Lingon Togutil eps 41

Posted on 22 September 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 41

            Kalai menyambung keterangan Ramebete. “Masih ada lainnya, gempa bumi, pohon-pohon tumbang, tanah bergerak, kebakaran hutan, tanah terbelah, hujan lebat, kilat dan guntur. Aku kedinginan ganti kepanasan, lukaku perih. Kejadian menakutkan, tetapi aku tahu itu semua tipuan iblis, karenanya aku harus bertahan, tak mungkin menyembah setan.”

            Ramebete menambahkan. “Waktu berjalan tanpa terasa, ancaman dan bujukan berganti siksaan nyata. Kupikir, pasti akan mati, tapi aku tidak akan menyerah meskipun  dibakar. Aku berdoa, minta kekuatan dari Allah.”

            “Selama itu apa yang kalian makan?” Tutumole bertanya.

            Kalai menyahut. “Lama kelamaan aku mengerti permainan iblis itu. Kukatakan kepada Ramebete, pemandangan indah itu sihir, jangan makan apa pun. Pada saat berganti hutan belantara kami makan nanas dan ubi liar. Pemandangan silih berganti, ancaman semakin menakutkan, makin lama daya tahan tubuh kami menurun, Karin datang menolong saat kami sangat dekat dengan maut.”

            Suasana hening.

            Tofor dan Jangu mengangkat tangan tanda ingin bicara.

            Mabungkas melanjutkan. “Belum saatnya, nanti akan ada giliran bertanya dan menuntut. Sekarang aku ingin dua orang memberi penjelasan, Sousoulol lebih dulu setelah itu Karin.”

            “Lembah Mitmutum suatu tempat yang angker, bisa disebut kerajaan jin. Orang yang tersesat atau masuk dengan sengaja, tidak pernah keluar lagi. Hilang begitu saja. Guruku Sousoulol Masinga tidak pernah masuk,  tetapi Sousoulol Haji Ngolopopo, guru dari guruku pernah masuk menolong seorang kerabat dan berhasil keluar lagi. Dia menutur sebagian pengalaman kepada guru Masinga yang lalu menurunkan pengetahuan itu kepadaku.” Tutur Tutumole.  

            “Sangat luar biasa, membuat aku takjub bahwa Karin bisa masuk dan keluar lagi, membawa serta Kalai dan Ramebete. Ketika tahu Karin masuk lembah Mitmutum, timbul niatku masuk. Lantas terdengar suara di pikiranku.  Aku penguasa hutan, jika berani masuk akan kuberi petunjuk jalan masuk tetapi aku jamin kamu tidak akan bisa keluar. Masuklah Sousoulol jika punya keberanian. Tantangan itu mengejutkan, aku ragu-ragu dan merasa takut, aku banyak terlibat tarung tetapi menghadapi makhluk gaib, belum pernah. Karenanya aku memutuskan menunggu Karin selama beberapa hari. Dua hari kemudian Karin keluar bersama Kalai dan Ramebete, cerita ketiganya sama persis. Kata guruku, ukuran waktu dan jarak di alam gaib sangat berbeda dengan alam nyata. Karin merasa hanya setengah hari tetapi kita menunggu dua hari. Kalai dan Ramebete tak  tahu berapa lama berada di lembah tetapi aku perkirakan mereka di dalam lembah lebih dari duapuluh hari. Itu dihitung dari malam petaka matinya Tude dan Rago.

            “Sejak malam kematian Tude, Kalai dan Ramebete hilang selama tigapuluh hari. Itu lebih kurang.” Tegas Mabungkas.

            Suasana kembali hening, semua orang terbawa penuturan Tutumole. Diam-diam mereka memandang Karin dengan heran dan kagum.   

            “Aku ingin mendengar pengalaman Karin, bagaimana cara masuk, tersesat atau sengaja masuk?” Kata Mabungkas kepada Tutumole.

             “Menurutku dia sengaja masuk. Sejak berangkat dari rumah, Karin menyatakan dia sendiri akan masuk lembah!” Tutumole menoleh kepada Karin. “Ceritakan Karin!”

“Cerita tentang Mitmutum kudengar dari Sousoulol, tak ada orang masuk bisa keluar. Tekadku masuk mencari suamiku, tarohannya mati, aku tidak takut mati. Cintaku kepada Kalai lebih besar dari kematian. Berulangkali dia menolong aku, untuk itu dia membunuh  petarung Lingon, Berebere dan petarung pesisir. Dia melindungi aku dari Watowato ke Watam sampai Waijoi. Aku masih hidup saat ini karena ada Kalai di sisiku. Jadi apalah arti hidupku dibanding kepentingan Kalai. Aku tak bisa hidup tanpa Kalai. Dia mati aku juga mati.

            Karin memandang mesra suaminya. “Aku tidak punya ilmu untuk masuk ke lembah Mitmutum. Cintaku yang menuntun langkahku. Dua kali aku mimpi suamiku. Sekali di Waijoi dan sekali dalam perjalanan. Ketika aku temukan pintu masuk, tidak ada keraguan atau rasa takut sedikit pun, aku masuk dengan penuh semangat. Persis cerita Kalai dan Ramebete, aku melihat pemandangan indah. Waktu itu aku bersumpah, jika aku dan Kalai selamat dari lembah Mitmutum aku akan sungguh-sungguh belajar menyembah Allah.”

            “Ceritakan tentang pintu masuk itu dan bagaimana kamu membawa Kalai dan Ramebete keluar?” Desak Mabungkas.

            “Aku mimpi Kalai terjerat jaring laba-laba dan seekor laba-laba raksasa hendak memangsanya. Aku berpikir tentang makna mimpi, apa artinya laba-laba tetapi tidak menemukan artinya. Tetapi saat bingung mencari pintu masuk mendadak aku tahu bahwa jaring yang menjadi kunci rahasianya, bukannya laba-laba. Saat itu aku melihat beberapa jaring laba-laba bertautan dari semak ke semak lain. Aku yakin dibalik jaring itulah pintu masuk. Aku menerobos jaring dan tiba di tempat yang pemandangan serba indah. Lalu kudengar bisikan, terjadilah percakapan dengan jin penguasa hutan. Dia membujuk, menggoda, menyuap, merayu berganti  dengan ancaman mengerikan. Aku bertahan dengan keyakinan dan cintaku kepada Kalai. Aku tidak mengenal Tuhan, tetapi aku menolak menyembahnya. Aku lebih memilih menyembah Tuhan yang disembah ibu Maisani, apalagi aku telah bersumpah bahwa jika aku dan Kalai keluar dengan selamat maka aku akan menyembah Tuhannya ibu Mai. Perdebatan dengan jin itu sangat melelahkan. Dia mengancam membakar hidup-hidup suamiku,  aku melihat kobaran api besar, panas membara, di seberang tampak Kalai bergantung dengan tangan terikat. Api  memisahkan aku dari suamiku. Untuk menggapai suamiku aku harus menyeberangi lautan api, dan itu sama artinya dengan mati. Tetapi cintaku lebih besar katimbang kematian, aku lari menerobos lautan api, saat bersamaan terdengar ledakan besar yang membuat telinga pekak dan jantung berdebar kencang, ternyata api tidak panas, tiba-tiba api menghilang dan aku melihat Kalai tergeletak di tanah dalam keadaan pingsan nyaris mati. Sepuluh meter di sebelahnya Ramebete juga pingsan dan nyaris mati. Terdengar suara jin penguasa, kamu perempuan yang setia kepada suamimu, pergilah, cintamu lebih kuat dari kematian, bawa suami dan temanmu.”

            “Lanjutkan, bagaimana kalian keluar?” Tukas Tutumole.

            “Seketika itu juga pemandangan berubah menjadi hutan belantara, aku memapah Kalai di kanan dan Ramebete di kiri, melangkah tanpa arah. Lama aku berjalan, hampir setiap melangkah aku teriak memanggil ayah Kipatoma. Agak lama kemudian ayah, paman dan Sousoulol muncul, aku pingsan.”

            Susana hening. Semua terpukau pengalaman Karin.

“Dia bohong! Lingon ini berbohong, jangan percaya!” Suara wanita, keras dan terdengar jelas di tengah keheningan suasana. Warga yang masih terpukau cerita Karin menoleh. Malini, gadis cantik yang sangat membenci Karin.

            Mabungkas mencegah dengan tangannya. “Belum saatnya kamu bicara.”

            Karin memotong. “Biar aku jawab pak kapitan, bolehkah?”

            Mabungkas seakan kena sihir, mengangguk. “Silahkan!”

            “Aku tidak berani berbohong.” Kata Karin. “Sejak kecil aku tak pernah bohong.”

            “Kamu tidak beragama, pasti berani berbohong.” Teriak Malini sengit.

            “Aku telah membaca ikrar syahadat, sudah Islam saat menikah dengan Kalai dikampung Watam, ada saksinya kepala hukum adat, kepala kampung dan imam masjid Watam. Ada surat nikahnya. Di rumah mertuaku, aku menikmati kehidupan sebagai isteri Kalai. Aku bahagia. Aku bicara dengan ibu Maisani, ibu Salamah dan ibu Kanari tentang Islam, tentang kehidupan. Tetapi aku belum menyembah Allah dengan sungguh-sungguh. Suatu saat ibu Mai mengatakan takdir yang mempertemukan aku dengan Kalai. Aku tidak mengerti. Ibu lalu menjelaskan tentang takdir. Di tengah jalan menuju Mitmutum, aku merenung tentang takdir. Selama ini kebaikan berpihak kepadaku, bertemu Kalai, mencintai dan dicintai. Bertemu ibu Mai, ibu Amah, ibu Nari yang begitu menyayang aku. Itu semua takdir. Termasuk pertemuanku dengan Tetetua secara tidak terduga. Dia menolong aku dari gangguan Jangu di pantai …..”

            “Bohong! Dusta! Kamu memfitnah aku…!!” Jangu berteriak sengit.

            “Kamu tahu aku tidak bohong. Tetetua memukul kamu dengan tongkat, seperti ayah memukul anaknya dan kamu tak mampu mengelak apalagi membalas. Kamu menangis, memohon ampun.”

            “Bohong, Kamu pendusta. Tak ada yang percaya. Siapa saksinya?”

            “Hanya aku, kamu dan Tetetua yang bernama Amtak Calanco!”

            Mendengar nama Amtak Calanco semua petarung terdiam. Ternyata nama itu berkibar sebagai petarung ulung seantero tanah Kao sejak duapuluh tahun lalu.

            “Siapa? Ulangi lagi Karin.” Desak Tutumole.

            “Orangtua itu, kupanggil Tetetua karena dia menyayang aku dan menyebut aku cucu, dia tak pernah memanggil namaku, selalu cucuku… cucuku…” Tutur Karin.

            “Mana dia? Calanco sudah mati belasan tahun silam.”  Jangu berseru dengan suara tinggi. “Kamu pandai mengarang cerita bohong.” Amarah Jangu menjadi-jadi, sesaat tak ada lagi rasa cinta dan kasmaran. Rasa benci menguasai dirinya. Ingin dia membunuh wanita Lingon itu.

            “Dia mati beberapa hari lalu, tetapi sebelumnya aku sempat bertemu dengannya. Dia mati  sebelum aku masuk lembah Mitmutum.” Tanpa terasa mata Karin berair.

            Terdengar suara seseorang. “Cucu bodoh! Aku belum mati! Lihat aku masih hidup dan sehat.”

Suara itu terdengar akrab di telinga Karin. Dia menoleh keliling, lalu matanya terpaku sosok kakek tua yang kurus kering sedang tertawa memandangnya.

            Tanpa sadar Karin berteriak, “Tete …  kamu masih hidup..” Lalu dia berlari menghambur dalam pelukan orangtua itu.

            Semua warga terkejut. Mereka tak pernah tahu cara orangtua itu menerobos pagar manusia yang berjubel di pekarangan. Para tokoh tua, terutama Sousoulol Tutumole sadar ilmu yang digunakan orangtua itu. 

“Seperti pampelemtou, menghilang dan muncul di tempat lain.” Gumam Tutumole dalam hati.

            “Aku mencari kamu, rumahmu kosong, perahumu tidak ada. Katamu kalau kejadian seperti itu artinya kamu melaut mencari kematian. Aku sedih..” Kata Karin yang tidak peduli orang sekitar.

            “Aku melaut, tapi laut belum mau menerima jasadku. Jadi aku mencari cucuku, hanya kamu seorang yang mau menemani, aku tak punya keluarga.”

            “Sudahlah jangan merajuk Tete, masih ada aku keluargamu.” Karin menoleh ke Mabungkas dan para tetua. “Maaf kapitan, aku tidak dapat menahan diri bertemu Tetetua. Perkenalkan tetetua ini bernama Amtak Calanco.”

            Mabungkas memberi hormat, begitu juga tokoh tua lain. Tutumole menghampiri kakek yang terkenal berilmu tinggi. “Aku Tutumole, guruku Masinga sering menyebut namamu, tentu saja cerita yang baik-baik.”

            “Pasti kamu juga sousoulol, aku bisa melihat dari sinar matamu.” Dia menoleh memandang keliling. “He … he acara apa, kalau pesta mengapa tidak ada saguer?”

            “Tete, ini borfakalak.” Tukas Karin.

            “Borfakalak? Apakah kamu diadili? Apa tuduhan kepadamu?”

            “Bukan aku. Tetapi suamiku Kalai, dituduh membunuh padahal dia tidak bersalah, malah menolong putri kepala kampung.” Tutur Karin.

            “Aku mau nonton, tapi duduk dimana?”

            Mabungkas mempersilahkan duduk di sebelah Tutumole. Tetapi orangtua itu menolak, memilih duduk berdekatan dengan Karin.

“Aku duduk dekat cucuku.” Tegasnya.

“Tete kamu jangan bicara, cukup jadi penonton yang diam.” Tegas Karin.

“Baiklah aku akan diam, jika kamu membawakan lima tabung saguer.”

“Lima tidak boleh! Dua sudah cukup!” Kata Karin.

“Empat!” Orangtua itu menawar.

“Tiga tabung!” Seru Karin.

“Baiklah tiga tabung.” Amtak Calanco tertawa. “Hanya kamu yang berani melarang aku minum saguer.”

Karapu menyuruh Muklis mengambil tiga tabung saguer di rumahnya. “Berikan kepada kakek itu, katakan bingkisan dari kepala kampung Karapu!”

Tetetua tertawa. “Benarkah kamu masuk lembah Mitmutum, keluar lagi dengan membawa suamimu?”

“Benar. Aku menggunakan ilmu yang kamu ajar. Aku bisa menemukan pintu masuk karena membaca mantra ajaranmu. Aku menemukan obat untuk menyembuhkan luka suamiku juga karena ajaranmu. Terimakasih Tete.... “

“Kamu polos, jujur, cerdas dan percaya kepada aku. Kamu yakin akan ajaranku, itu sebab kamu bisa menolong suamimu. Untuk melakukan sesuatu seseorang harus yakin, keyakinan itu sudah separuh berhasil. Kamu cucuku yang cerdas dan baik hati.” Orangtua itu menenggak saguer dari tabung.

Sekarang semua yang hadir mengerti keberhasilan Karin karena membaca mantra ajaran Amtak Calanco. Tampak Malini terdiam, tak punya kata-kata membantah.

Mabungkas tertawa dalam hati menyaksikan hubungan petarung tua itu dengan Karin. Hubungan yang akrab, Karin gadis beruntung disayang petarung ulung itu.”

            “Borfakalak memasuki acara tuntutan.” Mabungkas menatap kelompok penuntut. “Kita sudah mendengar cerita Kalai, Ramebete dan Karin, terbukti pembunuh Ragota dan Tude bukan Kalai melainkan Tabale. Siapa yang mau bicara atau menuntut?”

( Bersambung eps 42 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com