Cinta 100 Juta Dollar eps 18
Posted on 31 Desember 2017 ( 0 comments )
Episode 18
Sparring, Samuel Puerto Rico
Salah seorang polisi memperlihatkan foto Rachmat, dari kamera telpon selularnya. “Rahmat terancam hukuman penjara duapuluh tahun. Tapi jangan kuatir dia masih ditahan komandan, belum diserahkan ke markas. Putra ibu bisa bebas secepatnya asal ibu menyediakan uang limapuluh juta rupiah untuk mengganti semua ongkos operasional.”
“Aduh Pak darimana kami bisa dapat uang sebanyak itu? Limapuluh juta? Dari mana uang sebanyak itu. Pak tolong Pak, apa tidak ada jalan lain Pak?” Sriati menikmati sandiwaranya dengan suara yang dibuat seperti orang ketakutan dan bingung.
“Bu kami tak ada waktu bicara panjang lebar. Ibu juga tampaknya harus cepat pergi melatih. Dimana kami bisa hubungi pak Pratomo?”
“Oh suami saya berada di sasana tinju di Bogor. Dia tak pernah membawa handphone. Sulit menghubungi dia.”
“Begini saja, ibu beri kami duapuluh juta rupiah sekarang ini, sisanya besok dan Rahmat akan segera dilepas hari itu juga. Saya akan hubungi komandan.”
Polisi itu menekan tuts telpon selularnya. “Ijin lapor komandan! Ibunya minta jalan damai dan hanya sanggup duapuluh juta. Kami tunggu perintah komandan.”
Polisi manggut-manggut kepala. “Siap Dan.”
“Komandan setuju melepas Rahmat. Duapuluh juta rupiah, itu ringan, biasanya limapuluh juta.” Dia menoleh kepada temannya. “Kita harus cepat kembali.”
“Saat ini saya tidak punya uang tunai, bagaimana kalau besok siang Bapak datang lagi, saya akan sediakan uang sesuai kemampuan kami.”
Tampak polisi yang tadi menelpon komandannya, duduk gelisah. Lalu dia bangkit dari duduk. “Baik sekarang kita lepas Rahmat, besok kita datang menagih duapuluh juta yang ibu janjikan.”
Hari sudah mulai gelap. Sayup-sayup terdengar suara adzan magrib. Dua polisi itu pergi. Di suatu tempat sunyi, keduanya berganti pakaian, memasukan pakaian polisinya ke dalam tas jinjing. ”Nggak enak nyamar jadi polisi bajunya terlalu tebal dan gerah” Kata polisi gadungan tertawa.
“Yang penting urusan beres, boss pasti senang. Cuma lain kali kalau dapat tugas menyamar jadi polisi duitnya harus gede.”
“Benar juga. Soalnya kalau tertangkap, kita bisa dihukum sampai lima tahun.”
“Besok bagaimana, kita datang lagi?”
“Tidak mungkin. Anak itu sudah lepas, dia ngelawan dan lari. Lagipula kata boss, tugas kita hanya teror, uang tidak penting. Kalau dapat yah bagus, kalau tidak, yah tidak mengapa. Selanjutnya tunggu perintah Boss.”
Malam harinya jam delapan Pratomo pulang. Tadinya rencana nginap di sasana. Dia membatalkan rencana setelah mendapat telpon isterinya yang menceritakan kejadian dua polisi gadungan. Pratomo memutuskan pulang dan tidur di rumah karena keselamatan keluarganya lebih utama.
Ketika Pratomo pulang, Sriati dan Rahmat menceritakan kejadian selengkapnya.
Ayah Sriati berkata serius. “Penipuan seperti itu sering terjadi, bersyukurlah bahwa Rahmat bisa lolos dan kita tidak kehilangan uang.”
Sriati menyediakan makanan di meja.
Mereka makan sambil ngobrol. Sriati menceritakan kisahnya dipecat, sedih memang sedih tetapi tidak berlebihan.
“Ini cobaan Allah.” Kata Sriati.
Telpon rumah berdering.
Rahmat mengangkat telpon.
“Dari seorang pria, dia tidak mau sebut namanya, tetapi dia teman lama ayah.” Kata Rahmat memandang Pratomo.
Pratomo melangkah ke tempat telepon. “Yah aku Pratomo, siapa di situ?”
Dari seberang terdengar suara serak. “Aku punya proposal bisnis dengan Mas Pratomo. Rencanaku mendirikan ring tinju ukuran internasional, tidak mewah tetapi yang memenuhi standard. Saya tahu Mas Tomo asisten pelatih di sasana Daruba, tentu punya pengetahuan mendirikan ring. Aku akan bayar uang panjar setelah proposal disepakati. Bagaimana Mas?”
“Oh bisa saja, saya bersedia. Kapan rencananya?” Pratomo antusias, kebetulan ada tawaran bisnis pada saat dia butuh uang. Dia perlu membayar hutang, lagipula isterinya kini kehilangan pekerjaan.
“Saya punya target, ring itu harus selesai secepatnya. Bagaimana jika kita bertemu besok siang, mas Tomo punya waktu?”
Wajah Pratomo berseri tetapi pura-pura menahan diri. “Besok siang?”
“Iya besok siang, kita bertemu di restoran sekalian makan siang dan saya akan beri uang jajan untuk keluarga mas Tomo. Kita bicarakan biaya pembuatan ring, uang jasa mas Tomo, semuanya kita bicarakan. Setelah itu kita membuat kontrak perjanjian di notaris, jadinya legal. Bagaimana?”
Jantung Pratomo berdegup kencang. “Hari ini luar biasa. Datangnya polisi gadungan, isteriku dipecat lalu kini rejeki datang begitu saja. Nasibku sedang mujur.”
“Baik besok kita ketemu. Jam berapa dan dimana? Tetapi dengan siapa saya bicara?”
“Namaku Andi. Jadi kita ketemu besok siang. Konfirm ya.”
“Jam berapa dan dimana?”
Di seberang sana lelaki bertubuh kurus jangkung usia sekitar limapuluhan yang julukannya Tokek menyebut jam dan tempat pertemuan. Dia menutup telpon, melangkah ke meja kasir wartel, membayar dengan uang limapuluh ribu.
“Ambil kembaliannya.” Tokek melangkah keluar menuju mobilnya.
Sasana Daruba penuh sesak, banyak penonton berdiri. Hanya sebagian kecil duduk di ring-side, mereka VVIP orang-orang penting, menteri olahraga, para menteri dengan beberapa staf, kepala polisi dan panglima TNI dan pejabat lain.
Hari ke-41 dari 127 hari latihan Kid Salasa sparing melawan tiga petinju lokal dalam sembilan ronde. Buyung, Markus, Ronald masing-masing 3 ronde, hanya istirahat reguler 1 menit. Wasit dan juri diambil dari Thailand.
Deretan ring side deret terdepan paling ujung Salina diapit Marbella dan Maryam dan para tamu kehormatan. Tidak jauh dari tempat Salina bertiga, Magda berdiri berdua masseur Didin. Ada dua gadis cantik lain, Irina yang khusus datang dari Bandung serta Amelia peranakan indobelanda asal Banda, Maluku. Keduanya berdiri sandar dinding.
“Mereka cewek-cewek yang naksir kak Yalas. Kamu sudah kenal Magda, dua lainnya Irina yang pake jin dan kemeja merah, yang pake jin dan kaos kuning namanya Amelia.” Tutur Maryam. “Mau kenalan?”
Salina menggeleng. “No Maryam, no.” Ada rasa cemburu ketika Salina melanjut bertanya. “Pacar kakakmu banyak juga, mana yang lain?”
“Kakak tidak menganggap mereka sebagai pacar. Kalau mau pacar serius harus disetujui ibu.” Tegas Maryam. “Kak Sali, kamu naksir kak Yalas?”
Salina tidak kaget, menyahut santai. “Aku hanya wawancara saja, ndak pake naksir atau ingin pacaran.”
“Sekarang hari empatpuluh satu, kondisi Kid masuk delapanpuluh persen dari kondisi ketika pertarungan terakhir di Bangkok, stamina dan tehnik. Tigapuluh hari lagi masuk seratus persen. Fase lanjutan butuh waktu lebih, apalagi target akhir seratus duapuluh persen.” Marbella bisik-bisik ke telinga Salina.
Salina tidak menggunakan alat rekam. Dia menggores pena ke atas notes kecil. “Seratus duapuluh?”
“Benar. Itu target minimal, maksimalnya seratus empatpuluh. Pacheco tak mau spekulasi, dia perfeksionis, tak kenal kompromi jika telah menetapkan target.”
“Target itu, apakah Kid juga tahu?”
“Tentu saja, keputusan itu ditetapkan setelah Kid setuju dan mengerti. Tetapi my dear about the target its secret, hanya untuk buku.”
“I know Bella. Publik akan tahu setelah membaca buku.” Salina melayangkan pandangan mencari fotografer. Dia berdiri dan menghampiri anak buahnya, memberi instruksi siapa-siapa yang harus diabadikan gambarnya.
Salina kembali ke kursi. Dia menyimak gerakan Kid Salasa di atas ring. Tidak sulit baginya mengerti tinju. Beberapa hari dia mengamati rekaman pertarungan Kid dan latihan shadow-boxing. Ngobrol dengan Marbella serta down-load beberapa partai tinju internasional dari youtube dan literatur lain.
Partai sparing menggunakan helm pelindung kepala. Dua lawan sparing Kid jatuh cium kanvas kena hook Kid yang keras. Salina bisa mengira jika tanpa helm mungkin Buyung maupun Markus akan jatuh lebih keras.
Penampilan Kid yang beringas, gesit dan tanpa belas kasihan adalah instruksi Pacheco. Penonton tak henti bersorak. Puas menyaksikan petinju harapan mereka.
“Kasihan Buyung dan Markus, mereka tidak cidera?” Salina bertanya.
“Mereka tahu resikonya. Mereka dibayar untuk sparing. Lihat saja mereka fight sungguh-sungguh. Mereka boleh melukai Kid, itu aturannya.” Tutur Marbella.
“Tapi mereka tetap saja menjadi punching-bag bagi Kid.” Kata Salina yang melihat Kid mengurung Markus di pojok ring. Ronde tiga dihentikan sebelum waktunya, Markus tak mampu berdiri tegar.
Kid memeluk Markus. “Sorry kawan, tapi aku harus sungguh-sungguh.”
“Kamu hebat, pukulanmu keras.” Tegas Markus.
Sparing selesai, penonton bubar.
Marbella menghampiri beberapa tamu pilihan, mempersilahkan masuk ke dalam rumah. Aturan Pacheco tak bisa dilanggar, usai sparring Kid menjalani fase pendinginan, diakhiri mandi air hangat dan air dingin. Setelah itu baru melayani para tamu.
Sebelum partai sparring Marbella memperkenalkan dua orang yang pernah diceritakan Kid Salasa maupun ibunya, dua orang yang sangat berjasa atas sukses Kid Salasa. Lelaki usia limapuluhan berpakaian perlente, jas tanpa dasi, celana pantalon longgar namun tampak jelas dari bahan mahal. Namanya Soleman, lahir di Bangkalan Madura, besar di Jember, setelah sukses dan kaya domisili di Jakarta.
Lelaki yang bersamanya, usia sekitar empatpuluh, asal Australia. Nama Phillipous beralih menjadi Pilip setelah menjadi mualaf. Pilip kini menantu Soleman menjadi orang kepercayaan juragan kaya itu. “Pilip yang melatih Kid sejak pertama, membawanya ke jenjang juara amatir nasional dan SEA Games.” Tutur Marbella.
( Bersambung eps 19 )
Comments







