Lingon Togutil eps 29
Posted on 18 Agustus 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 29
“Ragota hentikan! Tidak ada tarung lagi!“ Karapu berseru, tidak kalah kerasnya.
Karapu melangkah dan menempatkan dirinya antara dua petarung itu. Sementara Dubudeng dibantu Tude kembali duduk di kursi.
Ragota tidak juga mundur, menoleh kepada Karapu. “Aku tidak membela adikku, aku menantang Kalai karena dia merusak pesta kawinku.“
Kalai diam. Dia tahu diri tidak pandai berdebat. Lebih baik diam. Lain halnya Karin yang berseru lantang.
“Perusak pestamu adalah adikmu sendiri, tanyakan dia mengapa meremas lenganku, lihat tanda memar di lenganku!“ Karin memperlihatkan lengannya yang biru lebam. Mata biru Karin melotot memandang Ragota kemudian beralih Dubudeng.
Ragota melangkah maju. Dia mengangkat tangan kanannya yang gemetaran, seakan hendak memukul Karin. Langkahnya berhenti, dia sadar akibatnya.
“Kamu mau pukul aku? Memukul wanita? Kasihan istrimu bakal jadi pelampias amarahmu. Huh laki-laki pemukul wanita.“ Karin masih saja marah. Perempuan Lingon itu tak punya rasa takut.
Kalai sendiri heran. Sejak tinggal di Tutua, Karin berubah menjadi lebih berani dan lebih tegas. Tadinya waktu mengembara di hutan dia selalu berlindung di belakang tubuhnya malahan tiap malam minta dipeluk karena takut dan dingin.
Ragota diam, serba salah.
Pada saat itu dua orang menghampiri, hampir bersamaan. Ramebete menarik lengan suaminya. “Rago cukup, ikut aku!“
Katina menghampiri Karin, menariknya mundur. Sambil mundur Karin menarik tangan suaminya.
Tiba-tiba terdengar suara Jangu. “Kalai mengapa mundur? Menolak tantangan tarung merupakan aib bagi petarung. Mana kejantananmu? Mengapa sembunyi di ketiak Karin? Kamu takut Ragota?“
Kalai diam, tidak tahu cara menyangkal.
“Kalai! Perkenalkan, namaku Jangu, aku saudara sepupu Ragota dan Dubudeng, aku tantang kamu tarung. Jika aku menang, aku hanya minta waktu menari dengan Karin sepanjang pesta ini, bagaimana kamu berani terima tantanganku?“
Kalai diam. Matanya memandang istrinya. Dilihatnya mata biru itu mengilat memancar hawa amarah. “Laki-laki ini bangsat jahat tak punya malu. Sudah kutolak dengan kasar masih saja mengejar aku.“ Bisik Karin kepada Kalai.
Kalai tidak mengerti bisikan istrinya, tetapi menyadari kemarahan Karin.
Lalu dia melihat Karin mengangguk pelan, isyarat agar Kalai menerima tantangan. Tak ada sekelumit ragu dalam diri Karin bahwa kekasihnya akan kalah.
“Kuterima tantanganmu. Kau mempermalukan aku. Karin marah karena kamu menyebut ketiaknya, ucapan tidak bermoral. Alasan lain, kamu tanyakan kejantananku.“ Ucapan Kalai jelas meskipun tidak keras. Semua orang mendengar.
“Jawab dulu taruhanku. Jika kamu kalah aku menari dengan Karin sampai pesta ini bubar. Apa jawabmu?“ Jangu mendesak.
Kalai menggeleng kepala. “Karin istriku dan dia bukan sesuatu yang akan kupertaruhkan, mintalah yang lain, bagaimana kalau uang atau perhiasan emas?“
Jangu tertawa. “Dasar pengecut!“
Tiba-tiba Karin berteriak. “Baik Jangu kalau kamu menang kutemani kamu menari, kalau kamu kalah kamu harus jongkok di depan kakiku dan minta maaf padaku! Jawab! Apa jawabmu? Mundur? Takut? Kamu pengecut, kamu menangis minta ampun ketika dihajar seorang kakek, kamu lupa peristiwa di pantai?“
Wajah Jangu merah saking marahnya. Karin telah mempermalukan dia. Kini tak ada jalan mundur. Dia yakin sanggup mengalahkan Kalai, tetapi taruhan harus jongkok di depan kaki Karin dan minta maaf, sangat berat. “Persetan dengan jongkok minta maaf, aku tak mungkin kalah.“ Gumamnya dalam hati.
Karin tertawa. “Dasar pengecut!“ Dia meniru ucapan Jangu kepada Kalai.
Kalai menduga Jangu petarung ulung makanya berani menantang dengan taruhan. Dia bertanya-tanya dalam hati. “Apakah dia sehebat petarung Walanda di Tobelo?Ah persetan dengan kehebatannya, aku akan memukul dia sekeras-kerasnya.” Kalai percaya diri. Latihan spartan di pulau terpencil bersama ayahnya mengubah dirinya jadi petarung yang tahan pukul dan mahir memukul. Tehnik tarung tangan kosong juga sangat mumpuni, ayahnya pengalaman tarung di arena tinju bayaran di Tobelo dan sering adu tinju melawan orang asing.
Tanpa banyak bicara, Jangu mengawali serangan dengan beberapa pukulan dan tendangan. Kalai menangkis dan menghindar. Fisik Jangu lebih tinggi dan lebih berbobot. Membanding fisik, orang akan menjagoi Jangu sebagai pemenang.
Setelah beberapa saat kaki Jangu mengais tanah dan menendang. Butiran pasir mengena mata Kalai yang sesaat seperti buta. Pada saat itu dua pukulan Jangu menerpa wajah dan perut Kalai.
Terdengar teriak Karin. “Curang! Pengecut curang!“
Kalai meliuk kesakitan. Jangu tidak membuang kesempatan, menambah dengan dua pukulan yang mengarah dagu dan pelipis. Dalam keadaan pandangan kabur Kalai sempat menunduk berputar dan menjauh.
Terdengar teriakan Karin, lagi. “Lai pukul dia, tidak perlu kasihan!“
Tangan Kalai menggosok matanya. Pandangannya mulai terang. Dia ingat ajaran ayahnya. Saat bersamaan Jangu menerjang maju, Kalai menghindar dengan gesit sambil melepas pukulan lurus macam kedutan.
Pukulan menerpa hidung Jangu. Daging hidung pecah dan keluar darah.
Kalai ingat penuturan ayahnya, “pukulan itu namanya jeb, bahasa Walanda! Petinju Walanda itu mempermainkan aku dengan jeb-jebnya, wajahku berdarah-darah. Lalu satu pukulan keras dan aku tumbang. Aku kalah telak tetapi memperoleh sesuatu yang harus kupelajari. Kini tehnik tarung itu kuajarkan kepadamu.“
Satu tahun Kalai melatih jeb dengan tiang kayu sebagai sasaran. Tak heran jebnya keras dan tajam. Melepas jeb sambil melangkah maju mundur kiri kanan.
Kalai berputar sambil melepas pukulan jeb dengan tangan kiri. Tiga kali memukul tiga kali menghantam hidung, kening dan mulut Jangu. Darah mengucur dari hidung dan mulut Jangu yang mulai kesetanan saking marahnya.
“Kubunuh kamu!“ Dia menyerbu, memukul dan menendang. Kalai berputar sambil melepas jeb-jeb. Tidak mengena tetapi sangat mengganggu Jangu yang tak mampu mengantisipasi tehnik tarung itu.
“Mau membunuh aku? Memukul saja tak mampu bagaimana mau membunuh? Lihat ini!“ Kalai melepas empat pukulan jeb beruntun. Semuanya mengena sasaran, telak dan keras.
Karin sejak awal berteriak menyeru suaminya. “Lai ... hajar dia. Laki-laki itu tak punya malu, dia telah menghina aku. Hajar dia sekerasnya...... Bagus Lai... teruskan hajar dia. Dia akan membayar taruhan jongkok dan minta maaf padaku .....”
Seruan Karin menambah gembira Kalai. Begitu juga sorakan penonton yang menyukai pertunjukan tinju tanpa bayar.
Dua pukulan jeb Kalai kembali membuat kepala Jangu seperti terpental. Wajahnya berdarah-darah.
“Menyerahlah! Kamu kalah. Kamu juga kalah taruhan. Sekarang bayar taruhan, jongkok dan minta maaf pada istriku!“ Seru Kalai.
Jangu belum mau menyerah, masih menyerang dengan pukulan yang mulai tidak bertenaga karena hilang kepercayaan diri.
Tadi sebelum tarung dia mempelajari cara Kalai menghadapi Dubudeng, dia yakin bakal memukul jatuh Kalai. Dia berencana membutakan mata musuhnya dengan pasir lalu memukul sekeras-kerasnya. Dia akan mempermalu Kalai dan mendapatkan Karin menemaninya menari semalam suntuk. Kesempatan merayu Lingon cantik itu. Kenyataannya tidak. Kalai lebih pandai berkelahi. Beberapa jeb dan pukulan membuat wajah Jangu berdarah-darah.
Kalai merasa tiba saatnya mengakhiri tarung, melepas dua jeb disusul pukulan lurus yang dilepas dengan dorongan tenaga pundak. Pukulan telak mengena bagian tengah wajah Jangu. Kepala Jangu tersentak ke belakang diikuti tubuhnya yang rubuh terjengkang di tanah.
Karin bersorak.
Penonton ikut bersorak. Mereka menikmati gaya tinju Kalai mempermainkan lawan dan memukul jatuh Jangu.
Karapu pernah melihat tarung bebas di Tobelo, tehniknya sama dengan yang diperagakan Kalai. “Pasti Kipatoma yang melatih!“ Gumamnya dalam hati.
Dia pernah melihat Kipatoma tarung dengan tehnik pukulan jeb. Namun Kalai lebih perkasa, lebih gesit dan memiliki pukulan lebih keras dibanding Kipatoma.
Kalai merunduk memberi hormat kepada Karapu dan tetua lainnya. “Pak Karapu, bapak kapitan adat, bapak sousoulol aku minta maaf, tak ada niatku bertarung. Tetapi tarung telah terjadi, maafkan aku.“
“Aku maafkan.“ Sahut Karapu ringkas.
Saat itu Jangu masih terduduk di tanah, badannya lemas, tenaganya sirna. Dia menggeleng kepala berusaha mengusir rasa pusing. Kunang-kunang dan bintang berpijar di kepalanya. Dia merasa ingin tidur. Tetapi pikirannya bekerja, sadar bahwa dia telah kalah. Kalah telak.
Masih terduduk di tanah dia melihat sepasang kaki melangkah menghampirinya, kaki wanita. Dia menengadah, dan melihat kecantikan di depan matanya. Itulah Karin. Sesaat dia bingung tak tahu bagaimana harus bersikap.
Dia bangkit dengan susah payah, berdiri berhadapan dengan Karin.
“Kamu kalah! Bayar taruhanmu! Jongkok dan minta maaf di depan kakiku! Lakukan cepat, kamu pecundang.“ Suara Karin tegas bagai memerintah seorang budak. Bicaranya cepat ringkas penuh amarah. “Lihat mukamu penuh darah, hidung patah, bibir pecah, matamu bengkak. Habis kamu dihajar suamiku. Itulah gara-gara mengganggu istri orang. Tak tahu malu. Cepat jongkok dan minta maaf!”
Suasana hening, karenanya suara Karin didengar hampir semua orang. Mereka menanti kelanjutan episode itu, apakah Jangu akan jongkok minta maaf?
Jangu terdiam, dia bimbang, tidak mampu memutuskan apakah mengikuti perintah Karin atau tidak. Dia sama sekali tidak pernah menyangka akan mengalami kejadian memalukan seperti itu.
Terdengar lagi suara Karin. “Laki-laki pecundang...! Dengarkan aku...! Malam ini hatiku sedang gembira jadi kutunda hukumanmu. Tetapi ingat kamu masih berhutang jongkok dan minta maaf di depan kakiku, hutang taruhan itu harus kamu bayar disaksikan banyak orang, suatu waktu akan kutagih!“ Karin membalik badan, merapat dan merangkul lengan Kalai melangkah menuju kursi.
Karin memperlihatkan sikap manja terang-terangan. Dia ingin semua gadis yang pernah mengolok-olok dia dan suaminya, terutama Malini mendengar ucapan manjanya. Tetapi dia bukan bersandiwara, sungguh-sungguh dia bangga dan mencintai suaminya. “Lai ... kamu hebat, petarung sejati. Aku puas kamu membela kehormatan istrimu. Kamu menghajar laki-laki itu dengan keras, aku puas. Itu pelajaran bagi laki-laki pecundang itu agar tidak mengganggu istri orang...” Kata-kata Karin jelas dan terang disengaja untuk didengar orang.
Jangu hanya memandang lenggok perempuan Lingon yang telah membuatnya tergila-gila selama ini. “Tidak ada wanita secantik dia.“ Bisiknya dalam hati. Rasa kagumnya hanya sesaat, detik berikutnya rasa malu membuat badannya gemetar. Ucapan Karin membuat dia lebih malu daripada dipecundangi Kalai.
“Ini belum selesai. Karin akan jadi milikku.” Bisiknya sendu, dia harus mengubur hasrat dan kegilaannya kepada Karin. Namun pada saat yang sama pikiran yang dikuasai hasrat membuta meyakinkan dirinya akan mampu merebut Karin dari sisi suaminya. “Aku tak boleh menyerah, aku pasti akan mendapatkan Karin.”
Karapu menoleh bertanya kepada Mabungkas.
“Kepala Adat, bagaimana kamu memutuskan kejadian ini?“
Mabungkas memandang keliling. “Telah kusaksikan seluruh kejadian. Dubudeng bersalah, menghina istri Kalai di depan umum. Kalai tidak bersalah. Jangu menantang tarung tapi kalah. Pesta kawin dirusak Dubudeng. Dua orang dirugikan, Karin dan Ragota. Terserah mereka apakah akan menuntut Dubudeng dan Jangu.“
Keputusan kapitan adat didengar semua orang. Beberapa saat tak ada sanggahan yang berarti keadilannya diterima.
Karin menggeleng kepala, menjawab sambil memandang Kalai. “Tidak. Aku tidak menuntut. Tetapi Jangu tetap harus membayar hutang taruhannya, suatu waktu akan kutagih!” Karin punya firasat suatu waktu dia akan memanfaatkan kelemahan Jangu
Ragota menyatakan. “Aku tidak menuntut.”
( Bersambung eps 30 )Comments







