawatir, kamu minum obat dan istirahat tiga atau empat hari, lalu kamu latihan lagi.” Kata Franky kepada Kid.

Berita itu mengejutkan seperti granat yang meledak dalam benak Pacheco. Dia seperti orang linglung. Obat bius? Ah tidak mungkin Kid terlibat obat bius.

“Aku tak pernah main obat-obatan!” Tegas Kid agak marah. “Pasti dokter salah!”

Mungkin ada orang memberinya tanpa dia tahu dan tanpa setahumu, coach. Tapi itu kenyataan, pemeriksaan kami berdua tak mungkin keliru, kupastikan sekali lagi, itu akibat obat bius! Tapi untuk memastikan aku akan uji air seni dan darahnya di lab.” Tutur Murad.

      “Sementara Kid minum obat ini, akan kuberikan obat lanjutan setelah kepastian kadar biusnya.” Kata dokter Franky yang lantas mengambil sampel darah dan air seni.

      “Dari pemeriksaan sementara kuperkirakan Kid minum obat bius itu satu atau dua hari lalu. Kupikir kejadiannya setelah sparring. Tapi kepastian kadar biusnya bisa kita terima besok lusa.” Kata dokter Franky.

      Kid dan Pacheco berupaya mengingat penggal demi penggal kejadian dua hari belakangan, tak ada yang aneh. Semua berjalan sebagaimana biasa. Makanan dan minuman tak ada yang luput dari Pacheco. Makanan dikontrol ibu Maisaroh dan ibu Salero, minuman semuanya steril masih dalam kemasan.

      Meski sudah pasti Kid Salasa sakit  akibat obat bius, dokter Franky  berhati-hati memberi obat.  Ada bahayanya karena obat khusus melenyapkan pengaruh bius justru mengandung perangsang. Dalam pemeriksaan air seni, Kid bisa dituduh menggunakan doping dan bisa kena sanksi berat. Satu-satunya jalan adalah menanti pengaruh obat bius berkurang.

      Tetapi persoalan tidak sederhana, terutama bagi Pacheco yang paham betul ilmu coaching. Seorang petinju yang jatuh sakit di tengah program latihan akan mengalami beberapa hal negatif. Ritme latihan terputus dan grafik program mengalami hambatan. Grafik yang seharusnya menanjak dan mencapai peak pada hari H dengan adanya musibah tersebut akan mengalami kemunduran serius.

( Bersambung eps 23 )

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com