Lingon Togutil eps 31

Posted on 24 Agustus 2017 ( 0 comments )


Episode 31

Upacara sederhana ditutup Karapu. ”Ini bencana kita bersama, menjadi tanggung jawab tiap lelaki Waijoi. Penjahat itu menantang kita. Aku berjanji menyelesaikan perkara ini sampai tuntas. Siang ini aku undang tiap lelaki datang bermusyawarah. Setiap lelaki yang merasa ditantang si pembunuh pasti datang ke rumahku.”

Serambi rumah Karapu tidak sanggup menampung peserta musyawarah, sebagian duduk atau berdiri di pekarangan. Tiga orang tua duduk dekat pintu masuk menghadap keluar, Karapu, Tutumole dan Mabungkas. Sebagai kapitan hukum adat, Mabungkas berhak memutuskan segala sesuatu terkait perkara. Sebelum keputusan final diumumkan akan dirembuk mereka bertiga.

Setiap wajah yang hadir tampak tegang menanti.

Mabungkas menoleh kepada dua tetua yang duduk diam.

“Pertama sekali kita harus tahu, gambaran kejadian semalam. Seperti biasa tiap malam empat lelaki meronda. Tadi malam yang bertugas Tude, Kalai, Polon dan Sabatu. Tude mati, Kalai hilang sehingga yang dapat memberi keterangan saat ini hanya  Polon dan Sabatu.” Suara Mabungkas lantang terdengar semua warga.

Polon lelaki yang tidak tinggi, tubuhnya kurus tapi berotot dengan rambut panjang yang diikat dibelakang leher, berdiri dengan kepala merunduk.

“Aku dan Sabatu minta maaf atas kejadian tadi malam. Kami lalai. Tadi malam hujan deras, tak ada kejadian luar biasa. Kami berempat keliling desa kemudian makan bersama, setelah itu kami berpisah meronda wilayah yang telah ditentukan. Wilayah kami sepanjang pantai. Wilayah Tude dan Kalai dekat pagar batas. Tadi malam aku dan Sabatu  merasa kantuk  luar biasa, kami tertidur.”

Keterangan Sabatu tak ada bedanya.

“Polon dan Sabatu tertidur begitu juga seluruh warga termasuk aku. Tidak bisa menyalahkan mereka berdua.” Tegas Mabungkas.

Mabungkas melanjutkan. “Tidak ada petunjuk. Sousoulol juga tertidur, dia terjaga karena mendengar jerit Karin yang bermimpi buruk.”

Kepala hukum adat memandang sekeliling menatap para petarung desa yang duduk berserak. Hampir semua petarung tua dan muda hadir. Sebagian lain bertugas menjaga batas desa.

“Ragota mati, leher nyaris putus, dua tikaman di bagian dada. Tidak ada tanda lain. Hanya bekas kaki si pembunuh, tercetak di atas genangan darah Ragota. Pengantin wanita, Ramebete hilang. Kalai hilang. Tude mati ditebas pedang. Bekas luka di leher dan perut. Ada pisau nancap di dada kiri Tude. Cuma itu. Semua jejak hilang terhapus hujan. Ada sedikit petunjuk, coba Getenpiri katakan penemuanmu.”

Getenpiri berdiri. “Aku bertiga Murutu dan Kalara mengamati sekitar tempat mayat Tude ditemukan, ada dua jalur bekas kaki menuju Timur. Sebagian jejak hilang tapi bekas rumput dan semak yang diinjak cukup jelas. Dua jalur ini mengarah Timur ke sungai Ake Loleba, tiba di sungai jejak hilang. Kami temukan dua sobekan kain di ujung  semak di dua tempat berbeda.”

Dia menyerahkan sobekan kain kepada Mabungkas. Orangtua itu memperhatikan sejenak kemudian mendekati Karapu.

Kau kenal sobekan kain ini?”

Tanpa harus memperhatikan dua kali Karapu lantas menjawab, “itu kain putriku. Aku kenal. Satunya lagi mungkin seprei, dia suka seprei warna hijau.”

Mabungkas menatap Getenpiri. “Ada petunjuk lain? Apa perkiraanmu?”

“Kami bertiga punya pikiran sama, melihat jejak yang acak, rupanya terjadi dua kali pertarungan. Yang pertama sekitar mayat Tude, rupanya Tude melawan tetapi musuh lebih tangguh. Ada bercak darah di ranting dan ujung semak. Tarung yang kedua, jarak satu kilo dari yang pertama. Tidak ada bercak darah namun semak dan ranting kecil banyak yang patah. Tarung sengit antara dua orang. Kami mengejar menyusur Ake Loleba, tapi tak ada jejak lagi, hilang. Kami memutuskan kembali dan melapor.” Getenpiri menutur dibantu dua sahabatnya jika kebetulan lupa.

“Getenpiri, Kalara dan Murutu mengejar dan mencari jejak. Terimakasih untuk kerja kalian. Menurut kalian, penjahat itu tetap mengarah Timur?”

            “Benar. Ke Timur. Kami pastikan itu jejak kaki dua orang yang berbeda. Tetapi sampai di sungai Ake Loleba kami tidak bisa menebak arah lanjutannya.” Tutur Kalara. “Mungkin ke Watowato.”

Mabungkas menatap para petarung. “Bagaimana pendapat kalian?”

            Terdengar bisik-bisik di sana-sini.

Sorofok berdiri. Suasana kembali tenang.

“Keterangan Getenpiri sangat kuat karena didukung Kalara dan Murutu. Menurut aku, gambaran lengkapnya mungkin seperti ini. Tujuan penjahat menculik Ramabete. Dia  membunuh Ragota di ambang pintu kamar tidur. Tak ada bekas tarung. Mungkin gelap sehingga Ragota tidak melihat musuh. Alasan lain, sobekan kain. Tak ada jejak kaki wanita, jadi tak mungkin Ramebete berlari, pasti penjahat itu memanggul dia. Tarung pertama pasti penjahat itu dengan Tude. Dan Tude mati. Pada tarung kedua, mungkin Kalai lawan si penjahat.” Tutur Sorofok. Dia dikenal selain petarung tangguh, bijaksana dan pemikir. Sampai-sampai banyak orang menyebutnya peramal.  

Suasana hening, tak ada sanggahan. Sorofok melanjut. “Jelas penjahat menculik pengantin wanita dan membunuh Ragota. Dia lari memanggul Ramabete, terlihat oleh Tude yang lalu menghadang. Penjahat membunuh Tude. Sekarang tinggal teka-teki tentang Kalai. Aku yakin dia petarung utama, tidak banyak orang bisa kalahkan dia. Apakah dia mengejar si penculik? Apakah dia juga mati tetapi mayatnya belum kita temukan? Jejak dua orang yang menuju ke Timur bisa saja jejak kaki si pembunuh yang memanggul Ramebete dan Kalai yang mengejar.

Mendadak Jangu menyela. “Mungkin juga Kalai menculik Ramebete, membunuh Ragota dan Tude?  Lalu menghilang membawa Ramebete.”

Tanggapan Jangu memancing komentar pro dan kontra. Sebagian besar dari jumlah warga berteriak memaki Kalai sebagai pembunuh dan penculik. Hanya sedikit warga yang berpikir jernih mengatakan tidak ada bukti Kalai pelakunya.

Maisani, Karin, Mikala dan Katina tahu Jangu memanfaatkan kesempatan memfitnah Kalai. Tetapi mereka tidak berdaya membantah.  

Fiyel berteriak histeris. “Kalai pembunuh! Aku minta ganti nyawa kakakku.”

Maisani memeluk Karin yang gemetaran. Dia berbisik. “Lihat Karin! Musuh kalian satu demi satu muncul. Mereka punya alasan dendam, sakit hati dan iri hati. Semua pangkalnya karena kecantikanmu, seperti yang ibu katakan.”

Karin berbisik. “Apa yang harus kulakukan?”

“Diam saja. Biarkan kejadian berkembang, nanti akan terlihat siapa musuh siapa teman. Sekarang kita jadi penonton.”

“Hatiku panas Ibu, ingin aku menyerang Jangu dan perempuan itu!”

“Sabarlah!”

Terdengar komentar Tofor, petarung seusia Sorofok. “Mungkin tujuan penjahat hanya datang  membunuh Ragota tetapi karena Ramebete mengenali wajahnya terpaksa dia menculik Ramebete.”

            Jangu memotong. “Kalai punya urusan dendam dengan Ragota. Aku menduga Kalai pelakunya.” Tampaknya dalam tiap kesempatan Jangu memotong dengan tuduhan terhadap Kalai.

            Kembali suasana pro dan kontra.

Sorofok menyela dengan sengit. “Kalau Ramebete telah mengenali wajahnya kenapa dia tidak membunuh Ramebete?”

“Mungkin dia tidak tega membunuh perempuan, mungkin tertarik kecantikan Ramebete!” tukas Tofor dengan emosi meluap.

Mabungkas mengangkat tangan memerintah dua lelaki itu diam. Sorofok dan Tofor, dua saudara satu ayah lain ibu, tidak pernah akur selalu berbantah sesamanya.

“Sebaiknya kita memikirkan cara menemukan Kalai dan Ramebete, keduanya kunci peristwa ini.” Mabungkas berhenti sejenak menatap Tutumole.

“Kalau kita hanya menemukan mayat mereka?” Tukas Getenpiri getir.

Mabungkas terhenyak sesaat. “Kita mengharap mereka tetap hidup, dan siapa tahu kini dalam perjalanan kemari.”

“Mencari keduanya kita harus melacak hutan. Sebaiknya besok pagi kita semua masuk hutan dengan berpencar.” Karapu memotong pembicaraan.

Jangu menggeleng-geleng kepalanya. “Tidak! Itu tidak tepat.”

Dia sadar pandangan orang tertuju kepadanya, dia melanjutkan.  “Bila semua pergi, kampung kita kosong, bagaimana jika perampok atau penculik masuk? Selain itu kita sudah kalah waktu, sebaiknya berangkat hari ini.”

“Aku sependapat, kita berangkat hari ini dan hanya duapuluh orang. Bagaimana pendapat kalian berdua?” Karapu menatap Tutumole dan Mabungkas.

Ketiganya berembuk. Beberapa saat kemudian Tutumole menyampaikan keputusan. “Kami tiga tetua setuju, hari ini duapuluh petarung masuk hutan.”

Keputusan disambut tepuk tangan. Para lelaki Waijoi ingin cepat menyelesaikan peristiwa yang bagi mereka merupakan aib. Setelah tunjuk menunjuk akhirnya terpilih Sorofok sebagai pimpinan. Dia menentukan duapuluh petarung. Dia menjangkau sepucuk tombak lalu mencoret-coret lantai tanah, menerangkan dengan gaya bicara yang teratur.

Dia membagi wilayah yang harus disisir para petarung.

Wilayah Utara, mengarah Utara memotong sungai Ake Loleba terus ke Utara menyisir sisi lereng Watowato menyeberang sungai Ake Gurua. “Aku memimpin rombongan ini, nantinya di bagi dua, aku memimpin yang satu, pemimpin grup lainnya akan ditentukan belakangan. Satu mengarah Utara dan sekitar, satu lainnya mengarah Timur memotong sungai Ake Subaim.” Tutur Sorofok.

            Semua diam, tak ada sanggahan. Dia menambahkan. “Rombongan lain dipimpin Tofor. Pada saat pembagian ke Utara dan Timur, Tofor yang akan membagi orangnya.”

            Dia berhenti. Tak ada sanggahan.

            “Wilayah Timur, rombongan dipimpin Getenpiri. Mengarah Timur menyusur sungai Ake Waijoi kemudian ke Utara menuju lereng Utara Watowato. Getenpiri dibantu Murutu dan Kalara.”

Sekonyong-konyong Jangu menyela. “Kurang tepat jika Getenpiri memimpin perburuan terhadap kakaknya sendiri bila ternyata Kalai yang melakukan ini.”

Komentar ini bagai hendak membakar massa. Tak seorang pun yang tidak terkejut walau kemungkinan itu pernah terlintas dalam benak. Tapi mereka membantah sendiri, mustahil Kalai berbuat hal seburuk itu.

Jangu berani melontar gagasan dengan alasan kuat. Hanya beberapa saat suasana hening dan tegang, kemudian ledakan terjadi. Getenpiri bangkit sambil berkata  keras dan lantang. “Jangu aku tidak terima kata-katamu. Kau menghina aku dan Kalai.”

Jangu telah memperhitungkan semua. “Sabar Getenpiri. Aku tidak menghina kalian berdua. Satu kenyataan, kita belum tahu siapa si pembunuh. Kita tidak yakin Kalai tidak bersalah atau bersalah. Tetapi jangan kita lewatkan kemungkinan sekecil apa pun. Bagaimana kamu memutuskan jika kenyataan Kalai si pelaku, meskipun aku mengharap itu tidak akan terjadi.”

            Tiba-tiba terdengar suara lantang perempuan. Karin bertolak-pinggang. “Jangu, pecundang yang melata di tanah dipukul Kalai, ingat kamu belum melunasi taruhan jongkok minta maaf di kakiku, ternyata kamu belum juga sadar. Sekarang jadi tukang fitnah. Sejak tadi kamu lempar kesalahan kepada Kalai, balas dendam? Dasar pengecut.”

            Amarah Jangu meledak. “Aku berani taruhan Kalai yang membunuh Tude dan Ragota serta menculik Ramebete. Kalau aku menang kamu ikut aku menjadi isteriku. Bagaimana Karin, berani kamu?”

            Maisani tak mau mencegah menantunya. 

            Karin tertawa, tidak hirau ditonton banyak orang. “Kamu masih hutang taruhan yang kemarin. Sekarang jongkok dulu di depan kakiku dan minta maaf. Setelah itu baru kita taruhan lagi. Ayo lakukan! Tidak berani? Dasar pengecut, cerengenge, kamu menangis minta ampun dipukul tetetua yang berumur tujuhpuluh tahun, huh mengaku petarung tetapi nyatanya pengecut dan cerengenge.” Suara Karin keras.

            Sebagian warga tertawa, menertawakan Jangu.

            Ayati berseru lantang dan keras. “Petarung cerengenge ... huhuuuuu....malu... malu.... laki-laki cerengenge .... Huhuhu Jangu cerengenge....”

            Warga semakin riuh menertawakan Jangu yang bertengkar dengan wanita.

            Muka Jangu merah padam menahan marah dan malu. Dia meremas kepalan tangan. Wajahnya tegang dan kaku. “Karin harus jadi istriku!” Gumamnya dalam hati. Dia marah tetapi tak bisa melepas dari rasa kasmaran dan birahinya melihat sosok memesona itu. “Dia makin cantik kalau marah.”

            Mabungkas mengangkat tangan. “Hentikan perdebatan!” Serunya. Seruan keras itu  telah menyelamatkan Jangu dari malu yang lebih besar.

            Karin kembali duduk dekat Maisani. “Puas aku mengatai si pengecut itu.” Dia menoleh ke Ayati. “Kamu hebat Ayati, ikut mempermalu dia.”

            “Bagus. Hakmu membela suamimu! Kalai bangga punya isteri berani dan pintar bicara macam kamu.” Bisik Maisani. Dia juga geram mendengar Kalai dinista tanpa bukti. Dia yakin putranya tidak bersalah.

            Terdengar suara Karapu, keras. “Aku putuskan Getenpiri tetap yang memimpin, aku tahu dan kenal siapa dia. Tak ada alasan untuk menggantikannya walaupun Kalai yang bersalah. Getenpiri adalah lelaki sejati. Dia juga menantu Mabungkas, tak mungkin dia mempermalukan mertuanya sebagai kapitan adat.

            Tak ada lagi sanggahan.

Karapu sebagai kepala kampung sangat berwibawa.

Sorofok dan Tofor menyebut beberapa nama untuk masuk kelompoknya.   

“Sore ini kita berkumpul di batas kampung, kalian bawa bekal makan untuk malam hari. Bawa senjata. Kita pergi selama sepuluh hari. Sekarang bubar, nanti kumpul tepat waktu.” Suara Sorofok lantang.

Hari delapan belum satu pun dari rombongan pencari yang kembali. Tetapi kampung Waijoi kedatangan banyak tamu luar. Sore hari itu rombongan Kipatoma datang.

( bersambung eps 32 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com