Lingon Togutil eps 30
Posted on 19 Agustus 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 30
Bab Sebelas
Pembunuhan Dan Penculikan
Kehadiran Tabale di acara nikah Ramebete membuat Karapu tidak nyaman. Dia berpikir keras apa maksud tujuan penjahat gila itu. Namun dia tak bisa menduga rencana Tabale jika memang penjahat itu punya niat jahat. Firasatnya keras Tabale akan membalas dendam. Dia merasakan aroma balas dendam mengancam dirinya dan keluarga.
Memang Ramebete sudah menikah, namun Karapu tetap merasa tidak nyaman. Ragota bukan petarung sejati, hanya laki-laki biasa. Jika Tabale menyerang rumah Ramebete maka Ragota tak mungkin bisa mengatasinya. Adapun dua anaknya Usman dan Mawar, dia tak begitu khawatir. Keduanya tinggal serumah dengannya. Jadi mudah baginya mengatasi Tabale jika memang penjahat itu menyerang.
“Perketat sistem keamanan, siang hari dua peronda, khusus malam siapkan empat peronda.” Perintah Karapu kepada Muklis dan Saman.
Kalai dan Karin masih tinggal di Waijoi. Karapu bicara langsung dengan Maisani bahwa Waijoi membutuhkan Kalai sebagai tenaga pengawal desa untuk sementara.
Karapu senang mendapat tenaga tambahan Kalai dan Getenpiri diantara para pengawal yang dipercaya. Kalai dan Karin tinggal bersama Maisani, Kalid dan Ayati di bekas rumah Sasupu. Getenpiri tinggal di rumah Mabungkas, mertuanya.
Sore hari yang mendung, udara dingin. Angin laut berhembus sepoi. Kalai dan Karin berbincang di ruang tamu.
“Malam ini giliran aku meronda.” Kata Kalai kepada istrinya.
“Kusiapkan bekal makanan.” Kata Karin. “Senjatamu sudah kusiapkan.”
“Mungkin sampai subuh baru aku pulang.” Kata Kalai.
Malam hari Waijoi gelap gulita, rembulan tertutup mendung tebal. Debur ombak yang menghantam tebing karang yang biasanya tidak terdengar sampai ke kampung kini dapat ditangkap setiap telinga. Laut Teluk Kao bergelora.
Hujan lebat turun seperti tak akan pernah habisnya. Tetes-tetes hujan mengguyur deras sehingga kampung kelihatan putih diselimuti kabut. Sekali-sekali cahaya halilintar menerangi alam diringi dentuman guntur membahana.
Sebagian penduduk telah lelap dibuai mimpi. Hujan tidak berhenti seluruhnya, hanya berkurang. Kini menyisakan gerimis. Satu demi satu lampu damar mulai menyala dari satu rumah ke rumah lain. Jalanan kampung sepi dan gelap, tak ada obor tepi jalan yang menyala.
Rumah mungil yang ditempati pengantin baru Ragota dan Ramebete masih gelap. Tidak tampak lampu damar dinyalakan. Sekeliling rumah tampak sepi.
Samar-samar terdengar suara percakapan.
“Rago, jangan tidur dulu, aku takut.” Ramabete merangsek dalam pelukan suaminya. Ragota tersenyum.
Ragota berupaya bangkit, “tunggu dulu, aku nyalakan damar.”
“Itu bisa ditunda.” Ramabete memegang tangan Ragota, mencegah.
“Kemarin aku ditegur ayahmu karena tidak menyalakan damar sampai pagi. Selalu sebab kita menunda, sewaktu letih tentu saja kita lupa.” Kata Ragota sambil mengenakan celana dan kemeja.
Ramabete menanti dengan gelisah sewaktu suaminya keluar mencari api. Diam tak bergerak, mendadak terdengar suara kaki di belakang rumah.
“Rago ...!“ Ramebete berseru, agak keras. Suaranya parau.
“Rago..!“ Dia mengulang lagi, suaranya lebih keras. Tak ada jawaban.
Ramebete masih tegang, tetapi dia bukan penakut, perlahan tangannya meraih golok di bawah tempat tidurnya. Terdengar langkah tegap mendekati rumah.
“Rago...” Suara Ramebete parau.
Saat berikut dia menghela nafas lega mendengar suara suaminya.
“Aku di sini.” Suaminya mendekat. “Mengapa?”
“Tadi aku mendengar suara langkah orang di belakang rumah.”
Ragota meletakkan lampu damar di dua tempat, luar dan dalam kamar. Dia mendekati pembaringan, “Ah, itu karena kau takut. Tak mungkin ada orang.”
Langit cerah, awan putih berarak rapi terkadang menutup matahari yang mulai condong ke Barat. Laut Teluk Kao tenang, permukaan air rata bagai minyak, angin berhembus lembut. Suatu senja yang indah.
Tak ada yang lebih indah bagi Karin selain membaring kepala ke dada lelaki pujaannya dan memainkan jari-jari tangan perkasa yang memeluknya. Berdua dalam perahu kecil dibelai semillir angin membuat Karin nyaman dan bahagia.
Karin merasa dirinya telah menemukan apa yang dicarinya, mendapatkan lelaki yang dicintainya dan yang mencintainya serta hanya berdua dalam perahu. Karin ingin keadaan tidak berubah tetapi kenyataan lain. Perubahan datang secara mendadak.
Ketenangan dipecahkan ledakan halilintar, gelegar guntur dan deru angin serta kecipak air laut yang membuih. Laut bergolak ditiup badai. Perahu kecil terombang-ambing di puncak ombak yang menjulang, kemudian terhempas ke bawah ombak.
Dua tangan Karin mencengkram pinggiran perahu. Kalai berjuang pertahankan keseimbangan perahu. Karin berteriak tetapi suaranya tak kunjung keluar.
Tiba-tiba segulung ombak besar menghantam perahu. Perahu terbalik.
Karin tercebur, dan menjerit melihat Kalai membentur batu karang yang muncul tiba-tiba dari dasar laut.
Karin menjerit. Keras. Suaranya menggetarkan dinding bilik tidurnya. Maisani, Kalid dan Ayati tersentak dari tidur. Cepat memburu ke pembaringan Karin. Mereka melihat Karin duduk di lantai dengan wajah pucat.
Maisani memeluk Karin yang sadar dari pengaruh mimpi. Karin menangis dalam pelukan ibu mertuanya. Malam itu Maisani, Karin, Kalid dan Ayati nginap di rumah Bido karena Kalai tugas ronda. “Ibu kecelakaan akan menimpa aku dan Kalai.” Karin lantas bercerita tentang mimpinya kepada ibu mertuanya.
“Tenanglah, tak akan terjadi, semua akan baik-baik.” Maisani membujuk.
Saat yang sama Bido, Ina dan Tutumole berlari ke kamar Karin. Mereka terjaga mendengar jerit Karin, Tutumole berdiri di ambang pintu kamar menatap dinding.
Sesaat Sousoulol tertegun, sesuatu melintas di benaknya. “Sudah lewat subuh, mengapa aku kesiangan?“ Biasanya dia terjaga sebelum beduk subuh. “Bido, Ina apakah beduk subuh berbunyi tadi?“ Dia berbisik.
“Tidak, aku tidak mendengar, mungkin aku masih pulas.“ Bido menjawab.
“Aku pulas, tidak mendengar beduk.” Kata Ina.
“Sebaiknya aku sembahyang dulu.“ Tutumole diikuti Bido dan Ina melangkah lebar ke sumur, berwudhu kemudian masuk kamar melakukan salat subuh.
Tutumole heran dan curiga. Selama lima tahun belakangan, waktu masih bujang maupun setelah beristeri, berada di dalam hutan atau di kampung, dia tak pernah kesiangan. Tadi malam memang hujan lebat dan udara dingin tetapi itu bukan alasan baginya untuk kesiangan.
Usai salat dia melangkah keluar rumah. Matahari masih belum naik dari ufuk Timur namun cahaya merah kuning mulai tampak.
Bido, Ina dan Karin berdiri dekat Tutumole. Maisani, Kalid dan Ayati berdiri di pintu kamar. Mereka diam, memerhatikan Sousoulol yang parasnya tegang. Tutumole memandang keliling, mengawasi jalanan kampung. Sepi. Tak ada orang. Jalanan kampung sunyi dan lengang. Pintu rumah satu pun belum terbuka.
Belum ada kehidupan. Kampung Waijoi mati seolah di serang wabah penyakit. Bulu kuduk Tutumole berdiri. Dia menatap bergantian Bido, Ina, Karin dan Maisani. Wajah mereka pucat. Tutumole mencoba senyum tetapi gagal. Dia merapal ayat boyemekgiyon dan seketika tahu seseorang telah melepas sihir jahat tadi malam.
“Malapetaka telah tejadi.“ Tegas Tutumole serius.
Tak lama kemudian dia melihat kehidupan di kampung mulai menjalar. Pintu dan jendela rumah dibuka. Orang mulai beraktifitas.
Tutumole melangkah sepanjang jalan utama menuju rumah Kepala Kampung.
Di pekarangan rumahnya Karapu gopoh menghampiri Tutumole, ustad Harun dan beberapa lelaki ikut mendekat.
”Aku kesiangan, apa yang terjadi Sousoulol?” Tanya Karapu.
“Sesuatu telah terjadi, tadi malam seseorang menebar sihir jahat. Semua tertidur. Aku bangun karena jeritan Karin yang bermimpi buruk.”
Firasat Karapu bekerja. “Tabale...” Bisiknya.
Tidak membuang waktu Karapu memerintah beberapa pemuda memeriksa seisi kampung. Agak lama berselang satu demi satu kabar datang saling susul.
Sorofok melapor Ragota mati terbunuh di rumahnya. Mayatnya berlumur darah terkapar di ambang pintu kamar tidur. Kalara dan Murutu melapor Tude mati terbunuh puluhan meter di luar kampung, leher dan perutnya terluka sabetan pedang.
“Ragota mati, dimana Ramebete?” Karapu bertanya, suaranya bergetar.
“Aku tidak melihatnya, kamar tidurnya kosong.” Tegas Sorofok.
Karapu ditemani Sousoulol dan Mabungkas mempelajari rumah pengantin. Ada bekas kaki di sekitar rumah. Di ambang pintu kamar, Ragota terkapar, mati terbunuh. Leher nyaris putus. Luka lain di dada, di bagian jantung. Genangan darah membasahi tanah sekitar mayat.
“Cari Ramebete.” Karapu memerintah Saman.
Tutumole yang mawas diri karena ilmu boyemekgiyon melarang orang masuk kamar. “Jangan masuk kamar!“
Lalu dia menoleh kepada Sorofok, pimpinan keamanan kampung. Sorofok adalah orang pertama yang menemukan mayat. “Siapa selain kamu yang masuk kamar ini?“
Tidak mengerti arah pertanyaan, Sorofok menjawab. “Hanya aku.“
“Apakah kamu masuk kamar? Kamu menginjak genangan darah?“ Sousoulol mendesak, nadanya serius.
Sorofok menggeleng. “Tidak. Aku berdiri di luar kamar, setelah yakin Ragota mati, aku melapor kepada kepala kampung.“
“Ketika kamu pergi menemui kepala kampung, siapa yang menjaga kamar ini?“
“Tidak ada siapa pun. Pintu depan aku gerendel jadi tak seorang pun masuk.“
“Bagus.“ Tukas Tutumole. Dia menunjuk jejak kaki sekitar mayat dan yang dekat pembaringan. “Artinya jejak kaki itu milik si pembunuh Ragota.“
Mereka mengawasi Tutumole yang meneliti ruangan kamar dan seisi rumah. Sousoulol berdiri dekat genangan darah namun tidak memijaknya. “Itu tapak kaki satu orang. Tidak ada tapak kaki wanita, artinya Ramebete dipanggul, tepatnya dia diculik. Pembunuh Ragota dan penculik Rambete, orangnya sama.“ Tutur Sousoulol.
“Apa yang harus kita lakukan?“ Karapu bertanya. Mukanya muram, duka yang dalam, menantunya mati dibunuh dan dia tak tahu kejadian yang menimpa putrinya.
“Mayat Ragota boleh diusung keluar kamar tetapi jangan memijak genangan darah. Langkah berikut, rumah ini digerendel, tidak boleh ada yang masuk, aku perlu mencari tahu siapa si pembunuh. Dari jejak itu mudah-mudahan aku bisa mengenal orang itu.“ Tutur Tutumole. “Rumah boleh dibuka setelah perkara tuntas.“
Setelah mengeluarkan mayat Ragota, rumah digerendel.
Kemudian Tutumole memimpin rombongan tetua menuju lokasi mayat Tude ditemukan. Tampak luka sayatan di leher dan luka menganga di perut. Ada pisau nancap di dada Tude. Pisau nancap dalam, hanya gagang yang kelihatan.
“Pasti pisau si pembunuh.“ Tegas Mabungkas.
“Tak ada bekas darah sekitar pisau. Aneh.“ Tukas Tutumole.
Dia meneliti gagang pisau, beberapa saat berlangsung Tutumole mencabut pisau, menyodor kepada Mabungkas. “Simpan pisau ini, kapitan. Sebagai bukti!“
Mereka meneliti jejak kaki sekitar mayat Tude. Sebagian besar terhapus air hujan.
“Ini jejak dua orang bertarung, Tude dan si pembunuh. Jejak ini membuktikan bahwa musuh Tude ini adalah pembunuh Ragota, jejak kakinya sama dengan jejak yang di kamar Ragota.“ Tegas Tutumole.
Karapu berseru. “Sousoulol, lihat ada jejak kaki di sini.“ Jaraknya duapuluh meter dari mayat Tude. Tanah basah tetapi agak keras sehingga jejak kaki terlihat jelas.
“Dua orang. Satu jejak si pembunuh, satu lagi jejak baru. Barangkali jejak kaki Kalai.” Tukas Tutumole.
Siang hari itu juga jenazah Tude dan Ragota dikebumikan di pemakaman Waijoi seratus meter di Selatan pagar kampung. Banyak orang hadir.
Orangtua Ragota, Lakopar dan Sasati tampak sangat berduka. Dubudeng belum pulang dari hutan, setelah dipermalukan Kalai dalam tarung, dia berkelana dalam hutan. Hanya Jangu saudara sepupu Dubudeng yang mendampingi Lakopar dan Sasati.
Karapu dan Seruni sangat berduka. Karapu sangat terpukul, menantunya mati terbunuh dan putri kesayangan hilang tanpa jejak, mati dan hidup tidak ada yang tahu. Terlebih-lebih malapetaka terjadi ketika dia menjabat kepala kampung. “Pasti perbuatan Tabale. Terkutuk kamu Tabale, aku bersumpah akan membunuhmu!” Bisiknya.
Dari pihak Tude hadir dua orang perempuan, Fiyel adik Tude dan Boki ibunya. Memerlukan ketahanan mental bagi kedua wanita itu menyaksikan liang lahat menelan jenazah orang yang dikasihi yang menjadi tulang punggung keluarga.
Ibunda Tude terisak-isak menahan tangis, wajahnya tunduk menatap liang lahat. Fiyel memeluk lengan ibunya, menjaganya tidak jatuh.
Banyak lelaki hadir. Mereka bermuram durja, malu karena Waijoi selama ini aman tiba-tiba diusik seseorang. Dua orang lelaki Waijoi mati terbunuh tanpa ketahuan siapa pembunuhnya. Ramebete, pengantin baru dan putri kepala kampung diculik orang yang dicurigai sebagai pembunuh Ragota.
( Bersambung eps 31 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







