Lingon Togutil eps 35
Posted on 04 September 2017 ( 0 comments )
Episode 35
“Aku tidak takut!” Serunya.
Gagah berani dia melangkah panjang masuk menerobos jaring laba-laba. Jaring putus dan rusak, detik berikutnya jaring kembali utuh seperti semula. Karin hilang ditelan alam gaib.
Beberapa saat setelah Karin menghilang dalam kerimbunan pohon, Kipatoma sadar bahwa menantunya sendirian di tengah hutan. Tak lama lagi malam akan berlalu. Tanpa sadar Kipatoma teriak memanggil nama menantunya.
“Karin… Karin…dimana kamu…?”
Para petarung lain mengeluh berbarengan.
“Kita seperti disihir, lupa janji menemani Karin. Kita sadar setelah dia pergi.”
Kata Korako memandang rekan-rekannya.
Mereka teriak susul menyusul. “Karin…! Karin…! Karin …!”
Suara panggilan menggema di hutan, dipantul pepohonan lebat. Tidak ada sahutan, hutan tetap membisu. Mereka tidak tahu bahwa Karin tidak mendengar panggilan itu, dia sedang berada dalam lembah gaib, bukan di alam manusia.
“Sousoulol lakukan sesuatu..!” Suara Kipatoma bergetar. Karin hilang, apa yang akan dia katakan kepada Maisani dan Kalai. “Belum juga bertemu Kalai sekarang Karin menghilang.” Gerutunya.
Saat itu Tutumole berdiri diam, membaca ayat-ayat boyemekgiyon dan fokus kepada sosok Karin. Beberapa saat kemudian dia tahu apa yang terjadi. “Tidak bisa melihat Karin, kabut tebal menutup pandanganku. Firasatku Karin telah masuk.”
“Bagaimana dia temukan pintu masuk? Mengapa dia tidak mengajak kita?”
Korako menjawab pertanyaan Gamcako. “Kita semua tahu tekadnya masuk sendirian, tak mau mengajak kita.”
“Apa yang harus kita lakukan?” Kipatoma bertanya dengan nada putus asa.
“Sementara tetap tinggal di sini sambil mencari pintu masuk. Kita tunggu, siapa tahu Karin keluar lagi.” Tutumole mengulang lagi ayat boyemekgiyon mencari pintu masuk, tetapi sia-sia. Dia mengeluh, merasa kalah, dikalahkan sesuatu yang gaib.
Pemandangan indah, pohon aneka warna, kebun bunga, kolam ikan. Angin segar meniup sepoi-sepoi. Pohon mangga yang rimbun, buahnya bergantungan, siap dipetik dan dimakan. Karin memasuki dimensi lain, wilayah alam gaib. Di dunia alam gaib durasi ruang dan waktu berbeda dengan dunia nyata.
“Lihat kerajaanku, kamu bisa menetap di sini, menikmati semua kenikmatan ini. Kamu menjadi bagian dari kekuatanku.” Suara menggelitik pikiran Karin.
Karin berteriak. “Aku tidak butuh milikmu, kembalikan suamiku.”
“Tidak bisa! Suamimu sudah mati, kini tulang-tulangnya dimakan anjing. Kamu sendirian di kerajaanku. Tetapi aku akan mengembalikan suamimu, kuhidupkan dia kembali tapi dengan syarat.”
“Apa syaratmu?”
“Kamu menyembah aku, setiap saat. Kamu budak, aku rajamu, aku tuhanmu.”
“Aku tidak menyembah tuhan, mana mungkin menyembah kamu. Kembalikan suamiku, kembalikan tanpa syarat!”
“Tanpa syarat? Kamu berada dalam genggamanku, tak ada manusia bisa keluar setelah masuk wilayahku, aku penguasa wilayah, jika kamu tidak mau menyembah aku, terpaksa kubunuh.”
Karin berteriak. “Aku tidak akan menyembah kamu. Tidak akan !”
Suara itu masih membujuk dan merayu. Penglihatan Karin dihadapkan pada kursi dan meja berlapis emas, di atas meja terhidang masakan hangat masih mengebulkan asap, buah-buahan anggur dan teko minuman dari emas.
Melihat makanan enak, seketika Karin merasa lapar. Nafsu menggodanya untuk menyerbu duduk di kursi dan menyantap makanan. Tetapi akal sehatnya menentang, “sekali aku makan saat itu juga aku terperangkap”. Terjadi pergulatan dalam dirinya.
Rayuan dan godaan kian gencar. Emas permata, perhiasan wanita yang jauh lebih gemerlap dan indah dibanding miliknya yang dari Spanyol. Busana sutera, warna warni. Pembaringan dari emas dengan kasur empuk dan seprei sutera berlapis-lapis. Aroma bunga yang segar menyeruak lewat hidung menggoda akalnya. Puluhan gadis cantik berbusana aneka warna berbaring di tempat tidur emas, saling memijit dan menyisir rambut rekannya.
“Mereka semua pelayan yang akan melayani kamu. Mereka akan memenuhi semua permintaan dan perintahmu. Kamu ibarat permaisuri di kerajaanku. Aku rajamu. Kamu hanya perlu menjadi hambaku, mengakui aku sebagai raja dan tuhanmu. Itu syaratnya, semua gadis itu telah mengakui aku sebagai tuhan dan sebagai imbalan mereka memperoleh kesenangan dan kenikmatan.” Tutur suara itu.
Cukup lama pergulatan antara godaan dan penolakan. Karin bahkan menangis dihadapkan ancaman kematian.
“Kamu boleh pilih, mau surga ikut aku, sembahlah aku. Mau neraka, kubakar kamu hidup-hidup tetapi sebelum itu kamu harus menyaksikan suamimu kubakar.”
Karin keras kepala, semakin didesak, semakin dia menolak keras. Pikirannya kalut, takut menghadapi ancaman, suaminya mati dibakar dan dia juga mati dibakar. Pikirannya goyah.
“Kubunuh kamu, dagingmu kuberikan pada anjing, tulang-tulangmu jadi pupuk tanaman di kebun bunga, kuberi kesempatan terakhir bagimu, terima tawaranku dan menyembah aku atau kamu kubunuh, silahkan pilih!”
“Bunuh aku. Aku tidak takut mati. Mana kematian itu? Kalau kematian punya jantung, akan kukorek kumakan jantungnya. Akan kubunuh kematian itu.” Tegas Karin.
“Kuhidupkan kekasihmu, asalkan kamu buang cintamu, bakar cintamu dan katakan kamu tidak mencintai suamimu lagi karena dia telah berkhianat. Dia bercinta dengan wanita itu, hidup bagaikan pengantin baru, penuh nafsu dan cinta membara. Katakan kamu mencintai aku, menjadikan aku tuhanmu, sembahlah aku.”
“Kamu bodoh. Tidakkah kamu tahu bahwa aku masuk ke sini dan menyabung nyawa karena cintaku kepada suamiku? Mana mungkin aku membakar cintaku. Tentang wanita itu, aku tidak percaya suamiku selingkuh, aku tidak percaya suamiku melupakan aku, getaran cintanya masih terasa dalam jantungku, kamu pembohong!”
“Kamu berani memaki aku, kubunuh kamu tapi sebelumnya kuperkosa kamu.”
“Lakukan, keluarlah perlihatkan wujudmu, aku tidak takut mati! Mari kita tarung satu lawan satu, aku tidak akan mundur.” Karin berteriak sengit.
“Kuberi kesempatan terakhir, sembahlah aku, jika tidak maka suamimu akan kubakar hidup-hidup, lihat dia!”
Saat itu juga tampak api berkobar seratus meter di depan Karin. Di tengah kobaran api Kalai menjerit-jerit minta tolong.
“Karin tolong aku… tolong aku… Karin tolong…”
Dua tangan Kalai terikat dikait dengan gantungan besi di atas pohon, tubuhnya terayun-ayun. Kobaran api semakin mendekati kaki dan tubuhnya. Sesaat Karin kaget dan lemas, saat berikut pikirannya menegaskan Kalai tak pernah teriak atau menjerit-jerit minta tolong, apa pun deritanya.
Dia tahu karakter suaminya yang menjunjung kehormatan diri. Tak pernah mau minta tolong, tak mau berhutang budi pada orang. Kalai memilih tidur di gubuk reot di tengah hutan katimbang numpang nginap di rumah Tutumole atau rumah Mikala.
Jelas kini, itu bukan pemandangan nyata. Pasti tipuan iblis, seperti yang dikatakan ibu Maisani, melawan iblis harus menggunakan pikiran dan jiwa.
Pikirannya menegaskan pemandangan itu tipuan iblis. Jiwa dan seluruh hidupnya dipertaruhkan untuk suaminya. Tak ada ketakutan secercah pun dalam jiwanya.
Tidak ada waktu untuk pertimbangan.
Karin tidak lagi berpikir. Hati dan jiwanya bicara, “kalau harus mati, matilah dengan keyakinan, mati bersama cinta dalam jiwa, sekali wanita Lingon mencintai laki-laki pilihannya, sampai mati cinta itu tetap bersemi.”
Dia berteriak, suaranya menggugah dedaunan pohon dan rumput basah. “Ibu Mai, katamu aku akan menang jika menggunakan cinta sebagai anak panah dan keyakinan sebagai busur. Aku bersumpah ibu Mai, jika aku dan Kalai selamat keluar dari kerajaan gaib ini, aku akan sungguh-sungguh belajar menyembah tuhanmu.”
Karin hanya butuh keberanian dalam waktu singkat, keberanian menerobos kobaran api. Maka Karin pun melesat, berlari secepatnya menerobos kobaran api menuju tiang gantungan. Menuju Kalai yang tergantung dan terancam terbakar.
Dia berlari sambil menjerit, “Lai aku datang!”
Dia menerobos kobaran api saat bersamaan terdengar suara gelegar membahana seperti ledakan petir. Ledakan beruntun, sambung menyambung. Karin merasa telinganya bagai pecah, jantung berdegup kencang. Panas api membakar tubuhnya.
Tetapi dia tak perduli. Pikirannya berteriak. “Lai, kita mati bersama....!”
Mendadak saja dia tidak merasakan panas. Tidak ada rasa panas. Dia tidak tahu dan tidak sadar berapa lama berlari dan berapa jauh jarak tempuhnya. Bagaikan orang linglung yang baru lolos dari bencana besar, Karin menoleh ke belakang, kobaran api lenyap tak ada bekasnya. Pemandangan kembali ke alam nyata, hutan belantara. Pepohonan dan semak belukar serta tanah yang basah lunak digerus hujan dan embun. Dia terpahna melihat suaminya tergeletak di tanah duapuluh meter di depannya. Lima meter di sisi suaminya, seorang perempuan, Ramebete terbaring pingsan.
Saat itu terdengar suara dalam pikirannya. “Pergilah, cintamu telah meloloskan suami dan temanmu. Kamu menang. Pergilah.”
Karin memeluk suaminya. “Lai…, bangun Lai… ini aku .... Karin istrimu…” Suaranya bercampur isak, dia menangis karena haru dan gembira.
Kalai membuka mata. Bagaikan linglung dia melihat istrinya. “Benarkah kamu Karin istriku?”
“Benar Lai, aku Karin istrimu…”
“Apakah ini tipuan ...?”
“Ini nyata Lai.... aku Karin istrimu...”
“Kamu datang menolong aku.”
“Kita pulang sekarang. Ayah menunggu di luar.” Lalu Karin menggoyang tubuh Ramebete. “Bangun Bete… kita pulang..”
Karin memapah suaminya. Sedangkan Ramebete bisa berjalan meski terseok-seok dengan bantuan tongkat. Pemandangan indah yang tadi dilihat Karin kini sirna berganti hutan lebat penuh semak berduri.
Satu tangan memapah Kalai, tangan lain menggandeng lengan Ramebete, Karin melangkah tertatih-tatih. Dia letih, tubuhnya lemas, letih dan lapar. Rasanya dia ingin tidur. Godaan itu begitu kuat sehingga hampir-hampir dia kalah.
Dia menjerit keras. “Ayah… ayah… tolong aku…”
Kipatoma dan tiga temannya mendengar, berlari menuju sumber suara.
Kipatoma menyahut keras. “Karin dimana kamu…? Ayah datang menjemput…”
Tidak berapa lama Kipatoma berempat muncul. “Karin kamu berhasil menolong Kalai…” Kipatoma takjub melihat Karin duduk lemas di samping Kalai dan Ramebete yang terbaring di tanah.
“Ayah aku lapar … badanku lemas….” Karin memejam mata.
Kipatoma menyodor ayam bakar ke mulut menantunya. “Dua hari kamu pergi, kami bingung mencari…”
“Dua hari..?” Karin merasa aneh, rasanya dia tidak lama di Mitmutum, hanya satu atau dua jam. “Kalau memang benar dua hari, artinya dua hari tidak makan dan tidak minum, tidak heran jika badanku lemas. Ayah aku tidak kuat jalan.”
Kipatoma tertawa. Adat asli menantunya, suka bermanja, muncul. Artinya Karin dalam keadaan normal. Tidak demikian dengan Kalai dan Ramebete, pikiran keduanya belum normal, masih linglung seperti orang tidak waras.
Empat petarung membuat tiga buah tandu. Setiap petarung menyeret satu tandu. Di atas tandu Karin, Kalai dan Ramebete tidur pulas.
Mereka memilih jalan menyusur tepi sungai. Mudah mencari ikan untuk makan.
“Sousoulol, bagaimana kesehatan Kalai dan Ramebete?” Korako bertanya.
Sejak awal Tutumole dengan ilmu boyemekgiyon telah meneliti kesehatan dua orang itu sekaligus juga Karin. “Mereka sehat. Hanya luka luar. Ramebete terkilir pergelangan kakinya, Kalai luka bagian lengan dan perut. Keduanya lemas karena kurang makan. Karin lemas karena letih dan dua hari tidak makan tidak tidur. Kita paksa mereka makan banyak, kita juga tidak perlu bergegas tiba di kampung.”
Tutumole melepas stagen yang melilit luka di bagian perut Kalai, dia terkejut. Luka lebar menganga di bawah pusar, penuh nanah dan darah kental.
“Lukanya parah!” Suara Tutumole bergetar. “Telah membusuk!”
Mereka mengelilingi Kalai menatap luka mengerikan itu.
“Bagaimana mungkin dia masih hidup? Ini racun paling mematikan, biasanya orang hanya bertahan paling lama satu pekan. Sungguh daya tahan tubuhnya luar biasa.” Tutur Tutumole.
“Bisa kamu sembuhkan?” Kipatoma memotong.
Tutumole menggeleng. “Racun campuran dari beberapa racun binatang, aku tidak tahu jenis racunnya. Aku hanya bisa memperlambat kerja racun.”
( Bersambung eps 36 )
Comments







