Cinta 100 Juta Dollar eps 5

Posted on 11 Desember 2017 ( 0 comments )


Episode 5

            “Cantik dan hot.” Bisik Salina.

            “Yeah very very hot.” Tukas Marbella ketus.

            Salina tertawa kecil. “You don’t like her?”[1]

            “Buaya sexy itu akan mengunyah Kid hidup-hidup.”

            Marbella tertawa, Salina ikut tertawa.

            Sebelum berpisah Marbella memuji teman barunya. “Kamu cepat akrab dengan ibunya Kid dan bibinya.”

            “Mereka wanita bersahaja dan ramah.”

            “Bahan apa saja yang kamu gali dari ibu Mai?”

            “Belum banyak, baru di permukaan, pada pertemuan kedua aku akan persiapkan pertanyaan yang terprogram.”

Mission Impossible

Rabu pagi itu udara cerah. Sinar mentari pagi kuning kemerahan menerobos pepohonan bambu, menerpa wajah lelaki separuh baya. Tangan kanannya memegang telpon selular, kepalanya manggut-manggut. Keningnya berkerut. Mimiknya tegang.

“Ya… iya. Tapi pak Agung, apa bisa tahu persoalannya?’’

Dari seberang sana, terdengar suara serak dan berat. “Aku tidak tak tahu persis. Tampaknya penting sekali. Memang ini pertemuan tidak resmi, di luar protokol tapi tampaknya sangat penting mungkin lebih penting dari yang resmi. Selebihnya Pak Menpora bisa mendengar langsung.”

“Baik. Terimakasih, pak Agung. Aku segera datang.”

Menteri Olahraga menutup hape. Dia menggapai pengawal yang berdiri agak jauh, lalu menyodor teleponnya.

Dia menatap pengawalnya. “Siapkan mobil, pakaian, kopi dan sarapan. Semua harus beres dalam setengah jam. Aku harus jumpa Bapak Presiden tepat jam delapan.”

Pengawal setengah berlari melaksanakan perintah.

Menpora menghela napas. Dia melepas kimono, lalu mencebur ke kolam renang. Dia berenang ke seberang dan kembali ke tepian. Mengulang lagi. Gerakannya masih gesit dan bertenaga, meski usia sudah kepala lima.

Tidak lebih lama dari duapuluh lima menit sejak menerima telepon, dia sudah duduk di sofa belakang BMW seri terbaru. Dalam perjalanan yang memakan waktu setengah jam, dia membaca beberapa print-out dari situs on-line, juga koran ibukota sambil makan roti sandwich dan minum kopi pahit.

“Kurangajar Christopher, tantangannya kelewat menghina. Beraninya mengatakan orang Indonesia lemah manja, bahwa tidak ada petinju Indonesia mampu mengalahkan dia. Kamu menantang Kid Salasa, tetapi kamu memancing amarah masyarakat Indonesia. Sudah dua hari semua koran, tivi dan news-on line menempatkan sebagai berita besar.” Menpora berkata penuh emosi meski tidak ditujukan kepada siapa pun. Pengawal dan supir hanya mendengar tanpa komentar.

Dia menyandar punggungnya ke sandaran. Pikiran bekerja.

Dari panggilan yang begitu mendadak, diperkirakan urusan pasti sangat penting. Dan kalau pengawal Presiden yang bernama Agung Wibowo tidak tahu apa yang akan dibicarakan, tentu saja urusannya sangat penting.

Apa itu? Urusan negara? Top secret?

Menteri Olahraga melangkah dengan perasaan tegang. Dia melirik arloji Rolex di tangan kanan. Sembilan menit sebelum jam bicara.

Diantar menuju kamar tamu nomor dua seketika dia tahu inilah urusan rahasia. top secret. Biasanya jika urusan katagori bukan top secret para tamu diterima di kamar tamu paling depan.

Ketika mendekati kamar tamu, pengawal  membuka pintu. Menpora masuk ruangan yang sangat sejuk karena aircon berkekuatan besar menyembur uap dengan keras. Syaraf Menpora menegang melihat Sekretaris Presiden, Kepala Badan Intelijen, Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri duduk tegang di kursi besar bikinan Italia.

Mereka saling menyapa dan salaman.

Tak lama kemudian Panglima TNI masuk ruangan. Disusul berturutan Kepala Polisi dan Menteri Pariwisata.

Tujuh lelaki itu duduk diam seribu bahasa.

“Ada apa gerangan Pak Sekpres?” Menteri Luar Negeri bertanya.

“Tidak tahu. Mungkin urusan The Truck.” Sekretaris Presiden menjawab singkat.

Dua orang berpakaian seragam pelayan melayani kopi, teh, jus jeruk dan beberapa jenis kue basah tradisional.

Tujuh lelaki itu mengambil panganan dan minuman. Mereka menunggu, sepuluh menit yang lama dan tegang. Mereka diam dengan pikiran masing-masing.

“Bagus juga kalau hanya urusan petinju Bule itu, yang aku khawatir adalah urusanku dengan Indri diketahui Bapak Presiden.” Katanya dalam hati. Tanpa sadar Menpora melamun wajah cantik dan tubuh seksi mahasiswi hukum isteri gelapnya itu.

Bapak Presiden memasuki ruangan.

Lelaki berusia sekitar enampuluh lima tahun itu tampak segar. Wajahnya cerah. Dia mengenakan pakaian kasual, celana hitam longgar dengan kemeja batik juga longgar.

“Selamat pagi.”

“Selamat pagi Bapak Presiden.”

Melihat wajah tegang tujuh tamunya, Bapak Presiden tersenyum.

Pelayan menghampiri dengan hormat, menyobek segel botol mineral lalu menuang air putih ke dalam gelas.

 “Tak perlu tegang, tuan-tuan. Aku minum dulu, kalian sudah minum, duduk rileks.” Bapak Presiden meneguk air putih.

“Urusan memang mendadak. Dan kalau mau dibilang penting memang sangat penting, karena menyangkut kehormatan dan harga diri bangsa dan negara.” Suara Bapak Presiden terdengar ramah.

Bapak Presiden diam sesaat, matanya menatap tajam Menteri Olahraga. “Anda pak Menpora bakal sangat sibuk, jabatan Anda dipertaruhkan.” Suara lirih tetapi tegas.

Jantung Menpora kian berdegup. Sudah tigapuluh bulan menjabat Menteri Olahraga, baru sekali ini dia memenuhi panggilan seperti ini.

“Kehormatan dan harga diri bangsa dan negara? Aku bakal sangat sibuk? Jabatanku jadi taruhan? Kalau Kid kalah, tamat riwayatku!” Gumamnya dalam hati.

     Presiden seakan membaca pikiran Menpora. “Ceritakan tentang Kid Salasa, anak Morotai itu.”

      Masih bingung dan gugup Menpora menceritakan sekilas siapa Kid Salasa. “Dia petinju berbakat, lahir di Daruba, Morotai, sekolah dan besar di Morotai lalu pindah ke Malang setelah ayahnya meninggal dunia. Tiga bersaudara, hidup bersama ibunya. Ayahnya meninggal waktu Kid masih kecil …...”

Presiden memotong. “Aku sudah membaca riwayatnya. Ceritakan apakah mungkin dia mengalahkan petinju bule itu?”

“Mungkin saja. Tapi Christopher the truck juga petinju hebat. Saya kira peluang fifty-fifty, Bapak Presiden.“

“Anda salah, Pak Menpora. Anda harus menjawab bahwa Kid Salasa bakal menang. Karena dia memang harus menang.”

        Jantung Menpora nyaris melompat dari dadanya. “Siap, Bapak Presiden.“

“Dengar Pak Menpora. Sediakan semua fasilitas yang dibutuhkan. Pakai semua tenaga profesional. Sediakan rangsangan bonus. Tawarkan bonus besar yang membuat dia mata gelap dan menghajar habis si bule itu. Pokoknya, dia harus menang!”

“Siap, saya laksanakan Bapak Presiden.”

Bapak Presiden menenggak air. “Aku memanggil Panglima TNI, Kapolri, Kepala Intelijen, Menpar, Mendagri, Menlu dan Sekpres agar membantu Menpora dengan segenap kekuatan yang ada. Ini proyek besar, laporan langsung kepada aku.” Sekilas Bapak Presiden memandang delapan lelaki itu satu per satu.

“Kalau ada orang atau kelompok yang coba menghalangi kemenangan anak Morotai bernama Kid Salasa, hajar saja.” Diam sejenak, membiarkan ancaman itu dicerna yang hadir, kemudian melanjutkan.  

Apakah sudah pasti tempat pertarungan berlangsung di negeri kita? Pastikan itu. Pertarungan bakal jadi tontonan seluruh rakyat kita, akan membangkitkan fanatisme bangsa dan cinta negara. Pertarungan harus bersih tidak boleh ada campur tangan kotor. Babat semua tukang suap. Khusus kepada Kid Salasa beri dia bantuan optimal. Lantas kita lihat apakah benar ucapan Bule itu bahwa Indonesia tidak punya petinju hebat, bahwa manusia Indonesia umumnya lemah dan manja. Ajak anak Morotai itu ketemu aku, secepatnya. Dia harus bisa mengangkat gengsi Indonesia.” Suara Bapak Presiden normal saja, namun kandungan sarat emosi dan nasionalisme. Itu perintah.

Menteri Olahraga terkejut ketika sekali lagi Presiden melontarkan pertanyaan mendadak. “Dimana tempat pertarungannya?”

“Terakhir kali, kemarin saya mendengar kabar promotor Halim Buntaran telah sepakat dengan Pak Ganjar menetapkan Sentul City sebagai tempat pertarungan. Tahap terakhir adalah kontrak yang mungkin akan dibereskan pekan ini juga.”

Presiden menoleh menatap Kepala Polisi. “Komentar petinju Bule itu telah membangkitkan sentimen kemarahan rakyat kita. Tetapi komentar balasan anak kita itu bagus dan sangat bersemangat, aku suka ucapannya come to papa and I give you hell,  nobody can beat me here in my home, this is showdown between you and me, do not talk let the punches do the talk. Bahasanya bagus, tampaknya dia cerdas dan bisa diandalkan. Sekarang ini, bagaimana situasi kondisi setelah komentar itu?”

“Banyak ormas pemuda berkomentar marah di media. Sudah ada laporan masuk bahwa ormas pemuda akan demo menantang si Bule.” Tukas Kepala Polisi.

 “Demonya besok, sedikitnya sepuluh ormas mengirim massa. Meskipun demo secara damai dan mereka menjanjikan tidak akan ada kerusuhan tetapi kami telah antisipasi.”

( Bersambung eps 6 )



[1] “Kamu tidak suka dia?”

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com