Lingon Togutil eps 34

Posted on 02 September 2017 ( 0 comments )


Episode 34

Bab Duabelas

Misteri Mitmutum

Lima orang melakukan perjalanan menuju Timur ke bagian dada Watowato, wilayah yang konon disebut pintu masuk lembah Mitmutum. Namun tak seorang pun antara mereka merasa pasti karena belum pernah merambah lembah angker itu.

            Karin yang ketika berangkat sakit demam, sekarang pulih. Tidak hanya ramuan Maisani yang menyembuhkan, tingginya semangat menemukan kekasihnya merupakan faktor penyembuh dan kekuatan fisiknya.  

Sejak berangkat istri Kalai itu tidak memperlihatkan tanda-tanda lelah. Ketika rombongan istirahat, seakan dia masih punya tenaga cadangan melanjutkan perjalanan. Namun rombongan memutuskan berjalan siang hari, malam istirahat.

            Perjalanan empat siang, mereka tiba di bagian hulu anak sungai Ake Loleba.  “Ini wilayah Utara Watowato kalau tidak salah di bagian perut. Kita istirahat satu hari, selidiki tiap jengkal tanah, barangkali bisa temukan pintu masuk. Jika tidak menemu pintu masuk, kita mendaki ke arah Timur tepat di bagian dada.” Tutur Gamcako yang dipercaya sebagai kepala rombongan. Petarung ini masih ingat perjalanan duapuluh tahun lalu, masih mengenal jalanan menuju wilayah dada Watowato.

            Karin tergolong wanita cerdas. Cepat berpikir, cepat bertindak. Dia pendengar yang baik, telaten mendengar pembicaraan orang.  “Apa maksud pintu masuk? Apakah seperti kampung, ada pintu gerbangnya?” Dia bertanya antusias.

            “Aku hanya tahu istilah pintu masuk, bentuknya bagaimana diluar pengetahuanku sebab duapuluh tahun lalu kami serombongan tidak menemukan gerbang masuk Mitmutum.” Tutur Gamcako.

            “Pintu masuk itu berkaitan dengan alam gaib, jadi mungkin tidak tampak seperti pintu biasanya.” Tutur Tutumole. “Mitmutum penuh rahasia,” Tambahnya.

            Hari menjelang gelap, mereka mendirikan gubuk sederhana tanpa dinding, beratap dedaunan pohon kayu. Alas untuk tidur dari bambu, setengah meter dari tanah, cukup untuk lima orang tidur.

Saat makan malam Kipatoma berkata kepada Tutumole. “Sousoulol, terus terang kami tidak kenal lembah Mitmutum. Ceritakan tentang wilayah angker itu.”

Tutumole menghirup udara dan menghembus lewat hidung. 

“Tidak ada yang tahu pasti lembah Mitmutum, karena selama ini yang masuk tak pernah keluar. Hilang begitu saja. Guruku Sousoulol Masinga tidak pernah masuk,  tetapi Sousoulol Haji Ngolopopo, guru dari Masinga, pernah masuk menolong seorang kerabat dan membawanya keluar. Dia menutur sebagian pengalamannya kepada guru Masinga. Dan guruku menutur kepadaku.” Tutur Tutumole.  

“Wilayah Mitmutum sangat angker. Pepohonan lebat, penuh semak berlukar, udara tipis, dingin dan lembab, membuat orang sulit bernafas. Cahaya matahari seterang apa pun tak bisa menembus padatnya hutan sehingga tanah yang tak pernah disinari matahari tetap lembab, basah dan bau busuk. Seseorang yang ketakutan dan panik akan sulit bernafas. Pintu masuk sulit dilihat mata biasa. Orang tersesat bisa masuk seakan terhisap tenaga gaib, yang punya niat masuk belum tentu bisa.” Dia menambahkan.

Karin merinding tetapi tidak merasa gentar. “Ada rahasia apa dalam lembah?”

“Konon itu wilayah jin, ratusan mungkin ribuan jin dan iblis menghuni wilayah itu, angker dan mematikan.” Tutur Tutumole dengan suara perlahan.

“Bagaimana cara menghadapi mereka, bagaimana cara menolong suamiku?”

“Aku tidak tahu pasti. Biasanya iblis akan merasuk dan mengganggu pikiran kita. Jadi menghadapinya harus dengan kekuatan pikiran dan jiwa. Selain itu kamu harus punya tujuan, dan tujuanmu harus kamu pegang teguh, tak boleh bimbang dan ragu.

Karin merenung. “Aku akan masuk sendirian. Tidak ada yang bisa mencegah aku menolong suamiku, tidak juga pasukan iblis. Kematian dan maut pun akan kutantang.” Tegas Karin. Semangat tarung darah Lingon bergelora dalam tubuhnya.

Para petarung termenung memikir penjelasan Tutumole. Tak ada tanggapan terhadap ketegasan Karin. Tak seorang pun menyatakan mengikuti Karin masuk. Tadinya mereka berpikir akan menghadapi musuh petarung, tetapi dari penjelasan Tutumole, yang dihadapi adalah pasukan iblis yang gaib. Bukan manusia petarung.

Ini pertarungan yang tidak pernah mereka lakoni. Bahkan Tutumole sousoulol yang memiliki ilmu spiritual mumpuni merasa tak mampu.

Malam berlalu begitu saja. Karin tidur di tengah diapit Tutumole dan Kipatoma, Korako dan Gamcako di sisi luar. Mereka menyalakan api unggun di empat penjuru dan bergantian jaga.  

Karin sulit memejam mata. Bayangan Kalai mengaduk-aduk benaknya. Tidak hanya merindu, juga ketakutan akan kehilangan suaminya.

“Lai tolong aku. Kamu selalu menolongku, selalu ada di sisiku pada saat aku butuh pertolongan. Ini saat menentukan hidup mati kita berdua, saat kritis apakah cinta kita akan putus atau bersemi sampai anak cucu kita.” Karin menangis dalam hati.

Dia ingat Tetetua Amtak Calanco. Orangtua itu tak ada lagi. Hari terakhir itu dia tidak menemukan perahunya. Di  rumahnya di atas tebing, Tetetua juga tidak kelihatan. Pesan Amtak Calanco menjadi kenyataan. Kakek tua itu pergi melaut, mendatangi kematian di laut. Dia sedih, tak ada lagi orangtua tempat dia mencurah isi hatinya.

Sesuai ajaran Tetetua, sebelum tidur Karin membaca mantra mafiyel sambil membayang sosok Kalai. Dia mengulang-ulang membaca mantra sampai mengantuk dan tertidur pulas.

Malam itu dia mimpi. “Kalai tergeletak tidak berdaya di bawah pohon besar. Kalai berkata, aku berada di lembah Mitmutum bagian dada Watowato, cepat datang Karin, tenagaku hampir habis. Aku ingin mati di pangkuanmu.

Ketika terjaga, dia tidak menceritakan mimpinya, dia berpikir mencari makna mimpinya. Dia mengagumi ilmu Tetetua.  Tadi malam dia gencar merapal mantra mimpi, jika saat itu Kalai sedang memikirkan dirinya maka dia akan mimpi suaminya.

Ternyata benar.

Kini dia yakin suaminya berada di lembah Mitmutum, di wilayah dada gunung Watowato. Dimana pintu masuknya? Kalai tidak memberitahu. Tetapi dia yakin akan temukan jalan masuk. Cintanya yang akan menemukan jalan masuk. Ilmu woyotincele dari Tetetua akan menemukan pintu gerbang itu, dia yakin bisa melihat hal gaib.

Malam itu memasuki malam ke-enam dalam pencarian Mitmutum. Mereka berkumpul dekat api unggun. Empat api unggun untuk mengusir dingin, kabut dan embun. Tutumole menatap Karin. Matanya tajam mempelajari pikiran istri Kalai.

“Apa tujuanmu masuk Mitmutum?” Tutumole bertanya.

Karin menyahut tegas, tidak ada keraguan sedikit pun. “Menolong suamiku!”

“Kau sudah pikir panjang, kau yakin Kalai ada di dalam? Bagaimana kalau tidak ada dan kamu tidak bertemu suamimu? Kamu akan terkurung selamanya.”

“Aku pasti dengan mata hatiku, cintaku yang bicara bahwa suamiku ada di dalam dan sedang menunggu aku. Kalau gagal, aku tak menyesal. Tanpa Kalai sama saja aku mati, aku rela mati Sousoulol. Dan aku tidak takut mati.”

“Adakah keinginan selain menolong suamimu, mungkin kamu ingin emas perhiasan? Mungkin juga ingin ilmu? Kekuasaan?”

“Tidak ada! Hanya ingin menolong suamiku.”

“Pertahankan itu! Jika kau tergoda keinginan lain, maka kamu pasti akan gagal dan kau terkurung selamanya di lembah itu.”  Ujar Tutumole agak tegang.

“Tidak Sousoulol. Aku tak mau yang lain. Aku ingin Kalai dalam hidupku. Dia mati, aku mati. Apa arti hidupku tanpa Kalai?”

“Jika kamu gagal kamu akan mati, jiwamu mati, tak ada yang bisa menolongmu. Kamu jadi budak iblis, nantinya kamu menjadi iblis. Kamu tak punya kehidupan lagi, kamu tak akan bertemu Kalai atau mertuamu. Belum terlambat untuk membatalkan niatmu, kamu hidup dengan orang-orang yang menyayangi kamu, ayah Kipatoma ibu Maisani, apalagi kamu akan melahirkan anak Kalai, kamu akan jadi ibu. Pikirkan itu Karin!” Tutumole menguji keteguhan pendirian Karin.

“Sousoulol, aku tak perlu berpikir ulang. Aku akan masuk, apa pun resikonya,” Karin menegas tanpa ragu.

“Katamu kamu bermimpi. Apa mimpimu?”

            “Kalai terkurung dalam mitmutum di bagian dada Watowato. Sekarang ini kita berada di bagian dada." Karin berkata sesuai firasatnya. “Pintu masuk pasti sekitar sini!”

            Empat lelaki diam.

            “Bagaimana kamu yakin?” Kipatoma menatap menantunya.

            “Firasatku ayah.”

            “Bagaimana menurutmu Sousoulol?” Tanya Kipatoma.

            Tutumole memandang Karin. “Aku percaya pada Karin.”

            Karin menatap empat lelaki itu. “Ayah dan paman-paman tunggu aku disini. Aku akan berjalan sendiri, mencari pintu masuk. Aku akan masuk ke dalam lembah. Ini tugasku, ini pertarunganku menyelamatkan suamiku.”

Para petarung yang tak pernah bisa diperintah orang, kini mematuhi perintah Karin, perempuan muda yang tak punya pengalaman tarung. Tetapi wanita itu punya hak untuk menentukan langkah dirinya, karena Kalai adalah suaminya.

Sesungguhnya mereka merasa gentar masuk mitmutum, Mereka memikirkan keluarganya, anak istri yang menunggu di rumah. Jika menghadapi sesama petarung mereka tidak ragu-ragu masuk. Tetapi melawan pasukan iblis di kantong permukiman iblis, itulah cerita lain. Mereka akan buang nyawa sia-sia, akan tersandera selamanya.

Karin melangkah terus mencari gerbang lembah misterius itu. Langkahnya tegap seperti juga hatinya yang keras. Dia berputar-putar, tidak tahu arah. Tengah malam segera tiba. Tetapi dia belum temukan jalan masuk.

Karin nelangsa, jatuh terduduk di undukan tanah basah. Dia menangis. Tak ada orang menolongnya. Kalai tidak ada. Tetetua sudah mati. Ibu Maisani jauh di Waijoi, tak ada yang menolongnya. Dia sendirian.

Malam makin larut, sekeliling gelap gulita, bahkan tangan sendiri tidak tampak. Tetapi Karin tidak gentar.

            Perbedaan langit dan bumi dibanding pengalaman dikejar-kejar petarung Lingon. Malam sama kelamnya, gelap gulita, dia seorang diri. Sekarang pun situasi kondisi sama hanya bedanya dulu dia ketakutan, kini tak ada rasa gentar. Semangatnya tetap tinggi, dia ingat petuah Maisani. “Pelihara kekuatan cintamu, itu senjata utama.”

Dia merapal mantra woyotincele sambil melangkah hati-hati dalam kegelapan. Dia mengulang-ulang mantra itu puluhan kali. Sinar rembulan tak sanggup menembus kepadatan pepohonan yang menjulang tinggi. Berjalan cukup lama tiba-tiba ujung matanya menangkap sesuatu yang berkilau, semacam manik-manik yang berpijar.

Dia menghampiri, ternyata jaring laba-laba.

Tidak satu atau dua, sepuluh bahkan belasan melekat membentang dari ranting semak yang satu ke ranting lainnya. Bentangan sekitar dua meter, tampak rapat karena sambung menyambung dan terkait satu dengan yang lain.

Dia ingat beberapa waktu lalu dia mimpi Kalai terikat di jaring, terancam ditelan laba-laba raksasa. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. “Bukan laba-laba yang menjadi intisari mimpi, tetapi jaring. Jaring yang menjadi kunci.”

Mendadak kepalanya seperti disiram air sejuk. Dari jarak dua meter dia menatap jaring. Tampak indah, berkilau bagaikan untaian berlian. Dia tahu berkat mantra ilmu woyotincele ajaran Tetetua sehingga matanya bisa melihat jaring misterius itu. Firasatnya mengatakan dibalik jaring itulah gerbang Mitmutum.

Tetetua juga meyakinkan dia akan bahagia berdua Kalai, punya anak dan hidup bahagia. Tanpa sadar dia mengelus perut seakan bicara dengan putranya. Dia berdiri diam, pikirannya mengembara. Di malam pertama di tengah hutan, Kalai memasuki tubuhnya dan memberinya arti cinta. “Karin aku akan selalu di sisimu, selalu menolongmu, wahai kekasihku.”

Karin menjerit dalam hati. “Dimana kamu Lai, aku butuh pertolongan.”

Terdengar suara dalam pikirannya, seakan berbisik di telinga, serak, parau dan berbau ancaman maut. Sesungguhnya suara itu menerobos pikirannya bukan lewat telinga. Firasatnya mengatakan itu kerja mahluk gaib seperti penuturan Tutumole.

“Masuklah, kubunuh kamu, seperti aku membunuh suamimu! Masuklah, katamu kamu tidak takut, benarkah tidak takut? Kamu perempuan lemah. Tidak berguna!”

Karin diam. Berpikir. “Gunakan perasaan, pusat pada cintaku, cinta kepada Kalai. Dia menyerang pikiran dan jiwaku, aku harus kuat pikiran, jiwa dan cintaku.”

Lalu pikirannya mendengar suara di telinganya. Mirip suara Tetetua.

“Masuklah Karin, temui penguasa wilayah mitmutum, sembahlah dia, maka suamimu akan selamat, masuk Karin, masuk.”

Tetetua sudah mati. Tetapi itu suara Tetetua. Terjadi perdebatan dalam dirinya.

Dia heran mengapa Tetetua menganjur dia menyerah, dan menyembah iblis. Tiba-tiba dia ingat. Selama pergaulan Tetetua tak pernah menyebut namanya, selalu menyebut cucuku. Jadi dia yakin itu bukan bisikan Tetetua.

Karin berseru. “Kamu siapa? Kamu penipu, suara itu bukan suara Tetetua.”

Terdengar suara lagi. “Kekasihmu berkhianat, dia meniduri perempuan Waijoi itu berulang kali, perempuan itu cantik, lebih pandai memikat, lebih mahir bercinta, selalu memuaskan suamimu. Tidak heran suamimu telah melupakan kamu, beranikah kamu masuk? Kamu takut? Katamu kamu tidak takut. Atau kamu takut melihat perempuan itu telah menjadi istri suamimu, mereka tidur berpelukan? Mereka bercinta berulang kali tak pernah puas. Perempuan itu lebih mahir bercinta dibanding kamu, jadi tidak heran suamimu melupakan kamu,. Berani kamu masuk?.

Darah Karin menggelegak, amarah membakar pikirannya. Dia tidak marah kepada suaminya, dia tahu tidak akan pernah Kalai berpaling dari dirinya. Kalai tetap setia sebagaimana dia setia kepadanya. Tetapi dia marah terhadap keadaan, dan kemarahan itu membakar semangatnya.

“Aku tidak takut!” Serunya.

( Bersambung eps 35 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com