Cinta 100 Juta Dollar Eps 12
Posted on 20 Desember 2017 ( 0 comments )
Episode 12
“Teruskan Coach.” Kid memotong.
“Seratus juta dolar?” Tanya Salina.
“Lebih dari itu, angka persisnya aku tidak tahu.”
Salina dan Marbella terkejut.
“Wow gila, fantastis, benar-benar gila, uang sebanyak itu tak akan habis dimakan sampai anak cucu.” Tukas Kid Salasa.
“Itu sebabnya petinju Amerika itu siap menghancurkan kamu.”
“Oh dia boleh coba, aku tak akan membiarkan dia memukulku semaunya.”
“Dia sangat serius, Kid. Tak seorang pun di muka bumi ini yang menolak uang sebanyak itu. Dia sedang memburu uang itu, dan dia hanya bisa meraupnya setelah menyingkirkan Kid Salasa. Kau berdiri diantara dia dengan uang segunung itu.”
“Itukah sebabnya kau ciptakan program latihanku, lebih berat dari yang lalu? Tapi coach, aku heran biasanya kau memberiku porsi kecepatan lebih banyak katimbang kekuatan. Kini terbalik, apa alasannya coach?”
Jose Pacheco menoleh memandang Marbella dan Salina. “Ini rahasia besar. Aku minta kepadamu nona Sali, agar kamu merilis kata-kataku ini hanya dalam buku atau after the match[1], sekarang ini simpan sebagai rahasia besar.”
“Apa perlu kumatikan perekam ini?” Salina meraih taperecorder.
Pacheco menggeleng. “Aku percaya kamu. Lagipula kalau berita ini didengar kubu Amerika, mereka tidak akan percaya dan tidak akan mengubah program latihannya. Tetapi bagaimanapun juga, kamu harus tetap rahasiakan.”
“Ah jangan khawatir si cantik ini bisa dipercaya.” Tukas Kid Salasa tertawa.
Salina merasa pipinya merona merah, malu. Dia juga senang dipuji cantik.
“Seharusnya seorang boxer[2] macam kau main hit and run[3] dan menghindari pertarungan jarak dekat. Tapi kau tak bisa menghindar terus menerus. Dua belas ronde adalah waktu yang lama. Suatu waktu kau harus bertukar pukulan dengannya di pojok ring, itu kalau kau terdesak sehingga tak bisa menghindar lagi. Tetapi aku ingin kamu memberinya kejutan bertukar-pukulan di tengah ring pada saat kau tidak dalam posisi terdesak. Itu yang aku mau, maka itu kau harus kuat.”
“Tapi apa mungkin aku bisa melayaninya bertukar-pukulan? Selama ini aku terbiasa dengan kecepatan, bagaimana sekarang tiba-tiba harus berganti gaya?”
Pacheco menatap serius. Tangannya memberi isyarat tidak setuju. “Kau tidak berganti gaya. Kau tetap dengan gayamu, kau masih Kid Salasa yang dulu, tetapi kini kau dilengkapi gaya the truck. Kau tukar pukulan dengan dia, lalu menghindar. Kamu memainkan dua gaya fighter and boxer.”
“Aku belum mengerti Coach.”
“Untuk mengenal gaya tinju musuhmu, kamu harus bisa memainkannya, kamu bisa meniru gaya fighter[4]. Sebaliknya dia tak akan bisa meniru gayamu. Sangat sulit bagi seorang fighter untuk mengubah gaya menjadi boxer tetapi seorang boxer bisa menjadi fighter hanya dengan melipat gandakan kekuatan fisik. Lagipula kau hanya memberinya kejutan, bukan meniru gayanya secara total. Kamu siap?” Tutur Pacheco.
“Oke, aku mengerti coach. Aku siap! Seratus persen siap.”
“Kid hal penting kau camkan, kau tak boleh kalah. Harus menang. Aku tak mau menutup karir dengan kekalahan, kemenangan akan kubawa pulang ke Guadalajara.”
“Aku janji memberimu kemenangan.” Suara Kid Salasa tegas, bersemangat.
Kid Salasa dan Pacheco meninggalkan Marbella bersama Salina. Dua wanita ini pindah tempat, duduk di bawah payung besar. Marbella memanggil pelayan minta dibuatkan minuman.
“Kapan rencanamu ke Malang dan Morotai? Lebih cepat lebih bagus, jadwalku banyak lowong. Tetapi akan sibuk memasuki latihan periode dua.” Marbella bertanya.
“Jadi kamu pasti ikut?”
“Tentu, aku ingin menikmati pemandangan pulau Morotai dan laut sekitarnya. Aku coba mengajak ibu Maisaroh, dia tahu banyak riwayat Kid di Morotai dan Malang, siapa tahu dia mau ikut.”
“Kita ke Malang dulu, kemudian ke Surabaya terbang ke Manado atau Ternate. Dari situ terus ke Daruba. Hanya aku tidak tahu persis hari-hari penerbangan.”
Marbella memotong. “Aku ajak si Pasugu. Dia berangkat dua hari lebih awal, mengatur jadwal perjalanan kita. Semuanya akan mudah, apalagi dia asli Morotai.”
“Baiklah. Kamu rencanakan semuanya. Aku tunggu tanggal tetapnya.”
“OK, akan kukabari secepatnya.”
( Bersambung eps 13 )
[1] After the match : Usai pertarungan
[2] Boxer : Gaya bertinju yang mengutamakan tehnik dan skill katimbang kekuatan fisik
[3] Hit and run : Pukul dan lari, maksudnya setelah melepas pukulan cepat menghindar
[4] Fighter : Petarung, gaya bertinju yang mengutamakan kekuatan fisik.
Comments







