Lingon Togutil eps 36
Posted on 13 September 2017 ( 0 comments )
Episode 36
Dua perempuan tidak sadar, tidur pulas selama Tutumole merawat luka Kalai. “Kekhawatiranku terjawab. Luka ini diperolehnya dalam tarung, melawan penculik Ramebete. Luka ini tidak memungkinkan dia meniduri perempuan. Jika benar demikian, maka Kalai tidak mungkin berzina. Tuduhan dia tergila-gila pada Ramebete gugur dengan sendirinya.” Tutur Tutumole sambil tetap mengerjakan ramuan yang dia ambil dari akar dan dedaunan dalam buntalan pakaiannya.
Ramuan ditempel pada luka lalu dibalut dengan stagen baru. Ketika Kalai sadar, Tutumole menyodor ramuan cair untuk diminum.
“Terimakasih telah merawat lukaku, apakah Karin melihat luka ini?” Kalai melirik tandu dimana istrinya tidur pulas.
Kipatoma menyahut. “Tidak, sampai sekarang istrimu dan Ramebete masih pulas. Keduanya letih dan kurang tidur.”
“Pergelangan kaki Ramebete terkilir, aku menolongnya tetapi belum sembuh.” “Apakah kamu meniduri Ramebete?” Kipatoma menatap tajam putranya.
“Lukaku parah, tidak mungkin aku meniduri wanita. Kemampuanku sebagai lelaki telah hilang, ayah ......” Kalai tersenyum pahit.
“Pasti ada obatnya....” Kipatoma menyahut getir.
“Kita juga akan menghadapi masyarakat Waijoi ...” Gerutu Gamcako.
“Kupikir sebaiknya Kalai dan Karin ikut aku ke Utara, tak akan ada yang bisa mencarinya. Berani mendatangi rumahku, kuhajar semua rata tanah.” Tukas Gamcako, dengan suara tinggi bernada geram.
Heran, Kalai menatap pamannya. “Siapa yang mencariku, paman?”
“Orang-orang Waijoi, mereka menuduh kamu membunuh Ragota dan Tude.”
“Aku tidak membunuh mereka. Tabale yang membunuh.”
“Maksudmu Tabale penjahat kejam itu?” Tukas Korako. “Dimana dia?”
Kalai menyahut, suaranya dingin. “Mati! Kubunuh!”
“Kita temukan mayat laki-laki seumuran aku, dua tombak nancap di leher dan dadanya, itu pasti mayat Tabale.” Tutur Gamcako.
“Paman percaya?” Kalai bertanya.
“Sudah tentu aku percaya, kamu petarung sejati. Ceritakan.” Tukas Gamcako.
“Akan kuceritakan sekaligus kepada Karin, biar Ramebete ikut mendengar dia saksi yang menyaksikan kejadian.”
“Kamu tidak perlu kembali ke Waijoi.” Tukas Gamcako. “Kita ke Tutua.”
“Paman, aku harus ke Waijoi, disana ada ibu Maisani, aku tak mau lari, namaku harus kubersihkan, apa pun yang terjadi akan kuhadapi!”
Kipatoma memotong. “Kita hadapi sama-sama, apa yang terjadi terjadilah.”
Selama pembicaraan yang makin sengit, Tutumole hanya mendengar. Dalam hati dia mengkhawatirkan terjadi pertumpahan darah di Waijoi. Dia tahu persis Kipatoma dan dua iparnya adalah petarung handal. Mereka adalah petarung-petarung yang ikut berperang melawan Walanda dalam perang Rogulamo Jailolo. “Jika terjadi tarung akan banyak petarung Waijoi berlumur darah ... dan kemana aku harus berpihak ....?” Pikiran itu membuat Tutumole gundah.
Malam itu mereka menyantap ikan bakar dan ubi liar. Kalai, Ramebete dan Karin makan lahap. Karin duduk merapat suaminya, makan sambil melayani Kalai. Mengambil ikan, kupas ubi dan menuang air untuk suaminya. Suasana hatinya gembira. Dia cerita sebagian pengalaman di lembah angker itu, bagaimana melawan godaan iblis.
“Aku pikir harus menemani kamu masuk Mitmutum, ternyata kamu sendiri masuk dan keluar membawa suamimu dan Ramebete. Rupanya kamu punya ilmu tersembunyi, aku tak tahu seberapa tinggi.” Kipatoma menggoda.
Karin tersipu malu. “Ayah menggoda, aku tak punya ilmu. Bekalku hanya cintaku kepada Kalai, itu senjataku.”
Ramebete dan Kalai heran mendengar mereka hilang selama lebih dari duapuluh hari. Mereka membantah tetapi fakta yang dibeber Tutumole tak bisa dibantah.
“Tidak perlu heran, waktu dan jarak di Mitmutum berbeda dengan alam nyata. Itu alam jin. Di sini satu bulan, di sana mungkin hanya satu hari. Atau sebaliknya.” Tutur Sousoulol.
“Ceritakan apa yang terjadi.” Tegas Kipatoma kepada putranya.
Kalai tidak menjawab melainkan memeluk istrinya, berkata. “Jika tidak kamu tolong, aku pasti mati. Waktu kamu bangunkan aku, itu saat kritis, tenagaku habis.”
“Aku mimpi, kamu terperangkap jaring dan laba-laba raksasa akan memangsa kamu. Terakhir aku mimpi kamu memberi petunjuk wilayah bagian dada Watowato. Itu petunjuk aku menemukan jalan masuk. Kutemukan jaring laba-laba berkilau di malam hari, pasti itulah jalan masuk. Aku masuk dan terjadi percakapan dengan iblis. Dia memasuki pikiranku dan bicara dengan aku, menggoda dengan kemewahan dan kebebasan kamu. Aku tahu itu tipuan, aku tetap berpegang pada cintaku kepadamu sebagaimana pesan ibu Mai, aku yakin cintaku akan menolong kamu.” Karin memeluk lengan suaminya. “Bagaimana cara kamu masuk dalam mimpiku?”
“Tidak tahu. Aku tidak berbuat sesuatu. Aku hanya rindu dan selalu memikirkan kamu, mungkin itu yang membuat kamu mimpi.” Kata Kalai.
“Lai, malam itu apa yang terjadi? Mereka ingin mendengar ceritamu.”
Kalai merenung cukup lama, tampaknya mengingat dan menggali kejadian itu. “Malam itu hujan deras, udara sangat dingin. Aku dan Tude selesai makan. Kami duduk berteduh, hujan mulai reda, masih gerimis kecil. Aku merasa ada yang aneh. Firasatku mengatakan ada musuh menyebar sihir. Aku membangunkan Tude yang sudah dikuasai kantuk. Lalu kami meronda. Aku meronda di tengah desa, Tude di batas desa.”
“Suatu saat aku melihat orang berlari, aku teriak menyuruh berhenti. Dia berlari terus ke arah batas desa. Aku teriak memperingatkan Tude. Jarak aku dengan orang itu cukup jauh, aku mengejar terus. Terdengar teriakan Tude lalu bentrok senjata. Aku tiba di batas desa, Tude tergeletak di tanah. Lehernya nyaris putus, perutnya robek. Tude sekarat, berbisik lemah, orang itu menculik Ramebete, Tude menyuruh aku mengejar. Saat berikut Tude mati. Aku lari mengejar mengikuti teriakan Ramebete.”
“Hari masih malam?” Tutumole bertanya.
“Masih malam, gelap, tapi ada sedikit cahaya bulan. Aku sengaja tidak bersuara, agar musuh tidak tahu aku mengejar. Ramebete sering berteriak, itu membantu aku menemukan arah. Fajar terbit, aku temukan dia sedang duduk istirahat sambil makan. Ramebete diikat tergeletak di dekatnya. Dia perkenalkan diri, namanya Tabale, menyuruh aku pulang memberitahu kepala kampung Karapu agar menemuinya. Aku pernah mendengar nama petarung jahat itu, tetapi tak mungkin aku pulang, apalagi banyak kebaikan pak Karapu kepadaku. Terjadi tarung, aku luka di paha dan lengan. Dia membentak menyuruh aku pulang, mengancam jika tetap mengejar dia akan membunuh Ramebete. Dia lari dengan memanggul Ramebete. Aku tetap mengejar.”
“Tabale punya dendam lama terhadap Karapu. Waktu hari nikah dia datang menemui Karapu. Malamnya Karapu cerita padaku.” Tutur Tutumole.
“Lanjutkan ceritamu?” Potong Kipatoma.
“Satu malam mengejar. Esok siangnya kutemukan dia istirahat dekat sungai. Aku menyerang. Selain pedang, aku punya dua tombak tetapi tak ada kesempatan mengguna. Dia melukai aku, luka gores. Tampaknya dia letih. Karena dia memanggul Ramebete sambil berlari, aku mengejar hanya untuk menjaga jarak. Sengaja membiarkan dia letih. Aku yakin akan membunuhnya tetapi dia mengancam akan membunuh Ramebete. Dia lolos lagi. Aku mengejar.”
“Malamnya aku tetap mengejar, patokan pada teriakan Ramebete. Aku letih dan lapar, begitu juga dia. Dia istirahat aku istirahat. Dia lari aku ikut lari. Siang hari kami tiba di wilayah terbuka. Dia menantang aku tarung sampai mati. Rupanya dia letih dan kesal karena aku mengejar terus.
“Ketika siap tarung, Ramebete lolos dan lari. Kami tarung sengit. Tabale memang hebat. Aku teledor karena terganggu jeritan Ramebete. Karenanya dia melukai lengan kanan dan perutku. Lukaku parah.”
Kalai memperlihatkan lengan kanannya yang robek.
“Tangan kananku lumpuh. Aku tak kuat mengangkat pedang, tapi kusembunyikan
sakitnya, tak mau dia tahu. Tiba-tiba aku ingat tipuan ajaran ayah. Aku mengangkat pedang mengarah kepadanya, tangan kananku gemetar, pura-pura lumpuh. Lengan kiri yang memegang dua tombak meregang ke belakang. Dia tertawa melihat tangan kananku gemetar. Saat itulah aku melepas tombak sekuat tenaga, sasaran leher. Tombak nancap di tenggorokan tembus ke belakang. Matanya melotot. Dia hendak maju ketika tombak lain melesat nancap di dadanya. Dia terhuyung-huyung mundur, jatuh dan mati.” Kalai menatap ayahnya. “Terimakasih ajaran itu ayah.”
“Aku menyaksikan tarung itu dan juga kematian Tabale. Dia yang membunuh suamiku dan menculik aku. Jika tak ada pertolongan Kalai, entah apa jadinya dengan aku. Terimakasihku kepada suamimu Karin.” Ramebete memotong.
Karin memeluk lengan kiri suaminya, mengelus punggung tangan. “Lai apakah kamu meniduri Ramebete?”
Pertanyaan itu mengejutkan semua orang.
Kalai menjawab spontan. “Tidak! Tidak pernah!”
“Lai katakan dengan jujur, kamu meniduri Ramebete?”
Kalai menggeleng. “Tidak!”
Ramebete memotong. “Tidak ada zina. Kami tidak berzina.”
“Aku percaya. Maafkan aku. Aku harus bertanya agar semuanya jelas.” Kata Karin sambil menciumi punggung tangan suaminya.
“Mengapa kamu dan Ramebete masuk lembah Mitmutum?” Desak Kipatoma.
“Kami berdua mencari tempat bermalam. Mendadak saja kami berada di tempat yang pemandangannya indah. Pepohonan buah, macam-macam. Aku ingat cerita paman Gamcako penglihatan kita ditipu iblis. Tidak berhenti di situ saja, iblis terus menggoda kami berdua.”
Ramebete menyambung cerita.
“Kalai memberitahu tentang godaan iblis, wilayah itu dihuni ratusan iblis. Aku memang digoda. Kupikir aku akan gila, hanya tunggu saatnya.” Tutur Ramebete.
Mereka berjalan menuju Waijoi. Malam istirahat. Kipatoma mendirikan gubuk untuk Kalai dan Karin, membiarkan suami istri berbincang. Samar-samar di tengah malam Kipatoma mendengar isak tangis Karin. Seketika dia tahu Kalai telah memperlihatkan luka di perutnya yang memengaruhi kejantanannya.
Benar perkiraan Kipatoma, Kalai memberitahu Karin. Hanya menangis sekejap Karin lalu memeluk suaminya. “Aku tetap mencintaimu, setia padamu. Aku tidak perduli dengan lukamu, aku tetap istrimu yang setia dan tetap cinta kamu...”
Mereka melalui malam di tengah hutan dengan berpelukan. Seperti pengalaman waktu pelarian dari kejaran prajurit Lingon.
Esok paginya saat sarapan, Karin bertanya kepada Tutumole. “Sousoulol kata Kalai kamu tidak bisa menyembuhkan lukanya?”
Tutumole menjelaskan kesulitan melacak racun di senjata Tabale. Apalagi luka telah hampir satu bulan lamanya. Luka telah membusuk.
Karin merenung, pikirannya melayang kepada Tetetua Amtak Calanco. Mendadak timbul keberaniannya mencoba ilmu famtili warisan Tetetua.
“Sousoulol, kamu pernah dengar ilmu famtili?”
“Ilmu itu mungkin telah lenyap dari tanah Kao. Seseorang bisa memanggil roh orang yang telah lama mati dengan tujuan mencari obat penyembuh. Roh masuk dalam tubuhnya dan dia mengucap jenis obat dan cara penyembuhan.” Kata Tutumole singkat.
“Aku menguasai ilmu itu.” Tegas Karin spontan.
Semua yang mendengar terkejut sesaat, terlebih-lebih Kalai.
“Kak Tutu sebutkan nama tokoh berilmu tinggi yang sudah mati, yang hubungannya dengan kamu sangat dekat, dan yakinkan dia akan keluar dari badanku setelah famtili menutur obat dan cara penyembuhan.” Ujar Karin.
“Dia sousoulol guru dari guruku, Haji Ngolopopo.” Ujar Tutumole.
Karin berdua Tutumole mengumpulkan rempah dari berbagai daun dan akar, menumbuk dan merebus. Karin minum ramuan cair. Sebagian rempah dikumpulkan dalam api unggun. Kemudian Karin mengipas mengasapi badannya sambil berbisik dalam hati mantra yang diajarkan Amtak Calanco dan menyebut nama Haji Ngolopopo.
Selama proses itu Karin duduk sila memejam mata. Ketika tirai matanya terbuka, tampak sorot mata yang tajam berwibawa. Karin berdiri memandang dan meneliti para petarung. Matanya liar, gerak tubuh dan tangan seperti orang hilang ingatan. Dia berkata-kata dalam bahasa Togutil. “Mau apa kamu memanggil aku. Aku sousoulol Ngolopopo tidak seorang pun berani menantang aku.”
Sebagaimana petunjuk Karin sebelumnya, Tutumole bertanya cara penyembuhan sambil memperlihatkan luka Kalai.
Karin yang dirasuki roh haji Ngolopopo mencak-mencak dan bicara dalam bahasa Togutil, bicaranya cepat sambung menyambung tak pernah berhenti diselingi pekik amarah dan gerak tangan yang agresif. Karin kesurupan.
Karin menghampiri Kalai kemudian melepas stagen pembalut dan menyeka luka. Gerakannya kasar membuat Kalai teriak-teriak kesakitan. Dia mengulang beberapa kali membersihkan nanah dan darah kental. Dia menyebut nama beberapa daun dan akar serta bisa ular bingbongol[1].
Tutumole bertanya, Karin menjawab. Selesai memberitahu cara penyembuhan, Karin pingsan. Kali ini agak lama, membuat semua orang khawatir.
Saat sadar Karin spontan bertanya kepada Tutumole. “Kak Tutu, sudah tahu cara penyembuhan?”
Sousoulol tersenyum. “Luar biasa. Tak kusangka bisa ular bingbongol menjadi penyembuh.” Diam sesaat lalu bertanya kepada Kalai. “Bisa ular itu mematikan, apakah kamu bersedia minum ramuan yang bercampur bisa ular itu?”
Kalai memandang Karin. “Aku percaya akan penyembuhannya.”
Tutumole meracik obat. Dua macam, cairan untuk diminum dan bubuk untuk membalur luka. “Lukamu akan sembuh dalam waktu satu sampai dua minggu. Tetapi bekas luka bisa lebih lama.” Tuturnya.
( Bersambung eps 37 )
[1] Ular Bingbongol : Bingbongol artinya kuning, ular paling berbisa dan mematikan di hutan Kao, warna kulitnya kuning dengan lingkaran hitam.
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







