Cinta 100 Juta Dollar eps 7
Posted on 13 Desember 2017 ( 0 comments )
Episode 7
“Seorang kiyai pendiri pesantren dan guru silat. Dia yang menemukan dan melatih Kid Salasa, juga ayah angkat dan guru spiritualnya.” Tutur Sarmanto.
“Kalau begitu kau seperguruan dengan Kid?”
“Tidak mas, aku keluar lebih dulu baru Kid masuk belajar.” Tegas Faisal.
“Durachim bisa dipercaya?”
“Bisa. Hubungannya dengan Kid ibarat ayah dan anak. Dia menyayangi Kid, catatan orangtua itu bersih ibarat kertas putih. Rumahnya di Blora pesantren dan pusat rehabilitasi narkoba miliknya.”
“Apa samaran kalian?”
Sarmanto menyulut sebatang rokok. “Semua sudah beres. Pak kiyai menetapkan Faisal pengawal khusus Kid, aku menyamar sebagai wartawan olahraga dari Surabaya.”
Faisal menambahkan. “Kami tempatkan Inem menyamar sebagai pembantu rumah tangga, dia pengurus data yang sewaktu-waktu bisa kami hubungi dua puluh empat jam. Mamat sebagai pembantu kebersihan. Beberapa lainnya bertugas di ring luar memantau tamu-tamu yang masuk.”
Supangat menghela napas teringat dua anak buahnya luka, seorang lainnya letnan Rompies gugur delapan bulan lalu, sekarang saatnya membayar tunai kalau benar geng Tokek ikut mendalangi.
“Ambil beberapa agen muda …. Hmmm… baru sekarang kita punya alasan menghancurkan geng si Tokek. Berantas sampai ludes, mereka sudah berani menginjak-injak garis keamanan nasional, jika berani mengganggu Kid kupastikan tidak ada ampun lagi.” Ujar Supangat.
“Mas, kalau ditangkap percuma saja, di pengadilan mereka punya banyak cara meloloskan diri. Selama ini para penyuap dan penjudi lolos dari hukuman karena bukti tak cukup kuat. Kita babat saja” ujar Sarmanto berapi-api.
“Baik. Eh siapa Sulaiman dan Pilip?” Potong Supangat.
“Bukan Sulaiman tapi Soleman. Pengusaha kaya yang membiayai Kid dari amatir ke profesional, dia yang menggaji Pacheco dan Marbella. Dia anggap Kid bagai putra sendiri. Catatannya bersih seratus persen. Pilip itu menantunya, bekas juara tinju yang cidera tangan dan berhenti bertinju. Namanya Phillipous asal Australia jadi mualaf dan ganti nama Pilip. Dia melatih Kid sejak amatir berhasil mengantar Kid juara SEA Games. Di tinju pro dia melatih Kid sampai juara dabel-yu-bi-ou, konon dia yang menawarkan Pacheco jadi pelatih Kid kepada Soleman. Jutawan itu setuju menjadi penyandang dana membiayai salari Pacheco dan Marbella istri Pacheco sebagai manajer.” Tutur Faisal.
Atmosfir Makin Panas
Kantor besar perusahaan Galaksi & Komet terletak strategis di pusat kota Jakarta. Bangunan kantor berupa konstruksi kaca moderen bertingkat duapuluh, menjulang di antara tiga gedung bertingkat yang menghiasi tanah seluas sebelas ribu meter persegi. Itulah pusat perusahaan raksasa, Buntaran grup.
Perusahaan milik Halim Buntaran menguasai hampir seluruh jaringan hiburan di Jakarta, Medan, Surabaya bahkan sampai Singapura, Kuala Lumpur, Manila dan Bangkok. Semua terkait hiburan menjadi monopoli Buntaran grup.
Ia produser dan distributor film, pemilik 24 gedung bioskop, perusahaan rekaman, promotor live show sampai ke bandar judi dan pemilik 6 kasino yang tersebar di kota-kota besar Asia termasuk judi ilegal di Jakarta, Medan dan Surabaya.
Lobi dan front-office penerima tamu bercorak ultra modern. Dinding, lantai dan furnitur didominasi warna kuning dan merah, warna keberuntungan sang pemilik. Pagi itu hanya lima tamu yang duduk di sofa bikinan Norwegia menanti giliran.
Seorang petugas satpam duduk di meja besar yang dilengkapi alat komunikasi paling canggih. Petugas lain berdiri depan pintu lift dan tangga darurat.
Seorang gadis resepsionis duduk di balik meja. Di atas meja ada komputer, tiga perangkat telepon serta tumpukan buku dan map. Siapapun tamu, meski tak mengerti hal keindahan, tetap akan terpesona dekorasi, warna dan furniture di ruangan itu, kesannya nyaman dan indah.
Tiga mobil berhenti depan lobi gedung utama, dua mobil sedan mengapit sebuah limusin hitam. Dua lelaki kulit hitam bertubuh besar dan gempal bergegas keluar dari mobil sedan terdepan. Dari sedan paling belakang keluar dua pria bertubuh sedang. Keempatnya memosisi diri sekitar limusin. Supir bergegas membuka pintu limusin.
King Mambo, lelaki kulit hitam bertubuh besar, keluar dari limusin diikuti wanita cantik kulit putih, Monika, sekretaris pribadinya. Keduanya melangkah santai memasuki lobi, diikuti empat pengawal.
Di pintu lobi tiga pria menyambut. Edward Buntaran putra sulung Halim didampingi orang kepercayaan dan tangan kanan Herry Guntoro serta pengawal khusus bertubuh tinggi gempal.
Beberapa saat bertegur sapa Edward kemudian mengiringi King Mambo masuk lift yang pintunya terbuka. Petugas lift memberi hormat.
Di lantai dua belas, Tracy Del Fuor, seorang wanita Perancis cantik dan cekatan, usia tigapuluh tiga tahun, selesai menata ruang rapat. Dua pelayan wanita berseragam berdiri dibelakangnya. Matanya menyapu ruangan meyakinkan semua teratur rapi. Alat tulis, teko perak berisi teh, teko emas berisi kopi panas dan beberapa cangkir di tempat masing-masing. Cerutu, rokok, permen, asbak, korek api, semua siap dan rapi.
“Kalian tetap di sini, hati-hati melayani, sopan dan cepat.”
“Baik Bu.” Serentak dua pelayan menyahut.
Tracy keluar ruangan ketika ada yang mengetuk pintu. Di luar, seorang wanita muda memberi tahu bahwa rombongan tamu dalam perjalanan dengan lift.
Tracy mengetuk pintu kamar yang bertuliskan presiden direktur. Tanpa menanti sahutan, Tracy mendorong pintu, bersandar di daun pintu ia berkata lembut. “Boss, King Mambo sudah tiba.”
Bersandar di kursi besar dan nyaman, Halim Buntaran memandang Tracy. Sekretaris pribadinya, bukan cuma cantik, seksi dan beraroma harum, juga cerdas serta menguasai empat bahasa asing selain bahasa Perancis dan Indonesia.
“Beri dia waktu istirahat lima menit.” Kata Halim sambil tetap menatap kecantikan sekretarisnya.
Tracy mengangguk. Melihat arlojinya. Jam delapan duapuluh lima.
Awalnya ia tak tahu mengapa boss of all the bosses[1] dari 14 perusahaan dan penggaji dari 669 karyawan ini selalu terlambat menghadiri rapat penting.
Ia makin heran mengetahui bahwa keterlambatan itu disengaja. Dan lelaki berusia separo abad itu tak pernah memberi jawaban. Belakangan Tracy tahu keterlambatan itu merupakan kunci sukses Halim.
Kini setelah lima tahun bekerja, sebagai sekretaris pribadi, Tracy sudah menguasai trik terlambat itu. Halim adalah sosok lelaki pekerja keras. Usia sudah kepala lima namun tenaga masih seperti anak muda.
Ia tak pernah lepas dari busana warna merah dan kuning, Hari ini celananya kuning, kemeja kuning, jas kuning dan sepatu kuning. Dasinya berwarna merah bergaris-garis kuning. Wajahnya tampan tak ada kerut merut.
Tracy tahu persis Halim akan memasuki ruangan persis lima menit setelah King Mambo duduk di kursi. Tracy melihat arloji emasnya, berkata, ”sudah waktunya Boss.”
Halim melangkah dan berhenti di luar kamar. Tracy memutar kunci kamar. Di dalam kamar penuh dengan rahasia bisnis sang majikan. Dan hanya Tracy seorang yang boleh menyimpan kunci kamar. Keduanya beriring menuju ruang rapat.
Seorang pengawal membuka pintu kamar.
Halim memasuki ruangan, Tracy membuntut di belakang.
“Sorry saya terlambat lima menit. Semoga lima menit cukup memberi rasa nyaman kepada tamu terhormat.” Seperti biasa Tracy menerjemah ungkapan itu dengan akting penuh rasa penyesalan dan bersahabat.
Selesai menyalami promotor asal Amerika Serikat itu, Halim menuju kursi. Tracy duduk di kursi samping kanannya.
“Apakah anda bersenang-senang di Bali, Mister Mambo? Kalau ada pelayanan yang kurang puas, saya minta maaf. Dan kalau itu kesalahan manusia, saya akan memecat pegawai saya itu.”
Tracy menerjemahkan dengan bahasa Inggris yang sempurna. Wajah King Mambo berseri-seri menjawab dengan bahasa Inggris aksen Harlem. ”Sempurna, semua indah, Bali indah, pelayanan bagus, Indonesia indah, saya puas dan saya akan datang lagi jika urusan kita beres.”
“Urusan kita pasti beres. Ini pertandingan pertama bagi saya. Tetapi bekerja sama dengan promotor kelas dunia seperti anda saya yakin, saya akan lebih banyak lagi menggelar pertandingan tinju.” Tutur Halim antusias dengan bahasa Inggeris yang fasih beraksen Jawa Tengah.
“Pertandingan mendatang, akan lebih hebat lagi. Uang besar, nama besar, tak ada tandingan dalam sejarah. Anda pasti suka, saya sudah sediakan judul the greatest fight on earth[2], bagaimana menurut anda ?”
Halim tertawa. ”Bagus, bagus, judul bagus.”
Suasana hening sesaat. King Mambo mengambil sebatang cerutu, mengendus di hidung lalu menjejal ke mulutnya yang lebar. Monika, sekretaris wanitanya yang duduk di samping menyalakan korek-api.
Halim memberi isyarat. Tracy bangkit dari kursi, menyodor dua map berlainan warna. Merah dan kuning.
( Bersambung eps 8 )
Comments







