Cinta 100 Juta Dollar Eps 10
Posted on 15 Desember 2017 ( 0 comments )
Episode 10
Giliran pertama, wartawan berambut gondrong yang terkenal ketus dan tajam ucapan maupun tulisannya. “Orang Indonesia memang pemaaf. Kalau bajingan penjahat koruptor dimaafkan, apalagi tamu macam Christopher yang komentarnya memang sengaja memancing agar big fight ini benar-benar panas dan memancar auranya ke penjuru dunia. Christopher, bagaimana tanggapan anda terhadap Kid Salasa? Anda yakin menang?”
“Sudah tentu aku yakin menang. Kalau aku tidak yakin, aku tidak datang ke Jakarta dan tidak menandatangani kontrak tadi. Anda bertanya tanggapanku terhadap Kid Salasa? Dia petinju berbakat, talenta yang membanggakan Indonesia. Dia belum pernah kalah, aku juga belum pernah kalah. Tetapi kali ini Kid akan kalah. Sebab aku akan memukul dia dengan keras, menjatuhkan dia ke kanvas, mengirimnya ke alam mimpi.”
Seorang wartawan asing bertanya. “Kid Salasa. Mengapa anda memilih julukan the waves, apa makna pakaian anda hari ini, atas merah bawah putih. Pertanyaan ketiga, Christopher mengatakan akan memukul dan mengirim anda ke alam mimpi, apa katamu?”
“Ombak itu tidak pernah habis. Semangat juang tak pernah habis. Ada kalanya dia ngamuk setinggi dua sampai lima meter bahkan bisa menjadi sunami. Seperti falsafahku. Aku lahir di pulau Morotai, di kelilingi laut biru, aku mencintai ombak. Takut kepada Christopher? Oh tidak. Tanyalah kepada ombak apakah dia takut kepada batu karang yang keras, apakah takut terhadap kapal induk? Dia tetap menyerang dengan deburan kerasnya. Aku akan menyerang, aku pasti menang, akan kupulangkan the truck ke Amerika dengan kekalahan.” Kid Salasa berhenti sejenak lalu melanjutkan. “Pakaianku ini, merah dan putih. Itu bendera negaraku. Aku akan tarung dengan darah dan semangat Indonesia, membuktikan manusia Indonesia keras perkasa dan tidak manja. Akan kupersembahkan gelar dunia untuk Indonesia.”
Madeline sibuk mencatat kata-kata Kid yang diucapkan dalam bahasa Inggeris.
“Woow saya tak menyangka bahasa Inggeris Kid begitu lancar dan fasih. Akan kuterjemahkan, pertanyaan dan jawabannya.” Ketika dia selesai menerjemahkan komentar Kid Salasa yang begitu panjang, seketika semua orang bertepuk tangan.
Satu demi satu pertanyaan wartawan disampaikan atau diterjemahkan olehnya.
Mendadak ada keributan di latar belakang meja konferensi, terjadi adu-mulut dan saling mengacungkan tinju. Dua kelompok ofisial saling berhadapan. Di kubu Morotai, Ibrahim, Alex dan Agus Bumbum berada paling depan. Di kubu the truck, dua pengawal bertubuh besar gempal juga pasang kuda-kuda.
Tampaknya panitia telah mengantisipasi kejadian jauh sebelumnya, para pengawal yang berdiri di belakang kursi dua petinju menjadi penghalang dua kelompok yang siap adu jotos. Tetapi bagaimana pun juga selama beberapa saat itu terjadi hingar bingar. Dua kelompok saling maki sambil mengacung kepalan.
Para pengawal keamanan sibuk melerai.
Keributan berlangsung sekitar lima menit akhirnya reda. Dua kelompok berhasil dilerai dan mundur beberapa langkah. Dari sudut ruangan puluhan pengawal security profesional berpakaian serba hitam masuk mengelilingi ruangan. Cepat dan sigap.
Setelah suasana aman dan nyaman kembali, Madeline bersuara.
“Ha ha ha … wah… wah… luar biasa…. Benar-benar bakal seru, big-fight masih jauh, sekitar empat bulan lagi tetapi hari ini nyaris pecah perang antara ofisial dua kubu, ini tanda-tanda partai Kid Salasa versus Christopher akan booming di Sentul City….. ha ha ha….” Tertawa merdu dan komentar artis cantik itu berhasil menguasai keadaan, atmosfir yang hingar bingar kembali teduh.
“Okay.. para hadirin kita lanjutkan tanya jawab…. saya akan mulai dengan pertanyaan sederhana kepada Kid Salasa, petinju favorit saya. Hallo Kid… seberapa siap anda untuk mengalahkan the truck… apakah latihan lebih berat?”
“Pada saatnya nanti saya akan siap, seratus persen siap. Anda bertanya tentang latihan saya, latihan rutin, biasa-biasa saja, seperti pertarungan terdahulu, dalam satu dua hari ini latihan akan dimulai. Saya tidak tahu rencana pelatih Pacheco, saya hanya akan mengikuti apa saja perintahnya. Dia tahu apa yang harus saya miliki untuk hadapi Christopher, saya percaya kepadanya, dia percaya kepada saya, kami sama-sama percaya dan yakin akan memenangkan gelar juara sejati. Tidak ada keraguan sedikit pun.”
Seorang wartawan asing sejak tadi tak pernah menurunkan tangannya. Tampak wajahnya yang serius, antusias bertanya. Setelah menerjemahkan komentar Kid ke bahasa Inggeris, Madeline menunjuk wartawan asing itu.
“Kid Salasa, apa rencana anda jika anda kalah? Seperti George Foreman yang beralih profesi menjadi penginjil, apakah anda nanti beralih profesi menjadi ustad?”
“Saya tak pernah berpikir tentang itu, tak pernah berpikir saya akan kalah.”
Wartawan itu mencecar lagi. “Dalam tarung selalu ada kalah menang, apa rencanamu jika kalah? Mundur dari ring tinju?”
“Saya tidak akan jadi ustad, saya tidak mengerti ilmu agama, mungkin saya akan menjadi promotor tinju… ha .. ha … ha..” Kid Salasa tertawa geli. “Tetapi saya tidak akan kalah, seperti yang saya katakan, saya tidak akan kalah di rumah sendiri.”
Semua ikut tertawa. Madeline menerjemahkan lalu komentar. “Untuk menjadi promotor Kid tidak perlu kalah, sebab Kid Salasa tidak akan kalah, bagaimana? Setuju?”
Kelompok pendukung Kid Salasa berteriak histeris. “Setuju.”
Pada kesempatan terakhir dalam tanya-jawab seorang wartawati bertanya lantang. “Kid anda banyak pacar, kapan anda menikah?”
Serentak hadirin tertawa, ada yang menggoda. “Hei kamu mau mendaftar?”
Kid ikut tertawa. “Aku tak punya pacar. Semuanya teman. Kalau menikah itu sudah pasti, tetapi kapan waktunya belum tahu karena sekarang ini aku masih fokus pada tinju. Mungkin saat aku mundur dari tinju, satu atau dua tahun ke depan.”
Memasuki acara makan malam bersama para wartawan, rombongan Christopher menghilang ke kamar masing-masing. Kid Salasa dan rombongan kembali ke sasana. Salina menyapa Marbella.
Marbella menyodor tape-recorder titipan Salina.
“Hari Jumat aku datang.” Kata Salina sambil menerima tape-recorder.
“Jumat team kami berangkat nginap di villa di Puncak Bogor. Aku, Pacheco dan Kid berangkat Sabtu malam. Ingat rahasia ini jangan dibocorkan.”
Salina terkejut. “Rupanya jadi juga rencana itu. Berapa lama di sana? Kid punya villa di Puncak?”
“Kami sewa untuk limabelas hari atau lebih, Kid latihan fisik. Lari dan fitness.” Sambil Marbella melangkah menuju mobil.
Salina mengeluh. “Boleh aku ke sana? Melihat latihan sekalian wawancara.”
“Boleh. Kamarku besar. Kamu nginap bersamaku. Pacheco biasa nginap berdua Kid, dia benar-benar mengawal dan menjaga Kid seperti anak sendiri.”
“Tetapi aku tidak tahu alamatnya.”
“Kamu nyetir sendiri?”
“Nanti aku bawa mobil kantor diantar sopir. Aku bawa seorang fotografer.”
“Oh no my dear. Tidak boleh. Hanya kamu sendiri. Orang lain tak boleh tahu, itu tempat rahasia, latihannya juga rahasia.”
“Aku ikut kamu, berangkat Sabtu malam. Kita bertemu dimana?”
“Di sasana. Kita telpon-telpon. Kamu pindah ke mobilku, sopirmu kembali ke kantor. Okey?”
“Jam berapa?”
“Jam tujuh malam.”
“Okey. Aku telpon kamu jam enam.”
Marbella menghampiri mobilnya yang parkir dalam keadaan mesin hidup. Dia berdiri di sisi mobil menunggu Pacheco dan Kid Salasa.
Tampak Kid Salasa dan Pacheco dikawal Ibrahim, Alex dan Agus dikerumuni para pemuda Maluku yang semuanya mengenakan ikat kepala merah.
Salina melihat anak buahnya sibuk mengabadikan adegan itu. Salina menelpon sopirnya, lalu menghampiri dua anak buahnya. “Ayo kita kembali kantor.”
Duapuluh Lima Hari
Komentar Christopher yang menghina Kid Salasa sekaligus menyinggung kehormatan bangsa Indonesia, menjadi berita yang tidak pernah habis diulas media. Tetapi ucapan santun Christopher yang memuji Kid Salasa serta pernyataan maafnya dalam konferensi pers telah memupus rasa benci dan kemarahan masyarakat Indonesia. Memang bangsa Indonesia santun dan pemaaf.
Jikalau ini semua skenario buatan Halim dan King Mambo, tidak keliru lagi itulah karya hebat. Hasilnya memang luar biasa. Kericuhan yang nyaris pecah menjadi arena adu-jotos antara dua kelompok ofisial juga diberitakan media.
Tidak heran setelah konperensi pers, pertarungan Kid Salasa kontra Christopher the truck memperebutkan gelar dunia kelas welter sejati, menerobos catatan sepuluh besar live show this year yang sumbernya di Las Vegas.
Kid Salasa menjadi sumber berita paling dicari. Media ibukota dan daerah serta media asing menempatkannya pada rangking atas bidang olahraga pekan-pekan terakhir. Tetapi hanya sebatas itu.
Pasca konferensi pers, Kid Salasa dan teamnya menghilang seperti ditelan bumi. Tak ada yang tahu kemana perginya. Pers memburu ke sasana Daruba, namun tak seorang pun yang memberi informasi keberadaan petinju Maluku Utara itu.
Ternyata Kid Salasa mendekam di sebuah vila daerah Jogjogan kawasan Puncak. Itu pilihan coach Jose Pacheco, sengaja melarikan Kid Salasa ke tempat sunyi agar lebih fokus pada latihannya.
“Duapuluh lima hari pertama ada target fisik yang harus dicapai Kid. Kemudian kita pulang ke sasana.” Tegas Pacheco kepada Salina di hari pertama latihan.
Salina nginap selama tiga hari di villa, sekamar berdua Marbella. Dia menyusun format dan plotting penulisan buku. Lalu berdua Marbella mengatur rencana.
( Bersambung eps 11 )
Comments







