Lingon Togutil eps 38

Posted on 20 September 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 38

Di rumah Karapu.

Seruni memaksa putrinya makan. “Bete, kamu harus makan banyak.”

            Ramebete makan sambil menangis, menutur pengalamannya.

            Karapu dan Seruni mendengar dengan terharu.

            “Fitnah beredar bahwa kamu dilarikan Kalai. Kalian berzina.” Karapu sangat berhati-hati. “Ceritakan, anakku, apa pun yang terjadi, ayahmu akan membela kamu, tidak kubiarkan orang menyakiti putriku.”

            “Tidak ayah! Kalai laki-laki sejati, bukan dia yang menculik aku tetapi Tabale. Dan Kalai yang berjuang bertarung hidup  mati menolong aku. Selama itu Kalai tidak pernah meniduri aku. Kami tidak berzina, ayah.”

            “Tabale …! Kubunuh kamu..!”

            “Dia sudah mati. Kalai membunuhnya.” Ramebete menutur singkat.

            Karapu terperangah berita mengejutkan itu. “Tabale mati? Kalai yang membunuh dia? Bete, benarkah ceritamu?”

            “Benar ayah. Aku melihat dengan mata kepala sendiri, mereka tarung mati hidup sampai akhirnya tombak Kalai menghabisi nyawa penjahat biadab itu.”

            “Apakah dia memerkosa kamu?” Desak Seruni.

            Ramebete menggeleng. “Tidak ibu, dia tak punya kesempatan. Dia berlari sambil memanggul aku, Kalai mengejar dalam jarak rapat. Dia berhenti Kalai juga berhenti, dia lari Kalai ikut mengejar. Sampai akhirnya terjadi tarung dan penjahat itu mati terbunuh, aku hutang nyawa pada Kalai.”

            “Benar. Jasa Kalai sungguh besar, kita sekeluarga berhutang budi kepadanya.” Ujar Karapu haru.

            “Selama berdua Kalai, apakah kalian berzina?” Desak Seruni mengulang pertanyaan suaminya. Baginya itu persoalan sangat penting.

            “Demi Tuhan, kami tidak berzina. Lagipula tidak mungkin bisa berzina, Kalai luka parah, lukanya disekitar perut, tak mungkin bisa berzina.” Tutur Ramebete. “Dia  laki-laki sejati, dia hanya memikirkan istrinya. Karin sungguh beruntung mendapatkan Kalai sebagai suami.”       

“Jadi kalian tidak berzina, syukurlah. Tadinya ayah dan ibu sangat terpukul, kami tak punya daya membantah. Warga menyebar fitnah kalian berzina. Fitnah itu sangat kejam!” Kata Seruni geram. “Ayahmu sudah belanjakan banyak uang untuk perbaikan masjid dan pagar desa, tetapi warga membalas dengan fitnahan tanpa bukti.”

Pagi hari warga mulai mendatangi rumah kepala kampung. Mereka memilih tempat strategi di pekarangan kemudian menunggu sambil ngobrol. Mereka ingin tahu bagaimana Karapu dan para tetua menyelesaikan perkara.

            Di serambi rumah tampak Karapu duduk berunding dengan Tutumole, ustad Harun dan Mabungkas. Hadir juga dua tokoh tua, Malegaso dan Godangos yang usianya  hampir tujuhpuluhan.

            Makin lama makin banyak warga memenuhi pekarangan. Suara percakapan simpang siur, orang-orang berebut bicara, tak ada yang bersedia mendengar. Mereka mengajukan pendapat dan memaksa lawan bicara mendengar.  

Mereka ingin tahu jawaban misteri matinya Tude dan Ragota serta hilangnya Ramebete dan Kalai selama lebih dari satu bulan. Spekulasi dan gosip mengalahkan akal sehat, menuduh Kalai pembunuh dan penculik serta berzina dengan Ramabete.

            Karapu menyuruh Sorofok memimpin pengawal keamanan desa  memanggil Kalai. Agak lama kemudian rombongan Kalai datang. Mereka melangkah tegar memasuki pekarangan.

            Gamcako, petarung Utara ini melangkah dengan golok terhunus. Di belakangnya Kalai dan Karin diapit Kipatoma dan Korako. Diikuti Maisani, Ayati dan Getenpiri. Hari itu Getenpiri minta ijin kepada Karapu untuk mendampingi keluarganya.

            Sorofok dan pengawal keamanan menyuruh warga membuka jalan. Tampak wajah Kalai dan rombongan tegang.

            Terdengar suara makian dan hujatan ditujukan kepada Kalai.

“Pembunuh! Penculik!”

“Bunuh Kalai!”

“Nyawa bayar nyawa!”

Bermacam hujatan dan makian itu membuat telinga Kalai dan rombongan panas, darah mendidih.

“Berani kalian menyentuh anggota keluargaku, kutebas batang lehermu...!” Suara Gamcako keras seiring matanya yang merah berair.

“Tahan diri kalian. Gamcako, kamu pemimpin kami. Tahan dirimu.” Maisani berseru. Suaranya didengar warga sekitar.

            Karapu menyambut di ambang pagar serambi mempersilahkan mereka duduk. Di serambi tidak disediakan kursi, semua duduk di tikar. Muklis mengatur posisi duduk. Para tetua Karapu, Tutumole, Harun, Mabungkas, Malegaso dan Godangos duduk bersandar dinding menghadap warga yang memadati pekarangan.

            Di sisi kiri tempat para tetua, duduk Kalai, Karin, Maisani, Ramebete dan Seruni. Samping mereka terpisah dekat tangga rumah duduk Kipatoma, Korako dan Gamcako. Ayati si gadis kecil dan Kalid duduk dekat Kipatoma ayahnya.

            Di sisi kanan tempat para tetua, duduk suami isteri Lakopar dan Sasati, Dubudeng, Tofor, Jangu, Boki dan Fiyel. Polon yang beberapa waktu lalu menikahi Fiyel duduk dekat pengantinnya. Inilah kelompok yang menuntut kematian Ragota dan Tude.

Tofor yang tak punya hubungan dengan dua korban, hadir di kelompok penuntut diajak Jangu yang punya tujuan menghabisi riwayat Kalai. Jangu memberi Tofor tiga keping perak untuk mendukung kata-katanya.

            Empat pengawal keamanan kampung duduk siaga di batas serambi menghadap warga yang berkumpul di pekarangan. Tampaknya Karapu telah mempersiapkan matang untuk mencegah terjadinya keributan.

Kalai berhasil mengendalikan diri menekan emosinya. Dalam saat kritis pikiran harus di atas emosi. Inilah kenyataan, dia harus menerimanya tanpa emosi. Hampir seluruh warga Waijoi menatap garang, wajah-wajah sarat permusuhan dan kebencian.

            Karin meremas tangan suaminya. “Aku akan membela kamu.” Bisiknya. “Mati dan hidup kita bersama.”

            “Kamu banyak mengeluarkan tenaga untuk aku.” Bisik Kalai.

            “Cintaku padamu lebih besar dari gunung Watowato.” Bisik Karin tersenyum.

            Suasana di pekarangan makin hangat. Teriakan menghujat Kalai mulai terdengar, ada beberapa orang yang memprovokasi membakar amarah warga.

Karapu mengangkat tangannya. “Tenang, tenang dulu…, aku hendak bicara.” Setelah suasana tenang Karapu melanjutkan.

“Aku bicara bukan sebagai Karapu pribadi melainkan sebagai kepala kampung Waijoi. Terimakasih kepada rombongan Kipatoma, Korako, Gamcako, Sousoulol dan Karin yang telah membawa pulang Kalai dan Ramebete. Aku berjanji menyelesaikan perkara matinya Tude dan Ragota. Kuharap bisa selesai dengan memuaskan. Selesai tanpa ada pertumpahan darah.

            Karapu melanjutkan pidato. “Untuk menyelesaikan perkara kuserahkan kepada kapitan adat Mabungkas, Sousoulol, ustad Harun, Godangos dan Malegaso. Masalah keamanan kutangani sendiri, aku harap pertemuan berlangsung tertib dan beradab. Aku akan bertindak tegas kepada siapa pun yang membuat kekacauan.” Karapu duduk. 

            Mabungkas tetap duduk, memandang kelompok kiri dan kanan kemudian ke arah warga di pekarangan. “Perkara yang akan kita putuskan kebenarannya, adalah siapa pembunuh Tude, siapa pembunuh Ragota, siapa penculik Ramebete.”

            Terdengar suara dari kelompok kanan. Jangu mengangkat tangan. “Perkara lain harus dibicarakan adalah apakah Kalai dan Ramebete selama satu bulan tidak melakukan zina? Berzina atau tidak?”

            Pertanyaan itu memancing banyak warga memberi komentar, suasana riuh.

Jangu berbisik kepada Dubudeng.

Dubudeng mengangkat tangan. “Bapak Kapitan, masalah zina harus jelas, karena di belakang hari jika Ramebete hamil dan melahirkan anak, kami keluarga Ragota harus yakin itu anak Ragota.” Dia membungkuk kepada Ramebete dan Seruni. “Maafkan jika pertanyaan ini menyinggung kehormatan Ramebete, tetapi lebih baik sekarang semuanya jelas supaya di belakang hari tidak terjadi fitnah.”

            Ucapan Jangu dan Dubudeng makin menyulut reaksi warga. Berbagai hujatan ditujukan kepada Kalai. Penculik!  Pembunuh! Pemerkosa! Pezina!

            Ramebete marah mendengar kata-kata Dubudeng. “Dubudeng! Kamu telah menghina kehormatanku, anak dalam perutku ini anak Ragota, dia anakku, milik aku. Dia tidak akan memanggil kamu paman, kamu bukan lagi iparku. Kita putus hubungan keluarga. Camkan itu Dubudeng!”

            Seorang lelaki paruh baya, badannya masih kekar, melambai ke arah Ramebete. “Bete kamu tidak sendirian, keluarga suamimu tidak membela kamu, tapi kami akan membela kamu. Hari ini paman membawa limabelas keluarga Mere. Jangan takut! Dubudeng, Jangu dan keluarganya masuk daftar cari keluarga Ramebete. Kita akan menuntut darah mereka sebagai balasan.”

            Ancaman tidak main-main, sangat bersungguh-sungguh. Hampir semua petarung Kao kenal hebatnya para petarung pulau Mere dan Tidore. Beberapa saat suasana hening, seakan ancaman itu masih menggantung di udara.

Mabungkas tidak menduga suasana berubah memanas. 

            Wajah Karapu, Seruni dan Ramebete berseri. “Syukurlah Kakak Rahim datang bersama para sepupu.” Kata Seruni sambil melambai ke arah rombongan pulau Mere. Lalu dia berbisik kepada putrinya. “Kurangajar Sasati, pasti dia yang mengatur Jangu dan Dubudeng. Dia ingin kamu menderita. Perempuan apa dia mempermalukan menantunya? Jika urusan ini selesai, aku akan berhitung dengan dia.”

Karapu tak menduga datangnya keluarga Seruni dari Mere dan Tidore, hatinya lega. Tadinya gundah tak berdaya membela putrinya sebab dia berdiri sebagai kepala kampung. Dia senyum dan memberi isyarat termakasih kepada Rahim kakak iparnya itu. 

Kalai mengerti tujuan Jangu, tuduhan zina itu sangat kejam dan keji. Tetapi dia berusaha keras menekan amarahnya.

Karin meremas tangan suaminya. “Jangu si pengecut melampiaskan dendam kepadamu. Akan kubalas, lihat nanti.”

            Pendapat warga hampir sama, pria dan wanita berkumpul bersama selama satu bulan,  mustahil tidak terjadi zina. Bisik-bisik kian gencar, suasana jadi tidak terkendali.

            Malegaso dan Godangos berembuk dengan Tutumole.

“Dirikan borfakalak![1] Tidak ada jalan lain.” Tukas Godangos kepada Mabungkas.

            Tidak menunda waktu lagi, Mabungkas mengangkat tangan. Warga terdiam. Suasana hening.

            “Kami berlima memutuskan akan mendirikan borfakalak sekarang juga.” Ucapan kapitan adat itu lantang, terdengar seluruh warga.

Warga menyambut antusias. Terdengar bisikan diantara para hadirin.

Mabungkas melanjutkan. “Dengan borfakalak, suatu pengadilan adat yang kita muliakan, aku harap perkara ini selesai dengan terang benderang dan memuaskan.”

Pada masa itu penduduk pesisir Teluk Kao masih memelihara tradisi adat memecahkan perkara yang teramat sulit melalui borfakalak, pengadilan adat yang mengadili perkara-perkara sulit. Tentu saja harus persetujuan kapitan adat dan para tetua kampung. Itu sebab borfakalak jarang ditemui.

            Sesuai tradisi borfakalak didirikan oleh kapitan adat. Mabungkas memanggil Ahmad putra Masinga, Ina putri Masinga yang sudah jadi istri Sousoulol dan Mina putri almarhum kepala kampung Dullah. Dia berbisik kemudian ketiganya meninggalkan ruangan.

            Mabungkas mengangkat tangannya. “Ada syarat utama, harus ada orang yang menuntut dan ada orang yang dituntut. Sekarang silahkan orang yang menuntut berdiri dan menyatakan tuntutannya kepada siapa.”

            “Ini saatnya aku membalas dendam kepada Jangu, mempermalukan dia dalam borfakalak disaksikan banyak orang.” Bisik Karin kepada suaminya.

            Kalai berbisik. “Hati-hati. Kamu punya rencana matang?”

            Karin mengangguk.

            Jangu berdiri sambil mengangkat tangannya. “Aku bersama saudaraku  Dubudeng serta ayah ibu Ragota menuntut Kalai atas tiga perkara. Membunuh Tude, membunuh Ragota dan berzina dengan Ramebete.”

            “Aku menuntut Kalai membunuh Tude dan Ragota.” Tegas Tofor sengit.

            Fiyel isteri Polon berdiri mengangkat tangan. “Aku adik Tude, hanya ingin borfakalak membuka tabir pembunuh kak Tude. Aku tidak punya dendam, karena bagiku membunuh si pembunuh pun tidak akan mengembalikan Tude dalam hidupku.”

            Mabungkas menyatakan borfakalak memenuhi syarat untuk dipentaskan. Saat itu Ahmad, Ina dan Mina datang membawa dua benda yang menjadikan borfakalak sangat dimuliakan dan ditakuti orang.

Sebuah meja kecil setinggi satu meter diletakan di tengah serambi. Dibawah meja ada anglo kecil yang apinya sudah membara. Satu lainnya adalah Al-Quran yang dibungkus kain putih berenda diletak di atas meja yang beralas kain putih berenda.

            Suasana hening.

( Bersambung eps 39 )



[1] Borfakalak :  Pengadilan adat, suatu tradisi adat untuk mencari kebenaran dari suatu perkara yang sulit pemecahannya.

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com