Cinta 100 Juta Dollar Eps 17

Posted on 28 Desember 2017 ( 0 comments )


Episode 17

“Kalau bisa begitu, aku sangat senang. Ayo Kim, kapan kita berangkat? Besok lusa? Hari Sabtu atau Minggu?” Tukas Magda.

            “Jangan hari libur, banyak orang. Sebaiknya hari kerja, Rabu depan deh. Aku telpon pak dukun dari sini, minta waktunya.”

            “Tetapi kamu kerja.”

            Kimberley tertawa senang. Gembira lantaran rencananya berjalan mulus. “Tidak apa, adik Magda. Demi persahabatan, aku bolos kerja dua atau tiga hari tidak mengapa. Lagipula aku juga pemegang saham di perusahaan ini, bisa mengatur jadwal sendiri.”

            “Kita nginap di Semarang?”

            “Pokoknya kamu tahu beres, aku yang mengatur semuanya. Transportasi, hotel, anggap saja kita berdua liburan.”

            “Terimakasih Kim.” Mata Magda berkaca-kaca terharu akan bantuan Kimberley.

            Kimberley pun girang, hanya tidak memperlihatkan kegirangannya. “Jerat mulai kupasang. Tinggal langkah-langkah berikut.” Bisik hatinya.

Hari masih pagi Martono sedang duduk di ruangan kantornya, sibuk memeriksa laporan mingguan dari bagian pemasaran. Dia membaca penuh perhatian laporan Sriati, menggarisbawahi beberapa angka, melingkari dengan tandatanya. Dia menggeleng kepala, lalu duduk diam, matanya menerawang.

“Mudah untuk menciptakan kesalahan orang, yang tidak mudah adalah eksekusi, memecat orang yang tidak bersalah. Maafkan aku Sriati.” Bisiknya dalam hati. Dia mengambil secarik nota, menulis beberapa pointer.

Selang beberapa lama dia menekan tombol interkom.

Sekretarisnya muncul dari balik pintu. Wanita usia empatpuluh tahun itu berdiri di depan meja Martono.

            Bu Murni, kamu buatkan surat alamatkan kepada ibu Sriati. Itu pointernya.” Martono menyerahkan secarik nota. “Itu rahasia, jangan sampai bocor!”

            “Baik Pak.” Murni keluar ruangan.

            Martono menyandar punggungnya ke sandaran. “Atasan hanya memerintah, tanpa perlu merasa bersalah. Tetapi aku sebagai pelaksana akan sulit melupakan perbuatanku ini. Sriati tak pernah berbuat salah, pekerjaannya selalu rapi dan terukur. Tidak ada alasan memecat dia. Sebenarnya apa latar belakang pemecatan?”

            Dua hari kemudian Martono menandatangani surat pemecatan karyawati bernama Sriati. Dalam lacinya tersedia amplop uang pesangon. Tiga bulan gaji. Tadinya atasan memerintah dua bulan gaji tetapi Martono dengan cerdas memancing emosi  atasan untuk mengabulkan pesangon tiga bulan gaji.

            Jam dinding berdetak, waktu berjalan menggiring laju kehidupan manusia. Jarum pendek melampaui angka dua, jarum panjang menunjuk angka duapuluh. Murni muncul di balik pintu. “Pak, ibu Sriati sudah hadir.”

 “Silahkan dia masuk,” perintah Martono.

Selang beberapa saat Sriati, karyawati berbaju seragam putih rok hitam masuk. Sebersit senyum tersungging di bibirnya, mengharap kabar baik.

“Selamat siang Pak.” Wanita berusia akhir tiga puluhan itu menyapa.

“Duduklah.”

Martono membuka pembicaraan. Wajahnya tampak keras. “Beberapa hari lalu  aku dapat laporan dan setelah kuperiksa dengan cermat, ternyata di departemen anda  terjadi pembukuan yang keliru, tepatnya penyelewengan uang, akibatnya seratus duapuluh dua juta tiga ratus ribu rupiah uang perusahaan terbang entah kemana. Raib.”

“Benar Pak, hal itu saya yang temukan ketika saya memeriksa neraca dan laporan pembukuan. Kejadian tiga pekan lalu.” Suara Sriati normal, tak ada keraguan dan ketakutan karena tahu persis diri tidak bersalah. Bahkan dia yang menemukan kesalahan pembukuan yang bisa dikatagorikan korupsi atau pencurian. Dia yang melapor kepada atasannya, Jimmy Galung. Laporan sampai kepada Martono.

“Kerugian seratus duapuluh juta sekian, tidak membuat perusahaan bangkrut tetapi kesalahan ini tidak bisa ditolerir.” Tegas Martono menatap tajam Sriati.

Seketika jantung Sriati berdegup kencang.

“Menurut anda apakah itu unsur kesengajaan?” Tegas Martono.

“Saya tidak tahu Pak, saya hanya menemukan kejanggalan tersebut lalu saya lapor kepada pak Jimmy, begitu ceritanya.”

“Menurut anda siapa orangnya yang bertanggung jawab?”

Perempuan itu terkejut. “Saya tidak bisa memastikan, tetapi siapa orangnya bisa diketahui jika diselidiki, Pak.”

Martono menghela nafas sambil melempar senyum misterius.

“Di bagian anda berapa orang yang bisa bekerja sama dengan anda?”

Wajah Sriati mulai berubah. Dia tidak senang dengan pertanyaan yang tampak mencurigainya sebagai pelaku.

“Saya sudah bekerja di perusahaan ini sepuluh tahun lebih, saya bisa bekerja sama dengan banyak teman, bawahan maupun atasan.”

“Sepuluh tahun?”

“Iya Pak, sepuluh tahun lebih.”

“Tujuhpuluh persen pegawai di sini bekerja diatas limabelas tahun. Berapa orang di bagian anda yang bisa bekerja sama dengan anda?”

Sriati mulai berhati-hati. “Kami semua bisa bekerja sama dalam arti positif.”

“Tetapi banyak teman mengatakan tidak bisa bekerja sama dengan anda.” Diam sesaat Martono melanjutkan. “Lupakan itu, kita kembali kepada kerugian perusahaan. Menurut aturan perusahaan, anda bertanggungjawab akan kesalahan tersebut.”

Wajah Sriati makin pucat. “Saya yang melapor dan memohon perusahaan dalam hal ini pimpinan melakukan penyelidikan, wawancara dengan beberapa orang untuk menemukan pelakunya.”

Martono menggeleng kepala. “Rapat direksi memutuskan anda yang bersalah.”

“Saya tidak bersalah.” Sriati menangis tanpa bersuara. Matanya berair.

“Besok anda tidak perlu masuk kerja. Maaf ibu Sriati, perusahaan memberhentikan anda. Perusahaan memberi pesangon tiga bulan gaji.” Martono menyodor dua amplop di atas meja. “Ini uang pesangon. Dan ini surat pemberhentian ikatan kerja atas kemauan anda sendiri, dengan demikian nama anda tetap terjaga dan anda masih bisa diterima bekerja di perusahaan lain.” Martono menyembunyikan rasa iba menatap wajah Sriati yang masih pucat dan yang matanya berair.

Sriati mengumpulkan tenaganya. “Ini tidak adil Pak. Saya tidak bersalah, tolong diteliti ulang keputusannya Pak.”

“Begini bu Sriati, anda boleh mengadukan persoalan ini ke polisi atau kemana saja. Tapi percayalah perusahaan lebih kuat dan kalau boleh saya saran, sebaiknya anda menggunakan uang pesangon dengan baik jangan sia-siakan dengan membayar pengacara. Percuma anda tidak akan menang, Di negeri ini uang yang jadi raja.”

            Hari masih sore ketika Sriati tiba di rumah. Di pekarangan dia melihat sepeda motor diparkir. Milik tetamu. Di ruang tamu dia melihat ayahnya, pria berusia enampuluhan sedang berbincang dengan dua pria berseragam polisi.

            “Ini putri saya, ibunya Rahmat. Sri, dua petugas polisi ingin bertemu dengan orangtua Rahmat.” Kata ayah Sriati.

            Setelah salaman sekadarnya. Sriati pamit ke dalam. “Mohon pamit kedalam sebentar, saya segera menemui bapak berdua.”

            Dalam kamarnya dia kaget melihat Rahmat duduk di pembaringan. Tidak biasanya. Pemuda enambelas tahun itu menempel telunjuknya di mulut. Wajahnya bengap dengan luka di bagian pelipis dekat mata kiri.

            “Aku disergap empat orang polisi. Tadinya aku mengalah meskipun heran dituduh sebagai pengedar narkoba. Selang beberapa saat aku yakin mereka gadungan, sepatunya bukan sepatu polisi, itu sepatu kets warna hitam. Salah seorang mengenakan ikat pinggang biasa. Dari pembicaraan aku semakin yakin mereka gadungan, dua orang menahan aku dan dua orang mendatangi rumah menemui ayah atau ibu minta uang tebusan. Begitu ada kesempatan aku berontak, berkelahi. Tentu saja aku pake jurus karate. Aku berhasil meloloskan diri.” Tuturnya bangga.

            “Ibu mengerti. Sekarang kamu keluar, ibu mau salin baju.” Tegas Sriati.

            “Bu, jangan kasih duit. Mereka itu gadungan.”

            “Ibu tahu apa yang harus ibu lakukan. Tunggu di ruang makan, jika terjadi perkelahian kamu keluar dari pintu belakang, panggil pak er-te dan warga.”

            Sriati mengenakan seragam karate memasuki ruang tamu.

            “Maaf Pak, saya harus melatih. Tetapi urusan apa pun ini, bisakah dipercepat, saya hanya punya waktu lima atau sepuluh menit.” Suara Sriati halus tetapi tegas.

            Ayah Sriati bangkit dari kursi. “Saya permisi sebentar, mau salin pakaian.” Lalu menoleh ke putrinya. “Kita berangkat sama-sama.”

“Apa benar ini rumah bapak Pratomo?”

“Iya benar, Pak.“

“Anda istrinya ?”

“Iya Pak, saya istrinya ada apa Pak ?”

“Kita langsung ke persoalan saja. Putra anda yang bernama Rachmat, dia terlibat perdagangan narkoba, dia tertangkap tangan dengan bukti. Saat ini dia berada bersama komandan saya.”

Jikalau saja tidak bertemu putranya di kamar tadi, mungkin Sriati akan melihat bintang bertabur. Kini ia berpura-pura kaget, memejam mata.

“Tidak mungkin, Rachmat anak baik, pasti ini salah tangkap. Dia tak pernah terlibat narkoba.” Tutur Sriati. Dia tidak takut jika harus terjadi perkelahian, dia sendiri sanggup melawan, apalagi ada ayahnya yang karateka senior.

Saat itu ayah Sriati muncul dari dalam rumah, mengenakan seragam karate. “Ayah siap berangkat.”

( Bersambung eps 18 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com