Wisang Geni Part Two Bab 4 by John Halmahera
Posted on 25 Juni 2014 ( 0 comments )
Bab Empat
Persekutuan Makar
Matahari condong ke Barat. Kakek tua itu bergerak pesat, melompat sana sini. Gerakannya lincah dan ringan. Dia melompat disertai gerak dua tangannya memainkan jurus gelap ngampar, ilmu pukulan yang mengandung hawa panas.
Pukulannya terdengar bagaikan letupan batu bertemu batu. Keras dan gempita. Setiap dia memukul, angin pukulan menerpa sasaran batu yang menimbulkan suara letupan. Batu pecah berkeping.
Terdengar seruan seseorang dari arah tebing Timur, suaranya tidak terlalu keras namun bisa mengatasi deru angin dan ombak pantai Selatan. “Hebat hebat, jurus gelap ngampar semakin keras. Rasanya aku ingin menjajal.” Belum lenyap gema suaranya tampak seorang perempuan berbaju hitam berlari-lari ringan dan berhenti beberapa tombak dari lokasi latihan si kakek tua.
“Oh kiranya Janda Genit Ngargoyoso yang berkunjung, sudah lama kita tidak bertemu, kamu makin cantik dan ….” Dia berhenti sejenak memandang perempuan berusia empatpuluhan.
“Lanjutkan Paliyan. Cantik dan apa ….?”tukas Ngargoyoso.
“Cantik, tapi sekarang lebih usil.” Kata Siluman Goa Paliyan.
“Usil? Apanya yang usil. Aku membawa kabar gembira untukmu.”
“Ohhh kalau yang membawa kabar itu Janda Ngargoyoso, pasti aku bakal sibuk. Tidak! Aku tidak mau dengar! Pergilah, aku sudah hidup tenang di sini.”
“Hidup tenang? Ini bukan hidup tenang. Ini pengecut. Lari sembunyi di pantai Selatan, bersenang dengan lima gadis muda.” Dia menunjuk lima gadis yang duduk di atas batu besar dekat rumah. “Apa enaknya? Berlatih gelap ngampar buat apa, tak ada gunanya kalau tidak dipamer di dunia kependekaran, tak ada gunanya hidup jika melarikan diri, sembunyi dari musuhmu.”
Kakek tua yang dijuluki Siluman Goa Paliyan menghentikan latihan. Mukanya memperlihatkan tanda marah. “Apa maksudmu berkata lancang, kamu menantang tarung?” Tampaknya dia marah.
“Mana berani aku tarung meskipun besar inginku menjajal gelap ngampar, tapi itupun hanya sebagai teman berlatih, ilmu-silatku tak ungkulan menghadapimu.” Dia melangkah mendekat, sambil berkata. “Si tua Suryajagad sudah mati! Kini kamu bebas dari sumpah dan janjimu.”
Melihat Paliyan tercengang, Janda Ngargoyoso menambahkan. “Kamu tahu, keris prabakara dan kitab lhakeswara muncul di kawasan Timur, siapa yang mendapatkan dua benda pusaka itu akan merajai dunia kependekaran. Nah sekarang apa katamu, Paliyan? Apakah aku usil?”
“Suryajagad sudah mati? Kamu tahu dari mana? Apa buktinya?”
“Tak seorang pun tahu tempat tinggal si Tua jadi tak mungkin ada buktinya. Dan siapa orang yang mampu membunuhnya? Jelasnya, tiga tahun terakhir ini dia tak pernah muncul, kabar dari Lemah Tulis, si Tua itu sudah moksa.”
Tiba-tiba Paliyan tertawa keras. “Ha..ha..ha..ha … Suryajagad sudah mati. Aku bebas pergi kemana-mana.” Suaranya bergema di tebing-tebing lalu lenyap ditelan ributnya ombak dan angin pantai Selatan.
Dia memandang perempuan genit itu. “Sejak dikalahkan Si Tua Suryajagad, enam tahun lalu, aku terikat sumpah dan janji padanya, tak boleh bertualang di dunia kependekaran. Sekarang aku lepas dari janji dan sumpahku, benar begitu?”
“Itu sebabnya aku mengunjungimu tapi ada lagi kabar gembira buat kamu.”
“Tak ada lagi kabar yang lebih gembira dari kabar matinya Suryajagad!”
“Ada!” Seru Janda Ngargoyoso gembira.
“Ayo katakan!”
“Dulu adikmu si Lembu Ampal yang memberimu keping emas dan gadis cantik, dia sudah mati dibunuh Wisang Geni, kau tak lagi bisa menikmati emas dan gadis cantik.” Janda Ngargoyoso tersenyum licik.
“Katakan saja terus terang, jangan mutar-mutar tidak karuan.”
“Adipati Linggapati, bangsawan kaya yang memiliki ilmu-silat tinggi, sedang menghimpun kekuatan. Dia mengutus aku, membujuk kamu bergabung. Dia akan memberimu perhiasan emas dan gadis muda sebanyak kamu mau, nah apa katamu, mau gabung?” Mata Janda Ngargoyoso meneliti paras sahabatnya.
Paliyan diam, termenung, tampaknya sedang berpikir.
“Apalagi yang dipikir? Bergabung dengan Linggapati, kamu dapat kesenangan, juga kesempatan balas dendam pada Wisang Geni, selain itu bisa mencari kitab dan keris pusaka itu, ayo tunggu apa lagi? Ikut aku!” Tegas Janda Ngargoyoso.
“Maksudmu keris prabakara dan kitab lhakeswara? Kamu tahu dimana?”
“Akan kuberitahu pada waktunya, pokoknya kalau kita berdua menguasai kitab dan keris itu, aku yakin tanah Jawa akan tunduk, mungkin saja kamu jadi raja dan aku permaisurinya… he .. he… he..” Janda Ngargoyoso tertawa merasa telah memengaruhi pikiran temannya.
Pendekar yang dijuluki Siluman Goa Paliyan termenung.
Saat berikut, dia berkata kepada lima murid yang sesungguhnya adalah selirnya, “kalian pulanglah, ambil emasmu untuk bekal hidup, dengan ilmu-silat yang kuajarkan tidak sembarang orang bisa mengalahkan kalian.”
Lima gadis saling pandang. Detik berikut mereka menghambur dalam rumah.
Janda Ngargoyoso tersenyum genit. “Jadi kamu ikut bersamaku, kangmas?”
“Huuuh sekarang kamu memanggil aku kangmas.”
“Iya, setelah kamu usir lima muridmu, artinya malam ini aku punya kesempatan tidur denganmu, terserah mau berapa malam?”
Kakek tua itu tertawa. “Sudah lama kita putus hubungan.….. ha ha ha..”
Saat itu lima gadis muridnya berlari ringan dan berdiri di depan Paliyan. “Guru..… apa benar kami boleh pergi?”
Paliyan mengangguk. “Pergilah, kalian sudah bawa emas milikmu?”
Mereka mengangguk, satu per satu menghampiri, berlutut. “Terimakasih, guru.” Kelimanya berlari cepat menuju Timur.
“Lima puluh hari lagi tepat tengah bulan Magda, bakal terjadi tarung besar dua perguruan Mahameru dengan Brantas di desa Kandangan. Mungkin Wisang Geni dan Lemah Tulis akan membantu Mahameru. Di pihak Brantas, sejak ketuanya dijabat Roro Gandis, mereka maju pesat, makin banyak pengikut, pengaruhnya meluas sepanjang kali Brantas, juga di daratan.”
“Hebat juga Roro Gandis, siapa dia?” Siluman Goa Paliyan ingin tahu.
“Dia masih muda dan cantik, mendadak saja dia telah menguasai Brantas jadi ketuanya, semua murid bahkan juga Manyar Edan tunduk padanya. Dia didukung kakak perguruannya dan gurunya Ganggati dari gunung Limas.”
“Sehebat apa ilmu silatnya?” Tanya Siluman Goa Paliyan.
“Ganggati nenek tua itu? Konon Manyar Edan, dedengkot Brantas itu hanya bertahan dua puluh jurus, dia selamat karena Ganggati tidak niat membunuh. Ganggati juga diundang Linggapati untuk jadi pengawal utama.”
“Huh belum tentu dia sehebat cerita orang, aku ingin menjajalnya.”
“Kamu mulai bersemangat setelah mengetahui Suryajagad mati.”
“Wisang Geni itu ketua Lemah Tulis dan murid Suryajagad, ilmu-silatnya tinggi. Selama ini dia tak terkalahkan, apa benar?” Tanya Siluman Goa Paliyan.
“Benar. Rupanya telingamu tajam juga. Dia dijuluki pendekar nomor satu tanah Jawa, huuhhh sombong dan temberang, tanganku gatal ingin menjajalnya.” Janda Genit Ngargoyoso sengaja memancing amarah temannya.
Paliyan menengadah menatap awan mendung yang semakin hitam. “Aku akan membunuh Wisang Geni, tak mungkin dia bisa tahan gelap ngampar…”
“Lembu Ampal menggunakan jurus gelap ngampar dan dua belas pisau terbang formasi bunga mawar namun tetap mati digebuk Wisang Geni.”
Suara Paliyan meninggi. “Gelap ngampar Lembu Ampal aku yang melatihnya. formasi bunga mawar lebih mematikan ditanganku, kamu mau coba? Aku ingin jajal tari pengantin, jurus andalanmu, tentunya jurus itu makin sempurna.”
Memandang Paliyan yang mukanya memerah saking berang, wanita itu tahu harus mundur. Dia tersenyum manja. “Aku tidak berani tarung melawanmu, gunakan saja gelap ngamparmu lawan Wisang Geni.”
Beberapa butir hujan mulai berjatuhan. “Eh eh kangmas lihat gerimis turun. Itu tandanya dewa merestui keputusanmu turun gunung.”
“Sesaat lagi hujan deras, mendung semakin tebal.“ Paliyan menyambar tangan Janda Ngargoyoso. “Tunggu apa lagi, ayo masuk rumah.”
Rumah itu tergolong mewah untuk ukuran desa Panton yang letaknya terpencil di lekukan Tanjung Gerinting. Desa dihuni sekitar tigapuluh kepala keluarga itu jarang dikunjungi orang, karena bukan singgahan para pelancong dan pedagang.
Sore itu Samba duduk di serambi belakang rumahnya, menghadap arah matahari terbenam di Barat. Laki-laki berusia pertengahan empatpuluhan itu hidup senang, menyepi dengan sejuta kenangan di masa jayanya. Dia memiliki banyak kesenangan, dikelilingi beberapa selir, gadis-gadis muda cantik yang melayaninya makan minum serta berkidung dan menari.
Samba tersenyum pahit membayang kembali masa lalunya.
Jaman keemasan itu sudah berakhir empat tahun lalu, namun bekasnya masih terasa perih, ibarat luka yang tak pernah bisa sembuh. Dia belum pernah kasmaran dan jatuh cinta kepada wanita, melainkan seorang yang bernama Sekar.
Dia tak pernah bisa menghapus kenangan cintanya kepada Sekar. “Salahku sendiri membiarkan dia yang sudah ditangan terlepas lagi. Itukah karma? Aku tidak percaya karma buruk, karma akan berubah jika kita berusaha. Dan aku akan mendapatkan Sekar!” Bisiknya.
Samba menghirup udara segar lalu melepasnya pelan-pelan. Dia memandang jauh ke Barat, matahari sudah doyong hendak masuk peraduan. Warna merah kekuningan tiba-tiba berubah menjadi sosok Sekar. Hatinya gundah.
Tiba-tiba dia mendengar suara merdu. Tangan halus mulus memegang lengannya. “Paduka sedang menikmati indahnya matahari. Hamba ingin jadi matahari itu yang telah memikat hati Paduka.” Bisik si gadis.
“Matahariku itu tak ada tandingan, kecantikannya memesona sanubariku sepanjang hidupku.” Dia mengelus rambut selirnya yang bernama Harum.
“Tetapi matahari itu jauh di sana, sedangkan Harum ada didekat sini, siap selalu melayani kangmas.”
Samba mengelus rambut Harum. “Kamu wanita cantik dan setia, masih muda dan segar, rasanya aku tak pernah puas meneguk dahaga dari tubuhmu. Tetapi seperti ceritaku dulu, aku menunggu pertemuan dengan isteriku Sekar.”
“Paduka sangat mencintai ndoro putri Sekar, pasti dia sangat cantik.”
“Kamu lihat indahnya matahari yang hendak masuk peraduan, sinarnya merah kekuningan, tetapi Sekar lebih indah dipandang.” Samba menghela nafas. “Tidak lama lagi aku akan bertemu dengannya dan membawanya kemari.”
“Hamba akan melayaninya sebaik mungkin.” Kata Harum.
Samba diam.
“Paduka, ada tamu yang ingin menghadap, tamu dari jauh.” Desis Harum.
“Siapa?”
“Hamba tidak kenal, keduanya menunggu di ruang tamu, mereka perkenalkan diri sebagai anak buah Paduka, namanya Hanggada dan Sangkala.” Jawab Harum.
Samba menuju ruang tamu. Dia tertawa senang memandang dua senopatinya yang sudah seperti saudara sendiri. “Bagaimana bisa menemukan aku disini?”
“Hamba ingat, suatu hari kangmas menceritakan keinginan menyendiri di Tanjung Gerinting. Ketika timbul niat sungkem kepadamu, hamba berdua Sangkala coba menyelusuri kawasan ini.” Sahut Hanggada.
“Pasti kalian punya maksud? Bagaimana keadaan pasukan rodra? Kalian masih berhubungan?” Dia mengajak ke ruangan dalam yang merupakan bilik pribadinya.
“Mereka masih setia seperti sediakala. Kapan saja kangmas memanggil, mereka siap. Maksud kami menghadap juga ada sangkut paut dengan pasukan kita.” Kata Sangkala.
Mereka duduk bertiga. Selir Harum mondar-mandir sibuk memerintah dua selir lainnya menyediakan makanan dan minuman.
“Kangmas hidup senang. Semua kebutuhan tersedia. Hamba khawatir kangmas tidak mau turun gunung lagi.” Sangkala senyum sambil memandang tiga gadis cantik yang berdiri di sisi senopati utama.
“Hidupku tenang, tetapi bayangan masa lalu masih seliweran di benakku, kalian pasti membawa kabar bagus, cukup bagus untuk memancing aku turun gunung.” Katanya sambil menoleh memandang tiga selirnya.
Harum dan dua temannya tahu ada pembicaraan rahasia. “Hamba menunggu diluar, jika perlu sesuatu Paduka bunyikan genta, hamba akan berlari masuk.”
Mereka menyantap hidangan lezat. Saling menutur pengalaman sambil menikmati tuak. Empat tahun berpisah, tidak dinyana bisa bertemu sekarang.
“Kami berdua berterimakasih, bahwa kangmas masih membiarkan kami berdua hidup meskipun kesalahan itu mutlak keteledoran kami.” Kata Hanggada.
“Semua orang berbuat salah. Kita berbuat salah. Akibatnya, kita menanggung deritanya. Tetapi kita telah membuktikan kepada sejarah bahwa kita ponggawa setia membela baginda raja Tohjaya. Hanya saja kejadian itu telah membuat kanda Mahamenteri patah arang dan memilih undur diri dari keramean dunia.”
“Apakah Paduka Mahamenteri sehat-sehat?”
“Yah kanda Pranaraja masih sehat, lebih sehat dari perkiraan kita.” Kata Samba. “Dia menyendiri, berlatih silat untuk sehat, dilayani isteri dan para selir, setiap hari dia sibuk bermain-main dengan putri tunggal yang lahir tahun lalu.”
“Paduka mahamenteri pasti bergembira, dua putranya kini punya adik perempuan dan rumahnya bakal terang benderang.” Kata Hanggada.
“Hamba masih menaruh dendam pada Sang Pamegat.” Potong Sangkala. “Dan semua pasukan Rodra punya dendam yang sama.”
“Ilmu silat Sang Pamegat sudah begitu hebat, tetapi lima pendekar tua jubah putih itulah yang sulit ditandingi.” Sahut Samba.
“Konon menurut cerita orang, pendekar tua baju putih itu jumlahnya sembilan orang, kabar lain menyebut sepuluh orang. Mereka pengawal utama keraton. Entah darimana Ranggawuni mendapatkan mereka.” Kata Sangkala.
Samba mengalih pembicaraan. “Kalian berdua tadi menyebut-nyebut kabar baik yang bisa memancing aku turun gunung, kabar apa itu?”
“Duapuluh hari lalu Kasanga kepala pasukan rodra mengunjungi dimas Hanggada membawa seorang tamu, Sangkapura pendekar Tanjung Anyar. Mereka bawa kabar adipati Linggapati, seorang pembesar Kediri sedang menyusun rencana pemberontakan, mengumpulkan pendekar handal. Linggapati mengajak kita, bergabung.” Tutur Sangkala.
“Setelah berunding kami berdua ikut Sangkapura mengunjungi adipati Linggapati, ingin mendengar langsung, apa maunya. Dia butuh pasukan panah rodra, itu sebabnya dia mengutus Sangkapura mencari kami.”
“Apa jawabmu?” Potong Samba.
“Kami katakan, jika kangmas mau turun gunung memimpin maka seluruh pasukan akan terkumpul. Tetapi kami harus tahu tawaran adipati. Jawabnya, aku jadi raja, majikanmu jadi Mahamenteri dan berkuasa seperti yang dipercayakan baginda raja Tohjaya kepada Mahamenteri Pranaraja.”
Samba tersenyum. “Aku mendengar cerita perihal Linggapati. Ilmu silatnya tinggi, konon dia salah seorang dari pendekar baju putih yang usianya paling muda, yang lari keluar istana. Dia culas, licik, kejam dan berambisi menjadi raja. Bergabung dengan orang seperti itu, sangat berbahaya. Setelah mencapai tujuannya, dia akan lupa jasa kita bahkan akan mengkhianati kita.”
Sangkala dan Hanggada diam, memandang majikannya dengan respek.
“Kalian membawa kabar ini kepadaku, pasti ada harapan kita bergabung.”
Sangkala dan Hanggada saling pandang.
“Sering aku terbayang matinya Baginda Raja dipangkuan kangmas Pranaraja, wajahnya yang nerimo dan senyum yang legowo. Hatiku menangis. Seperti juga ingatanku pada Sekar. Cintaku padanya, tak pernah hilang dari benakku. Banyak selir cantik dan muda yang kutiduri selama ini tak bisa menindih bayangan Sekar.”
Dia memandang dua pendekar kepercayaannya. “Saatnya turu
Comments







