Cinta 199 Juta Dollar Eps 4
Posted on 11 Desember 2017 ( 0 comments )
Episode 4
“Ini massuer Didin, staf manager Bambang. Masseur profesionalnya sudah retire.”
Marbella mengajak Salina ke kursi deret depan.
Perempuan Venezuela itu membalik badan dan berkata. “Perhatian teman-teman. Nona Salina, biasa dipanggil Sali, kalian sudah bertemu di pesawat kemarin. Dia wartawati yang akan menulis semua kegiatan Kid dan kita semua.”
Salina duduk di kursi depan diapit Marbella dan Bambang. Dua kursi di samping Marbella masih kosong. Kursi Kid Salasa dan Pacheco.
“Apakah aku boleh hadir? Kupikir presentasi skedul training sesuatu yang rahasia.” Bisik Salina kepada Marbella.
“Kursi itu disediakan untukmu, artinya kamu resmi. Presentasi hanya garis besar, terutama untuk mereka yang bertugas. Latihan detail hanya Pacheco yang menyimpannya. Pengumuman aktifitas setiap lima hari ditempel di white-board, aku yang tandatangan. Jadi ada yang top secret dan ada yang diumumkan.” Tutur Marbella.
Jam sebelas lewat tigapuluh menit Pacheco dan Kid Salasa masuk ruangan. Keduanya memberi salam. Orang-orang itu serentak menyahut. “Selamat siang.”
Pacheco dan Kid Salasa berhenti di depan kursi Salina. Wartawati itu tergopoh-gopoh berdiri menyambut uluran tangan Pacheco dan Kid.
Pacheco duduk di samping isterinya.
Kid masih berdiri berhadapan dengan Salina. Dia menggenggam erat tangan lembut Salina. “Kamu cantik.” Suaranya lirih ditujukan hanya kepada Salina.
Sesaat Salina gugup, jantungnya berdegup kencang. Mulutnya bagaikan terkunci.
Kid Salasa mengalih pembicaraan, suaranya normal tidak lirih. “Aku sudah baca dan setuju kontrak penulisan biografi. Jadi kamu mulai hari ini?”
Salina menghembus nafas, menyahut gugup. “Oh ... iya... tapi sebenarnya telah kumulai sejak dari pesawat. Kan ada foto-fotonya."
“Eh mana fotonya, kamu bawa?”
“Beberapa foto kucetak besar, telah kuberikan kepada managermu.” Salina tidak menyangka petinju yang terbiasa bertarung keras itu bisa komunikasi dengan ramah. Tadinya dia pikir Kid orangnya kaku dan kasar.
Kid melangkah ke kursinya, duduk di samping Pacheco.
Keduanya bergantian melihat-lihat foto yang disodorkan Marbella.
Beberapa saat kemudian Pacheco berdiri. “Kita mulai saja, kupikir kita semua sudah lapar. Selesai presentasi kita makan siang.” Dia mengeluarkan slide dari tasnya dan melangkah ke meja kecil di depan kursinya. Dia menoleh ke belakang. “Tom, sudah siap?”
Pratomo menyahut. “Siap digunakan. Tadi sudah kucoba.”
“Prakontrak promotor dengan Kid sudah beres sejak Senin lalu di Bangkok. Kemarin kita terima kabar, pertarungan lawan the truck sudah pasti, tanggal empat Juli tempatnya di international hall Sentul City. Kontrak resmi promotor dengan petinju berikut konferensi pers ditetapkan besok Kamis di hotel four seasons, kita berangkat sama-sama dipimpin manager.”
Pacheco mengatur nafas lalu melanjutkan. “Sejak Rabu kemarin Kid telah menjalani latihan ringan, jogging, jump-rope, shadow-boxing dan sedikit weight-training. Day-one[1] training mulai dihitung Rabu kemarin artinya kita punya seratus duapuluh tujuh hari bekerja keras menjadikan Kid juara dunia sejati sekaligus membungkam kesombongan the Truck.” Tutur Pacheco lantang penuh semangat.
Ucapan yang terakhir disambut tepuk tangan para ofisial.
Salina ikut bertepuk tangan.
“Bagaimana rencana nginap di Puncak?”
“Biar manager yang menjawab,” tegas Pacheco menjawab pertanyaan Ibrahim.
“Sudah konfirm, Jumat malam rombongan pertama berangkat membawa peralatan. Kid dan pelatih bersama rombongan kedua berangkat Sabtu malam. Perhatian, rencana ke Puncak harus dirahasiakan, tidak boleh bocor. Alamat penginapan akan kalian ketahui saat berangkat. Kita tidak mau latihan awal ini diganggu wartawan.” Marbella menoleh ke arah Salina. “Kecuali Salina, dia boleh ikut.”
Selama setengah jam berikut Pacheco menjelaskan garis besar latihan dari hari satu sampai hari H, seratus duapuluh tujuh hari latihan. Terbagi beberapa fase latihan, di fase awal porsi latihan fisik lebih dominan dibanding porsi tehnik. Kemudian bergeser pada fase berikut yang pada akhirnya porsi tehnik lebih dominan. Beberapa sparring juga dijadwalkan. Hanya detail latihan tidak dijelaskan. Tetap rahasia dalam saku Pacheco.
Suasana makan siang sangat menyenangkan. Tidak ada batasan dan formalitas, semua orang bicara bebas. Salina berkenalan dengan dua wanita usia separuh abad yang menjadi sentra kekeluargaan, wanita yang paling dekat hubungan batin dengan Kid Salasa.
“Ini ibuku. Ini Salina yang akan menulis buku biografiku.” Kid memperkenalkan ibunya dengan Salina. Belakangan Salina tahu nama ibu Kid Salasa, Siti Maisaroh, kelahiran Malang. Wanita kulit kuning sawo usianya awal limapuluhan, namun tampak lebih muda. Badannya masih sintal, geraknya gesit. Parasnya teduh dan murah senyum seketika memikat hati Salina.
Wanita lainnya, seusia Siti Maisaroh, kulit sawo matang, rambut agak keriting. “Ini bibi Salero, seorang janda, dia adik ayahku. Tadinya tinggal di Morotai, kini menetap bersamaku. Bibi tinggal sekamar dengan ibu. Dua anak lelaki bibi kuliah di Bandung.”
Salina mendekati Siti Maisaroh. Agak heran bahwa wanita lemah lembut itu adalah ibunda dari lelaki yang menjadi juara dunia tinju. “Apakah sejak awal wanita lemah lembut ini mendukung putranya menjadi petinju? Tidak adakah perasaan khawatir putranya cidera? Akan kuwawancarai dia, pasti banyak cerita menarik yang dia simpan.”
“Semua makanan ini kami berdua yang masak.” Kata Siti Maisaroh sambil menunjuk Salero. “Sudah adat tradisi Morotai, seorang isteri harus bisa masak, dan sebaiknya masakannya enak lezat. Kamu bisa masak?”
Pertanyaan dadakan itu mengejutkan Salina yang spontan menyahut. “Bisa. Tetapi tidak pandai dan juga menunya sedikit.”
“Coba ini. Santan kelapa khas Morotai, pengganti sayur.” Dia menyendok nasi di piring lalu menuang beberapa sendok santan. “Dua macam santan, asin dan manis. Ibu pilih untukmu yang manis persis wajahmu yang cantik manis. Lauk yang cocok adalah ikan bakar. Nah kamu ambil sendiri ikannya.”
“Semua ini masakan ibu berdua? Tapi kan ada pembantu.”
“Tak ada pembantu. Makanan untuk Kid khusus dan dikontrol. Pacheco melarang orang lain campur tangan dalam urusan makanan, pembantu hanya bertugas cuci, seterika, nyapu dan kebersihan. Pembantu dua orang, mereka orang desa sekitar. Mereka tidak nginap, habis kerja pulang.” Tutur Siti Maisaroh sambil menarik tangan Salina. “Ambil ikan bakar sebelum habis disambar pasukan. Berapa pun banyak ikan disediakan, tetap saja habis dengan cepat. Anggota pasukan yang terlambat tidak kebagian, mereka terpaksa makan di warung masakan padang di luar.”
Salina tertawa. Dia berdesakan dengan Marbella mengambil ikan bakar. Berbagai masakan ikan di atas meja menantang dijamah.
Marbella tertawa. “Makan bersama ini mempererat hubungan kerja. Ini masakan yang paling kusuka, sop ikan, agak mirip dengan tomyang masakan Thailand, rasanya luar biasa.” Dia menyendok sop ke dalam mangkuk. Dia mengambil sepotong ikan bakar meletakkan di piring nasinya. “Ikan bakar tidak boleh dilupa, juga favoritku.”
Mata Salina mencari-cari, diantara banyak lelaki tampak Kid berdua Pacheco menyantap makanan di meja tersendiri.
“Sali, kita duduk di sana.” Marbella mengajak Salina duduk di meja Kid dan Pacheco yang masih menyisakan dua kursi kosong.
“Menu untuk Kid berbeda, sesuai daftar menu dokter Murad.” Tutur Marbella.
Salina memerhatikan Kid yang melahap kentang rebus dengan sop daging, sepiring besar steak daging dan enam butir telur ayam direbus matang.
“Terkadang aku menambah porsi ikan bakar.” Tukas Kid.
Salina tertawa. “Kid, boleh aku wawancara your mom?”
“Boleh-boleh saja. Kamu atur dengan Bella dan ibu.”
“Wawancara cicilan. Siang ini aku ingin ngobrol dengan beliau.”
“Sebaiknya sekitar jam satu siang, setelah ibu selesai sholat. Kamu …..” Kid batal melanjutkan pertanyaan.
“Apa? Kamu mau tanya apakah aku sholat?”
Kid mengangguk. “Tidak enak, itu kan privasi.”
“Di sini ada mushola?”
“Ada. Tapi biasanya tamu wanita sholat di kamar ibu.”
“Kalau begitu aku minta ijin sholat di kamar ibu, sekalian ngobrol, boleh?”
Kid mengangguk.
Menjelang sore Salina bersiap pulang. Marbella mengantar. Tiba di ruang tamu, seorang gadis cantik masuk diantar satpam yang menjinjing beberapa tas plastik berisi buah segar. Dia menegur Bella yang juga menyahut sekadarnya. “Hai.”
“Dia pacar Kid, namanya Magdalena. Biasa dipanggil Magda.” Bisik Marbella lirih.
Gadis itu berbusana jin ketat dengan blus yang juga ketat menyembulkan dadanya. Aroma parfum menebar ke seluruh ruangan yang dilewati. Detak sepatu kulit lars hitam dan getar bokongnya mengikuti langkahnya, benar-benar gadis yang percaya diri dan tahu persis akan kecantikannya.
( Bersambung eps 5 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







