Cinta 100 Juta Dollar Eps 15

Posted on 24 Desember 2017 ( 0 comments )


Episode 15

 Bullshit[1]. Cukuplah, aku mau pulang.”

“Kau marah untuk hal sepele. Tadi cuma main-main, pikirmu aku benar-benar akan memerkosamu?”

“Sama saja, mencoba cium paksa, itu pelecehan seksual!” Tegas Salina dengan suara tinggi dan mimik serius.

 “Sebenarnya itu jawaban atas pertanyaanmu, Pacheco tidak memilih perempuan untukku. Aku sendiri memilih wanita yang kusuka, tak ada hubungan dengan Pacheco. Aku menyukai kamu, itu yang sebenarnya.”

Bullshit!” Tegas Salina. Kendati demikian wajahnya merona merah. Ia merasa kikuk. Ia memaki diri sendiri. ”Kenapa mendadak aku jadi tolol begini hanya karena dia mengatakan menyukaiku.”

Tiba-tiba tangan Kid Salasa menyambar tas jinjing Salina. Lelaki itu tertawa. “Tidak boleh pulang, wawancara belum tuntas.”

“Kembalikan tasku!” Salina berteriak, mengejar hendak merebut tasnya pada saat itu pintu terbuka.

Salina menoleh.

Dua orang masuk. Salah seorang, lelaki tua usia separuh abad, pak Didin, pelayan  dan masseur kepercayaan Kid. Seorang lagi, Magda, wanita cantik usia duapuluhan berbusana jins dan kaos warna merah maron.

“Hei.. wawancara kok pakai main kejar-kejaran segala.” Ujar Magda, ketus.

Kid tertawa tampaknya tak perduli. Tangannya menggenggam tas tangan Salina.

Tidak demikian Salina. Gadis ini tersipu malu seperti pencuri tertangkap basah. “Kembalikan tasku, aku mau pulang.” suara Salina agak gemetar

Kid Salasa menyodorkan tas, Salina merebut dengan kasar.

“Kamu mencakar terlalu keras, seharusnya mengelus lembut.” Kid Salasa  senyum menggoda.

Salina merasa jengah. Tetapi ia menatap Kid dengan berang.

Rupanya Magda tidak senang melihat tatapan mata Kid Salasa kepada Salina. Suaranya agak kasar dan ketus. “Kid, kamu dicakar?”

“Jangan ikut campur, ini urusanku dengan Salina.” Kid menjawab seenaknya.

Magda berang, mengalihkan rasa jengkelnya kepada Salina. “Mau apa kamu wawancara mengorek rahasia Kid, semua rahasia kelebihan Kid kamu jual ke pihak Amerika, dapat duit berapa kamu? Dasar wanita murahan.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada kasar dan arogan dari seseorang yang merasa memiliki kekuasaan.

Salina tidak tinggal diam dipermalukan. “Hati-hati mulutmu, pulang ke ibumu belajar sikat gigi dan bersihkan mulutmu!”

“Apa katamu? Bangsat!” Tidak menanti ucapannya selesai Magda melangkah maju sambil mengayun tangan. Salina menghindar ke kiri, menyambar tangan Magda  dan menekuk ke belakang punggung gadis pongah itu.

“Aduh tanganku…” Magda berteriak kesakitan.

Kid Salasa memburu hendak melerai tetapi justru disambut tubuh Magda yang didorong keras oleh Salina.

 Magda merangkul dan merebahkan kepalanya di pundak Kid Salasa. “Dia menghinaku, Kid.”

Kid Salasa tersenyum menatap Salina. Sekilas mereka tatapan mata. Ada sesuatu di balik senyum lelaki itu yang tidak dimengerti Salina.

“Sudah siang, aku harus kembali ke kantor. Kapan wawancara lagi?”

Kid Salasa tertawa, mendorong badan Magda. Lalu dia melangkah menjauh. “Seperti biasa kau hubungi Bella, dia tahu persis waktu istirahatku.”

Salina melangkah ke pintu. Ia berhenti karena mendengar seruan Magda.

“Kid, keningmu cidera?”

Salina memantapkan hati, menjernihkan pikirannya, tidak menoleh ke belakang. “Tak ada urusanku dengan Kid Salasa dan pacarnya itu.” Bisik hatinya.

“Pak Didin tolong antar aku ke parkiran.” Salina melangkah ke pintu.

“Iya Non.” Didin mendahului Salina membuka pintu.

            Salina diantar Didin berhenti di sisi BMW. Dia membuka pintu depan, seketika aroma wangi lavender menguar dari dalam mobil.

            “Pak Didin tunggu dulu.” Salina mencegah orangtua itu yang hendak pergi. Dia membuka pintu belakang dan mengambil sesuatu.

            “Ini kaos untuk Pak Didin.” Salina menyodorkan kaos warna hitam yang masih dalam kemasan plastik.

            Pak Didin memandang dengan takjub, menerima pemberian itu dengan tangan gemetar. Selama ini tak pernah ada orang memberinya sesuatu, apalagi kaos yang tampaknya barang mahal. Dia mencium kaos itu. “Wangi. Terimakasih Non.”

            “Sama-sama Pak.”

            “Wanita itu sombong, suka memerintah dengan kasar.” Didin menggerutu.

            “Siapa?”

            “Magda. Senang saya melihat nona menghajar dia, biar tahu rasa.”

            “Aku tidak menghajar, hanya mendorong dia ke arah Kid.” Salina membayang sekilas Magda memeluk Kid Salasa.  “Dia pacarnya Kid? Tunangan?”

            Didin menggerutu. “Lagaknya sih koyok pacar, tetapi saya ndak tahu Non.”

            Salina tak mampu menahan diri untuk tidak bertanya. “Bagaimana dengan gadis-gadis lain, Tantri, Anisa, Amelia, Irina? Siapa yang dipilih Kid?”

            “Dalam hati Kid, tak ada yang tahu. Tapi menurutku mereka ngincar Kid lantaran dia juara dunia dan punya uang banyak. Jaman sekarang memang seperti itu non.”

            “Ibu Mai tidak melarang Kid pacaran, itu kan mengganggu konsentrasi?”

            Didin berkata lirih. “Dua gadis yang sering berada di kamar ibu Mai,”

            “Siapa?”

            “Anisa dan Amelia.”

            “Rupanya baik-baikan dengan calon mertua?”

            “Katanya sih sholat, mereka juga tidak lama-lama dalam kamar. Mungkin ibu Mai tidak mau ngobrol.”

            Salina masuk ke dalam mobil. “Pak Didin terimakasih sudah ngantar aku.”

            “Saya yang berterimakasih, kaos ini barang berharga buat saya.”

( Bersambung eps 16 )



[1] Omong kosong.


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com