Lingon Togutil eps 32

Posted on 26 Agustus 2017 ( 0 comments )


Episode 32

Kipatoma yang curiga isterinya belum pulang, khawatir terjadi sesuatu ia pun menyusul ke Waijoi bersama dua kakak iparnya, Korako dan Gamcako. Mereka hanya bertiga namun kedatangannya memicu semangat Maisani dan Karin yang selama beberapa hari gundah menghadapi reaksi warga Waijoi yang makin gencar menuduh Kalai sebagai pembunuh.  Itulah fitnah yang disebar Jangu dan beberapa kawannya. Warga sudah kena virus, sebagian besar telah yakin Kalai bersalah dan harus dihukum berat. Hukum adat!

            Waktu makan malam, Maisani menutur kabar terbaru. “Sekarang hampir semua warga menuduh Kalai sebagai pembunuh. Kemana Karin berjalan, gadis-gadis mengolok dengan sebutan istri pembunuh.

            Karin menambah. “Aku kesal, ingin memukul mereka, tetapi ibu selalu mencegah, menyuruh aku sabar.”

            “Apa yang kamu lihat Maisani?” Gamcako bertanya.

            Maisani menghela nafas. “Kalai tidak bersalah! Penjahat itu membunuh Ragota, menculik Ramebete. Dia lari sambil memanggul Ramebete, Tude menghadang. Tude mati ditebas. Kalai bertarung. Mungkin Kalai mengejar si penjahat. Aku yakin kejadian seperti itu.“ Tutur Maisani. “Tetapi mengapa Kalai menghilang? Aku yakin Kalai masih hidup, tidak mudah mengalahkan anakku itu.“

            “Bagaimana kalau kita masuk hutan mencari Kalai?“ Tegas Gamcako.

            Kipatoma menggeleng. “Banyak orang masuk hutan mencari, tak lama lagi akan  kembali. Kita tunggu hasilnya, dengar cerita mereka. Setelah itu kita tentukan sikap.

Hari sepuluh Katina dan Mikala mengantar Karin ke tebing menemui Tetetua. Lebih empat kali dia menemui orangtua yang mengakuinya sebagai cucu. Mikala suami isteri selalu mengantar, lalu membiarkan dia mencurahkan kekesalan dan isi hatinya kepada orangtua itu. Sore mereka datang menjemput.

            Karin menceritakan kedatangan ayah dan dua paman Kalai serta pembicaraan yang membela Kalai. Tampak Karin bersemangat ketika menutur hadirnya bapak mertua dan dua petarung Utara itu. Sebelumnya dia sangat berduka mengingat makin meluasnya warga yang menuduh suaminya.

            Dia tahu ada beberapa orang yang menyebar isu jahat itu. Sekarang hampir semua warga percaya Kalai yang membunuh Tude dan Ragota. Berbagai spekulasi dan alasan diciptakan untuk mendukung tuduhan.

Maisani melarang Karin bereaksi. “Sekarang belum saatnya, biarkan keadaan berkembang. Nanti ada saatnya kita melawan.” Kata Maisani waktu itu.

            “Mertuamu benar. Sementara ini kamu bersabar, cucuku. Perlawanan makin mempersulit Kalai. Saatnya tiba kamu melawan.” Ujar Tetetua.

            Karin menutur beberapa mimpinya yang menjadi kenyataan meskipun tidak persis sama. Menurut ayahnya, Jakudu, itu bakat sejak kecil. Namun belakangan dia tak pernah lagi bermimpi. Terakhir dia mimpi buruk yang membuat dia menjerit dan terjaga.

Penuturan Karin tentang mimpi mengingatkan Tetetua akan isterinya. Teringat isterinya meninggal di pangkuannya dan dia tidak berdaya menolong. Patah hati mendorong dia mempelajari ilmu. “Jika waktu itu aku menguasai ilmu  pasti bisa menyembuhkan istriku!”

Lamunannya terganggu mendengar isak tertahan. Dia memandang Karin yang merunduk menyembunyikan muka.

“Mengapa? Ada apa cucuku?” Suaranya penuh perhatian.

Karin menggeleng. Tetetua merangkul memegang dagu, mengangkat wajahnya. Mata Karin merah berair, hidungnya kembang kempis menahan tangis.

“Lebih baik mati jika tidak bertemu Kalai. Aku sangat mencintainya.” Tangisnya  pun pecah. “Rombongan pertama kembali tanpa hasil. Tidak ada jejak suamiku.”

“Katamu masih sisa rombongan pencari lain.” Tetetua berusaha menghibur. Dia terharu akan keadaan Karin. “Tunggu saja.”

“Aku ingin mimpi Kalai, tetapi tak pernah mimpi lagi, aku tak berdaya.”

Tetetua menghela nafas. Dia tahu, ajalnya makin dekat sedang ilmu khususnya belum diwariskan. Kini akan dia wariskan kepada Karin.

“Waktu di pantai menolong kamu dari perbuatan lelaki jahat, aku berjanji akan memberimu hadiah, ingat?”

            “Hadiah apa?”

“Aku wariskan ilmu.” Katanya sambil memegang tangan Karin. “Ini ilmu hebat dari Amtak Calanco[1], itu namaku.”

            “Namamu aneh.”

            “Selama ini aku tidak pernah kalah dalam tarung.” Tetetua tersenyum. “Cucuku, mimpimu tajam, itu bakatmu. Tidak banyak orang beruntung seperti kamu. Ilmuku akan meningkatkan kekuatan mimpimu. Sebelum tidur kamu merenung tentang apa yang ingin kamu lihat dalam mimpimu, pusatkan pikiranmu. Baca mantra yang kuajarkan, pasti kamu akan bermimpi, kamu akan dapat petunjuk. Setelah itu terserah pada kecerdasanmu memecahkan arti mimpimu. Ilmu kedua yang kuwariskan untuk menolong orang sakit. Jika kamu tidak tahu penyakitnya, tidak tahu obatnya, maka ilmu famtili[2] sanggup mencarikan jalan penyembuhan. Ilmu ketiga adalah ilmu yang bisa menembus hal-hal  gaib. Tiga ilmu ini harus kamu yakini, percaya dan yakin, tidak boleh ragu.

            Tetetua mengajarkan ilmu famtili. Dia menutur ramuan yang perlu diminum dan campuran rempah yang dibakar dalam anglo.

“Kamu minum air ramuan, bakar rempah-rempah lalu membaca mantra yang kuberikan sambil menyebut nama orang yang kamu panggil. Ruh orang itu akan masuk dalam badanmu, kamu tidak akan sadar tapi kamu akan mengucap ramuan dan cara penyembuhan, setelah itu kamu pingsan dan ruh orang itu keluar. Sebaiknya orang yang kamu panggil bukan orang jahat tetapi orang yang dekat dengan kamu atau dekat dengan orang yang sakit. Harus ada saksi yang mendengar ocehan kamu tentang ramuan penyembuh, sebaiknya orang yang mengerti ramuan.”

Karin memerhatikan dengan serius. Mengingat-ingat daun dan akar untuk meracik ramuan serta menghafal mantra yang harus dibaca. Beberapa kali diulang, sampai dia benar-benar hafal. Karin juga menghafal mantra menajamkan mimpi dan mantra menembus hal-hal gaib.

“Aku sudah mengingat semuanya, Tete.” 

“Suatu hari kelak kamu tidak menemui aku di gubuk ini, juga tidak menemukan perahuku. Itulah saatnya aku melaut, aku ingin mati di laut, tak ada orang yang tahu dan biar ikan memakan jasadku.”

“Tete jangan bicara begitu, aku sedih.” Karin menangis memeluk orangtua itu.

Tangannya yang keriput mengelus rambut pirang yang halus terurai tiupan angin.

“Cucuku, semua manusia harus mati. Sebaik-baik manusia mati jika mewariskan sesuatu kepada orang yang dia cintai. Aku wariskan ilmu famtili padamu, sebagai ganti diriku menjaga kamu dan keluargamu. Setiap kamu gunakan ilmu ini kamu akan mengenang aku. Famtili ilmu langka, warisan tanah leluhur kita, mungkin tidak ada lagi orang menguasainya. Tiap malam kamu mengulang mengingat semua yang kuajarkan.”

            Dua hari Karin mendengar dan mempelajari tiga ilmu ajaran Amtak Calanco.

“Mana Kalai si pembunuh? Mana dia?” Fiyel berteriak sepanjang jalan mengiringi rombongan kedua yang pulang dengan tangan hampa. Semua petarung diam membisu, berjalan lunglai masuk kampung. Mereka kumpul di rumah kepala kampung, melapor kepada Karapu dan tetua kampung.

            Setiap teringat Tude, kakaknya,  dendam Fiyel bergelora. Malam itu dia tak bisa tidur. Dia keluar dan duduk di ambang pintu menatap kegelapan malam. Dia berpikir keras. Masih ada keraguan, walau kabar kian santer pembunuh adalah Kalai. Alasannya karena dendam pada Ragota dan kasmaran akan Ramebete.

“Mengapa dia tidak menginginkan aku, badanku bagus, wajahku cantik, hidungku mancung bagus, itu sebab namaku Fiyel, hanya memang kulitku sawo matang tidak putih seperti Karin. Memang Karin istrinya lebih cantik, telah kukatakan kepadanya aku bersedia jadi istri nomor dua. Tetapi dia menolak. Jikalau saja dia mau maka Tude tentu masih hidup dan aku bahagia jadi istrinya. Aku lebih cantik dari Ramebete mengapa harus menculik Ramebete? Aku bisa memberinya kesenangan, menjadi istri setianya.”  Fiyel menangisi nasibnya.

Fiyel tidak sadar, Boki ibunya, tanpa bersuara telah duduk di sisinya. Orangtua itu memeluk putri kesayangannya. “Kamu menangis, ingat kakakmu?”

Gadis usia sembilanbelas itu makin terisak.

Boki mengelus kepala putrinya yang ditutupi rambut hitam halus sebahu.

“Kita harus sabar, serahkan semua urusan kepada Allah.” Suara Boki penuh haru.

“Ibu…, Tude tidak akan hidup kembali meskipun aku membunuh Kalai atau siapa saja pembunuh kakak. Aku mau melupakan sakit hati ini, tidak ingin balas dendam, tidak ingin menuntut si pembunuh, biar Allah yang menghukum. Kalau itu keputusanku, apakah ibu marah? Apakah ibu ikhlas?” Bisik Fiyel lirih.

Boki menangis, memeluk erat putrinya. “Anakku oh Fiyel… hatimu mulia, kamu tak sanggup membunuh lalat, apalagi membunuh manusia. Ibu rela dengan keputusanmu. Dendam membuat hati kita tidak bersih. Kamu mencintai Kalai?”

Fiyel mengubah posisi duduk, kini berhadapan dengan ibunya. “Sudah selesai Ibu, aku sudah mengatakan cintaku kepadanya, tetapi dia menolak halus, dia laki-laki yang setia kepada satu perempuan, dia setia pada istrinya. Itu sebab aku berpikir dia tak mungkin menculik Ramebete. Aku tidak memikirkan Kalai lagi.”

Boki tersenyum, mengagumi putrinya. “Bagaimana dengan lamaran Polon, ibunya telah bicara dengan ibu, jika kamu setuju mereka akan masuk melamar.”

“Menurut Ibu bagaimana? Ibu suka menantu Polon?”

“Kamu yang kawin, bukan Ibu.”

Fiyel tersenyum, menjawil dagu ibunya. “Tude sudah pergi, sekarang aku sendiri yang harus bahagiakan ibu. Aku mau kawin dengan Polon atau siapa saja, asalkan ibu senang dan bahagia. Dan suamiku harus berjanji akan membahagiakan ibu.

“Polon, masih muda, lima tahun lebih tua dari kamu, tapi sudah matang. Dia rajin bekerja. Juga tampan sepadan dengan kecantikanmu. Dia memperlihatkan perhatian kepada ibu, sebelum masuk hutan dia memberi ibu kalung emas, katanya sebagai sahabat Tude dia akan  menafkahi ibu dan kamu sampai kamu bersuami.” Tutur Boki.

“Kemarin dia melamar aku. Katanya, sejuta cinta dan seribu janji membahagiakan aku dan ibu.”

“Apa jawabmu?” Boki bertanya antusias.

“Kataku, aku akan jadi istri setia. Cepat bawa lamaran.”

“Begitu cepat keputusanmu, apakah kamu menyukai dia?”

“Aku berjanji akan menjadi istri setia dan ibu dari anak-anaknya. Kukira itu  cukup sebagai jaminan, tidak perlu ibu tanya suka atau cinta.”

“Kalau begitu ibu akan mengaturnya.” Tampak wajah Boki berseri-seri. Dia tak mau putrinya larut dalam kesedihan dan melupakan masalah kawin.

“Ibu, aku mau pernikahan sederhana, tak ada pesta. Polon harus hemat. Kalau bisa dalam waktu dekat kami menikah, mungkin besok atau lusa.”

Boki saling pandang dengan putrinya. “Tiga hari lagi kamu menikah, Polon akan jadi suami yang melindungi kamu.” Boki tertawa senang, memeluk putrinya.

Hari tigabelas, pagi hari, rombongan terakhir tiba, juga tanpa hasil. Setelah melapor kepada Karapu, Getenpiri menemui ibu, ayah dan pamannya. “Tidak ada tanda atau jejak. Tak ada mayatnya berarti dia masih hidup. Tetapi kemana dia pergi?” Tutur Getenpiri dengan suara gundah. 

            Karin bersandar di pintu kamar menukas. “Kamu pergi ke Mitmutum[3]?”

            Getenpiri menatap heran kakak iparnya. “Mitmutum?”

            “Ya, Mitmutum.” Tegas Karin.

            Getenpiri menggeleng. “Tidak.”        

            Semua di ruangan menoleh memandang Karin. Sosok cantik dan seksi kini tampak kurus. Mata birunya yang bening tajam kini suram bagai tak punya semangat. Mereka semua heran mendengar Karin menyebut Mitmutum.

“Anakku, kamu tahu Mitmutum?” Kipatoma memandang haru menantunya.  Ada tanda kekhawatiran memandang menantunya. Khawatir terjadi sesuatu dalam diri Karin, mungkin Karin linglung dan terganggu pikirannya.

Mitmutum suatu wilayah di bagian dada gunung Watowato. Hampir semua petarung Kao tahu apa itu Mitmutum, wilayah angker yang tak pernah diceritakan orang. Tidak pernah ada  petarung yang masuk wilayah itu dan keluar dengan selamat. Karenanya cerita tentang wilayah itu sangat langka. Tidak seorang pun tahu.  

( Bersambung eps 33 )



[1] Amtak : Mata saya, mataku. Calanco : Seribu.

[2] Famtili : Memanggil roh orang yang sudah meninggal dunia masuk ke tubuh si pembaca. Semacam jalengkung, boneka, di tanah Jawa, bedanya jalengkung memanggil roh orang mati masuk ke boneka dan boneka itu akan menulis di papan jawaban pertanyaan yang diajukan. Ilmu ini punya kekuatan tentang mimpi, bermimpi untuk melihat seseorang.

[3] Mitmutum: Artinya, hitam, gelap gulita. Suatu tempat angker yang tak pernah dikunjungi orang.


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com