Lingon Togutil eps 28

Posted on 12 Agustus 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 28

Kalai memandang lekat-lekat istrinya, mata biru bening yang jernih dan tajam, hidung  mungil mancung, mulut indah dengan bibir bawah agak tertarik sedikit ke dagu. Bagian itu tercipta sedemikian rupa melengkapi kecantikan parasnya. Butiran keringat menghiasi wajahnya. Leher yang putih berkeringat mengilat disiram cahaya bulan.

Banyak pasangan menari. Tetapi pasangan paling menarik perhatian, Kalai dan Karin. Perempuan Lingon, cantik jelita, bergerak meliuk lemah gemulai, sedang Kalai yang tinggi besar tampak kaku dan tidak menguasai tari.

Pemandangan itu memecah perhatian orang. Sebagian menikmati tarian gemulai Karin dan tidak perduli dengan kebodohan Kalai. Sebagian lain mengolok-olok Kalai.

Seumur hidup baru pertama kali Kalai menari, itupun demi memenuhi permintaan istrinya yang setengah merengek. Tidak heran jika Kalai menjadi penari yang paling buruk dan paling tolol malam itu.

Karin belum lama bersosialisasi di masyarakat Waijoi, beberapa kali ia melihat gadis-gadis Waijoi menari. Pulang kerumah, dia berlatih. Ponda mengajari bermacam gerak tari.

Karena memang tubuhnya tidak kaku, terbiasa berolahraga, cerdas dan berbakat dia cepat menguasai tari. Malam itu dia mencoba depan umum. Dia tidak percaya ketika suaminya mengatakan belum pernah menari. Dia memaksa, Kalai terpaksa mengiyakan.

Malam itu banyak mata lelaki mulai terbuka. Banyak gadis Waijoi cantik dan manis tetapi diantara semua gadis malam itu Karin yang tercantik. Badan yang berlekuk dikemas busana indah serta perhiasan menonjolkan gerak-gerik Karin. Semakin lama semakin lincah dan serasi.  

Menari beberapa lama tubuh Karin basah keringat dan pengaruh saguer membuat parasnya kemerahmerahan. Kalai sadar akan kecantikan Karin. Sekali sekali dia melirik sekeliling, tak ada gadis secantik istrinya.

Penonton menyayangkan keindahan tarian perempuan cantik itu hilang oleh kekakuan tubuh Kalai, penonton berteriak. Teriakan mengolok-olok menjurus makian dan penghinaan. Baru sekarang Karin sadar Kalai sama sekali tidak bisa menari. Tadinya tidak percaya, mungkin gaya tersendiri tetapi teriak cemooh penonton menyakinkan dirinya. Kalai memang tak bisa menari.

Dia menyesal telah memaksa suaminya menari. Sesungguhnya dia ingin menari terdorong ketidakpuasan selama ini diejek sebagai gadis Lingon yang tidak mengenal adat dan pergaulan pesisir.

“Cukup Lai, kita kembali ke kursi.”

Kau masih suka menari, menari terus. Jangan berhenti karena ejekan yang ditujukan kepadaku.”

“Tidak, aku berhenti karena letih.”

“Kau tidak letih. Kau tahu Karin, sekali kita mundur akan ada dua kalinya dan seterusnya. Kita menari terus. Persetan dengan penonton.“

“Aku takut kau marah,” Karin mencoba senyum semanis mungkin.

“Tidak, aku laki-laki dan laki-laki harus bisa menahan diri, kelakian-lakian tidak ditentukan pandai atau tidaknya dia menari.”

Di meja itu terdengar ejekan paling tajam. Jangu dan Tude duduk pongah sambil berteriak mengejek dan menghina Kalai.

“Kalai bodoh! Orang hutan!“

“Pergi kembali ke hutan, menari dengan ular!“

Banyak orang ikut-ikutan menghujat Kalai.

Jangu dan Tude hanya bisa menatap punggung Kalai tetapi bisa melihat Karin dengan jelas. Rambut coklat kuning riap-riapan basah keringat, parasnya berseri dan gerak tubuh yang meliuk makin lama makin memesona. Semakin lama menari, gerak Karin makin lancar dan bersemangat.

“Tak kusangka gadis Lingon itu begitu cantik, padat dan langsing. Makin lama  duduk di sini memandangnya seleraku makin tersiksa.” Tude mengeluh hendak pergi.

Jangu menahan lengan temannya yang hendak meninggalkan kursi. ”Mau kemana kamu, malam masih panjang. Mengapa kamu mengatakan seleramu tersiksa?”

Ketika itu datang lelaki tinggi besar dan wajah tampan mirip Ragota. Dia duduk di kursi samping Tude, mengambil tabung lantas menenggak saguer langsung dari tabungnya. Dia bertanya. ”Mengapa selera Tude tersiksa?”

Jangu tertawa. “Seleranya tersiksa karena gadis Lingon bernama Karin.”

Dubudeng tertawa. “Aku tidak mengerti, coba jelaskan mengapa selera tersiksa padahal tadi kau memuji kecantikan paras dan tubuhnya.”

Tude menenggak saguer, pikirannya mulai diluar kontrol. ”Bagaimana tidak, kau melihat kecantikan yang begitu sempurna, yang merangsang kejantanan. Tetapi kau tak mungkin memilikinya, apakah itu bukan sesuatu yang menyiksa seleramu? Kita semua kalah oleh Kalai, lelaki buruk rupa yang menari dengan kaku dan bodoh.”

“Memang benar kata Tude. Kini aku tertarik pada Karin. Ingin kudapatkan dia, dimulai dengan menari dengannya malam ini, akan kujadikan dia istriku.“ Ujar Jangu.

Tude memotong, “Kamu gila. Kamu mengkhayal Jangu, gadis itu istri Kalai.”

“Dia bisa cerai, masih ada kesempatan untuk siapa saja merebutnya.” Jangu masih ingin merebut wanita Lingon itu meski pernah dihajar Tetetua. 

Dubudeng membenarkan pendapat Jangu. “Benar kata Jangu, lagipula gadis yang cantik seperti Karin tidak pantas didapatkan lelaki seburuk Kalai.”

“Pantasnya untuk siapa, untuk Jangu?” Tude menggoda Jangu.

“Tidak untuk siapa-siapa, Karin hanya pantas untuk aku.” Dubudeng menepuk dadanya yang bidang tebal.

Kalian gila! Apa yang kalian perebutkan, Karin itu  istri Kalai.“ Tukas Tude.

“Aku hanya ingin menari dengan Lingon montok itu.“ Kata Dubudeng. “Malam ini dia milik aku.“  

Jangu tertawa. “Mana ada cara demikian, dia bebas diperebutkan.”

Dubudeng menatap tajam. ”Kau menantang aku, Jangu?”

Jangu melihat kesungguhan di mata Dubudeng, ia menyahut seenaknya. “Kita saudara sepupu, tapi kalau mau coba-coba boleh saja, tapi jangan sekarang, malam ini aku hendak menari dengan Karin dulu.”

Jangu telah melempar dadu, dia ingin Dubudeng membentur Kalai. Ingin tahu kekuatan Kalai sebelum dia sendiri membenturnya. Jangu meraba brewok tipis di pipi. “Tergantung Dubudeng malam ini. Dia kurang bisa menahan diri, aku yakin dia akan mencaplok umpanku.“ Bisik hati Jangu.

Tidak salah analisa Jangu.

“Tunggu, aku yang akan menari dengannya,” Dubudeng menepuk daun meja.

Jangu menatap Dubudeng dan tersenyum sinis. Sengaja membakar amarah petarung itu. ”Cerita orang, Kalai telah membunuh Berebere.“

Tude mengerti maksud Jangu, sengaja menambah api. ”Hati-hati Dubudeng.”

Sepasang mata Dubudeng melotot. “Apa maksudmu dengan hati-hati?”

Tude tertawa, sebagian mabuknya hilang. “Ah kau cepat marah, maksudku, Kalai punya mantra kuat sehingga seorang yang datang dengan amarah akan hilang marahnya, jika  terjadi demikian kau bisa mendapat malu, jadi hati-hatilah, teman.”

Dubudeng menatap ke arena tari, melihat kegembiraan Karin, makin panas hati dan kepalanya. “Aku tahu maksud kalian, tidak perlu membakar marahku. Membunuh Berebere, itu cerita bohong. Malam ini aku akan coba kekuatan si pembunuh Berebere.“

Senyum licik menghiasi wajah Dubudeng. Dia akan memaksa Kalai memilih, menelan malu atau bertarung. Dia yakin Kalai akan melawan. Dan dia akan menghantam Kalai sampai merayap di tanah. Dubudeng bangkit dari duduknya, melangkah lebar. Untuk dua tiga langkah tubuhnya oleng sebab pengaruh saguer kemudian langkahnya tetap dan mantap. Tubuhnya tinggi besar dengan bahu lebar tampak jelas diantara beberapa pasangan yang sedang menari.

Kalai tidak tahu tetapi Karin melihat lelaki itu mendekat. Tadi pun dia mendengar teriak dan cemooh paling keras dari meja Dubudeng. Firasatnya mengatakan akan terjadi perkelahian, lelaki itu mencari gara-gara. Dia kenal tiga orang itu terutama Jangu.

Terdengar suara serak Dubudeng. “Kamu tidak bisa menari, Kalai. Merusak pemandangan. Minggirlah, aku mengganti kamu.” Suaranya keras.

Tidak menyangka teguran sekasar itu, Kalai menghentikan langkahnya. Memang dia tidak bisa menari, Dubudeng benar, tetapi ada maksud tertentu lelaki ini yang ingin diketahuinya. Apakah dia sengaja mencari perkelahian?

Kalai menahan diri.

Pasangan di sekitar berhenti menari, alat bunyi dan suara penyanyi juga berhenti. Suasana hening. Orang menanti apa yang akan terjadi.

“Ah caramu tidak baik, mintalah kepada istriku dengan baik-baik, dia bersedia atau tidak.” Suara Kalai datar, tidak bisa ditebak kandungan emosinya.

Kalai menatap tajam. Karin bingung, menuruti naluri sebaiknya mengabulkan permintaan Dubudeng supaya kekasihnya tidak terlibat perkelahian. Dia tidak ingin suaminya mendapat kesulitan. Dia menatap mata Kalai, dan mata itu telah mengubah pikirannya. Mata itu berkilat, tajam dan menguar panasnya api.

Mendadak gadis ini mengerti maksud kekasihnya. Kalai tidak mau berkelahi. Juga tidak mau Karin mengabulkan permintaan kasar Dubudeng. Kini dia tahu apa yang harus dia katakan.

“Tidak, tidak, aku tidak mau menari dengan kamu. Aku hanya menari dengan suamiku, dia lelakiku.” Suara Karin tidak keras tetapi karena suasana hening mencekam, ucapannya didengar semua orang.

            Dubudeng sudah terlanjur, tidak mungkin mundur lagi. Jawaban itu menyulut dan mengobar marahnya. Tangannya menyambar lengan Karin. “Harus! Kamu harus mau.”

            Tangan Karin yang bebas melayangkan tempeleng tetapi ditangkap Dubudeng. Karin meronta dan berteriak. “Lai......”

Kalai sengaja membiarkan, kini merasa saatnya bertindak. Dia tertawa. “Petarung menghina perempuan yang sudah punya suami. Dubudeng kamu tidak punya malu.”

Semua mata tertuju ke arena tari yang mendadak telah kosong. Semua orang menepi. Dubudeng melepas pegangannya sehingga Karin bebas. Gadis ini tahu kemana harus menghindar, pelan-pelan mundur dari dua lelaki yang berhadapan.

Tak ada pemisah antara dua petarung itu.

Keduanya sama tinggi, tetapi badan Dubudeng lebih besar dan lebih gempal. Keduanya tegang. Saling menatap dengan mata sarat amarah, otot-otot menegang.

Kalai tenang, menanti dengan kewaspadaan menyeluruh.

Dubudeng menatap penuh kebencian. Kesempatan datang. Malam ini dia harus menghancurkan Kalai.

Sekonyong-konyong dia menyerang. Tendangan kerasnya ditangkis Kalai dan dua pukulannya menghantam lengan berotot Kalai yang menutupi wajahnya.

Ketika pukulan ketiga datang, Kalai merunduk sambil maju memukul. Dua pukulan jeb dilepas yang mengena hidung dan kening Dubudeng. Lalu disusul pukulan ketiga yang sangat keras karena dilepas dengan niat mengakhiri tarung. Kalai memukul sambil melangkah maju, menarik bahunya ke belakang lalu melepas pukulan lurus ke depan. Tehnik pukulan itu bertahun-tahun dia latih berdua Kipatoma ayah dan gurunya.

“Dassss...!“ Kepala Dubudeng tersentak ke belakang.

Dubudeng merasa tubuhnya terangkat dan jatuh di tanah. Sesaat dia melihat bintang berpijar, pecahan bintang berputar di kepalanya. Saat berikut dia sadar telah terbaring di tanah.

Dia mencoba berdiri tetapi tenaganya lenyap. Ia merasa darah menetes dari wajahnya, mulutnya berdarah terasa asin. Dua giginya goyah. Hidung berdarah, kening pecah mengeluarkan darah.  

Saat itu juga dia tahu perkelahian telah usai. Begitu cepat dan dia kalah.

Kepalanya sakit berdenyut-denyut. Saat berikut dia mendengar suara ribut-ribut. Setengah memaksa diri dia melihat apa yang terjadi.

Tak pernah diduga, pengantin lelaki melompat memasuki arena, melepas jubah pengantin, melemparnya ke kursi terdekat.

“Kalai, dia bukan lawanmu, hadapi aku.” Suara Ragota lantang.

Kalai diam. Tidak bergerak. Matanya melihat keliling. Karin berada di sisi Mikala  Katina, Ina dan Bido. Lalu dia melihat Ramebete. Matanya menangkap sinar mata memelas Ramebete, seakan berkata-kata jangan permalukan suamiku.

Tiba-tiba terdengar suara Karapu. “Tunggu Ragota, adikmu di pihak yang salah.”

Kalai menatap Ragota, tetap waspada. Dia melihat Karapu, Tutumole, Mabungkas menghampiri arena.

“Cukup sudah, aku tak mau tarung.“ Suara Kalai lirih tetapi mantap, tak ada tanda dia takut.

“Pengecut, jangan lari. Lawan aku!“ Ragota berteriak.

( Bersambung eps 29 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com