Wisang Geni Part Two Bab 3 by John Halmahera
Posted on 12 Juni 2014 ( 0 comments )
Wisang Geni Part Two bab 3 by John Halmahera
Bab Tiga
Misteri Cinta
Suatu siang di awal bulan Phalguna hujan deras mengguyur desa Sajan, desa kecil dekat kali Bangsal yang hanya dihuni duapuluhan rumah penduduk. Seekor kuda berlari kencang menuju warung makan. Penunggangnya, gadis berusia tujuhbelas tahun melompat menerobos masuk warung. Bajunya basah melekat ditubuhnya yang langsing kurus. Dia melongok sana sini mencari tempat kosong.
Seorang pelayan menyambutnya. “Silahkan masuk, ada tempat yang bagus.” Dia mengajak si gadis masuk.
“Eh wong ayu, sini duduk dekat aku, makanmu nanti aku yang bayar.” Seru seorang laki-laki brewok yang duduk bersama empat temannya.
Gadis pura-pura tidak mendengar, tetap melangkah mengikuti si pelayan. Dia duduk di pojokan dekat jendela.
“Aku pesan nasi, ayam bakar dan wedang jahe,” katanya kepada pelayan.
Laki-laki brewok masih penasaran, menghampiri si gadis. “Wong ayu, mau pergi kemana? Mau aku antar?”
Gadis itu menyahut datar. “Kamu kembali ke mejamu, perutku lapar. Nanti selesai makan, baru kita bicara, iya Mas?”
“Oh kalau itu maumu, yah, kangmas manut saja.” Dia kembali gabung dengan empat temannya sambil tertawa-tawa, berpikir berhasil merayu si gadis.
Gadis mengamati keliling. Warung itu sederhana. Hanya enam meja dengan belasan kursi. Tidak semuanya ditempati orang. Selain laki-laki brewok dan empat temannya. Sepasang suami isteri paruh baya, dan dua laki-laki paruh baya. Empat orang ini tampak biasa-biasa saja.
Seorang laki-laki duduk sendirian di pojokan dekat jendela berseberang dengan tempat duduknya. Lelaki itu mengenakan caping lebar dari anyaman kulit bambu, dua sisinya diikat dengan tali tipis yang disimpul dibawah dagunya.
Gadis merogoh buntalan pakaian, mengeluarkan sepotong kain, mengeringkan rambutnya yang panjang sebahu. Mengikat rambutnya dengan sepotong pita warna biru. Ketika pelayan membawa makanannya, dia mengeluarkan sekeping uang tembaga. “Cukup, Pak?”
“Cukup, cukup.”
Dia melahap makanan dengan rakusnya. Dalam sekejap makanan itu ludes. Dia menghirup wedang jahe dan merasakan nikmat hangatnya minuman.
Hujan sudah reda. Matahari siang muncul dari balik mendung.
Melihat si gadis selesai makan, laki-laki brewok tadi berseru. “Hai wong ayu, sini duduk dekat kangmasmu, biar kamu tidak kedinginan.” Dia tertawa keras.
Si gadis tidak menyahut, melangkah keluar warung.
Salah seorang teman si brewok mencegat. “Eh wong ayu, jangan pergi begitu saja, kamu dipanggil kangmasmu.”
Si gadis menghentikan langkah. Tidak menyahut hanya matanya menatap tajam.
“Kamu cantik. Mau jadi isteri kakak perguruanku?”
“Hargaku mahal.” Tukas si gadis.
“Seberapa mahalnya, kakak perguruanku itu orang kaya.”
“Aku mau kepalamu!” Seru si gadis sambil menampar.
Laki-laki itu menangkis. “Wah galak juga.”
Terdengar benturan tangan seperti ledakan. “Tarrrrr…”
Laki-laki itu teriak kesakitan. “Aduuuhhh…” Dia mundur, tangannya lunglai.
Empat kawannya segera menghampiri, siap-siap menyerang si gadis.
Si brewok berseru. “Aduuuh wong ayu, kamu bisa silat rupanya, cocok dengan seleraku, kamu harus jadi isteriku.”
Gadis itu melejit keluar warung. “Ayo keluar, jangan merusak warung.”
Lima laki-laki itu melesat keluar. Berdiri mengurung si gadis.
“Kamu harus jadi isteriku!” Seru si brewok sambil menyerang. Empat temannya ikut menyerang.
“Jangan lukai dia, tangkap saja!” Teriak si Brewok.
Dalam sekejap terjadi perkelahian. Seorang gadis langsing kurus dikeroyok lima laki-laki bertubuh kekar.
Lima laki-laki kewalahan, jangankan menangkap, menyentuh tubuh si gadis selalu gagal. Ilmu ringan-tubuhnya mumpuni, gerakannya gesit, langkahnya aneh.
“Huh memalukan, beraninya main keroyok, ini rasakan pukulanku,” teriak si gadis yang mulai melancarkan serangan balik.
Si gadis menampar. Si brewok menangkis.
Terdengar suara keras benturan dua tangan. “Tarrrr… tarrr… tarrr…”
Kali ini si gadis tak bisa melukai lawannya. Rupanya tenaga-dalam si brewok lebih tinggi dari temannya yang terluka tadi.
“Huuuh aku tidak sungguh-sungguh ingin melukai kamu.” Si gadis tertawa sinis. Mengurangi kerasnya pukulan si brewok, dia melayang menggunakan ilmu ringan-tubuh. Melayang seperti kupu-kupu lalu melejit ke pengeroyok yang lain.
Kejadian itu tidak luput dari mata jeli laki-laki bercaping lebar. “Itu pukulan nanawidha (beraneka warna) dari bangbang alum alum (semua merah, semua hidup atau semua mati), gerakan kaki itu dari waringin sungsang. Siapa gadis itu? Murid siapa? Apa hubungannya dengan perguruan Merapi dan paman Puguh?”
Tiba-tiba muncul seorang berjubah hitam masuk arena tarung, menyerang gencar sambil menuding musuh si gadis. “Uuh uh uh..”
“Hei gagu, bisu, jangan ikut campur urusanku,” seru si Brewok.
Jubah hitam tak perduli, tetap menyerang. Jubah Hitam itu tubuhnya sedang tapi kekar, wajahnya tersembunyi di balik topeng yang menutupi bagian dahi, mata dan sebagian hidungnya. Dua lobang sebesar bola mata di topeng memungkinkan dia melihat. Dia menyerang bergantian mengarah lima pengeroyok. Pukulannya membuat lima orang itu mundur.
Si gadis gembira memperoleh bantuan. “Terimakasih Pak, ayo kita pukul lima pengecut ini.” Serunya. Dari posisi terdesak, si gadis kini di atas angin.
Pada jurus kesepuluh, pukulan si Brewok melanda dada Jubah Hitam. “Buk… “
Jubah Hitam mundur terhuyung-huyung….. “huuuk..” Dia batuk.
Gadis itu terkejut cepat menghadang di depan Jubah Hitam menangkis serangan si Brewok. Dia melindungi Jubah Hitam. Tapi mendadak terasa angin keras di sisinya saat berikut si Brewok terlempar dengan jeritan memilukan. Dia mati sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Kejadian berikutnya berlangsung cepat. Teramat cepat.
Setelah menyerang si Brewok dengan serangan ganas, Jubah Hitam melejit memukul dua musuh lainnya yang terpental muntah darah. Dia berbalik badan menghadap si gadis, menyerang mengarah dada.
Gadis itu berseru kaget, “heiii…”
Tidak sempat mengelak. Serangan Jubah hitam mengena telak dadanya. Limbung. tapi sebelum dia jatuh, Jubah Hitam bergerak pesat, menyambar dan memanggulnya, lari menuju hutan di arah Timur.
Sesaat laki-laki bercaping yang masih duduk di warung, terkesima. Dia tersentak saking kagetnya.
“Kurangajar… dia menculik gadis!” Dia melompat dan bergerak pesat menuju hutan, mengejar si penculik. Khawatir kehilangan arah lelaki bercaping menggelar ilmu-silatnya yang paling handal, jurus menunggang angin.
Dalam sekejap dia melihat bayangan si penculik. Tidak jauh. Dia mengerahkan segenap tenaga, bergerak lebih pegas. Tak lama kemudian dia mendekati si Jubah Hitam. “Berhenti kamu!!!” Serunya.
Tahu si pengejar memiliki ringan-tubuh yang tinggi, sedangkan dia sendiri harus memanggul tubuh seorang gadis, Jubah Hitam tahu tak mungkin lolos begitu saja. Mendadak dia menghentikan langkah, memutar badan menghadap si pengejar. “Kalau masih mau hidup, jangan campur urusanku, pergilah!” Serunya tegas.
Mereka bertatapan. Terpisah hanya sepuluh meter.
“Lepaskan gadis itu!”
“Jangan ikut campur! Pergilah daripada kamu hilang nyawa.” Dia menekan rahang si gadis yang terpaksa membuka mulut, memaksanya menelan sesuatu.
Lelaki bercaping tidak curiga, apalagi si gadis mulai sadar. “Ilmu-silatmu tinggi. Kamu pasti pendekar kelas utama, tidak pantas menculik seorang gadis.”
“Kenapa tidak pantas? Apakah kamu lebih pantas?” Meskipun bahasa Jawanya jelas tapi masih ada aksen asing.
Laki-laki bercaping tertawa. “Kamu pendekar, aku juga pendekar. Siapa menang, dia mendapatkan gadis itu, tapi sayang kamu pengecut, maunya kabur. Kamu boleh kabur tapi tinggalkan gadis itu!”
“Jadi kamu memilih mati? Baiklah.” Dia melempar si gadis ke tanah.
Terantuk di tanah berumput yang masih basah oleh hujan, si gadis berteriak kesakitan. Matanya membelalak melihat Jubah Hitam. Dia ingat Jubah Hitam telah memukul dadanya dan dia pingsan. Dia memegang dadanya, seketika dia menjerit mengetahui sebagian depan kebayanya robek.
“Kurangajar, penjahat busuk!” Dia menutupi dadanya dengan tangan. Dia mencoba bergerak tapi tubuhnya lemas, tenaganya lenyap.
Lalu dia mendengar suara seorang laki-laki. Dia menoleh memandang laki-laki bercaping yang tadi dilihatnya di warung makan.
“Mengapa kamu melukainya?” Tanya laki-laki bercaping.
“Pukulanku hanya membuatnya pingsan, tapi racun kalajengking biru yang dia telan, membuatnya hanya bertahan tiga hari, hari keempat dia akan mati.”
“Kejam! Buka topengmu, perlihatkan wajahmu!” Seru laki-laki bercaping.
“Banyak omong!” Jubah Hitam melancarkan pukulan keras.
Laki-laki bercaping menangkis.
Benturan tenaga membuat keduanya mundur satu langkah.
Saat berikut terjadi pertarungan dahsyat, saling adu pukulan, keras lawan keras. Pohon besar yang kena benturan tubuh atau angin pukulan, terguncang. Sebagian yang kecil patah, tumbang. Daun-daun berterbangan kena pusaran angin.
Mata si gadis membelalak. Tak pernah sebelumnya dia menyaksikan tarung dahsyat seperti itu. Matanya tak bisa melihat jelas, dua orang itu bergerak amat pesat, hanya terlihat bayangan. Dia tak tahu siapa lebih unggul. Tapi berharap agar laki-laki bercaping yang menang. Membayangkan akan diperkosa Jubah Hitam, tubuhnya gemetaran takut.
Tadinya dia hanya bisa melihat bayangan kedua petarung itu saking pesatnya mereka bergerak. Tarung berlangsung puluhan jurus. Tiba-tiba keduanya berhenti dalam jarak sepuluh meter. Nafas keduanya tersengal-sengal.
Terdengar suara laki-laki bercaping. “Tenagamu hebat. Tapi aku belum kerahkan seluruh tenaga dan jurusku, kalau kamu masih mau berlanjut, kita adu sepuluh atau seratus pukulan.” Suaranya datar, pernafasannya telah pulih normal.
Jubah Hitam masih tersengal-sengal. “Baik. Sepuluh pukulan. Sebutkan namamu sebelum mati!”
“Namaku, Wisang Geni!”
Si gadis dan Jubah Hitam, keduanya sama-sama terkejut.
Si gadis menggumam dalam hati. Parasnya tiba-tiba merona merah malu. “Oh dia Wisang Geni yang kucari selama ini, ternyata lebih tampan dari laki-laki dalam mimpiku. Oh oh Penguasa Hutan dan Penguasa Angin, menangkan Mas Geniku.”
Jubah Hitam tertawa. “Jadi kamu pendekar nomor satu tanah Jawa yang namanya menggema kemana-mana.” Dalam hati dia sangat girang. “Hari ini aku bisa menaksir tingkat ilmu-silatnya, tetapi belum saatnya kubunuh. Kubunuh anak isterinya dulu supaya dia menderita seperti deritaku.”
“Sekarang katakan namamu, buka topengmu!” Wisang Geni melepas caping melempar ke pangkuan si gadis. “Tutupi dadamu, adik kecil!” Tampak rambutnya yang panjang penuh uban keperakan.
“Tak perlu basa-basi, ayo adu pukulan!” Teriak Jubah Hitam sambil melangkah maju, bersiap melancarkan pukulan keras.
“Kulayani kamu penjahat busuk!” Wisang Geni berseru tak kalah kerasnya.
“Wisang Geni bersiaplah ke neraka!” Serunya sambil dua tangannya mengirim pukulan saling susul menguar angin keras yang dingin.
Si gadis yang berada beberapa meter dari arena tarung, menggigil dingin kena pengaruh angin pukulan itu.
Tidak tinggal diam, Wisang Geni memukul dengan gongkrodha salah satu dari 12 jurus garudamukha, pukulan yang membawa perbawa kekerasan dan amarah. Pukulan mendatangkan angin panas dengan kekuatan besar karena menggunakan tenaga panas wiwaha.
Tenaga panas lawan dingin.
“Braaakkkk…. Braaakkk…” Benturan tenaga terdengar memekak telinga.
Wisang Geni mundur satu langkah untuk mengurangi hempasan tenaga lawan.
Jubah Hitam mundur dua langkah. Dia menggerung keras lalu memukul dengan tenaga lebih dahsyat.
Wisang Geni memukul dengan prasadha kuntihasha (menara tinggi bukan main) dari kumpulan prasidha dalam sikap prabhawa dilandasi tenaga dingin wiwaha. Itulah jurus penakluk raja yang sudah sangat jarang dia mainkan karena telah lama tidak menemui lawan seimbang.
Kali ini tenaga dingin lawan dingin. “Braaakkkkk ….. Braaakkk…..”
Wisang Geni tetap berdiri tegak, hanya dua tangannya tampak berputar-putar untuk membuang dampak pengaruh pukulan lawan.
Langkah Jubah Hitam terseret mundur dua langkah, nafasnya mendengus macam kuda habis berlari seharian. Tubuhnya sedikit gemetar, dia batuk-batuk. Darahnya bergolak, dia tahu tenaga dalamnya tergoncang.
“Wisang Geni bukan nama kosong. Ilmu-silatnya sulit diukur, tenaga-dalamnya hebat. Tidak heran Wasudeva mati ditangannya. Sekarang belum saatnya aku tarung habis-habisan. Ada saatnya nanti.”
Matanya berapi-api. “Wisang Geni! Kita akan bertemu lain waktu.” Serunya sambil melayang pergi.
Si gadis menatap Wisang Geni yang masih berdiri tegap, mengatur nafas. Sesaat kemudian dia menghela nafas panjang, “siapa orang itu, tenaga-dalamnya besar, jurusnya aneh, musuh yang sangat kuat. Mungkin dari negeri seberang.” Katanya sambil menghampiri si gadis.
“Dia hebat, tapi kamu lebih hebat. Terimakasih Mas Geni selamatkan aku.”
“Mengapa memanggilku Mas Geni, siapa kamu?” Wisang Geni memandang dada si gadis yang terbuka menantang. “Tutupi dadamu!” Tegasnya.
Si gadis melempar caping ke tangan Wisang Geni sambil berkata. “Kamu lihat, bajingan itu melukai dadaku, lihat warnanya agak biru pasti racun. Katanya aku akan mati tiga hari lagi. Jadi kupikir tidak ada salahnya kamu melihat dadaku. Bagus kan? Tidak besar dan tidak kecil.”
Dia berkata seakan tanpa malu tapi parasnya merona merah saking malunya. Dia memegang dada sebelah kirinya, mulutnya menyeringai, mengerang sakit. “Sakit, nyeri, dinginnya menusuk.” Katanya dengan suara menahan sakit.
“Namamu siapa? Kamu murid siapa?” Wisang Geni bertanya.
“Mas Geni, jangan berdiam diri, apakah kamu mau membiarkan aku mati? Kamu harus sembuhkan lukaku.”
Wisang Geni mengerut dahi. “Siapa kamu? Akan kutolong kalau kamu berterusterang!”
“Tidak mau! Sembuhkan dulu, nanti baru aku bercerita. Atau biarkan aku mati. Kamu pasti akan menyesal membiarkan gadis tidak berdosa mati di depan matamu tanpa berusaha menolong.” Gadis merogoh buntalan yang diikat di pinggangnya, mengeluarkan kebaya hitam, mengibas-kibas kebayanya.
Parasnya merona merah malu ketika dia melepas kebayanya yang robek, lalu mengenakan yang baru. “Kamu jangan melihat dadaku, itu tidak sopan.” Katanya sambil mengancing kebayanya.
Wisang Geni tertawa. “Tadi kamu menyuruh aku melihat dadamu, memujinya bagus, sekarang kamu melarang, mana yang harus kuikuti.”
“Sudahlah aku tidak mau berdebat. Ayo sembuhkan aku!” Dia menatap tajam.
Untuk sesaat Wisang Geni sadar betapa cantiknya gadis remaja itu. Mata, hidung, alis dan mulut yang indah cantik. Rambutnya ikal agak keriting, sepanjang bahu, awut-awutan namun menampakkan kecantikan yang liar.
Gadis merunduk malu. “Mas, jangan menatap aku seperti itu, aku takut.”
“Kenapa takut?”
Dia menyahut lirih. “Seperti laki-laki lain, mereka memandang aku sepertinya aku makanan yang enak dan harus dinikmati.”
“Karena kamu cantik.” Sesaat Wisang Geni merasa tak pantas memuji.
“Benarkah aku cantik?” Kemudian dia melanjutkan dengan suara lemah. “Dingin, aku kedinginan.” Dia menggigil dan tiba-tiba saja rubuh telentang.
Wisang Geni terkejut. Sekilas menduga si gadis pura-pura pingsan. Dia meraba nadi si gadis. Pingsan. Benar-benar pin
Comments







