Cinta 100 Juta Dollar eps 14

Posted on 24 Desember 2017 ( 0 comments )


Episode 14

“Magda? Ah dia teman biasa, tidak ada apa-apa dengan aku, bagaimana mungkin  menikah.” Suara Kid terdengar datar tak ada emosi.

“Kata orang-orangmu hubungan dengan Magda itu sangat erat, sering berduaan dengan kamu ..”

Kid Salasa memotong. “Sudah kujawab tadi, tidak ada apa-apa. Teman biasa.”

“Bagaimana dengan Irina, Tantri, Amelia dan Anisa? Kamu dikelilingi gadis-gadis cantik, siapa yang kamu pilih jadi permaisuri?”

“Semua teman biasa, belum ada gadis khusus, mungkin dalam waktu dekat ini aku akan temukan gadis yang cocok.”

“Sudah ketemu?” Suara Salina agak bergetar.  

“Kamu ingin tahu, apakah itu perlu ditulis?”

“Tentu saja perlu.”

“Perlu? Apa alasanmu?”

“Mohammad Ali punya isteri ketika masih merintis gelar juara dunia, semua petinju atau atlet punya pacar atau isteri, itu membangkitkan semangat. Jadi itu sebabnya aku ingin tahu perihal kehidupan seks kamu.” Salina tersenyum puas setelah  mengarang alasan yang masuk akal. “Kamu tahu kehidupan seks Mike Tyson sangat liar, dia sangat butuh seks, karenanya banyak skandal dia dengan wanita panggilan.”

“Eh nona manis aku bukan Mohammad Ali juga bukan Tyson.”

 “Lagi-lagi panggil aku nona manis…”

“Karena memang kamu cantik dan manis.”

Jantung Salina berdegup kencang. “Setiap hari kamu berlatih. Bagaimana pengaturan aktifitas kehidupanmu di luar waktu latihan. Apakah Pacheco mengontrol semua aktifitasmu?”

“Tentu saja dia tahu! Pacheco yang menentukan kapan aku harus istirahat, kapan berlatih, kapan makan, makanan apa, dan kapan aku boleh menghirup udara bebas di luar sasana. Semua dia yang mengatur!” Wajah Kid Salasa merah padam, Ia terpancing perasaan yang paling dalam dan paling sensitif.

“Seringkali aku merasa bosan bahkan  terkadang membenci Pacheco, merasa diperlakukan seperti robot. Semua kegiatanku harus mengikuti program yang ketat, tak boleh sedikitpun keluar dari program yang telah ditentukan.” Kid menggerutu.

Salina menatap tajam lelaki yang duduk di kursi seberang meja. “Apakah Pacheco juga mengatur dan memilih perempuan untukmu?” Saat berikut Salina tersenyum.

Mendadak Kid Salasa merasa si wartawati telah melampaui batas. Sigap dia melompati meja, detik berikut dia duduk di sofa persis di samping Salina.

“Mau apa kamu?” Suara Salina tinggi saking terkejutnya.

Kid Salasa mengulur tangan ke punggung Salina, kepalanya mendekat ke wajah cantik itu. Gerak refleks Salina menangkis dan mendorong. Tangannya membentur kening Kid Salasa. Tetapi lelaki itu tidak merasakan benturan di keningnya, tangannya bagaikan tentakel gurita hendak memeluk.

Gadis itu masih terkejut, tangannya mendorong dan mencakar dada Kid Salasa, dua kakinya menggenjot lantai dan melompat.

Kid berteriak. “Aduuh !” Dia memang kesakitan benturan di keningnya membekas tanda merah tetapi cakaran kuku panjang didadanya meninggalkan tanda dan rasa perih.

Salina melompat melepaskan diri, hilang keseimbangan. Dia terjatuh di lantai. “Kamu gila Kid Salasa, apa yang kau lakukan?”

Kid memandang gadis itu dan tertawa keras. “Kau gadis hebat, lompatan tadi itu gerakan silat, kamu bisa kungfu rupanya. Tapi kau mencakar terlalu keras. Lihat aku terluka.”

Salina bangkit matanya menatap tajam. Ada sinar mengancam. “Kau berlaku kurang ajar. Itu pelecehan seksual, kulapor polisi kamu bisa dipenjara!”

“Kamu tega memenjarakan aku? Bagaimana dengan wawancara kita, apakah di lakukan di  dalam penjara?” Kid Salasa menggoda.

“Kamu mengurangi respekku padamu. Itu tindakan buruk dan jahat. Pelecehan seksual, percobaan perkosaan hukumannya berat.”

“Tidak ada pelecehan seksual, tidak ada perkosaan. Gara-gara pertanyaanmu yang melanggar batas. aku hanya main-main, duduk sopan di dekatmu mengapa kamu marah?”

“Semua pembicaraan ini terekam, bisa jadi alat bukti bagi polisi.”

“Kamu serius melapor polisi?” Kid menatap tajam.

Salina menggeleng kepala. “Tidak. Tapi Kid, jangan mengulang perbuatan tadi.” Ia berdiri, merapikan pakaian, berusaha menenangkan diri. Ia sadar masih dalam tugas wawancara. “Tapi persetan dengan wawancara, persetan dengan biografi, bisa saja dibatalkan!” Teriaknya dalam hati.

Salina mematikan tape recorder, menyimpan dalam tas, dan merapikan alat tulis, ia bebenah dengan cepat dan sigap.

Kid Salasa tidak lagi tertawa. “Kau marah? Maafkan aku, tadi aku hanya main-main, memang agak konyol, jadi maafkan aku….”

Salina memandang lelaki itu yang mimiknya tulus. “Kumaafkan…”

“Tidak jadi lapor polisi?”

“Kubatalkan.”

“Terimakasih. Kamu cantik dan baik budi.”

“Sudahlah jangan puji-puji gombal. Kelakuanmu tadi itu konyol.”

“Gara-gara pertanyaanmu yang konyol.”

“Apanya yang konyol?”

“Kamu tanya, apakah Pacheco memilih dan mengatur wanita untuk aku, tadi itu aku mau membuktikan bahwa aku yang menentukan pilihanku.”

“Apa maksudmu?”

“Aku memilih kamu, apakah itu salah, kamu cantik, baik hati dan pinter.”

( Bersambung eps 15 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com