Lingon Togutil eps 40

Posted on 21 September 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 40

Bab Empatbelas

Borfakalak Pengadilan Adat

Mabungkas minta perhatian warga. “Borfakalak pengadilan adat yang kita muliakan dimulai. Semoga menjelaskan siapa salah siapa benar dalam perkara ini. Siapa pun hendak bersaksi harus bersumpah dengan Al-Quran, dia selamat jika menutur kebenaran. Jika terbukti berbohong akan diusir dari kampung selama-lamanya dan dosa melanggar sumpah tanggungjawabnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.”

            Suara kapitan adat seakan menggantung di udara, menguar wibawa borfakalak. Adanya kitab suci Al-Quran di atas meja merupakan ancaman bagi yang berbohong. Patut jika selama ini tradisi borfakalak ditakuti sekaligus dihormati.

Mabungkas berunding dengan Tutumole dan para tetua lain. Dia berdiri lagi dan mengangkat tangan. “Aku Mabungkas dan Sousoulol Tutumole memimpin borfakalak, kami akan bertanya dan yang ditanya wajib menjawab. Jawaban harus jujur. Siapa ingin bicara atau bertanya harus minta ijin dengan mengangkat tangan dan boleh bicara setelah kami  mengijinkan. Semua harus tertib dan taat aturan agar borfakalak selesai dengan hasil memuaskan. Pertama-tama silahkan Kalai menutur kejadian malam terbunuhnya Ragota dan Tude.”

            Kalai maju dan bersumpah dengan memegang Al-Quran. Dia berdiri menghadap para tetua. Parasnya tegang, kesal mengingat dia mempertaruhkan nyawa menolong putri kepala kampung malah dituduh membunuh Tude dan Ragota serta menculik Ramebete.

“Waktu itu hujan mulai reda, gerimis. Aku dan Tude diserang kantuk berat, kami sepakat ada orang menebar sihir sehingga perlu memberitahu Sousoulol. Itu tugasku. Di tengah jalan aku melihat seorang berlari sambil memanggul sesuatu di pundak, sesuatu yang dibungkis kain sarung. Aku curiga. Aku batal ke rumah Sousoulol, aku berteriak dan mengejar orang itu. Tiba di batas desa kulihat Tude terhuyung-huyung dan jatuh. Sebelum mati dia berbisik, Ramebete diculik cepat kejar! Luka Tude parah, aku tak bisa menolong. Tude mati. Kuputuskan mengejar penculik.”

            “Kamu melihat luka Tude?” Mabungkas memotong.

            “Lehernya luka parah. Perut juga robek. Kupikir itu sabetan pedang.”

            “Adakah tombak atau pisau nancap di dadanya?” Desak Tutumole.

            Kalai menggeleng. “Tak ada senjata yang nancap.”

            “Kau yakin tak ada pisau nancap di dada Tude?” Tutumole sekali lagi mendesak.

            “Aku yakin, tak ada pisau nancap di dadanya.”

            Tutumole menoleh menatap Mabungkas. “Kapitan, tak ada pisau nancap di dada Tude, itu penuturan Kalai dibawah sumpah.”

            Mabungkas mengangguk. “Aku dengar ucapan Kalai.”

Mabungkas berkata kepada Kalai. “Lanjutkan ceritamu!”

Kalai menghela nafas sejenak. “Tengah malam ketika warga tidur pulas, aku mengejar si pembunuh, mengikuti suara Ramebete yang terkadang hilang. Aku tarung dengannya, aku terdesak, tapi dia tidak mengejar aku, dia berbalik badan memanggul Ramebete dan lari. Aku mengejar. Kuikuti dia kemana dia lari. Fajar terbit, aku temukan laki-laki itu duduk istirahat makan. Aku siap menombak, tetapi rupanya dia waspada dan sembunyi di balik badan Ramebete. Kusuruh dia lepaskan tawanan. Dia perkenalkan diri, namanya Tabale, dia mengancam  membunuh Ramebete, menyuruh aku menjauh dan pulang ke Waijoi memberitahu kepala kampung Karapu agar menemuinya, dia menantang kepala kampung, tarung satu satu!”

“Kamu kenal Tabale?” Mabungkas bertanya.

“Belum pernah bertemu muka, tapi pernah mendengar namanya sebagai petarung jahat yang berilmu tinggi dan kejam.”

“Kamu tidak takut?”

Kalai tertawa. “Nama Tabale pantas ditakuti. Tapi jasa kepala kampung kepadaku teramat besar, tidak mungkin aku membiarkan putrinya dilarikan orang. Aku tantang dia. Terjadi tarung. Pahaku kena sabetan pedang. Tenaganya mulai berkurang mungkin sebab berlari semalam suntuk. Dia licik, mengancam membunuh Ramebete, melarang aku mengejar. Dia lari sambil memanggul Ramebete.

            “Aku tetap mengejar, patokan pada teriakan Ramebete. Aku letih dan lapar, begitu juga dia. Dia istirahat, aku istirahat. Dia lari, aku lari. Menjelang malam kami tiba di lereng Timur Watowato, dia memaksa janji petarung bahwa esok pagi bertarung lagi. Aku tidak percaya, aku tetap waspada, memaksa diri tidak pulas. Pagi datang, dia mengikat aku dengan janji tarung di bagian dada Watowato. Dia makan, memberi makan pada Ramebete, aku juga makan sambil menjaga jarak. Rupanya dia tahu aku mencari peluang menombak. Dia berlari sambil memanggul Ramebete. Menjelang sore kami tiba di wilayah terbuka di bagian dada Watowato. Dia menantang tarung sampai mati. Rupanya dia letih dan kesal karena aku mengejar terus.

            “Saat kami siap tarung, Ramebete lolos dan lari. Kusuruh dia lari menjauh dan sembunyi. Kami tarung. Tabale memang hebat. Aku teledor, terganggu jeritan Ramebete yang jatuh, kakinya terkilir. Tabale melukai lengan kanan dan perutku. Lukaku parah.”

            Kalai menunjuk lengannya, mengangkat bagian bawah kemeja memperlihatkan  stagen berbekas darah yang membalut perutnya.

            “Tangan kananku lumpuh. Aku ingat siasat tarung ajaran ayah. Aku memegang pedang, tanganku gemetar. Tangan kiri yang memegang tombak meregang ke belakang. Dia tertawa melihat tangan kananku gemetar. Saat itulah aku menombak sekuat tenaga, sasaran leher. Tombak nancap di tenggorokan. Matanya melotot. Aku meraih tombak lain, menombak dadanya. Dia terhuyung mundur dan jatuh. Dia mati.”

            “Kamu menombak dengan tangan kiri?” Tutumole seakan tidak percaya.

“Sejak kecil aku dilatih ayah, tangan kiri harus sekuat kanan.” Kalai tersenyum memandang Kipatoma. “Tanyakan kepada Jangu dan Dubudeng, pukulanku kiri dan kanan sama keras, benarkah?”

Dubudeng dan Jangu diam. Dalam hati menyumpah serapah.

Mabungkas mengangkat tangan. “Cukup Kalai, nanti kamu lanjutkan. Kini giliran Ramebete, ceritakan sejak awal, kamu melihat muka pembunuh suamimu?”

Ramebete menutur, suaranya datar. “Lampu damar di rumah mati, Rago keluar mencari api ketika itu aku mendengar suara langkah orang. Ketika Rago kembali, kuceritakan padanya tetapi dia tak percaya. Kami tidur. Aku terjaga mendengar teriakan Ragota, sempat kulihat Rago kesakitan, roboh di tanah. Belum sempat berpikir apa yang terjadi, orang itu memukul kepalaku. Aku pingsan.”

            “Kamu melihat muka orang itu?”

            Ramebete mengangguk. “Sebelum memukul dia menatap aku dan tersenyum. Mukanya jelas, dia juga yang tarung lawan Kalai. Dia Tabale.”

            “Kamu yakin yang membunuh Ragota itu, Tabale?”

            “Demi Allah, dia Tabale! Tabale pembunuh suamiku! Aku kenal mukanya, dia datang di acara pernikahanku, memberi hadiah ”

            “Tabale juga yang menculik kamu?”

            “Benar.” Tegas Ramebete.

            “Kamu melihat dia tarung lawan Tude?”

            “Tidak. Aku sadar bahwa aku dipanggul, sadar saat mendengar jerit kesakitan mungkin suara Tude. Dia lari terus.”

            Mabungkas mendesak. “Kamu tidak melihat dia tarung lawan Tude?”

            “Aku dipanggul, aku hanya mendengar teriak kesakitan. Tabale tertawa dan terus berlari. Malam gelap, dia berkata, temanmu mati lehernya hampir putus.”

            Mabungkas menghela nafas. “Rupanya pertarungan singkat. Lanjutkan ceritamu.”

            “Sama seperti cerita Kalai. Pada pertarungan terakhir, aku lolos dan lari tetapi kakiku tersangkut akar pohon, aku menjerit dan jatuh. Aku tak bisa lari, kakiku sakit, aku ketakutan dan mengintip tarung hidup mati itu. Sampai sekarang pergelangan kaki dan lutut masih bengkak. Aku sembunyi mengintip pertarungan. Kulihat Tabale jatuh, dua tombak nancap di leher dan dada. Hari menjelang gelap, kami memutuskan nginap, besok pagi baru pulang. Aku tak bisa jalan, harus pakai tongkat. Kalai merawat sendiri lukanya. Kami mencari lokasi nginap. Aku tidak tahu asal mulanya tetapi saat sadar aku dan Kalai berada di tempat yang aneh. Semuanya serba indah. Banyak pepohonan buah. Sungai yang airnya jernih. Gadis dan pria muda berbusana mewah duduk bercengkerama di rumah mewah. Semua serba mewah dan indah. Seorang lelaki tampan berbusana mewah gemerlap mengaku raja wilayah menghampiri aku. Dia melamar aku jadi isterinya tetapi aku harus menyembah mencium kakinya, dia akan memberiku kenikmatan, emas permata. Ketika aku menolak, dia marah. Dan seketika pemandangan berubah hutan belantara dipenuhi binatang buas dan mahluk mengerikan. Dia berkata, itulah pilihanku jika menolak menyembahnya. Belakangan Kalai menutur bahwa kami berdua tersesat di lembah mitmutum, wilayah setan, jin dan hantu. Dan suara dalam pikiranku, itulah suara jin penguasa wilayah.“

            Terdengar komentar warga. Bisik-bisik, ada teriak keras.

“Bohong!” Seru Tofor.

“Aku percaya dia tidak berbohong, dia telah bersumpah!” Tukas seorang warga.

Mabungkas mengangkat tangan. “Tenang, ada waktunya kalian bertanya.”

Sesaat Mabungkas merenung. Dia menjalani banyak tarung dan mengembara hampir seantero hutan tetapi belum pernah masuk lembah mitmutum. Pengetahuannya tentang lembah itu sangat sedikit. Dia tahu mitmutum semacam wilayah hantu.

            Dia bertanya kepada Kalai. “Darimana kamu tahu itu lembah mitmutum?”

            “Aku mendengar cerita guruku. Seseorang bisa masuk lembah mitmutum dengan dua cara. Yang pertama tidak sengaja atau tersesat. Yang kedua, orang itu punya ilmu melihat yang gaib dan menemukan pintu masuk. Kami masuk karena tersesat.”

            “Gurumu, maksudmu Kipatoma ayahmu?”

            “Bukan ayahku. Tetapi guruku.”

            “Siapa namanya?” Mabungkas mendesak.

            “Guruku tidak ada hubungan dengan perkara ini, dan aku telah berjanji kepadanya tidak akan memberitahu namanya kepada siapapun.” Tegas Kalai.

            “Baiklah, lanjutkan ceritamu, kamu masuk lembah, apa yang kamu lihat?

            “Semua serba indah, pemandangan indah, pohon-pohon aneka warna. Cahaya matahari warna warni. Udara sejuk. Sungai airnya bening.” Tutur Kalai.

            “Ceritakan mulai dari matinya Tabale. Benarkah dia mati?” Desak Mabungkas.

            “Kuperiksa mayatnya, dua tombakku nancap di tenggorokan dan dada. Setelah berpikir aku yakin berada di wilayah dada Watowato. Menurut guruku, mitmutum berada antara bagian dada dan leher Watowato. Timbul rasa takut. Rencanaku nginap di tempat yang jauh, kembali ke jalan semula. Aku membuat tandu untuk Ramebete, belum jauh berjalan tiba-tiba kami berada di tempat lain, seperti permainan sihir.”

            “Kamu sadar berapa lama berada di lembah?”

            Kalai memandang Mabungkas dengan tatapan kosong. “Tidak tahu, tampaknya siang dan malam tidak ada bedanya. Anehnya terkadang pemandangan indah lenyap berganti hutan belantara. Anehnya lagi, saat pemandangan indah lukaku tidak terasa sakit. Pada waktu pemandangan berganti hutan belantara, aku kesakitan.”

            “Ada lagi keanehan lain?”

“Terdengar suara di kepalaku, aku menoleh keliling, tak ada siapapun, hanya Ramebete yang pingsan  geletak di tanah. Aku ingat cerita guruku, jin atau setan berbisik kepada manusia secara tidak langsung, tetapi ada yang begitu kuatnya sehingga bagi kita terasa seperti seseorang berbisik nyata di telinga. Jin itu, Jou Guwo[1] tahu apa yang kupikir, terjadilah percakapan yang sulit dipercaya.”

            “Jelaskan lebih rinci.” Desak Mabungkas.

            “Aku Jou Guwo, penguasa wilayah ini, aku  punya kekuasaan dan kekayaan, banyak petarung ulung jadi pengikutku. Sembahlah aku, akan kuberi emas permata dan ilmu tarung. Kamu akan menjadi petarung yang ditakuti dan yang terkaya. Semua bisa kamu beli, rumah, kebun, perahu dan apa saja.”

”Tidak! Aku tidak mau. Aku tidak akan menyembah selain Allah, aku tidak ingin emas, aku tidak ingin ilmu tarung, tidak ingin menjadi petarung yang ditakuti.”

”Kuberi kamu wanita cantik, sepuluh atau berapa saja yang kamu inginkan”

”Tidak. Aku tidak butuh wanita cantik karena isteriku cantik, wanita tercantik yang pernah kutemui.”

”Aku penguasa,  banyak manusia mati kubunuh, lihat tengkorak-tengkorak itu, mereka mati karena menolak menyembah aku.”

“Semua manusia suatu saat akan mati, hari ini atau besok atau satu tahun lagi, sama saja, hukum Tuhan tidak akan berubah, manusia akan mati. Aku juga akan mati. Mati terbunuh dalam tarung, mati oleh penyakit atau mati di tempat tidur, semua manusia menunggu giliran mati.”

            Semua orang terdiam mendengar kisah yang menarik meskipun sulit dipercaya.

            “Itu sekadar contoh, percakapanku cukup lama. Rupanya dia marah karena aku selalu menolak,  mendadak aku berada di hutan belantara gelap gulita, lukaku terasa sakit, sangat sakit seakan diremas tangan kasar, tak pernah kualami kesakitan sehebat itu. Itulah perbuatan Jou Guwo, dia membujuk merayu memperlihatkan pemandangan indah, wanita cantik, emas permata dan setiap aku menolak dia mengubah hutan indah menjadi hutan belantara. Begitu seterusnya, berulang kali, berapa lama aku tidak tahu. ”

 

Mabungkas memotong penuturan Kalai. Dia bertanya kepada Ramebete. “Sekarang giliran Ramebete, ceritakan apa yang kamu alami?”

            “Kejadian aneh, bisikan di telinga seperti ucapan seorang, tetapi disitu tak ada orang selain Kalai. Bujuk rayu dan ancaman suara yang mengaku sebagai Jou Guwo, penguasa wilayah. Ketika aku menolak menyembahnya seketika pemandangan indah lenyap berganti hutan belantara, dan kakiku sakit tidak terhingga, aku menjerit kesakitan, kulihat kebakaran dimana-mana, ular besar dan macam-macam binatang berkeliaran, suara kilat dan guntur berbunyi keras, tanah bergerak seperti gempa, angin kencang. Aku ketakutan. Mendadak muncul sepasang pria rupawan dan wanita cantik berpakaian mewah, melambai kepadaku dengan ramah. Seketika pemandangan berubah, sungai yang airnya bening dingin, rumah mewah dihiasi kursi bertabur emas permata dan dayang berbusana mewah. Pria itu membujuk aku menyembahnya dan akan memberi aku semua kesenangan, dia mengancam jika menolak aku akan dibakar.”

( Bersambung eps 41 )



[1] Jou : Sebutan untuk tuanku, paduka yang mulia, .
Guwo : Hantu, dedemit, suwanggi.

 

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com