Lingon Togutil eps 33
Posted on 29 Agustus 2017 ( 0 comments )
Episode 33
“Aku tidak tahu apa itu Mitmutum. Tapi ayah, tadi malam aku bermimpi, Lai terperangkap jaring laba-laba dan seekor laba-laba raksasa mengancam siap melahap. Lai melihat aku dan berkata. Tapi aku tidak mendengar ucapannya, aku menatap gerak mulutnya. Tiba-tiba ada bisikan di telingaku. Tidak jelas apa bisikan itu. Hanya itu mimpiku. Ketika sadar dari mimpi, aku mencoba mengerti apa makna mimpi dan apa yang diucapkan Kalai. Tiba-tiba aku mengerti gerak mulut suamiku. Firasatku mengatakan Kalai mengucap kata Mitmutum. Lai mengatakan dia berada di Mitmutum.”
Semua diam. Cerita yang aneh. Mimpi aneh, kalau benar Karin bermimpi. Mimpi menyimpan kisah misterius. Semua heran, kecuali Maisani yang tahu persis menantunya punya kelebihan soal mimpi.
Karin memecah kesunyian. “Apa itu Mitmutum, apakah suatu tempat? Ataukah laba-laba raksasa itu yang bernama Mitmutum?”
Gamcako kakak tertua Maisani, laki-laki separuh abad bertubuh tinggi langsing bertanya kepada Karin. “Sebelumnya kamu tak pernah mendengar Mitmutum?”
Karin menggeleng. “Tidak, paman.”
“Jadi hanya firasatmu yang mengatakan Kalai mengucap Mitmutum, dan itu terjadi dalam mimpimu?” Desak Gamcako, petarung yang paling dimalui di wilayah Utara. “Sebelum itu kamu tak pernah mendengar Kalai menyebut Mitmutum?”
“Tidak pernah, paman.”
“Sekarang aku yakin Kalai memang berada di Mitmutum, dia terperangkap.” Wajah Gamcako tampak serius dan tegang.
“Paman pernah ke Mitmutum?” Karin memotong dengan penuh harap.
Gamcako menghela nafas kemudian menghembus. “Sekitar duapuluh tahun lalu. Aku masih muda, suka bertualang. Suatu saat di Dodaga beberapa petarung berkumpul di warung minum. Kabar adanya emas perhiasan di Mitmutum. Sembilanbelas petarung berbekal masing-masing menuju Mitmutum.”
“Paman ikut?” Potong Karin.
Gamcako mengangguk. “Aku ikut.”
“Kamu tak pernah cerita kepadaku.” Maisani memotong.
“Cerita itu tidak penting. Tapi sekarang jadi penting.”
“Lanjutkan paman.” Desak Karin.
"Kami tiba di wilayah dada Watowato. Itulah tempat Mitmutum. Konon cerita yang paling bisa dipercaya bahwa untuk masuk Mitmutum harus menemukan pintu masuk semacam gerbang gaib. Pintu yang tidak bisa dilihat mata biasa.”
Suasana di ruangan hening, terpengaruh cerita Gamcako. Karin yang tadinya berdiri sandar di pintu beranjak duduk di samping ibu mertuanya.
“Lanjutkan paman.” Desak Karin.
“Kami berpencar. Semua ingin temukan pintu masuk, ingin sendirian mengambil emas perhiasan. Ternyata kami semua orang-orang serakah. Sungguh memalukan. Kami berkelahi satu sama lain padahal gerbang belum ditemukan. Kami saling bunuh. Sebelas orang mati. Kami sadar tapi sudah terlambat. Tak ada lagi teman, semua saling curiga. Akhirnya kami berdamai. Delapan yang sisa bersama-sama mencari pintu masuk. Sepuluh hari mencari. Satu demi satu teman hilang begitu saja, tak tahu berada dimana. Tinggal hanya aku, Samare dan Kasim. Kami putuskan pulang karena tak mungkin bisa temukan gerbang. Dua temanku itu mati beberapa tahun kemudian. Mati dalam tarung.”
“Bagaimana dengan teman yang hilang?” Getenpiri bertanya.
“Lima hari menunggu akhirnya kami yakin mereka hilang.”
“Hilang kemana?” Karin bertanya.
“Mungkin mereka temukan pintu gerbang, masuk dan tidak keluar lagi.” Ujar Gamcako. “Sungguh memalukan.”
“Paman, sebelum itu apakah paman tahu resiko masuk Mitmutum bahwa siapa yang masuk tak mungkin bisa keluar.” Getenpiri bertanya.
“Hal itu sudah diceritakan di Dodaga sebelum kami berangkat. Tapi kami tidak takut. Bahkan tidak percaya kami sembilanbelas petarung akan dikalahkan penghuni Mitmutum. Kami semua petarung yang dimalui di tanah Kao.”
Karin bangkit melangkah cepat ke kamarnya. Tak lama dia keluar dengan ransel di tangannya. “Ini tas pemberian Lai.”
“Kamu mau kemana?” Suara Kipatoma lembut.
Karin menjawab tegas. “Ke Mitmutum, menolong suamiku! Berangkat sekarang.”
“Tapi kamu sakit, tundalah beberapa hari.”
“Aku tak punya waktu untuk menunggu. Lai butuh aku. Dan aku pergi sekarang. Di tengah jalan aku akan sembuh. Ibu beri aku ramuan penyembuh.”
Maisani menuntun Karin ke kursi. “Duduk disini, ibu akan membuat ramuan.”
“Katamu ada yang berbisik di telingamu?” Kipatoma bertanya.
“Aku tidak kenal, suaranya asing. Mungkin karena ilmu yang diajarkan Tetetua, aku membaca mantranya menjelang tidur dengan niat memasuki mimpi yang aku kehendaki. Aku memanggil suamiku, berulang-ulang sambil membaca mantra. Kata Tetetua, jika Kalai memikirkan aku maka aku bisa bermimpi tentang dia, tetapi kalau dia tidak memikirkan aku atau lupa padaku, maka aku tak akan melihatnya dalam mimpi. Malam pertama dan kedua gagal, aku tidak bermimpi. Kata Tetetua aku harus yakin dan percaya, jadi aku terus membaca mantra di malam ketiga. Malam ketiga itulah aku bermimpi seperti yang kuceritakan tadi.”
Kali ini semua petarung terkejut.
“Mafiyel[1]? Tapi ilmu itu sudah hilang dari tanah Kao, tak ada yang menguasainya lagi.” Tukas Gamcako. “Karin menguasai ilmu itu? Dari mana dia dapatkan? Dari Tetetua? Tapi siapa itu Tetetua?”
“Benar. Memang mafiyel yang diajarkan kepadaku. Ternyata benar-benar ampuh, dan pasti Kalai sedang memikirkan aku, dia pasti rindu istrinya .......” Karin tersedak dengan isak tangis, ingat suaminya. “Lai .... aku ... juga rindu kamu Lai.....”
Sekali lagi semua yang hadir bingung. Mereka bingung akan cerita dan tingkahlaku Karin.
“Siapa Tetetua.” Tak bisa menahan diri Korako bertanya.
“Aku bertemu di pantai, dia menolongku saat seorang petarung hendak menculik aku, Tetetua memukul lelaki itu dengan tongkat seperti memukul anjing. Petarung itu tak mampu mengelak, kesakitan dan menangis. Tetetua menganggap aku cucunya.”
“Siapa dia, tentu dia memberitahu namanya padamu.” Tukas Gamcako.
“Rahasia. Aku tak boleh memberitahu, itu janjiku. Beberapa hari aku bertemu dengan dia di tempat tersembunyi, belajar ilmunya.”
“Oh…oh ...oh...” Korako tidak bisa menduga siapa Tetetua.
“Kamu pergi sendiri menemuinya?” Tanya Gamcako.
“Aku diantar Mikala dan Katina, hanya sampai di tebing, selanjutnya aku berjalan sendiri. Itu perjanjian dengan Tetetua yang tidak mau bertemu orang.”
Karin bangga akan Tetetua. Dia tidak bercerita dua ilmu lain yang diajarkan Tetetua. Ilmu famtili[2] dan woyotincele[3].
Suasana hening dipecah kedatangan Maisani dari dalam kamar.
Maisani menyodor gelas berisi ramuan. “Minum ini.”
Karin menenggak isi gelas. Sekali teguk ludes.
“Kamu tahu dimana Mitmutum? Itu tempat suwanggi[4], hantu, jin, iblis, setan. Tidak ada orang berani masuk.” Kata Maisani lembut. “Masuk bisa, keluar tidak bisa.”
“Aku tidak takut. Akan kulawan. Lai berani pasang nyawa menghadapi Berebere demi menyelamatkan aku, sekarang giliranku. Cintaku akan kupertaruhkan, Lai mati aku juga mati, apalah arti hidupku jika Lai mati, dia cintaku.” Karin menangis. “Ayah tolong antar aku ke Mitmutum, aku sendiri yang masuk. Ini pertarunganku. Aku tidak takut hadapi maut, aku menantang kematian.... Lai mati... aku juga mati...”
Mata Kipatoma berkaca-kaca. “Akan kuantar.”
Korako dan Gamcako berdiri. “Aku ikut!”
Karin melangkah ke pintu, menoleh ke belakang. “Ayah, aku perlu pamitan dengan Bido serta Sousoulol. Aku akan mengajak Sousoulol.”
Tidak berapa lama Karin kembali diikuti Sousoulol Tutumole.
“Aku ikut! Aku tidak mau ketinggalan.” Tutumole tertawa.
Tadi Mikala dan Katina menyatakan ikut tetapi Tutumole melarang. “Kalian bersama Getenpiri sebaiknya menjaga Bido, Maisani dan Ayati, keadaan tidak aman.”
“Aku sudah siap.” Karin mencium tangan Maisani.
Maisani memeluk dan berbisik. “Cintamu akan mengalahkan semua musuhmu.”
“Aku pasti menang. Tapi Ibu juga perlu berdoa minta kepada Tuhanmu supaya aku menang.”
“Akan ibu doakan, anakku.” Kata Maisani haru.
“Kita beritahu Karapu sekalian pamitan.” Kata Kipatoma. “Juga titip menjaga keamanan keluarga kita.”
Beberapa hari belakangan Karapu dalam keadaan tertekan. Untuk menghilangkan kesal dia kembali menggeluti saguer. Sehari dia menghabiskan tiga tabung. Tanpa saguer dia tak bisa tidur. Seruni isterinya tak bisa mencegah, malah merasa kasihan.
Dia memikirkan putri sulungnya Ramebete, dia rindu anaknya itu, setiap hari setiap detik dia membayang paras putrinya. Dia berterimakasih kepada rombongan Kipatoma dan Tutumole yang berjanji akan membawa pulang Kalai dan Ramebete. “Aku tidak bisa ikut, aku harus mengutamakan kepentingan kampung katimbang urusan putriku.” Kata Karapu.
( Bersambung eps 34 )
***
[1] Mafiyel (mimpi): untuk memperoleh mimpi yang diinginkan, dan penglihatan akan hal yang gaib
[2] Famtili : Kesurupan, bicara dalam tidur
[3] Woyotincele : Air mengalir. Sifat bagaikan air mengalir menembus hal-hal gaib.
[4] Suwanggi : jin jahat, iblis jahat.
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







