Cinta 100 Juta Dollar Eps 8

Posted on 15 Desember 2017 ( 0 comments )


Episode 8

“Mari, mister Mambo kita lestarikan kerjasama dengan tanda tangan. Itu kontrak  Kid Salasa versus Christopher the truck, map merah untuk anda, kuning untuk saya.”

Monika menerima dua map, membuka salah satunya. Meneliti dengan cermat kemudian menyodor kepada sang majikan. King Mambo membaca sepintas. Dia percaya ketelitian sekretarisnya. Monika menyodor map kedua.

“Persis dengan draf yang disepakati.” Kata Halim sopan tetapi tegas.

“Tak ada keraguan sedikit pun.” Tukas King Mambo setelah menerima isyarat anggukan Monika.

“Sore tepat jam lima di hotel Four Seasons saya dan anda akan menandatangani kontrak bersama Christopher dan Kid Salasa. Kemudian berlanjut konperensi pers, banyak wartawan asing dan lokal yang hadir. Setelah itu makan malam.” Tutur Halim.

“Saya tidak bisa lama, selesai  tandatangan kontrak, saya pergi. Ada undangan dari kedutaan yang harus saya hadiri. Silahkan mister Halim menghadiri konperensi pers.” Kata King Mambo.

“Kebetulan, saya juga harus tinggalkan tempat. Ada pertemuan lain.” Kata Halim.

Kedua promotor itu masih berbincang tentang dunia tinju sampai waktunya King Mambo pamitan.

 Selesai pertemuan Halim kembali ke ruangan kerja. Ia bersandar di kursi dengan dua tangan bertumpu di belakang kepala.

Teringat tiga bulan lalu pertemuan pertama dengan King Mambo di kantor Mambo di Las Vegas. Hanya Tracy dan sedikit orang yang tahu bahwa Halim menguasai bahasa Inggris sebaik bahasa Jawa Semarang dan bahasa Indonesia.

Naluri bisnisnya yang begitu peka mencium tumpukan milyaran rupiah di depan hidung. Partai Kid Salasa kontra Christopher ia ramal bakal sukses menyedot keuntungan lipat ganda. Itu saja belum cukup. Partai berikut, antara Christopher lawan Joe Buffalo, akan mendulang keuntungan paling besar.

Untuk mendapat kontrak Kid versus The Truck, Halim terikat janji Christopher menang. Halim dan King Mambo sepakat menangkan Christopher, untuk mendapat partai besar Buffalo versus The Truck.

Halim akan menggunakan pengaruh dan uangnya di Indonesia untuk mengatur kekalahan Kid Salasa.

King Mambo akan berkerja di Amerika. Tidak sulit bagi King Mambo mengingat dia punya pengaruh luas di kalangan mafia tinju. Dia bisa membeli para juri, itu sudah biasa. Berapa pun harganya.

Tak ragu sedikitpun, Halim menerima tawaran itu. Untuk menggaet partai jutaan dolar, Halim berani ambil resiko. Tidak sulit mengaturnya. Semua jaringan  dia kuasai. Asia Conection di tangan. Ia kuasai mata rantai bandar judi internasional, jalur Manila, Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, Jakarta. 

Itu sebab ia berani membayar hak pentas kepada King Mambo, tujuh setengah juta dollar untuk paket dua partai besar. Tiga setengah juta dollar pembelian partai Kid Salasa kontra The Truck dengan pembagian keuntungan fifty-fifty. Empat juta dollar untuk partai Kid versus Joe Buffalo atau Christopher versus Joe Buffalo.

Tirai mata Halim membuka mendengar suara Tracy.

“Boss, your son Edward sudah tiba, masuk sekarang?”

“Suruh dia tunggu, kita bicara dulu, ada pekerjaan untuk kamu.”

Tracy keluar ruangan. Beberapa saat dia masuk lagi, duduk di depan meja. Ia menyilang kaki dan meletakkan iPad di pangkuan. Dia menatap atasannya menunggu kata-kata dari mulut lelaki yang bibirnya agak bergetar.  

Halim menatap wanita Perancis itu. Dia menghela nafas.

“Ada apa Boss?” Tracy bertanya meskipun mengerti suasana birahi sang majikan.

“Tidak apa-apa.” Halim menggeleng kepala. “Kita ke Singapura dan Paris.”

Tracy memandang lekat-lekat pria di depannya. ”Kapan berangkat?”

“Besok siang. Singapura. Sorenya pertemuan dengan seorang rekan. Lalu makan malam di bossanova, besoknya langsung ke Paris, kau harus hadir dalam pertemuan itu.”

Tracy tahu tidak ada alasan menolak, itu bagian kontrak kerjanya, siap melayani Halim setiap saat, pribadi maupun bisnis.

Kesekian kalinya Halim tidak menghormati schedule. Besok jam tiga siang ada pertemuan dengan Presiden Direktur Sanggabuana Grup. Penting. Tapi pertemuan di Singapura dan Paris lebih penting.

“Besok meeting dengan Sanggabuana, ditunda?”

“Tunda.”

“Ada beberapa pertemuan lain, ditunda sampai kapan?”

“Atur kembali skedulnya, disesuaikan.”

“Berapa hari di Paris? Kalau boleh aku minta cuti satu hari menemui my mom dan Pierre. Aku kangen anakku.”

“Sekarang usianya berapa?”

Kau lupa lagi, umurnya tujuh. Pierre masuk akademi football.” Suara Tracy mengandung rindu dan kegembiraan. Janda cantik yang merindukan anaknya.

“Okay. Singapura satu malam. Paris empat malam. Pagi dan siang kamu bersama ibumu dan Pierre, malamnya temani aku dinner. Ajak mereka nginap di hotel biar kamu tidak perlu bepergian, ambil kamar di lantai lain. Bagaimana? Setuju?”

Wajah Tracy sumringah. “Terimakasih Boss. Aku bahagia. Eh tetapi keberadaanku bersama mereka tidak terhitung cuti. Aku tetap bekerja.” Tracy tersenyum menggoda.

“Tentu. Selama ini aku tak pernah berhitung dengan kamu soal cuti.”

“Kamu tak pernah memberiku cuti panjang.”

“Yah tetapi setiap kamu rindu anakmu, kamu kuperbolehkan ke Paris. Iya kan?”

Tracy tertawa genit. “Aku hanya menggoda. Aku tahu harus mendampingimu. Apalagi sekarang bisnismu makin melebar dan sukses.”

Halim tersenyum. “Kamu suka menggoda.”

Tracy tersenyum. “Okay boss, aku atur semuanya. Singapura satu malam. Paris empat malam.” Tracy bangkit dan melangkah ke pintu. Dia tidak menoleh ke belakang, tahu persis Halim memandang lenggok bokongnya.

Tracy menemui Edward yang duduk santai bersama kekasihnya, Kimberley.

“Bapak menunggumu, lima menit lagi kamu masuk, tetapi sendirian.” Suara Tracy normal tetapi tegas, tak ada keseganan bicara dengan putra tertua Halim. Bagi wanita Perancis yang cantik itu, dia hanya bekerja untuk Halim. Dan dia tahu majikannya sangat bergantung kepadanya. Terlalu banyak rahasia Halim yang berada dalam genggamannya. Jadinya tak perlu basa basi menghormati Edward.

Tracy masuk ruangan pribadinya. Ia sibuk nelpon beberapa nomor. membatalkan beberapa pertemuan. Mengatur penerbangan Jakarta Singapura Paris Jakarta. Memesan hotel di Singapura dan Paris. Seperti biasa dua kamar bersebelahan yang dihubungkan dengan pintu.

Setelah menunggu beberapa menit Edward masuk menemui ayahnya.

“Selamat siang.” Edward langsung duduk di salah satu kursi seberang meja. Tidak ada basa-basi anak dan ayah. Urusan di kantor murni bisnis. Di luar kantor khususnya jika berdua barulah hubungan interaksi ayah dan anak.

“Kontrak dengan King Mambo tuntas. Sore nanti kontrak dengan dua petinju dilanjutkan dengan konperefensi pers, semua sudah siap?”

“Semua beres. Banyak wartawan hadir, asing dan lokal. Semua yang hadir wajib mengenakan tanda pengenal. Dua petinju juga sudah tahu waktunya. Christopher nginap di hotel Four Seasons  begitu juga rombongan King Mambo. Rombongan Kid Salasa batal nginap di hotel, mereka berangkat dari Bogor.”

“Acara mulai jam lima sore. Tidak ada perubahan?”

“Jam lima tepat, tandatangan kontrak. Dilanjutkan konperensi pers, perkiraan jam tujuh selesai, disambung makan malam. Kata Tracy, papi nginap di Mandarin tetapi aku tidak tahu kamar berapa. Tracy sendiri yang booking.” Mata Edward menatap misterius.

Halim tertawa. “Dua kamar terpisah. Aku bayar sendiri, di luar anggaran. Seperti biasa, jangan ganggu aku, kamu komunikasi dengan Tracy.”

Halim memandang mimik putranya yang agak cemberut.

Dalam hati Edward makin iri dan kesal kepada Tracy. “Wanita Perancis itu semakin menjadi orang penting. Dia telah menguasai papi.”

Halim seakan tahu apa yang dipikirkan putranya tetapi dia tidak perduli. Dia mengalih pembicaraan. “Bagaimana dengan situasi di luaran, ingat jangan membuang waktu, bisnis ini pertaruhannya besar.” 

            “Tokek sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia akan membeli orang-dalam mungkin asisten pelatih, orang yang dipercaya kubu Daruba. Tapi Tokek tidak tahu bahwa aku juga membeli orang-dalam. Aku yakin semua akan lancar.”

            “Pasar tarohan?”

            “Kita akan atur beberapa media untuk menggiring opini publik sesuai kemauan kita.” Tegas Edward bangga. “Pasar harus menjagoi Kid.”

            “Bagus. Jika kerjamu bagus, hasil bagus, bonus juga besar.” Ujar Halim.

Edward menggandeng Kimberley masuk lift.

“Ceritamu tadi belum tuntas, Magda itu siapa?”

            “Magda itu pacar, atau katakanlah gadis yang hubungannya paling dekat dengan Kid Salasa. Secara kebetulan aku mengenalnya, diperkenalkan sahabatku. Waktu pagelaran show Balmain, aku memberinya undangan khusus di kursi sebelahku, kita ngobrol. Aku mengajak bisnis dan dia tertarik, dia akan menemuiku di kantor. Magda bisa menjadi pintu masuk yang tidak mungkin dicurigai kubu Kid. ”

            Lift berhenti di lobby, Edward menuntun lengan pacarnya ke tengah ruangan lobby. Tak ada orang di sekitar.  

Edward menatap serius. “Apa rencanamu?”

            “Merusak irama latihan anak Morotai itu.”

( Bersambung eps 9 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com