Cinta 100 Juta Dollar Eps 11

Posted on 20 Desember 2017 ( 0 comments )


Episode 11

Tidak hanya wawancara dengan Kid Salasa, keluarga dan teamnya, Salina ingin melengkapi  dengan data terkait. Dia ingin mengunjungi Malang, daerah dimana Kid dibesarkan, juga pulau Morotai tempat Kid dilahirkan dan dibesarkan sampai usia 12 tahun. Marbella menyetujui semua rencana. Malah dia antusias mendampingi. Semua biaya ditanggung manejemen Kid Salasa.

Sore, usai latihan Kid Salasa istirahat berbaring beralas matras di serambi rumah.  Ia mengenakan sweeter tebal dengan kerpus hitam yang menutupi kepala dan telinganya. Dua tangannya bersedekap dibawah kepalanya, berfungsi sebagai bantal. Pandangannya menatap langit yang sedikit berawan. Sinar matahari senja agak redup menembus awan. Udara pegunungan terasa sejuk, mengelus tubuhnya yang penat usai latihan.

Salina duduk sila di atas karpet dekat matras. Dia meletakkan taperecorder  dekat kepala Kid Salasa. Dia juga memegang notes kecil dan fulpen untuk mencatat.

“Kata coach, kamu latihan fisik di sini selama duapuluh hari. Katanya ada target yang hendak dicapai. Target apa?”

“Hanya Tuhan, Pacheco dan dokter yang tahu apa targetnya. Hari pertama di sini aku menjalani tes fisik. Dokter mencatat. Hari duapuluh mendatang dokter memeriksa lagi. Itu rutin selama persiapan setiap satu pekan atau sepuluh hari.”

“Latihannya berat? Maksudku lebih berat dibanding persiapan sebelumnya?”

“Iya sekarang ini lebih berat, porsinya ditingkatkan. Persiapan Pacheco selalu berbeda tergantung lawan yang kuhadapi. Eh Sali, kamu betah disini? Menu makan dan tidurmu? Kata Bela, kamu pulang besok pagi, benarkah?”

“Iya besok pagi, aku diantar sopirmu. Aku betah tiga malam di sini, makan enak, tidur nyenyak dan bahan yang kuperoleh cukup banyak. Kembali kepada wawancara kita, berapa lama kamu merintis karir di amatir dan profesional?”

Yalas Salasa memejam matanya. “Usiaku limabelas masih duduk di es-em-a aku berlatih tinju di sasana milik pak Soleman. Pelatihnya orang bule, Phillipous namanya, dia sudah warga negara dan mualaf, kini namanya Pilip menikah dengan putri pak Soleman. Satu tahun berlatih aku  bertarung di pasar malam. Lumayan dapat bayaran untuk membantu ibuku. Usia delapanbelas, lulus es-em-a aku berlatih lebih serius, targetku juara nasional amatir. Tiga tahun kemudian aku juara nasional amatir kelas welter, tahun berikutnya aku pindah profesional.”

“Kamu tetap di sasana milik Soleman?”

“Iya. Pelatihnya juga tetap, bang Pilip. Aku dan Pilip terikat kontrak, dia memperoleh persentase dari bayaranku. Pak Soleman sangat sibuk dengan usahanya yang makin maju, sehingga dia menunjuk teman kuliahnya Supriyanto sebagai manajer  mengurusi kontrak dan keuanganku.”

“Kapan Pacheco dan Marbella bergabung?”

“Catatan lengkapnya kamu bisa minta dari Bella. Tapi garis besarnya, Supriyanto melarikan uangku, jumlahnya sekitar tiga ribu dollar. Pak Soleman yang usahanya maju pesat dan semakin kaya, merasa bersalah. Dia membayar kerugianku. Lumayan, itu kan uang untuk ibuku. Bukan itu saja, pak Soleman juga membawa Pacheco dan Marbella sebagai pelatih dan manajer. Katanya, aku kini ditangani orang profesional, aku juga harus profesional. Sebenarnya Pilip berjasa mengantar aku juara OPBF dan IBF. Suatu hari Pilip mengatakan kepada Pak Soleman, untuk mengontrak Pacheco yang waktu itu nganggur karena baru putus kontrak. Dia meyakinkan pak Soleman bahwa Pacheco akan membawa aku juara dunia.”

“Luar biasa. Orang seperti Pilip sulit dicari. Lantas kemana dia?”

“Dia tetap bersama pak Soleman, mengendalikan sasana amatir dan jadi orang kepercayaan mertuanya. Dia jadi warga negara Indonesia menikah dengan putri bosnya.

“Sejak kapan Pacheco masuk? Dan selama bersama dia, kamu belum pernah kalah, apa resep latihannya?”

“Mintalah data kepada Marbella. Memang benar bersama Pacheco aku belum pernah kalah.  Resepnya?” Kid Salasa merenung sejenak.

“Aku tidak tahu rahasianya, coba kamu tanya dia. Tetapi satu hal yang membuat aku menurut semua peraturannya. Dia meyakinkan aku dengan argumentasi ilmiah dan pendekatan keakraban. Dia sangat friendly, misalnya jika aku protes latihan terlalu berat, dia tidak marah. Dia selalu tertawa lalu menjelaskan dengan akrab, setelah itu jika perlu dia akan mengubah bentuk latihan menyesuaikan dengan kemauanku.” 

Terdengar langkah kaki. Pacheco dan Marbella mendekat, duduk di sisi Salina.

“Coach, kamu tidak keberatan aku rekam pembicaraan.” Salina bertanya.

“Tidak ada yang rahasia. Hal-hal yang rahasia ada di kepalaku.” Kata Pacheco tersenyum sambil telunjuknya menuding pelipis. “Tetapi semua wawancara ini akan publish di buku, jadi pasti after the match.

“Ada berita khusus yang kupublish di majalah dan on-line, hitung-hitung sebagai promosi awal buku. Bella tidak keberatan.”

“Tulisan yang kamu publish di majalahmu tidak menyinggung soal tehnis dan rencana latihan?” Potong Kid Salasa.

“Tidak, hanya human-interest, hal-hal yang ringan tetapi yang ingin diketahui orang, seperti makanan kesukaanmu, mungkin juga pacar-pacarmu.” Salina tersenyum menggoda ketika menyebut pacar-pacarmu.

“Sekarang pembicaraan kita hal-hal yang ringan dalam suasana santai.” Marbella memandang Salina. “Benar begitu Sali?”

Salina mengangguk. “Benar Bella.”

Kid Salasa bangkit, kini duduk sila. Berhadapan muka dengan Pacheco.

Pelatih kelahiran Mexico itu terkenal ketat menjaga disiplin serta menepati jadwal program. Dia tak mau kompromi dalam melatih. Namun pada sisi lain, ia seorang bapak yang ramah dan penuh kasih sayang. Jose Pacheco selalu menanam keyakinan menang, hal yang membuat Kid Salasa percaya diri.

”Ini pekerjaanku yang terakhir, usai tanding ini aku mengundurkan diri. Aku telah berjanji pada Bella dan anak-anakku.” Kabar itu keluar dari mulutnya, begitu saja tanpa basa-basi. Tanpa Emosi. Sepertinya sudah lama ia rencanakan.

Kid Salasa terkejut. “Mengapa coach? Mengapa?”

      “Ini adalah puncak pertarunganku. My last fight[1]. Aku sudah tua. Tak sanggup lagi hadapi pressure[2]. Aku telah habiskan limabelas tahun sebagai petinju sampai usiaku tigapuluh berlanjut dengan limabelas tahun melatih. Sudah cukup Kid, kini aku mau hidup tenang, jauh dari ketegangan, memelihara kebun anggur, bermain bersama cucu, bersantai di pinggir pantai ….”

“Kau tidak melatih lagi?”

Pacheco menggeleng kepala. “Tidak.”

“Kamu masih bisa melatih di negerimu. Bisa dekat dengan keluargamu, tak akan ada lagi rindu keluarga.” Tegas Kid Salasa penasaran.

“Tidak, Kid. Aku sudah berjanji kepada Bella dan anak-anakku.” Pacheco mengenggam tangan isterinya.

“Sudah cukup lama aku mengikutinya mengurus tinju. Sekarang waktunya hidup santai menikmati hari tua yang tenang tanpa ketegangan.” Tukas Marbella.

“Selama ini kami menabung. Sudah cukup uang untuk biaya hidup di masa tua, bahkan masih berlebih untuk membantu anak-anak dan cucu.” Pacheco berhenti sesaat kemudian melanjutkan. “Pertandingan lawan the truck adalah ujung karirku. Untuk itu aku ingin kamu menang, kamu menjadi juara sejati kelas welter.”

“Coach, sehebat apa Christopher?” Salina bertanya.

“Petinju Amerika itu bisa melumat Kid Salasa seperti daging cincang jikalau Kid tidak benar-benar siap.” Tegas Pacheco.

Salina meleletkan lidah. “Sehebat itukah?”

“Iya aku serius.” Lalu Pacheco menoleh kepada Kid Salasa.

“Camkan Kid. Petinju Amerika itu melihat jutaan dollar depan hidungnya. Untuk meraih uang sebanyak itu, ia harus menyingkirkan kamu. Dan ia tega mematahkan rusukmu atau memukul kepalamu hingga copot. Kamu harus berlatih ekstra keras.”

Pacheco menghela napas, melihat Kid seperti termenung. Ia tahu anak didiknya belum sepenuhnya mengerti apa yang ia sampaikan walaupun dalam bahasa Indonesia yang lancar.

Beberapa tahun bersama Kid dan tinggal di alam Indonesia telah membuat ia jatuh cinta pada kebudayaan dan apa yang berbau Indonesia. Cintanya itu membuatnya cepat menguasai bahasa Indonesia bahkan juga bahasa Melayu-Maluku.

“Sayang sekali Joe Frazier muncul setelah Sonny Liston dihabisi Muhammad Ali. Kau tahu Frazier dan Liston adalah dua petinju dengan style sama, fighter murni. Sama buas, sama brutal. Sadis dan kejam. Motto mereka, minggir jangan halangi jalanku kalau masih mau kepalamu bertengger di lehermu.

“Tuhan enggan pertemukan dua petinju top dengan style sama, dalam satu kurun waktu. Kalau dipertemukan maka pertarungan Liston kontra Frazier adalah pertarungan paling brutal dalam sejarah tinju, akan lebih hebat dari pertarungan Ali versus Frazier. Atau Ali kontra Foreman. Sekarang ini sepertinya Tuhan akan pertemukan dua fighter murni, Christopher the truck dengan Joe Buffalo the death.”

Kid memotong penuturan Pacheco. “Banyak kolomnis mengulas partai itu sebagai partai yang paling dinanti dalam sejarah tinju. Begitukan?”

“Benar. Lombardo manager the truck telah mengatur janji. Setelah merebut gelar dabel-yu bi-si dari tanganmu, dan menjadi juara sejati maka ia menanti Joe the death. Sebagai juara sejati Christopher akan menerima bayaran fantastis. Partai itu akan mengeruk uang, mungkin terbesar sepanjang sejarah.”

“Teruskan Coach….”

“Aku dengar selentingan, sistem bayaran akan kembali seperti zaman dulu, yakni pemenang memperoleh bayaran lebih besar. Khusus juara bertahan akan menerima bayaran premier plus bayaran menang. Asal kamu tahu Kid, seratus juta dolar lebih akan dikantongi Christopher jika mengalahkan the death.” Tutur Pacheco.

( Bersambung eps 12 )



[1] My last fight : Pertarunganku yang  terakhir

[2] Pressure : Tekanan mental


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com