Cinta 100 Juta Dollar Eps 6

Posted on 13 Desember 2017 ( 0 comments )


Episode 6

“Harus dicegah, tak boleh hal-hal seperti itu dijadikan alasan berdemo.”

“Mohon ijin, kami telah melakukan penyusupan. Jika terjadi demo anarkis, kami akan menangkap orang-orangnya.” Tukas Kepala Polisi.

            “Mecegah sebelum terjadi!” Tegas Presiden.

            “Siap laksanakan.” Suara Kepala Polisi terkesan takut. Jabatannya belakangan berada di ujung tanduk lantaran demo yang memakan korban puluhan luka-luka bulan lalu.

            Pertemuan memang singkat, Menpora keluar dari ruang tamu dengan wajah berkeringat. Padahal ruang tamu sangat sejuk. Dia berkeringat lantaran di atas pundaknya kini bertengger gunung berapi yang setiap saat bisa meletus dahsyat.

      Diatas BMW Menpora melonggarkan dasi dan melepas kancing kerah kemejanya. Dari tadi dia merasa tercekik. Ia tahu Bapak Presiden tidak main-main.

“Presiden hanya mau melihat Kid Salasa menang. Dan kalau kalah? Yah aku harus mundur. Tak ada muka ketemu Presiden. Apalagi tadi kata Presiden, jabatanku jadi taruhan. Ah ini tugas gila, tugas yang teramat sulit. Mission imposible?”

      Dia merasa marah bukan kepada dirinya melainkan kepada Christopher The Truck dan Managernya Winning Lombardo. Mengapa mereka mengeluarkan komentar murahan yang memancing kemarahan Bapak Presiden?

“Indonesia bukan apa-apa! Indonesia tak punya petinju hebat. Jangan mimpi ada anak Indonesia yang mengalahkan seorang juara dari Amerika. Orang Indonesia umumnya lemah dan manja.”

     “Itu komentar gila, kelewat menghina, tentu saja Bapak Presiden tersinggung bahkan marah. Sangat marah. Semua orang Indonesia tersinggung, rasa nasionalisme terusik. Koran-koran dan media online memberitakan dalam huruf kapital hitam ibarat gambar tengkorak dan meriam.” Menpora tidak cuma tersinggung, tetapi meningkat menjadi kemarahan.

     “Bisa juga ulah promotor Halim Buntaran yang matanya bersinar hijau jika melihat tumpukan uang. Supaya tiket pertandingan terjual habis?” Gumamnya lagi.

Sudah dipastikan Indonesia tuan rumah, Halim bersama beberapa petinggi Asosiasi Tinju Dunia WBA dan WBC telah survey ke Sentul City. Kabar terakhir, Sentul City terpilih.

Menteri menggerutu. “Apakah orang-orang itu selalu menempatkan bisnis di atas segala sesuatu, bahkan di atas rasa berbangsa? Dasar bajingan.”

      Keheningan dipecahkan suara pengawal yang duduk disamping supir.

“Pak Menteri, mohon ijin, kita kemana?”

“Putar putar dulu tetapi cari jalan yang tidak macet.”

“Harus ada aksi, secepatnya, tidak boleh lengah. Masih ada waktu empat bulan lebih. Kerja keras, efisien dan tepat skedul. Sesuai rencana.” Itu sering dia nasehatkan kepada para staf dan keluarganya.

       Sekarang nasihat itu ditujukan kepada dirinya sendiri.

       Sementara mobil berkeliling Jakarta, Menteri Olahraga sibuk memencet tuts telepon selular. Dia menghubungi beberapa orang. Selesai dengan seorang dia menelpon lainnya, bicaranya singkat dan tegas.

      Usai kesibukan telpon Menpora menghembus nafas lega.

            “Kita ke apartemen.” Suara Menpora agak serak. Terbayang olehnya wajah Indriati, mahasiswi hukum yang menunggunya di apartemen.

            “Siap Pak.” Tegas supir.

            “Kid Salasa. Anak Morotai. Mungkinkah bisa mengalahkan the truck? Rasanya sulit jika melihat trek-rekor monster bule itu yang tidak terkalahkan. Rekornya tigapuluh satu tanding, duapuluh tujuh menang knock-out. Duapuluh satu pertarungan terakhirnya, menang knock-out semua. Kid anak kemarin sore dibanding the truck. Tetapi pesan Presiden jelas dan gamblang, anak Morotai itu harus menang.” Menpora memijit-pijit kening.

Menpora memencet tuts hape, menghubungi sekretarisnya. “Sampai dengan jam dua siang aku tidak bisa dihubungi. Tinggalkan pesan sms. Jam duabelas hubungi aku.”

Detik-detik selanjutnya Menpora membayang paras dan tubuh Indriati. “Hanya dia yang bisa menghibur, mengusir pening kepalaku.” Gumamnya dalam hati.

Kantor Di Tengah Kota

Tugas berat untuk kamu. Top secret. Laporan langsung kepadaku.” Suara sang jenderal, berat, serak bernada ancaman.

Keringat dingin membasahi punggung kolonel Supangat. Tidak biasanya dia dipanggil menghadap sang jenderal. Biasanya tugas diberikan melalui atasannya. Kali ini lompatan langsung ke pundaknya.

Wajah orang nomor satu bidang intelijen itu kusam, masam dan keruh. Tak ada senyum, karena sang jenderal memang tak pernah senyum kecuali mungkin kepada isteri dan anak-anaknya.

“Apa pendapatmu peluang Kid Salasa lawan bule Amerika itu?” Tanpa basa-basi sang jenderal melontar pertanyaan yang sarat jebakan.

Supangat terkejut. Tidak menyangka menghadapi pertanyaan yang di luar tugas intelijen. Namun dia tahu pertanyaan itu tidak asal keluar dari mulut sang jenderal. Pasti ada kandungan didalamnya.

“Fifty-fifty Jenderal. Saya ingin anak Morotai itu menang tetapi realitanya bule itu tangguh dan memiliki track-record knock-out yang lumayan.” Supangat tidak tahu jawabannya itu cocok atau tidak. Dia mencuri pandang, wajah sang jenderal dingin, tak ada tanda suka atau tidak suka.

“Ini tugas super sulit. Bapak Presiden hanya mau Kid Salasa menang. Itu intinya.”

Supangat mengerti sambungan kalimat itu. Jika anak Morotai itu kalah maka banyak orang sekitar Presiden yang terpental. Mungkin saja beberapa menteri diganti.

Supangat memberanikan diri, memang dia terbiasa jujur dan berani di hadapan atasan, tak mau basa-basi menjilat atau meniup angin surga. “Bule itu tak mungkin disuap, satu-satunya peluang Kid Salasa adalah menang dengan skill dan kekuatan sendiri.”

“Jika si bule bisa disuap maka kita tak punya masalah.” Tegas sang jenderal.

Suasana hening.

            Sang jenderal menyeruput kopi hitam.

“Minum kopimu, biar sarafmu kencang.”  Sang jenderal memerintah.

Supangat menyeruput kopinya.

“Pemerintah akan menyuntik motivasi, uang dan semua fasilitas kepada Kid Salasa, membakar semangat juangnya untuk tarung sampai mati. Dan ini bukan tugasmu. Tugasmu adalah mengawal Kid, melibas semua penjahat yang mencoba mengganggu persiapan Kid, juga membentengi anak Morotai dari segala gangguan sehingga dia mampu tarung optimal.”

“Siap jenderal!” Supangat berseru dengan semangat perang.

“Ingat Pangat, aku tidak mau menerima kabar Kid gagal karena adanya gangguan dari orang luar. Kalaupun gagal itu haruslah karena lawannya memang layak menang dan Kid telah tarung habis-habisan.”

“Siap jenderal! Saya tak akan mengecewakan Bapak.” Dia yakin akan naik pangkat jika Kid menang dengan andil terbanyak datang dari bidang intelijen.

Hari itu kolonel Supangat sedang tidak karuan. Dia letih, ngantuk dan merasa marah. Dia letih karena baru saja pulang dari Banyuwangi tetapi paginya sudah ada urusan penting di atas meja. Ia ngantuk karena semalam suntuk mempelajari data personel siapa saja yang terlibat dalam urusan Kid Salasa. Dia marah lantaran sampai hari ini tak banyak yang berkembang soal lapangan dari segelintir prioritas utamanya.

Tetapi dibalik semua itu ia merasa sehat dan prima. Fisik maupun mental. Lebih penting dari semua itu ia mencintai pekerjaannya, ini merupakan cita-cita sejak kecil menjadi pengaman dan pelindung negara, sebagai orang intelejen. Posisinya lumayan penting, ia membawahi tujuh agen senior dengan pengalaman luar dan dalam negeri, sebelas agen muda dan puluhan lain yang baru tiga tahun direkrut.

Semua agen ini diambil dari empat angkatan, udara, darat, laut dan polisi. Mereka di dukung keahlian khusus ketrampilan militer dengan intelejensia di atas rata–rata.

Telpon gagang hijau di meja berdering. Dia mengangkat gagangnya.

Dari seberang terdengar suara berat. “Boss, agen empat dan agen lima mau masuk. Urusan makin menarik.”

“Aku tunggu.”

Ruang kantornya tak begitu luas tapi cukup nyaman. Suara ac agak kasar seperti melatarbelakangi lagu irama latin Eydie Gorme “sabras que te quiro” mengingatkan masa remaja di SMA 2 Cepu. Ia menjadi idola para gadis karena kebolehan melantunkan lagu  latin bersama bandnya.

Tidak lama kemudian dua agen masuk.

“Selamat siang boss.”

Tanpa dipersilakan duduk, keduanya langsung menghempas diri ke kursi di depan meja, tak ada sikap dinas, tak ada sikap militer, tak ada basa–basi. Tampak keakraban bekerja sama lebih dominan.

Supangat menatap dua anak buahnya, dua terbaik dari segelintir manusia super di bidang operasional yang dipimpinnya.

“Bagaimana perkembanganya?”

Letnan Faisal mengambil rokok dari meja, menyulut, mengisap dan menghembus. “Wuah makin gila, ada permainan besar dibalik pertandingan ini, aku mencium ada komplotan sedang menggarap anak Morotai itu. Saat ini pasar tarohan lima banding tiga untuk keunggulan Kid, tetapi dalam pertarungan nanti justru truck Amerika itu yang akan menang. Pada saat menjelang tarung tarohan bisa menggunung, bisa dibayangkan jumlah uang yang digaruk si bandar. Tampaknya Kid Salasa akan kalah, dengan demikian terbuka jalan Christopher lawan Joe Buffalo, ini pertarungan besar yang beromzet ratusan juta dolar,” ujar Faisal.

“Banyak orang terlibat mas, dan aku berani tarohan geng si tokek berdiri di belakang perjudian ini, tak mungkin dia membiarkan uang milyaran lewat begitu saja. Tokek pasti ikut campur. Ini kesempatan membayar eye for an eye sudah lama aku menunggu kesempatan membalas kematian rekan Rompies,” ujar Faisal bersemangat.

“Lantas apa rencana kalian ?”

Faisal dan Sarmanto saling pandang,

“Faisal masuk ring satu dia kebetulan pernah kenal dengan Durachim, aku di ring dua. Kata Sarmanto.

“Siapa itu Durachim ?”

(bersambung episode 7)

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com