Cinta 100 Juta Dollar eps 20
Posted on 03 Januari 2018 ( 0 comments )
Episode 20
Anak Morotai itu punya jalan hidup yang berbeda dengan petinju di Indonesia maupun dunia yang sebagian besar lahir di perkampungan kumuh dari keluarga kelompok kelas bawah. Mereka orang-orang miskin yang berkelahi di jalanan demi memasukan sesuap nasi ke mulut yang berlumur darah.
Hampir semua mereka tidak mengecap pendidikan tinggi. Karenanya hanya menjadi robot penghasil uang bagi siapa yang beruntung menemukan bakatnya.
Mereka menjadi mesin uang bagi orang lain. Manajer mereka yang nantinya kaya. Sementara mereka sendiri pada masa tua akan berakhir di lorong-lorong kumuh di pinggiran kota, mereka dilupakan bahkan ditendang pergi begitu tidak menghasilkan uang lagi. Tinju profesional memang kejam. Tidak ada tenggang rasa. Yang ada dalam pertimbangan orang hanya uang, uang dan uang.
Tetapi Kid Salasa lain, ia cukup berpendidikan, paling tidak lulus dari standar minimal. Dia lulusan SMA, bahkan sempat duduk di fakultas sastra Inggris. Tidak heran dia bisa berkomunikasi lancar dengan wartawan asing, ia mengontrol sendiri uangnya, meski sebenarnya didampingi Maryam adiknya.
Salina membayang kalimat yang meluncur dari bibir tebal Kid, diakuinya cara lelaki itu berbicara merupakan bagian yang paling membuat hatinya tidak karuan.
“Kisahku mirip yang diceritakan di buku-buku silat. Seorang pendekar tua berjalan keliling kampung, melihat anak belasan tahun dikeroyok. Anak itu melawan dan pantang mundur meskipun wajahnya babak belur kena bogem mentah.
“Itu fakta aku dikeroyok tujuh anak sebaya, aku babak belur tetapi pantang mundur, beberapa musuhku juga babak belur, pukulanku memang keras kiri maupun kanan. Bapak Durachim yang kebetulan lewat memisah kami, menanyakan rumahku. Persis cerita silat, malamnya Pak Durachim bertamu ke rumahku. Minta ijin kepada ibu, mengajak aku tinggal di pesantrennya, belajar silat, mengaji dan belajar agama. Ia berjanji akan membiayai sekolahku sampai lulus es-em-a.
“Terkadang aku bosan tinggal di pesantren yang sepi, sekali waktu aku lari ke Malang bersama temanku nonton film eksyen, aku suka adegan perkelahian dan tembak-tembakan. Pulang nonton aku langsung ke pesantren, Pak Durachim hanya tertawa, katanya, lain kali kalau mau turun gunung harus ijin.
“Aku suka nonton filem, idolaku bintang filem Hollywood Charlize Theron, dialah impianku. Kulihat kau mirip Charlize Theron, saat ini aku membayangkan kamu menjadi kekasihku.” Dia menunjuk tumpukan dividi di lemari. “Aku punya banyak dividinya.”
Lelaki itu sangat lugu, ia mengucap kalimat itu begitu saja, suaranya biasa, datar tanpa getaran rindu atau kikuk. Tetapi matanya yang bening memancarkan sorot misterius. Tatapan yang sulit dilupakan Salina.
Mata itu begitu tajam dan bening. Salina merasa seperti mata itu menelanjangi dirinya, ia seperti duduk tanpa busana di depan laki-laki Morotai itu. Salina tertawa sendiri mengingat wawancara malam itu.
“Nggak ah. Aku nggak mau kau samakan dengan Charlize Theron, aku asli Indonesia, Yalas.”
“Yah kamu memang asli Indonesia tetapi kamu lebih mirip gadis bule, kata Bella kamu peranakan indo, ayahmu Jawa, ibumu Turki.”
Kesan malam itu terbawa terus oleh Salina kemanapun ia pergi. Sampai sekarang kilas balik malam itu sering terbayang olehnya. Dia merasa diburu pertanyaan yang sulit dijawab, apakah itu pernyataan cinta Yalas kepadanya?
Kalau itu suatu ungkapan cinta. Maka itu tak akan pernah dituangkan para novelis. Lugu tak ada basa-basi, tak ada bumbu, tawar macam sayur tanpa garam.
Itukah cara laki-laki Morotai mengungkap perasaannya, cintanya? Ah, Yalas tidak murni orang Morotai, dia sudah setengah arek Malang. Satu tahun berlatih silat, Yalas terlalu kaku, tidak lentur sebagaimana bakat pesilat. Tetapi Durachim menemukan bakat lain dalam dirinya, bakat tinju. Durachim mengambil inisiatif mengirim anak didiknya kepada Soleman, sahabatnya yang punya sasana tinju.
“Aku berlatih satu tahun, dan pertama kali naik ring di pasar malam aku memukul knock-out lawanku yang jauh lebih berpengalaman. Aku masih mengingat nama lawanku itu Subejo julukannya Codet karena ada bekas torehan pisau di wajahnya. Codet bukan hanya petinju tetapi berandalan dan petarung jalanan, istilah sekarang mungkin preman. Dia penasaran, minta revanche, dalam pertandingan ulang hasilnya sama, knock-out. Sejak itu aku tahu kemana harus mencari duit. Aku bukan dari keluarga miskin, ayahku meninggalkan warisan tanah dan rumah di Daruba Morotai meskipun kini telah terjual, ibuku punya warisan dari ayahnya rumah di daerah Kepanjen Malang dan sepetak sawah. Tetapi aku mau uang dari keringat sendiri dan itu bisa kuperoleh lewat tinjuku. Uang hasil tinju yang pertama kuberikan semua kepada ibu yang menerimanya dengan haru.”
Cerita masa kecil Yalas Salasa yang kemudian bernama Kid Salasa adalah kisah anak manusia yang berjuang sendiri, meniti hidup yang keras. Ia mulai berlatih tinju semenjak kelas dua SMA, pada usia enambelas tahun. “Sesungguhnya aku tidak suka nama Kid, lebih suka Yalas. Makanya di paspor dan ka-te-pe namaku tetap Yalas Salasa.”
“Siapa yang memberi nama Kid?” Salina ingat pertanyaan yang spontan. Dia memang tadinya merasa aneh perihal nama Kid yang artinya anak kecil.
“Itu julukan ketika aku naik ring di pasar malam, harus pake nama yang mudah diingat orang, maka sejak itu nama Kid Salasa lebih populer dari Yalas Salasa, tetapi ibu dan keluargaku tetap memanggilku Yalas. Sampai sekarang.”
Beberapa kali menang di pasar malam, pelatihnya mister Phillipous dan pemilik sasana Pak Soleman melihat bakat tinjunya. Lulus SMA dia berlatih serius di sasana. Phillipous, mantan juara kelas menengah Asia Pasifik itu melatihnya lebih keras. Dua tahun kemudian Yalas menjadi juara nasional amatir kelas welter. Tahun berikutnya merebut medali emas SEA Games.
Ketika ia berniat pindah ke tinju professional, semua orang mengeritik, kecuali seorang wanita kekasihnya, Mayang. Ketua Pertina mencegah dengan segala cara. Tentu saja demi kepentingan pribadi, sang ketua menegaskan dia tak bisa masuk tinju pro, tak ada izin, waktu itu usianya duapuluh satu tahun.
Sebagai protes dia pun berhenti bertinju. Dia melanjutkan kuliah. Di tengah jalan dia kawin dengan Mayang. Istrinya itu mati saat melahirkan. Mati bersama bayinya. Yalas patah hati. Satu tahun Yalas mengarungi masa paling sulit dalam hidupnya. Dia tidak punya semangat. Hidupnya seakan berakhir saat pemakaman anak dan isterinya.
Dia sadar ketika Durachim mendatanginya.
Orangtua yang dia segani itu hanya berkata singkat. “Kalau mau mati, matilah dengan meninggalkan sesuatu yang akan dikenang banyak orang. Ingat Yalas, kamu masih punya tanggungjawab kehidupan ibumu.”
Beberapa hari kemudian Soleman dan Phillipous menjenguknya di rumah. “Kamu dapat ijin dari ketua Pertina yang baru, kini boleh jadi petinju profesional.”
Waktu itu usianya 23 tahun. Dia berlatih macam kesetanan. Frustasi kematian isteri membuat dia berlatih macam orang kalap. Semua bentuk latihan yang diberikan Phillipous dikunyah mentah-mentah.
Ketika fight pertamanya di arena pro, di atas ring dia gemetar, takut dan tegang. Phillipous menepuk belakang kepalanya. Katanya, Kid kamu mau uang? Yalas mengangguk. Nah sekarang tatap musuhmu, pukul dia sekeras-kerasnya. Jatuhkan dia! Dan Kid Salasa pun kalap. Lima ronde, musuhnya roboh knock-out.
Menerima bayaran yang pertama dalam nilai dollar, setelah dipotong presentasi untuk Phillipous dan crew lain, semangat Kid Salasa bagaikan terbakar. “Waktu itu aku niat menabung uang untuk ibu dan bibi naik haji.” Tuturnya di villa Puncak.
Dalam waktu satu tahun Kid melibas tiga lawan berat. Tahun berikutnya dia memenangkan gelar juara OPBF. Tahun berikutnya dia memenangkan gelar International Boxing Federation. Masuknya Pacheco dan Marbella membawa perubahan besar bagi Kid yang kemudian memenangkan gelar World Boxing Organisation.
Bersama Pacheco dan Marbella, kehidupan Yalas makin teratur, antara latihan dan kehidupan sehari-hari. Hadiah uang dari pemerintah atas prestasinya merebut gelar WBO dia belikan kapling di Gunung Gede Bogor.
Kebetulan kawasan itu sudah dibeli Soleman yang membangun real estate. Harganya, harga diskon, antara anak angkat dan bapak angkat. Yalas membangun sasana Daruba. Pacheco meyakinkan Yalas akan lebih banyak uang mengalir ke rekeningnya.
“Aku memang memburu uang. Untuk membahagiakan ibu dan keluargaku, aku harus punya uang. Dan hanya tinju satu-satunya profesi yang bisa memberiku uang.” Kata Yalas sewaktu di Puncak.
“Kak Yalas baik hati. Dia dermawan suka membantu orang. Tetapi dia menjaga uangnya dengan baik. Dia mengendalikan uangnya. Aku mencatat semua uang masuk dan keluar. Dua orang yang membelanjakan uang. Kak Ibrahim untuk belanja rumah, termasuk makan dan semua keperluan keluarga. Marbella mengatur belanja berkenaan dengan tinju. Mereka mengajukan permintaan dengan tertulis, setelah kuperiksa barulah kak Yalas mengeluarkan cek. Aku mencairkan cek, tentu saja dikawal kak Ibrahim, Alex dan Agus.” Tutur Maryam ketika di Puncak.
Salina terangkat kembali dari lamunan, kembali ke realita. Ia tak bisa ingkar dan menipu diri. “Aku mencintainya. Salina Puspakencana, putri duta besar RI di Inggris, jatuh cinta kepada petinju asal Morotai. Pasti berita besar buat mama dan papa, putrinya yang diproyeksi menjadi istri mas Rangga yang anak jenderal, ternyata memilih seorang petinju. Salina mencinta Yalas, tapi apakah dia mencintai aku?” Gumamnya.
Dia ingat wawancara, beberapa waktu lalu. Mereka hanya berdua di ruangan. Yalas hendak memeluk dan mencium, dia menolak sambil mendorong dan mencakar. Terjadi percakapan panas. Waktu itu Yalas mengucap kalimat yang sampai sekarang masih tercetak di benaknya.
“Kamu tanya, apakah Pacheco memilih wanita untuk aku, tadi aku membuktikan bahwa aku yang menentukan pilihanku.”
“Apa maksudmu?”
“Aku memilih kamu, apakah itu salah, kamu cantik, baik hati dan pinter.”
“Bullshit[1]. Cukuplah, aku mau pulang.”
“Kau marah untuk hal sepele. Tadi cuma main-main, pikirmu aku benar-benar akan memerkosamu?”
“Sama saja, mencoba cium paksa, itu pelecehan seksual!”
“Sebenarnya itu jawaban atas pertanyaanmu, Pacheco tidak memilih perempuan untukku. Aku sendiri memilih wanita yang kusuka, tak ada hubungan dengan Pacheco. Aku menyukai kamu, itu yang sebenarnya.”
Dia senyum. Tapi senyumnya berubah cemberut mengingat Yalas tak pernah bicara soal menyukai dia meskipun tersedia waktu berduaan. Momen itu tidak berlanjut, lenyap ditelan waktu. “Dia hanya main-main, tidak sungguh-sungguh, ohhhh sungguh bodoh aku mengingat-ingat malam itu.”
( Bersambung eps 21 )
Comments







