Cinta 100 Juta Dollar Eps 13
Posted on 24 Desember 2017 ( 0 comments )
Episode 13
Bab 5
Nona Manis
Salina Puspakencana, cantik, langsing dan berisi. Hari itu ia mengenakan jeans hitam dan kemeja biru muda lengan pendek. Ia duduk di sofa bersilang kaki meneliti lelaki dihadapan. Pertama ia mengenal petinju itu Agustus tahun lalu ketika menghadiri konperensi pers pertarungan Kid melawan Kim Sung. Waktu itu ia mengikuti temannya wartawati olahraga. Ia tidak berkenalan resmi, hanya melihat dari jauh Kid Salasa menjawab pertanyaan pers.
Setelah itu dia hanya membaca berita petinju Morotai itu melalui koran, majalah maupun news-online. Hari itu ketika berkenalan dengan Marbella, Jose Pacheco dan Kid Salasa mengantarnya memasuki dunia tinju pengalaman baru yang sangat asing.
“Tidak kusangka sekarang aku menulis biografi petinju juara dunia.” Bisiknya dalam hati. “Banyak yang harus kupelajari tentang dunia tinju.”
Sebelumnya semasih bersama orangtua di London, ia menjadi penulis lepas di harian Daily Times. Ia suka mengupas, mengembangkan dan memperkenalkan pemikiran para tokoh Indonesia, menerjemahkan opini dan buah pena dengan seizin mereka untuk dinikmati pembaca Inggeris dan Eropa. Tulisan yang paling sering ia terjemahkan adalah coretan Hesty Mandodari, pengamat sosial, sastrawati Indonesia terkemuka yang cukup dikenal di dunia internasional.
Sebagai balas budi, dalam komunikasi intens lewat email, Hesty mengajari cara dan kiat menulis artikel maupun novel. Tidak heran dalam setiap novel fiksinya, nama Hesty tercantum dalam kata pengantar. Hesty juga yang mengantar novel perdananya diterbitkan penerbit dimana Hesti salah seorang pemegang saham.
Kini nama Salina Puspakencana dikenal orang. Apalagi novel terbarunya, teroris, laris menjadi best seller bahkan telah diangkat ke layar perak. Dia bangga ketika film itu laku di pasaran meskipun tidak masuk katagori box-office.
“Bagaimana perjumpaanmu dengan mister Presiden?” Ia menatap Kid Salasa.
“Ah luar biasa, pengalaman hebat dalam hidupku. Beliau sangat memperhatikan. Nasehatnya membakar fanatisme dalam diriku. Perasaanku bergelora dan aku merasa rela mati mempertahankan gengsi bangsaku. Dia membangkitkan semangat dan rasa percaya diriku. Bapak Presiden memang seorang orator.” Tutur Kid.
“Adakah pesan khusus, pesan yang sangat penting?”
“Ada, aku tidak boleh kalah, aku harus menang. Dalam olahraga selalu ada menang dan kalah. Kalaupun akhirnya aku kalah, paling tidak aku harus memberi perlawanan keras. Katanya, bertarunglah dengan keras dan cerdas sampai ronde terakhir. Ingat kamu kebanggaan rakyatmu khususnya di Maluku Utara. Ayo Kid Salasa menangkan gelar itu untuk bangsa dan negara.”
“Kamu pernah nonton pertarungan Christopher, apa perasaanmu waktu itu?”
Salina tak tahu apa yang membuat hatinya selalu berdebar jika menatap lelaki itu. Ada sesuatu dalam diri Kid yang selalu membetot hatinya.
Kid Salasa tidak tampan, rambut pendek, hidung tidak mancung. Bentuk mulut lebar, Salina tahu lelaki itu keras, tegas dan bisa kejam. Dari matanya yang bening dan tajam ia cerdas dan periang. Terbukti ketika menjawab pertanyaan pers dalam bahasa Indonesia maupun Inggeris.
“Malam itu sulit kulupa, aku melihat bagaimana bajingan itu menghabisi Tommy the beast di ronde enam. Tommy terkapar di kanvas sementara bajingan itu berdiri dan berteriak menyuruh lawannya bangkit, tapi Tommy tidak mampu bangun. Sesaat setelah wasit menyelesaikan hitungan, bajingan itu berlari ke tepi ring, tinjunya dikepalkan ke arah kamera seakan aku berdiri di hadapannya, dia teriak. Kid Salasa you are next, donot hide from me. You are next, I will knock you out, I am the best in the world.[1]”
“Apa yang kau rasakan? Marah?”
Kid menggangguk. “Matanya menyorot kebencian yang luar biasa. Ia melihat aku seperti menemukan lelaki pemerkosa ibunya.”
“Kau tahu alasannya?”
Kid tertawa. “Memang sudah waktunya kami bertemu, pertarungan memang harus terjadi tahun ini. Sebelumnya aku masih dipertemukan dengan Manacin, sedang dia harus meladeni Tommy. Kini kami tak bisa menghindar lagi, harus ada yang menang dan menjadi juara sejati.”
“Kamu menyebutnya bajingan, mengapa?”
“Aku harus mengalahkan dia, I am the good guy, he is the bad guy.[2] Aku harus menyusun di kepalaku, bahwa dia bajingan yang harus kuhancurkan, kebencian terhadapnya harus kupupuk dalam benak dan hatiku. Sejak sekarang!”
“Kau membencinya apakah karena dia membencimu?”
“Bajingan itu memang membenciku, aku pikir semua petinju harus membenci lawannya selama persiapan dan waktu pertarungan. Meskipun after the fight[3] semua petinju akan berteman lagi dan saling menghargai sesama profesional. Kebencian akan menggali semangat yang paling mendasar, membangkitkan sikap ngotot yang akan mengaktifkan syaraf dan naluri membunuh dalam diri. Hanya dengan demikian seorang petinju akan survive. Itu falsafahku yang ditanam Pacheco.”
“Menurutmu, kebencianmu itu akan membuat kamu menang?”
Kid Salasa tertawa. “Tentu saja manisku, aku toh tak akan membiarkan orang memukulku tanpa aku membalasnya, aku punya sifat buruk mungkin ini yang disebut sifat primitif manusia, aku akan membalas budi kebaikan orang kepadaku. Dan aku akan membalas perlakuan kejam orang terhadapku.”
Salina tersipu, mukanya merona merah mendengar kata manisku. Jantungnya berdegup, dia menutupinya dengan pertanyaan dadakan diluar rencana.
“Bagaimana dengan seks, kau butuh seks selama persiapan atau ada larangan?”
Salina melihat lelaki itu terperangah. Kid Salasa tak menyangka datangnya pertanyaan itu.
Gaya bertanya Oriana Fallaci itu memang paten, kata Salina dalam hati. Wartawati Italia itu sempat membuat Henrry Kisingger, waktu itu masih menlu Amerika Serikat terlonjak dari kursi saking terkejut mendengar pertanyaan Fallaci.
Wartawati Italia kelahiran Florence 1929 itu adalah idolanya. Dia membaca berulangkali transkrip wawancara Fallaci dengan mantan menlu Amerika yang terkenal Henry Kissinger, begitu juga penguasa Syah Iran Reza Pahlevi dan Ayatullah Khomeini tokoh spiritual yang memproklamirkan republik Islam Iran, serta Golda Meyer perdana menteri Israel dan Yasser Arafat tokoh pejuang Palestina. Semuanya tokoh yang saling bertentangan dalam panggung politik masa itu dan yang sangat sulit ditemui orang.
Meniru teknik Fallaci yang sering mencetus pertanyaan tajam dan dadakan, Salina dalam skala kecil, berhasil mengejutkan Kid Salasa.
Kid Salasa menatap tajam wartawati cantik itu. Celana jins ketat yang memeta pahanya. Kemeja biru muda lengan pendek tak mampu menyembunyikan ukuran payudaranya. Kid menebak. “Ukuran dadanya tigapuluh empat? Tigapuluh empat duapuluh empat tigapuluh empat?”
Rasa penasaran mendorong dia bertanya. “Berapa tinggimu, berat badanmu?”
Kini Salina yang terkejut. Spontan dia menyahut. “Mau apa tanya tinggi dan berat badanku?”
“Selama ini kamu bertanya terus, hanya sekali aku bertanya, kau tidak perlu marah, nona manis.”
“Apa-apaan panggil nona-manis nona manis segala.”
Kid Salasa tertawa. “Kamu memang manis, lebih manis dari gula, bahkan lebih manis dari madu nomor satu.”
“Kamu belum jawab pertanyaanku, tentang kebutuhan seks.” Salina mendesak.
“Jawab dulu pertanyaanku, tinggi dan berat badanmu.” Kid Salasa tertawa geli.
“Tinggi satu enam lima, berat normal lima lima. Mau apa kamu?”
“Kutebak statistik vitalmu tiga enam, tigapuluhtiga, tiga enam, benar kan?”
Salina memotong, nada suaranya agak tinggi. “Enak saja kamu ngomong, memangnya aku gembrot? Vitalku tiga empat, dua empat, tiga empat, puas kamu?” Diam sedetik Salina menambahkan. “Kamu pinter mancing informasi, sekarang jawab pertanyaan seks tadi, jawaban serius karena akan masuk dalam buku.”
Kid tertawa geli. “Ulangi pertanyaanmu, aku lupa.” Dia memerhatikan paras cantik Salina.
Rambutnya hitam kecoklatan, ikal berombak, tergerai sebatas dada. Mukanya agak bulat telur. Alisnya tebal. Matanya agak bulat, bola matanya warna kecoklatan sinarnya bening tajam. Hidungnya mancung, tidak besar. Mulutnya agak lebar dengan bibir tebal. Garis bibir atasnya melengkung bagaikan busur gandewa, bibir bawah tebal menggantung. Mulut dan bibirnya yang dipoles lipstick tipis merupakan bagian paling cantik dari parasnya. Jika tersenyum, tampak deretan gigi putih berkilau.
“Kamu cantik, Salina.” Suara Kid Salasa terdengar ramah dan tulus.
Sesaat Salina gugup. Dia hendak mengulang pertanyaannya tetapi terkejut mendengar pujian cantik itu. “Apa?” Tanya spontan.
“Aku bilang kamu cantik, memang cantik.” Suara Kid Salasa ramah tapi tegas, tampaknya pujian tulus. Matanya tajam menatap mata Salina yang langsung merunduk, tidak tahan berlama tatapan mata.
Salina gugup, jantungnya berdegup kencang. Dia berusaha keras menahan diri, menyembunyikan rasa senangnya. Semua wanita suka dipuji. Pandangannya merunduk ketika mengulang pertanyaan. “Tentang seks. Selama persiapan, biasanya kamu butuh seks atau ada larangan, mungkin semacam pantangan?”
Kid Salasa menatap serius. “Maksudmu hubungan seks dengan wanita, semacam hubungan intim atau make love begitu?”
Salina mengangguk. “Ya itu maksudku. Kamu kan masih bujang.” Sesaat dia menatap mata bening lelaki itu kemudian mengalih pandangan ke mulut.
“Semua lelaki butuh seks. Kamu gadis intelek, pasti tahu bahwa rata-rata lelaki lebih butuh seks katimbang wanita. Hanya itu jawabanku.”
Salina ingin mengorek lebih dalam, tetapi kewanitaannya yang peka melarangnya, lagipula Kid Salasa telah mengunci jawabannya, artinya tidak mau dilanjutkan.
“Bagaimana dengan gadis bernama Magda, tunanganmu itu, kapan menikah?” Pertanyaan ini selalu mengganggunya sejak bertemu Magda yang oleh Marbella disebut sebagai pacar Kid.
( Bersambung eps 14 )
[1] Kau berikutnya, jangan lari dari aku, Kid Salasa, kamu akan kupukul jatuh, aku terbaik di dunia.
[2] Aku orang baik, dia orang jahat
[3] Pasca pertarungan
Comments







