Cinta 100 Juta Dollar Eps 9
Posted on 15 Desember 2017 ( 0 comments )
Episode 9
“Maksudmu hubungan seks Magda dengan Kid?”
“Itu pilihan kedua, target utama memasukkan bius dalam botol minuman atau makanan Kid, membuat dia lemas, mau tidak mau dia akan kehilangan beberapa hari latihan. Bagi seorang petinju profesional kehilangan satu hari latihan biasanya harus diganti latihan dua hari, nah kalau dia kehilangan lima atau enam hari latihan, jelas kehilangan besar bagi kondisi fisiknya. ”
“Dari mana kamu tahu seluk beluk tehnik tinju?” Edward memandang kagum.
“Dari literatur.”
“Rencanamu bagus.”
“Kulakukan untuk kekasihku.”
“Hati-hati Kim, teman wanitamu Magda tak boleh tahu.”
“Aku tahu, misi rahasia, hanya kita berdua yang tahu.”
“Bagus Kim.”
Sore itu di hotel Four Seasons berlangsung dua acara yang menyita perhatian publik khususnya para pecinta tinju. Dua petinju yang akan perebutkan gelar dunia kelas welter sejati, Kid Salasa dan Christopher the truck bersama dua promotor Halim Buntaran dan King Mambo menandatangani kontrak fight. Dilanjutkan konferensi pers yang dihadiri media cetak dan media elektronik dalam dan luar negeri.
Pertarungan hari Sabtu tanggal 4 Juli masih seratus duapuluh tujuh hari lagi tetapi atmosfer pertarungan memanas. Bermula dari komentar Christopher beberapa hari lalu. Beberapa saat setelah memukul knock-out penantang Tommy the beast, dia menaiki tali ring sambil mengacung tinju ke arah kamera.
Dia sesumbar yang diterjemah dalam bahasa Indonesia oleh media.
“Kid Salasa, kamu berikutnya, aku akan robohkan kamu, tak ada seorang petinju Indonesia bisa mengalahkan petinju Amerika, orang Indonesia umumnya lemah dan manja, aku akan melumat kamu jadi pizza.”
Komentar itu memancing reaksi keras berbagai kalangan organisasi masyarakat dan pemuda Indonesia. Media cetak dan elektronik yang mengangkatnya sebagai topik utama pemberitaan makin menyulut suasana panas.
Ball-room hotel Four Seasons dipadati wartawan asing dan lokal. Keamanan tidak cukup dikawal satpam hotel, puluhan polisi berjaga-jaga. Tampaknya kepolisian telah mengendus suasana panas yang bisa mengarah kericuhan.
Atas permintaan pihak hotel dengan alasan keamanan, panitia acara mengeluarkan ID-Card. Semua wartawan atau undangan wajib mengenakan kartu tanda pengenal selama acara berlangsung.
Pintu masuk dijaga ketat anggota polisi. Berlapis-lapis.
Puluhan pemuda dari organisasi masyarakat Maluku dan ormas pemuda lain terpaksa menunggu di luar. Hanya pentolan ormas boleh masuk karena sehari sebelumnya telah mendapat ID-Card. Mereka yang tidak memiliki ID-Card berkumpul di teras hotel dan lobby, sibuk mencari celah masuk ke dalam ball-room.
Mengetahui situasi kondisi yang memanas di Jakarta, rombongan Christopher the truck berangkat dari Amerika secara diam-diam. Mereka menghindari publikasi. Tiba di Jakarta sehari sebelum acara, mereka langsung ke hotel Four Seasons.
Pada hari yang sama hanya berbeda jam, rombongan promotor King Mambo dan sebagian panitia check-in di hotel Four Seasons, Halim Buntaran memilih hotel Mandarin. Semuanya diharap tepat waktu menghadiri acara yang dimulai jam lima sore.
Jam empat limapuluh.
Dua pomotor Halim Buntaran dan King Mambo duduk gelisah. Christopher yang didampingi manager Winning Lombardo dan pelatih Sebastian “big charlie” juga gelisah. Kid Salasa belum tiba, masih dalam perjalanan. Rupanya pihak Kid kurang jeli menghitung lama perjalanan dari sasana Daruba ke hotel.
Tiga menit sebelum acara terdengar suara hingar bingar di teras hotel. Para pemuda Maluku berteriak-teriak menyambut kedatangan rombongan Kid Salasa dengan dua mobil dan satu bus besar. Meskipun dikawal polisi namun para pemuda Maluku mengatur barisan saling berpegang tangan memberi jalan Kid Salasa dan rombongan memasuki lobby hotel.
Kilatan blitz dan cahaya lampu kamera menyambut kedatangan Kid Salasa yang mengenakan hoodie merah dan training-suit putih. Kid melangkah diapit Marbella dan Jose Pacheco. Dua “raksasa” Ibrahim dan Alexander mengapit tiga orang penting itu. Di belakangnya Pratomo serta anggota team lainnya.
Salina duduk tenang di kursi deretan depan, kursi untuk pers yang dibatasi tali pembatas, terpisah dari deretan tamu kehormatan. Salina tidak berani meninggalkan kursi, karena pasti akan diserobot wartawan lain yang tidak kebagian kursi. Lagipula urusan foto sudah ditangani dua fotografer anak buahnya.
Salina merasa adrenalin dalam tubuhnya memanas. Suasana sekitar terasa membakar. Kedatangan Kid Salasa telah menyulut suasana yang tadinya panas semakin panas. Salina memegang taperecorder kecil depan mulutnya.
“Benar yang dijanjikan Marbella bahwa Kid akan mengenakan hoodie merah dan celana training putih, mewakili dwiwarna merah putih bendera nasional. Itulah jawaban bagi komentar Christopher yang menggegerkan. Kid akan tarung demi merah putih, bangsa dan negara, bukan lagi pribadi. Dia mengenakan ikat kepala merah seperti juga anggota teamnya. Bahkan aku melihat banyak lelaki yang mengenakan ikat kepala merah. Itulah marka perang dalam adat Maluku. Woow ini lah jawaban bagi the truck.” Tutur Salina ditujukan kepada taperecorder kecilnya.
Untuk merekam pembicaraan di meja dimana Christopher dan Kid Salasa serta dua promotor berada, Salina titip taperecorder lain kepada Marbella.
Kid Salasa bertiga Marbella dan Pacheco diantar panitia yang semuanya anggota pilihan dari Buntaran entertainment grup. Ketiganya duduk di tiga kursi sebelah kiri King Mambo dan Halim Buntaran. Tiga kursi di sayap kanan ditempati Christopher diapit managernya Winning Lombardo dan pelatih Sebastian.
Madeline, model dan artis kenamaan yang cantik jelita dengan busana seksi muncul dari pintu samping diiringi hentakan musik petikan lagu the Rolling Stones “I Can’t Get No Satisfaction”. Musik yang didominasi hentakan drum yang keras seketika meredam suara hingar bingar hadirin. Artis itu melangkah dengan penuh pesona sambil menggenggam mike menyanyikan lagu hits Mick Jagger itu.
Hanya sebaris lirik “I can’t get no satisfaction… I can’t get no satisfaction…” Tetapi diulang-ulang sebanyak tiga kali. Kemudian iringan musik mereda dan lenyap. “Selamat siang, selamat datang ladies and gentlemen…kita bertemu dalam acara paling spektakuler tahun ini…. the big fight Kid Salasa “the wave[1]” versus Christopher “the truck”.
Satu menit lamanya suara merdu dan aksen bicara Madeline memukau hadirin. Dia lalu memanggil promotor King Mambo dan Halim Buntaran. Dua lelaki ini bergandeng tangan melangkah menuju meja yang dialas dengan sutera warna kuning emas. Di atas meja ada empat map warna merah. Keduanya berhenti di belakang meja menghadap ke arah penonton sambil bertepuk tangan dan melambai ke arah penonton.
Tepuk tangan penonton mereda ketika suara Madeline memanggil petinju tamu, Christopher the truck. Petinju Amerika yang tubuhnya gempal maju. Begitu mendekat meja dia memasang pose action meniru gerakan raksasa hijau Hulk, agak membungkuk dengan dua tangan melengkung kaku sambil menyeringai dan menggeram. Dia mengakhiri pose dengan mengangkat dua tangan ke atas dan tertawa.
Terdengar suara “huuuuuu … huuuuu…” bercampur tepuk tangan.
Ketika Madeline memanggil Kid Salasa yang dijuluki “the wave” tepuk tangan dan teriakan membahana dalam ruangan. “Kid .... Kid ..... Kid..... Kid....”
Kid melangkah maju. Begitu mendekat meja dia memandang ke arah the truck yang berdiri berseberangan. Kaki Kid bergerak lincah meniru gerakan dansa kupu-kupu versi Muhammad Ali, dua tangannya melancarkan beberapa pukulan cepat, kombinasi jab dengan hook kiri kanan. Dansanya luwes, tetapi pukulannya cepat.
Selesai beraksi, dia memandang the truck dengan mata melotot dan gerakan tangan menantang. Uniknya Christopher menyambut dengan tepuk tangan dan acungan dua jempol. Tak pelak lagi penonton bertepuk tangan.
Jepretan kamera mengarah petinju Amerika. Paling tidak aksi the truck memuji shadow-boxing Kid dengan dua jempol seakan memupus komentar kontroversinya. Kedua petinju berdiri dekat meja. Kemudian satu per satu empat lelaki itu menandatangani empat map, diawali King Mambo, lalu Halim Buntaran, Christopher dan Kid Salasa.
Kontrak dalam bahasa Inggeris yang dikeluarkan notaris ternama di Jakarta itu telah disetujui dua manager, Marbella dan Lombardo serta dua promotor sehingga tak perlu lagi diteliti.
Tandatangan kontrak selesai.
King Mambo dan Halim Buntaran beserta rombongan meninggalkan ruangan.
Madeline lalu memimpin konperensi pers. Dia mengawali dengan pertanyaan dalam bahasa Inggeris ditujukan kepada Christopher.
“Christopher. Anda ingat komentar anda mengatakan manusia Indonesia itu lemah dan manja, apakah demikian anggapan anda terhadap Kid Salasa?”
Madeline menerjemah pertanyaan dalam bahasa Indonesia, tetapi suaranya yang merdu tetap saja menyengat dan panas. Seketika ruangan hening, ingin mendengar jawaban petinju Amerika itu.
“Ada yang keliru dengan lidahku waktu itu. Aku mengatakan wanita Indonesia lemah dan manja. Seperti Anda sendiri miss Madeline, anda lemah gemulai, cantik dan tampak manja. Tetapi entah mengapa yang keluar dari mulut lain versinya. Aku mencintai Indonesia, Bali dan manusia Indonesia. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu semua. Untuk itu aku minta maaf.”
Madeline bertepuk tangan dengan mike ditangan. Kontan hadirin ikut tepuk tangan. Paling tidak jawaban Christopher merupakan ralat dan permintaan maaf atas komentarnya. Semua orang puas.
Madeline mempersilahkan satu demi satu wartawan mengajukan pertanyaan.
( Bersambung eps 10 )
Comments







