Cinta 100 Juta Dollar eps 21

Posted on 03 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 21

Sayup-sayup terdengar lantunan ayat-ayat suci Ar-Rahman dari masjid dekat rumah. Itulah tanda akan memasuki saat imsak. Salina menatap jam, tepat jam empat dini hari. Dia bangkit dari duduknya, melangkah gontai ke luar kamar, menuju dapur bersih. Menuang kopi ke cangkir antiknya. Tak luput meraih buah apel dari kulkas. Sambil menggigit apel ia kembali ke kursinya.

”Bagaimana dengan Magda? perempuan itu lebih cantik lebih modern, lebih kaya, lebih pandai memikat. Magda banyak memiliki kelebihan dibanding aku. Tak salah kalau Yalas memilih Magda. Dia sungguh tolol kalau memilih Salina yang hanya anak seorang Duta Besar jujur yang hidupnya sederhana.” Suara Salina lirih.

Tetapi Salina bangga akan papanya. Dubes yang tak punya apa-apa kecuali rumah biasa dan dua mobil papan tengah, dan sedikit simpanan di bank untuk hari tua. Papanya sedang memasuki masa persiapan pensiun. Rencananya akan beralih menjadi dosen.

“Dari semua sisi, aku tak akan menang bersaing dengan Magda. Barangkali Yalas sudah menyanyi kata-kata indah dan mesra di telinga Magda. Melamar untuk menikah. Yah mereka pasti akan kawin. Keduanya sama kaya, papanya Magda pengusaha kaya, orang kepercayaan Pramudya pemilik Berlian Group. Yalas  jutawan.  Keduanya pantas dan imbang, lalu aku? Apa sih hebatnya Salina? Aku hanya penulis biografi yang dibayar untuk menceritakan kehebatan Yalas, tidak lebih dari itu.”

Salina menatap layar laptop, mendadak ia merasa marah kepada diri sendiri, marah  akan kelemahannya. “Persetan dengan Yalas atau Kid Salasa, persetan dengan Magda. Persetan semuanya, yang penting buku ini harus selesai dan menjadi karya terbaikku.”

Terngiang kembali kata-kata Didin. “Menurutku mereka ngincar Kid lantaran dia juara dunia dan punya uang banyak. Jaman sekarang memang seperti itu non.”

Dia tertawa sendiri. “Apakah aku juga mengincar Kid lantaran uangnya? Ah masa bodoh. Biarkan apa yang terjadi harus terjadi. Aku tetap mencintai Yalas!”

Hari 56. Hari itu pasar tarohan masih menjagoi Kid Salasa tujuh banding tiga, karenanya orang ingin tahu sampai mana persiapan Kid. Sparring lawan tiga petinju lokal sudah berlalu, para penggemar tinju cukup puas. Namun kali ini mereka ingin menyaksikan Kid berhadapan dengan juara Puerto Rico, Samuel. Pers telah menganalisa bahwa Samuel adalah tipe petinju dengan gaya dan fisik seperti Christopher the Truck.

Udara malam yang biasanya sejuk, malam itu terasa panas, karena sekeliling ring dipadati penonton. Aula penuh dengan penonton. Meskipun ada aturan dilarang merokok namun panas tubuh dan keringat yang menguar dari penonton telah meningkatkan atmosfir dalam ruangan.

Pihak keamanan internal sasana Daruba dan kepolisian mengawal ketat aula pertandingan. Tiket masuk ludes, penonton yang tidak kebagian tiket tak mampu menembus penjagaan ketat dan terpaksa pulang dengan bersungut-sungut.

Di pintu kiri, agen Faisal berdiri dengan telpon sebesar kancing melekat di bagian dalam krak jaketnya. Seorang berpakaian rapi menghampiri Faisal, menyapa gembira seperti dua sahabat yang lama tak bersua. Mereka bersandar dinding bangsal dan memandang ke deretan penonton yang ada di ring-side.

Faisal berbisik ditujukan ke telpon mikronya. Dia berkomunikasi dengan Mario agen senior yang baru tiba dari tugas luar negeri. Mario berdiri dekat pintu masuk menghadap arah ke ring-side.

“Perhatikan lelaki jaket merah bersama dua wanita di sebelah timur itu. Dia itu Ibrahim, panggilannya Baim, adik Kid. Dan wanita dengan dengan blus kuning celana cokelat itu Titin Aprilia, artis terkenal. Tampaknya Baim akrab sekali padahal seharusnya dia aktif membantu kakaknya. Awasi mereka.” Kata Faisal.

Melihat Mario mengangguk tanda mengerti, Faisal menambahkan, “jangan lupa catat nama semua petugas yang dinas malam ini.

Kau lihat di sisi barat dekat ring. Gadis rambut pendek, stelan jins dan blus hijau muda, namanya Magdalena, dipanggil Magda. Satu lagi gadis stelan jins dan kaos bertuliskan Brasil 2014, namanya Salina, wartawati. Selidik dan buntuti mereka tiga hari ini. Kumpulkan data dan lapor!” Tambah Faisal.

Tepat jam delapan Kid Salasa keluar dari rumah berpintu besar. Sorak sorai penonton menyambut keluarnya Kid Salasa, sang petinju kesayangan dan harapan bangsa. Enam orang menggiringnya sebagai pembuka jalan, Agus Bumbum anak Irian yang tak suka omong dengan mulut. Ia lebih suka omong dengan tinju, itu sebabnya ia dijuluki Bumbum. Di kedua sisi, berjalan Jose Pacheco dan Pratomo serta dua lelaki tinggi kekar memakai ikat kepala berwarna merah. Di belakang, empat lelaki tinggi besar memakai ikat kepala merah.

Pada saat yang sama, tampak sebagian penonton sibuk menggenakan ikat kepala  merah, ini memang ciri khas Maluku, malam itu banyak hadir pemuda Maluku. Dari pelbagai daerah, Morotai, Tobelo, Ternate, Tidore, Ambon, Tulehu, Saparua, Seram, semua dengan ikat kepala warna merah.

Kid melakukan pemanasan diatas ring, Pacheco sibuk mengatur semua perlengkapan terutama botol minuman di dekatnya. Tak lama kemudian Samuel melangkah menuju ring, enam lelaki menggiringnya dua diantaranya adalah manajer dan pelatihnya.

Faisal memperhatikan semua orang, wajah yang selama ini dicari-carinya ternyata tak ada, juga tak ditemukan wajah yang mencurigakan. Faisal kembali melayangkan mata ke ring, kilatan blitz bagaikan kunang-kunang berkilauan di malam hari saat berikut beberapa petugas menghampiri para fotografer dan melarang menggunakan lampu pijar tersebut.

Sparing lawan Samuel merupakan uji coba bagi Kid seberapa jauh hasil latihan selama dua bulan terakhir. Penonton pun ingin tahu, terutama para pengamat tinju, apa yang akan ditampilkan Kid saat menghadapi Christopher the Truck, Samuel merupakan duplikat Christopher sehingga boleh dikatakan partai sparing ini, merupakan gambaran pertandingan yang bakal terjadi.

Sparing berlangsung delapan ronde Kid lebih banyak memamer kelincahan kaki untuk menghindar desakan dan sergapan lawan, Sekali-kali Kid merangsek dengan double straight setelah mengawali dengan serangan jab bertubi-tubi. Tidak mungkin bisa sama seperti Muhammad Ali yang legendaries, tetapi gaya Kid itu mirip dance like a butterfly, and sting like a bee yang pernah popular dimainkan Ali di era enam puluhan.

Gaya Kid sangat enak ditonton tapi gaya Samuel sangat mengerikan, ia tak perduli  gaya dan aksi Kid ia terus menyerang, merangsek maju, memainkan kepalanya agar terhindar dari sengatan jab Kid, dan sesekali melancarkan long-hook, yang bila mengena bisa mengirim Kid ke alam mimpi.

Samuel merangsek maju seakan hendak melumat Kid. Ia seperti bulldozer yang siap menggilas apa saja yang menghalang jalan. Ada rasa khawatir, was-was Kid akan terbanting ke kanvas kena bogem Samuel yang begitu mengerikan.

Penonton bersorak menyaksikan Kid dengan tekhniknya yang tinggi berhasil meredam kebuasan Samuel. Dari ronde ke ronde, Kid tampak dominan dan superior, Samuel kewalahan karena Kid selalu lebih cepat dan gesit, dalam menghindar ataupun menyerang.

Beberapa kali Samuel berhasil menjebak dan memaksa Kid bertarung jarak dekat dan mengadu pukulan, tetapi tak lama Kid berhasil keluar dari tekanan dan balik menyerang, membuat Samuel bertahan.

Semua orang terpukau melihat Kid dengan tekhnik dan intelejensia membuat Samuel tak mampu mendesak dan melukainya. Semua mata tertuju ring, dan tak seorangpun perhatikan bahwa sejak ronde pertama Magda sudah berada dekat ring dan menyemangati Kid. Magda melihat di setiap waktu istirahat ronde digunakan Pacheco untuk memberi minum Kid.

Pacheco menggunakan kantong air dari kulit khas Mexico milik pribadinya, konon tidak seorangpun anak asuhnya yang minum dari kantong itu mengalami kekalahan. Kantong itu bahkan tak pernah lepas dari tangan Pacheco, dan setiap air itu habis Pacheco mengisi ulang dengan air aqua, satu dari tiga botol yang diletakkan di atas meja kecil.

Pada suatu saat di ronde tiga, Samuel memburu Kid sambil melancarkan pukulan. Pacheco dan Pratomo pun berteriak memberi peringatan saat itulah Magda menyeruak dan menusukan alat suntik ke dalam botol aqua. Tak  seorangpun  melihat karena semua mata tertuju ke atas ring. Magda hendak mengantongi alat suntik ketika Pacheco menyenggol tangannya. Alat suntik terlepas terjatuh ke tanah.

Magda terkesiap. Ia memandang Pacheco. Tampak Pacheco tak berkedip menatap ring. Magda menghela napas lega. Ia hendak mengambil alat itu tapi urung, takut kepergok.

“Toh tak ada yang tahu, lagipula cairan ini tidak berbahaya, hanya akan membuat Kid jatuh cinta padaku, kata Magda dalam hati. Berpikir begitu Magda menginjak alat suntik itu dan berharap benda itu terpendam selamanya di dalam tanah.

Kata dukun dalam satu atau dua  hari khasiat air akan bekerja. Kid pasti kasmaran padaku, menyembah meminta perhatian dan cintaku, dan aku akan menerimanya dengan bahagia, karena memang aku sangat mencintainya.” Gumamnya dalam hati.

Magda semakin bersemangat, ia teriak-teriak memberi semangat kepada Kid. Tetapi suaranya yang melengking tajam sangat menggangu Pacheco. Pelatih itu meminta Pratomo membawa Magda kembali ke kursi.

Dari tempat duduknya Magda melihat Pacheco mengisi kantong kulit itu dengan air dari botol aqua yang tadi disuntiknya. Saat berikut, air itu diminum Kid. Magda menarik nafas lega. “Tunggu dua hari lagi semua akan beres.” Desisnya.

Sparing usai Kid menang angka, wajah Kid tampak biasa tak ada memar bekas pukulan, napas pun tak terlalu tersengal-sengal. Pertanda bahwa Kid masih menyimpan tenaga. Dengan kata lain pertarungan itu tak banyak menguras tenaganya, sementara wajah Samuel tampak lebam, dan bengkak di seputar alis, mata dan kening.

Sebagai ungkapan terimakasih, Kid merangkul Samuel.

( Bersambung eps 22 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com