Lingon Togutil eps 37
Posted on 13 September 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 37
Bab Tigabelas
Waijoi Memanas
Satu kilo mendekati kampung Waijoi, Tutumole mengajak rombongan berhenti istirahat. Dia memandang Kipatoma. “Teman-teman, aku punya permohonan.”
“Katakan Sousoulol, aku mendengarkan.” Suara Kipatoma datar.
“Kedatangan Kalai pasti memancing reaksi warga, mereka akan menghujat dan bukan mustahil memancing perkelahian. Aku ingin kalian berjanji tidak memulai keributan dan sebisa mungkin menahan diri. Kuharap kalian sabar menghadapi reaksi warga. Berjanjilah teman-teman.” Tegas Tutumole.
Korako dan Gamcako saling pandang, dua petarung ulung dari Utara itu sama-sama mengangguk kepada Kipatoma. Tanpa ragu sedikit pun Kipatoma mengucap janji.
“Aku dan dua iparku tidak akan memulai keributan, tetapi kami tidak tinggal diam jika ada usaha menyerang Kalai. Kita harap Sousoulol mampu mengatasi warga dan membicarakan perkara ini dengan kepala dingin. Hanya itu janjiku.”
“Itu juga janji kami.” Dua petarung Utara berkata tegas.
“Baik. Kita sepakat. Aku percaya Kalai tidak bersalah. Ada buktinya, luka di perutnya oleh racun senjata Tabale, aku juga melihat mayat Tabale terbunuh dua tombak Kalai. Tetapi warga punya penilaian lain, mereka menuduh Kalai bersalah.” Wajah Tutumole tampak murung. “Tetapi kita harus yakin masalah ini akan selesai tanpa ada yang terluka.”
Tutumole sengaja mengatur perjalanan sedemikian rupa sehingga tiba di kampung pada waktu yang diinginkan. Mereka tiba di Waijoi menjelang sore hari.
Muklis bersama dua temannya menemui Karapu beberapa saat menjelang senja.
“Rombongan Sousoulol berada setengah kilo dari desa. Mereka membawa Kalai dan putrimu. Apa yang harus kita lakukan? Warga mungkin akan bertindak kasar dan bukan mustahil pecah pertarungan.” Kata Muklis dengan nafas terengah-engah.
Karapu menggeleng-geleng kepala mengusir mabuk saguer yang tersisa.
“Pendamping Kalai semuanya petarung ulung. Kipatoma, Gamcako dan Korako mereka bertiga pendiam namun sebenarnya temperamen. Jika warga menyerang, mereka akan membalas tanpa kompromi. Kita harus cegah pertumpahan darah.” Kata Karapu. “Kalian temui Sorofok, Getenpiri, Murutu, Kalara dan Saman katakan aku tunggu mereka di batas desa. Tak ada waktu lagi, cepat kerjakan.”
“Sehebat apa tiga petarung Utara itu?” Mukhlis penasaran.
“Kamu lihat bagaimana Kalai merobohkan Dubudeng dan Jangu? Nah ayah dan dua pamannya jauh lebih tangguh dan kejam dibanding Kalai. Aku kenal Kipatoma ayah Kalai itu, dia handal tangguh dan kejam. Mereka tiga bukan pembunuh bayaran. Mereka mencari nafkah dalam tarung di Tobelo dan Kao, sebagian lawannya adalah petarung Walanda yang tubuh dan kekuatan diatas rata-rata petarung Kao.” Tutur Karapu lalu saat berikut menambah. “Setahuku mereka bertiga veteran perang Rogulamo Jailolo melawan Walanda. Banyak serdadu Walanda mati diujung senjata mereka.”
Mukhlis bertiga menatap takjub sang kepala kampung. “Darimana pak kapala tahu cerita itu, apakah benar kejadiannya?”
“Jangan ragu, kerabat isteriku juga pejuang perang Jailolo, dari mereka aku mendengar kehebatan tiga petarung Utara itu. Sekarang cepat kalian bergerak, kita harus mencegah pertumpahan darah.” Tegas Karapu lantas lari menuju batas desa.
Muklis bertiga berembuk membagi tugas kemudian lari keluar rumah, menyebar, menjalankan perintah Karapu.
Karin melangkah diapit Kalai dan Ramebete di tengah rombongan. Tutumole dan Kipatoma di depan, Korako dan Gamcako di belakang.
Karin memeluk erat lengan suaminya. “Lukamu masih sakit?”
“Sakitnya berkurang. Aku masih mampu tarung.” Bisik Kalai.
Karin tertawa. “Ada ayah, dan paman, kamu tak perlu tarung! Aku juga siap tarung ... hi... hi... hi...”
“Kamu tidak takut, biasanya kamu minta dipeluk karena takut.”
“Itu dulu, sekarang lain, aku berani masuk mitmutum, coba siapa berani masuk lembah angker itu dan siapa yang masuk bisa keluar lagi....” Tegas Karin bangga.
“Kamu isteri istimewa, cantik, pintar dan berani.”
Karin tertawa. “Dan ....?”
“Dan apa?”
“Dan yang mencintai kamu.” Karin memeluk erat lengan suaminya. Ramebete melirik, mendengar dengan getir, ingat dirinya kini janda. Dia merindu Ragota.
Menjelang masuk batas desa, Karapu dan beberapa orang menyongsong. Melihat ayahnya, Ramebete melangkah tertatih-tatih memeluk Karapu.
“Ayah … anakmu … menderita…” Suara isak Ramebete.
Karapu mengelus rambut putrinya. “Syukur kamu selamat, aku dan ibumu tiap hari memikirkan kamu. Sekarang kamu tak perlu takut, ayah dan semua anggota keluarga akan membela dan melindungi kamu.”
Ramebete ganti memeluk ibunya. Seruni menangis melihat tubuh putrinya yang kurus dan wajahnya yang pucat. Dia menuntun putrinya.
“Kakimu luka?” Suara Seruni bergetar haru.
“Terkilir. Tidak begitu parah, hanya kalau berjalan masih terasa ngilu.”
Ayati berlari memeluk Kalai, menyodor tabung bambu ukuran kecil. “Kakak, pesan ibu kamu harus minum ramuan ini.”
Kalai menenggak isi tabung. “Ramuan apa ini, hangat dan pedas.”
“Kata ibu, supaya kamu kuat.”
Dibatas desa warga berjajar berdesakan tanpa sengaja menutup jalan. Tampak antara lain Jangu, Dubudeng, Lakopar, Tofor dan wajah-wajah yang tidak dikenal Karin.
Tampak juga Bido, Ina, Mikala dan Katina.
Karin gembira melihat kerabatnya. Dia melambai.
Tutumole dan Kipatoma berhenti, sekitar sepuluh meter dari batas desa. Karapu maju beberapa langkah mendekat warga penghadang.
“Kalian semua pulanglah. Tidak lama lagi magrib, waktunya sembahyang. Biarkan orang-orang ini istirahat, besok akan kuselesaikan perkara ini.” Suara Karapu keras karena ditujukan kepada semua warga yang menghadang.
“Aku menuntut darah Ragota, mana Kalai jangan sembunyi.” Tegas Dubudeng.
Jangu melangkah menghampiri Dubudeng, diikuti Lakopar dan istrinya Sasati, serta Tofor dan pasangan pengantin baru Polon dan Fiyel. Beberapa lelaki bergerombol di belakang Jangu. Mereka petarung bayaran yang diundang Jangu. Mereka menggenggam pedang atau golok dengan wajah beringas.
“Bunuh Kalai!” Seru seorang petarung. Seruan itu diikuti teriakan orang-orang. “Bunuh Kalai! Kalai pembunuh! Kalai penculik wanita!”
Suasana cepat memanas.
Melihat suasana yang mengancam Kalai, tanpa ragu Kipatoma, Gamcako dan Korako melangkah menghadang di depan rombongan, pedang panjang ditancap di tanah. “Coba maju selangkah lagi, pedang ini akan menebas lehermu. Sudah banyak serdadu Walanda mati kubunuh. Hari ini aku akan buka pantangan membunuh lagi.” Suara Gamcako datar, dingin menembus gendang telinga semua orang yang hadir.
“Aku Kipatoma, dua iparku Gamcako dan Korako, kami orang Utara tak pernah mengusik kalian di Selatan, tetapi jika putraku terancam aku tak segan membunuh.”
“Kami tak berurusan dengan kalian, kami mau Kalai bertanggungjawab darah saudara kami.” Seru Dubudeng.
Sebelum Kipatoma menyahut, Karin menjawab lantang. “Kalai tidak pandai bicara, tidak pandai menari tapi dia sangat mahir memukul, biar aku mewakili suamiku bicara dengan kamu.”
Dubudeng membentak. “Diam kamu! Aku bicara dengan Kalai.”
“Aku juru bicara suamiku. Bicaralah dengan aku!” Karin tak mau mengalah. “Kamu lebih aman bicara dengan aku karena aku tak pandai memukul, bicara dengan Kalai kamu akan menelan malu lagi, apakah kamu mau dihajar Kalai sampai berdarah-darah lagi seperti malam itu? Mau kamu?”
Tidak semua warga datang hendak menghukum Kalai, sebagian ingin menonton keramaian dan akhir perkara menghebohkan itu. Mereka tertawa mendengar debat Dubudeng dengan Karin.
“Aku tak mau debat dengan wanita. Mana Kalai, jangan sembunyi di belakang isterimu.” Seru Dubudeng.
“Kalai tidak perlu sembunyi, Kalai pernah memukul kamu sampai melata di tanah, dia akan memukul kamu lagi dan kali ini lebih parah, mungkin kamu akan cacat, jadi mengapa Kalai harus sembunyi?” Karin berseru lantang.
Dubudeng tersudut, kalah bicara. Marahnya menjadi-jadi.
“Kita bunuh Kalai!” Kata Dubudeng kepada Jangu.
Suasana makin memanas. Dua pihak sudah menggenggam pedang dan golok. Tetapi sebelum pecah tarung berdarah, Karapu menengahi. “Dubudeng, sudah kukatakan tadi, sekarang hari istirahat, besok akan kuselesaikan perkara ini.”
Sousoulol Tutumole maju mendamping Karapu, menghadang di antara dua kubu. “Aku tidak memihak siapapun, aku Sousoulol Tanjung Lelai hanya ingin mengamankan kampung Waijoi dari pertarungan berdarah. Siapa diantara kalian yang memulai tarung akan berhadapan dengan pedangku.” Tutumole mengacung pedang panjang.
Warga melihat pedang panjang Sousoulol, senjata yang sangat ditakuti. Entah berapa banyak petarung yang mati ditebas pedang panjang Sousoulol. Air muka Tutumole tampak kaku dan dingin.
“Baik aku patuh pada kata-kata kepala kampung. Besok pagi kamu akan memutus perkara ini? Dimana tempatnya?” Dubudeng mendesak, nadanya penuh ancaman.
“Besok pagi di rumahku. Sekarang kalian bubar, kembali ke rumah.”
Karapu, Sorofok dan petugas desa mengawal rombongan. Karapu menyuruh Sorofok, Getenpiri, Kalara, Murutu mengawal rumah dimana keluarga Kalai nginap.
“Untuk apa kami dijaga? Kami tidak akan lari.” Tegas Kipatoma, kesal.
“Aku tak mau ada warga yang membangkang dan mengacau di rumahmu, kalau itu terjadi aku perlu saksi orang netral. Keadaan memanas, kuharap kalian tidak salah mengerti.” Tutur Karapu.
Kalai menukas. “Ayah. Maksud kepala kampung sangat bijak. Kupikir memang ada beberapa warga yang mau menyulut pertarungan dan akan menimpakan kesalahan kepada kita sekeluarga. Adanya saksi netral, kita aman.”
Karapu menoleh kepada Saman dan Muklis. “Ajak temanmu yang lain mengawal rumahku, panggil juga Mutu dan Gamuk, kalian harus berjaga-jaga karena Ramebete nginap di rumahku. Aku tak mau terjadi sesuatu.”
Maisani memeluk Kalai dan Karin. Melihat kondisi tubuh Kalai, dia menangis. “Kamu kurus, kata ayah lukamu parah. Perlihatkan lukamu, Ibu lihat.”
Kalai memperlihatkan lengan kanannya dan menunjuk perutnya. Maisani melepas stagen yang membalut. Ada bekas bubuk obat. “Ramuan siapa?” Maisani bertanya.
“Sousoulol Tutumole, ramuan diperoleh Karin dengan ilmu famtili kemudian Sousoulol yang meracik. Sudah mulai sembuh.” Tutur Kalai. “Karin telah menolong aku, mengeluarkan dari lembah setan dan menyembuhkan luka.”
“Setahuku tidak ada lagi orang yang menguasai ilmu famtili, isterimu benar-benar istimewa.” Maisani memandang Karin. “Bisa masuk dan keluar dengan selamat dari lembah Mitmutum sungguh keajaiban, menguasai ilmu famtili juga keajaiban.”
Karin memeluk Maisani. “Seperti katamu Ibu, modalku hanya fokus kepada Kalai, seluruh cintaku, jiwa dan raga kupasrahkan untuk menolong suamiku. Adapun ilmu famtili kuperoleh karena takdir mempertemukan aku dengan Tetetua.”
Maisani tersenyum. “Peruntunganmu mujur anakku.”
“Ibu, saat menghadapi kesulitan di Mitmutum aku telah bersumpah, jika berhasil menolong suamiku keluar dari Mitmutum, aku akan bersungguh-sungguh menyembah Tuhanmu. Aku akan rajin belajar.”
Maisani tersenyum, memeluk menantunya dengan sayang. Mengelus rambut dan menciumi paras cantik Karin. Mendadak dia mendorong pelan tubuh menantunya sehingga merenggang.
Lalu dia menatap Karin dengan mimik serius. Tatapannya tajam. Dia memegang pipi dan meraba kening Karin, meraba pinggang dan perutnya, memutar badan dan menepuk pantat menantunya.
Semua di ruangan heran melihat tingkah laku Maisani.
“Nak, kamu hamil.” Kata Maisani.
“Benar Ibu. Aku sudah merasa hamil. Tapi masih ragu-ragu.”
Maisani menarik tangan menantunya masuk kamar. Mengunci dari dalam. Tak lama kemudian dua wanita itu keluar dari kamar. Paras Maisani dan Karin berseri-seri. “Karin hamil. Aku memeriksanya, pasti hamil, masuk dua bulan.”
Berita itu sangat mengejutkan.
Kipatoma kaget. Semua orang di ruangan terkejut.
Mulut Kalai melongo, saat berikut dia teriak. “Benarkah Karin hamil?
“Lai, aku hamil!” Seru Karin.
Tawa gembira meledak di ruangan.
Kalai memeluk Karin. Semua orang mengucap selamat kepada Karin dan Kalai. Malam itu mereka makan bersama dengan penuh kegembiraan dan senda gurau.
Mereka berunding menentukan sikap esok hari di rumah Karapu.
“Banyak warga yang akan menuntut Kalai. Mereka belum tahu duduk perkara dan termakan fitnah. Apa rencana kita?” Kipatoma memandang dua kakak iparnya.
Sejak tahu diri hamil Karin merasa lebih bebas dan tidak malu-malu bicara. “Kalai tidak perlu bicara biar aku menjadi juru bicara. Selama ini aku bersabar, kini saatnya kutumpahkan semua rasa kesalku.”
Semua setuju usulan Karin.
( Bersambung eps 38 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







