Lingon Togutil eps 39
Posted on 21 September 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 39
Suasana hening.
Mabungkas memegang Al-Quran mengangkat di atas kepalanya. Mina berpakaian serba putih dengan kerudung putih menghampiri. Mabungkas berbisik lalu menyerahkan kitab suci itu.
Mina duduk sila pada saat mana Milcem ibunya menghampiri menyodor bantal yang dibungkus kain putih. Mina menaruh kitab suci di atas bantal, membalik-balik halaman. Tak lama kemudian mengalun suaranya yang merdu membacakan ayat-ayat Allah, Ponda membakar kemenyan yang wanginya semerbak.
Suasana hening. Semua warga terpukau suasana dan lantunan gadis perawan itu. Mina memang menjuarai berbagai lomba baca Al-Quran, didikan langsung sang nenek. Selesai membaca ayat-ayat khusus, Mina membungkus Al-Quran dengan kain putih, menaruhnya di atas meja.
Lalu ustad Harun berdiri menghadapkan dua tapak tangan ke mukanya sambil membaca doa dalam bahasa Arab dilanjutkan dengan bahasa daerah. Warga menyambut dengan seruan, “amin … amin … amin..”
Ketika doa ustad Harun selesai. Dari dalam rumah keluar tiga gadis berbusana serba putih. Mereka berdiri diam dalam posisi segitiga mengelilingi Al-Quran di atas meja tinggi. Ganema, adik Ponda dan putri bungsu Mabungkas telah dilatih untuk acara-acara adat tahu persis apa yang harus dilakukan. Dia memberi tanda kepada dua gadis teman seusianya.
Lalu ketiga perawan itu mengangkat dua tangan ke atas sambil berseru “Jou langate, Jou langate, Jou langate mfiyele ponnewol tifatu[1]”.
Kalimat itu diucapkan berulang-ulang dengan suara sahdu memohon kebenaran dan keadilan diturunkan ke dalam borfakalak. Satu demi satu akhirnya seluruh warga baik yang di serambi maupun pekarangan sama-sama mengulang kalimat memohon itu.
Suasana sahdu dan bernuansa magis.
Semua orang merasa wibawa borfakalak terpancar dari serambi rumah Karapu, kewibawaan yang menggentarkan siapa saja yang menyaksikan. Orang-orang yang belum pernah menyaksikan borfakalak terpesona dan terpaku di tempat, mereka yang pernah menyaksikan borfakalak beberapa waktu lalu di Waijoi, atau di kampung pesisir lain merasa kagum kepada Mabungkas, sang kapitan hukum adat.
Selesai upara sakral itu, Mabungkas mengangkat tangan. “Semua orang yang bersaksi wajib memegang Al-Quran sambil mengucap sumpah hanya menceritakan kebenaran dan tidak akan berbohong. Orang itu tidak harus Islam, boleh saja tidak bertuhan, atau nasrani atau menyembah setan berhala.”
Dia melanjutkan. “Sumpah itu sangat berat. Pernah kejadian, seorang berbohong dalam borfakalak. Dia sakit-sakitan, tubuhnya kurus tinggal kulit pembalut tulang, sebelum mati dia mengaku sakitnya akibat telah berbohong dalam borfakalak.”
“Tuhan Penguasa Alam akan menurunkan bencana kepada yang berbohong. Siksaan baginya ketika hidup atau setelah mati. Kuingatkan kepada kalian untuk jujur dan tidak takut menceritakan kebenaran.” Tutur Mabungkas.
Suasana hening beberapa saat. Kemudian Mabungkas memecah keheningan dengan suaranya yang serak. “Borfakalak telah resmi dibuka.”
Pada saat itulah Karin berdiri dan mengangkat tangan. Kecantikan isteri Kalai ini sangat memesona, cantik dan seksi. Dia mengenakan celana panjang dan kebaya panjang sebatas lutut, semua serba putih. Rambutnya yang coklat pirang ditutup kerudung putih.
“Kapitan adat, mohon maaf, borfakalak kita muliakan, seyogyanya penuntut juga harus orang yang pantas dihormati. Jangu masih punya hutang moral kepadaku. Sebelum melunasi hutang moralnya dia tidak pantas jadi penuntut dan tidak layak hadir di sini. Aku akan mengusirnya seperti mengusir anjing.”
Karin tersenyum mengejek menatap Jangu yang parasnya pucat bagaikan kapas.
Mabungkas bertanya. “Katakan maksudmu Karin.”
“Jangu harus membayar hutangnya kepadaku, jongkok di hadapan kakiku dan minta maaf dengan suara keras sehingga didengar semua orang. Seorang petarung tidak layak disebut petarung jika berhutang moral kepada seorang wanita akibat perbuatan melecehkan wanita itu yang adalah istri orang.” Karin mendesak dengan ketegasan. “Kalau Jangu pengecut tidak mau membayar hutangnya, aku minta warga mengusir dia dari kampung Waijoi. Itulah ganjaran bagi laki-laki yang mengganggu istri orang.”
Keberanian dan kepintaran bicara Karin mencengangkan banyak orang.
Dalam sekian detik Jangu berpikir. Dalam borfakalak ini dia bisa membuat Kalai kena hukum adat dan dikucilkan di hutan. Dia yakin Kalai bersalah, beberapa kali dia melihat Ramebete membawa makanan pagi dan siang untuk Kalai waktu perbaikan masjid. Keduanya ngobrol akrab. Pasti obrolan asmara.
Dia akan membuktikan Kalai pembunuh, penculik dan pemerkosa sehingga diusir ke hutan. Lalu dia menyewa belasan petarung bayaran memburu dan membunuh Kalai. Maka Karin akan sendirian dan dia akan merebut Karin.
Jangu terserang penyakit asmara akut. Setiap memandang kecantikan Karin, pikirannya kalut. Setiap malam dia membayang paras dan tubuh wanita Lingon itu. Dia tergila-gila kecantikan Karin dan bertekad harus mendapatkannya. Sihir yang ditebar ke badan Karin, nyatanya membal dan kembali ke dirinya. Kini dia semakin tergila-gila kepada istri Kalai.
Tidak berpikir panjang lagi, Jangu maju menghampiri Karin, berjongkok. Tapi sebelum dia mengucap permohonan maaf, Karin menegurnya.
“Ulangi kata-kataku, katakan : wahai putri Lingon, wahai isteri Kalai, aku Jangu mohon ampunan karena telah melakukan kesalahan kepadamu, ampuni aku.”
Warga bereaksi dengan bermacam komentar. Sebagian besar tertawa geli.
Jangu jongkok di hadapan kaki Karin, menengadah memandang kecantikan yang dia mimpikan setiap malam, yang membuat dia rela mati mendapatkannya. Kecantikan itu telah mematikan akal sehatnya. Tanpa malu dia meniru ucapan Karin.
“Wahai putri Lingon, wahai isteri Kalai, aku Jangu mohon ampunan karena telah melakukan kesalahan kepadamu, ampuni aku.” Wajah Jangu merah padam macam kepiting direbus.
Karin tersenyum puas. “Pak kapitan adat, laki-laki ini telah melunasi hutangnya.”
Hampir semua orang tertawa menyaksikan adegan konyol itu.
Jangu mendengar tertawaan orang, namun tidak perduli. Pikirannya hanya tertuju cara menyingkirkan Kalai dan mendapatkan wanita idamannya. “Karin ... kurangajar kamu permalukan calon suamimu..... ingat Karin .... aku pasti mendapatkan dirimu sebagai isteri. Di luar kamu menolak bahkan marah, tapi dalam hatimu kamu menanti kedatanganku. Sihir dukun Tobelo tak ada penangkalnya, sihir itu masih menguasai jiwamu. Aku tahu itu.”
( Bersambung eps 40 )
[1] Jou Langate, mfiyele ponnewol tifatu : Wahai Tuhan Penguasa Langit turunkanlah kebenaran dari langit.
Comments







