Cinta 100 Juta Dollar eps 16
Posted on 28 Desember 2017 ( 0 comments )
Episode 16
Mesin Rolet Berputar
Siang hari itu Jakarta sibuk, bising dan polusi.
Ruangan kantor di lantai empat gedung berlantai tujuh, jalan Rasuna Said, seorang gadis cantik berusia duapuluhan melenggang masuk dengan gaya orang kaya, tidak pedulian. Ia mengenakan kemeja putih dibalut jaket kulit hitam. Rok panjang sebetis warna coklat tua dengan belahan panjang sebatas dengkul. Sepatu boot kulit warna coklat muda.
Ia berhenti di depan resepsionis.
Gadis resepsionis berkacamata, muda dan cantik menegur ramah.
“Bisa saya bantu, Bu?”
“Aku sudah apoinmen ketemu ibu Kimberley, hari ini jam sebelas. Katakan pada ibu Kim, namaku Magda dari Tebet.”
Resepsionis menelpon ke dalam.
“Bu, ada ibu Magda dari Tebet. Katanya sudah apoinmen langsung dengan ibu.”
Gadis berkacamata itu menoleh pada Magda.
“Silahkan masuk, Bu. Langsung ke ruangan paling kiri.”
Magda mengetuk pintu yang terbuka, melangkah masuk.
Dari meja kerjanya, Kimberley berdiri dan menyapa ramah.
“Hai Magda. Sampai juga kamu ke kantorku.”
“Iya dong, ini kan bisnis. Kamu yang ajarin, Katamu kalau mau sukses bisnis harus pandai mengatur waktu dan tepat janji. Coba lihat sekarang kan persis jam sebelas.”
Kimberley tertawa, memperlihatkan sederet gigi seputih mutiara. Sepasang matanya bersinar gembira. Ia mengulur tangannya yang putih singkong. Lalu persilahkan Magda duduk. Seperti diatur, keduanya berpakaian sama. Blus putih dari bahan sutera, kombinasi dengan rok coklat tua. Cuma bedanya, rok Kimberley mini dan ketat.
Bertatapan muka sambil memperhatikan busana masing-masing. Lalu keduanya tertawa riang. Sama-sama karya Balmain. Baru satu bulan lalu peragaan busana internasional di hotel Sultan, menampilkan perancang kondang dari Paris, Pierre Balmain.
“Magda tak kusangka kau suka juga karya Balmain.”
“Kebetulan saja, malam itu aku tertarik pada kombinasi coklat tua dengan putih. Biasanya aku lebih cenderung memakai Guy Laroche.”
“Aku sih sudah setahun ini tergila-gila pada Balmain.” Tukas Kimbeley. “Eh ngomong-ngomong kau serius mau bisnis dengan aku?”
“Iya. Kalau menguntungkan kenapa tidak?”
“Untung sih pasti untung, mana bisa tidak untung. Aku mau buka butik koleksi dari Balmain. Semua sudah oke. Aku sudah jumpa langsung empat mata dengan Balmain. Kita membidik wanita karir menengah keatas. Koleksi Balmain cocok dengan gaya agresifitas wanita Indonesia.” Tutur Kimberley dengan paras berseri-seri.
“Apa iya, bisa untung?”
“ Kenapa tidak? Balmain sekarang populer banget di Jakarta. Rencanaku, setiap dua bulan sekali, aku akan menggelar koleksinya. Dan mengundang dia sendiri untuk hadir. Lagipula, tidak semua busana digarap Balmain, sebagian karya aku sendiri tetapi memakai lebel Balmain.”
“Hai, bisa kena pinalti, claim hak cipta.” Suara Magda agak cemas.
“Aku membeli lebelnya, sudah negosiasi, tinggal tanda tangan kontrak. Tak usah khawatir, aku juga tak mau kena claim lantas bangkrut karena membayar ganti rugi. Semuanya legal.”
“Berapa investasinya?” Magda bertanya antusias.
“Modal awal cuma sepuluh sampai duabelas milyar rupiah.”
Magda menghela napas, wajahnya sedikit berubah.
“Memang besar modalnya. Itu kalau kita talangin sendiri, kalau patungan, kan menjadi kecil. Sekarang sudah ada tiga teman bersedia gabung. Kamu yang keempat, Magda. Kita bagi secara adil, kalian berempat setor satu bagian, aku dua bagian, dan aku bossnya?”
“Jadi kira-kira berapa?”
“Lebih kurang dua milyar rupiah. Sekitar itulah. Bagian yang terbesar jadi tanggunganku.”
“Oke deh kalau sebesar itu bisa, tetapi aku tidak janji, sebab aku harus membujuk papaku apalagi aku sedang merencana perkawinan.” Tutur Magda dengan paras berseri.
Pantat Kimberley seperti ada pegasnya. Wanita cantik usia tigapuluh itu berdiri sambil mengulur tangan. “Selamat, kok enggak bilang-bilang. Mendadak nih?”
Magda berdiri dan menjabat tangan Kimberley.
Kimberley melangkah ke balik mejanya. Ia membuka laci, mengeluarkan kotak merah muda. Sambil tertawa, ia menyodor kotak mungil itu.
“Ini hadiah untukmu, semoga sukses. Tapi omong-omong, siapa pilihanmu, petinju calon milyuner asal Morotai atau pacarmu yang di Paris?”
“Sudah kutetapkan, aku memilih Kid Salasa.”
“Sudah mantap? Wah kasihan juga pacarmu yang di Paris.”
“Sejak sekarang pacarku cuma Kid Salasa seorang. Tapi Kim, hadiahmu ini aku tidak bisa terima.”
“Buka dulu, lihat apa isinya baru komentar.” Kimberley tersenyum misterius.
Magda membuka kotak. Matanya membelalak, sebuah arloji wanita berantai merah dengan hiasan emas dan mutiara. Gerald Genta keluaran paling akhir.
“Kim ini … ini apa … ini barang mahal.”
“Terima saja, pakailah, pantas buat kamu. Aku masih ada lain.”
“Tapi Kim, aku tidak bisa, soalnya rencanaku belum seratus persen beres. Orangtua Kid, ibu tua kampungan itu tak mau menantu aku. Selain itu aku punya saingan beberapa gadis cantik terutama seorang wartawati dia pintar dan cantik, tampaknya ibu kampungan itu bakal memilih dia.”
Magda mengembalikan kotak berharga itu.
Kimberley menampik. ”Tidak usah kau pikirkan. Itu hadiah untukmu, jadi atau tak jadi kawin. Hadiah itu tetap milikmu. Kita akan jadi rekan bisnis. Ambillah.”
“Terimakasih Kim.”
“Eh kenapa calon mertua kamu tak suka padamu. Mungkin kamu kurang servis?”
“Tidak juga. Kami beda agama, itu persoalannya.”
“Lantas bagaimana dengan Kid Salasa, dia berpihak padamu?”
“Kid itu anak mami. Ia menurut saja apa kata ibunya.”
Mendadak paras Kimberley berseri-seri. Sejak tadi dia memikirkan cara masuk ke inti persoalan dan tujuan bersahabat dengan Magda. Kini dia temukan jalan masuk. Sambil tersenyum licik Kimberley menghibur. “Ah, itu gampang ngurusnya.”
“Gampang bagaimana?”
“Kita pergi ke orang pinter di desa dekat Semarang.”
Magda tertawa. Ia tidak percaya dukun-dukun, permainan jin dan paranormal. “Kamu percaya begituan? Di zaman sekarang ini banyak penipu yang menyamar sebagai dukun pinter…..”
“Oh yang ini lain, Magda. Kau tahu, jangankan masalahmu ini, gunung pun kalau dia mau bisa dia geser ha ha ha.” Kimberley tertawa senang.
“Kau tega Kim, problemku ini kau buat guyonan.”
“Oh tidak Magda, sekali-kali tidak. Aku serius. Tapi soal memindah gunung tentu saja tidak bisa, itu hanya ibarat bahwa dia sanggup melakukan hal-hal yang mustahil. Soalmu ini kecil. Dukun itu bisa berbuat apa saja, oh Magda adikku, dukun itu paling jago. Soal-soal begitu dia juaranya. Dukun terkenal di gunung Kawi, tak ada apa-apanya kalau dibanding dia. Kau percaya saja padaku pasti deh Kid Salasa masuk dalam pelukanmu.”
“Benar Kim. Kamu tidak main-main?”
“Aku serius, aku bisa membawamu ke sana. Kamu tidak boleh melepas milyuner itu, kau tahu Kid Salasa bukan cuma menerima bayaran milyaran, juga hadiah-hadiah lainnya. Kemarin dia diberi pemerintah rumah gedongan. Sebelumnya dia telah kumpulkan mungkin sekitar limapuluh milyar. Dia calon milyuner, jangan lepas dia, Magda! Dengan duit sebanyak itu kau bisa membuka butik Balmain selusin di kota-kota besar negeri ini.” Suara Kimberley penuh semangat dan kegembiraan.
Magda terpancing, terbawa suasana gembira. “Bagaimana dengan calon mertuaku? Dia juga bisa takluk?”
Kimberley tertawa senang. “Beres tidak sulit, wanita tua itu akan menyayangi kamu, apa saja maumu, apa perintahmu dia akan manut. Aku pernah menolong temanku yang punya kasus sama seperti kamu, apa hasilnya? Sekarang temanku itu menjadi permaisuri di rumah suaminya, ibu mertuanya takluk padanya.”
“Oh aku mau pergi kesana, ke gunung Kawi…..”
“Bukan gunung Kawi, tapi desa dekat Semarang.” Tegas Kimberley.
“Iya Semarang.”
“Oh Magda, jangan lepas Kid Salasa. Dia a-te-em berjalan, duitnya tak akan pernah habis. Kita mesti berangkat ke Semarang, dari situ kita sewa mobil sedan keren ke rumah dukun yang kira-kira duapuluh lima kilo dari bandara.”
“Iya Kim, terimakasih mau mengantar aku.”
“Kamu tampaknya semangat, tadi kamu loyo.”
“Aku semangat sebab problimku ada solusinya, seakan-akan beban di atas pundak, terangkat begitu saja.”
“Kamu sering ke sasana Kid Salasa, menemani dia berlatih? Sering makan bersama?”
“Aku sering menemuinya di sasana sebelum dia tanding di Bangkok. Aku temani waktu dia latihan dan saat istirahat. Tetapi sepulang dari Bangkok, pernah dua pekan dia menghilang, latihan di tempat tersembunyi. Pasti dengan wartawati genit itu. Beberapa kali aku menemui ibunya, memberi hadiah, penerimaannya kaku, dingin. Dasar udik tak tahu diri. Kalau bukan karena Kid, mana mau aku ngomong sama dia. Kim, pernah kulihat wartawati itu berdua bersama Kid, pura-pura wawancara padahal bercanda kejar-kejaran persis anak sekolahan, dasar perempuan genit.” Magda sangat emosional.
“Itu gampang. Kuncinya ada pada Kid Salasa. Begitu dia kasmaran sama kamu, semua berjalan mudah, ibunya akan nurut maunya si anak. Berikutnya baru kita garap ibunya dan juga si wartawati.”
( Bersambung eps 17 )
Comments







