Lingon Togutil eps 27
Posted on 05 Agustus 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 27
Pernikahan Ramebete masih beberapa hari lagi namun semua telah siap. Perhelatan nikah di pagi hari, pesta muda-mudi di malam hari. Semua dikerjakan para muda-mudi kampung. Mereka bergembira menanti malam pesta.
Bagi Karin kesempatan berhias mengenakan gaun biru Lisabet dan perhiasan Spanyol, dia ingin menunjukkan kepada Malini dan para gadis yang mengolok-oloknya liar dan tidak bisa bergaul bahwa dia lebih dari pantas menjadi teman mereka.
Dia lupa ucapan ibu mertuanya. “Hati-hati melangkah, kecantikanmu memancing niat jahat orang.”
Kabar pernikahan mewah di Waijoi tersiar di beberapa kampung pesisir Timur, dari Minamin di Selatan sampai Hatetabako di Utara. Pernikahan Ramebete, putri kepala kampung Karapu dengan Ragota, warga biasa Waijoi diramaikan pesta meriah. Akad nikah pagi hari dilanjutkan pesta meriah malamnya.
Selama tiga hari menjelang acara pernikahan kampung dijaga ketat. Tidak semua orang bisa masuk keluar kampung. Khusus tamu asing diberlakukan aturan tanya jawab. Sehari menjelang acara nikah, pintu masuk kampung dijaga ketat. Itu perintah Karapu, yang mengerahkan segenap pemuda kampung sebagai pengawal.
Sadar masa lalunya menyimpan banyak musuh, dia tak mau hari nikah putrinya menjadi ajang balas dendam musuh-musuhnya. Karapu juga memanggil beberapa petarung dari pulau Mere yang masih kerabat istrinya, ikut mengawal acara.
Hanya orang-orang yang dikenal bisa masuk kampung. Atau tetamu khusus yang diundang Karapu. Hampir semua kepala kampung pesisir Timur akan hadir seperti dari Gurua, Wasile, Loleba, Dodaga, Subaim. Lolobata dan Hatetabako.
Laki-laki separuh abad itu membanting gelas bambunya. “Ini saatnya, dendam tujuh tahun aku tuntaskan.” Serunya sengit. Enam perempuan muda di dekatnya terkejut sesaat, diam tidak bereaksi. Salah seorang diantaranya, Siki, gadis belia, enambelas tahun, mengelus bahu telanjang lelaki yang lebih pantas jadi kakeknya.
“Apa yang membuat Tuan Raja marah?” Siki berbisik mesra.
Laki-laki itu, Tabale, petarung paling ditakuti di wilayah Kao. Satu tahun belakangan dia malang melintang merambah desa-desa pesisir. Merampok, membunuh untuk harta. Memerkosa, menculik para gadis untuk pemuasan seks. Ilmunya tinggi, tak ada petarung berani membenturnya. Puluhan petarung mati ditebas pedangnya.
Enam gadis itu istrinya. Mereka diculik, dikurung di rumahnya dan diperkosa. Pada akhirnya enam perempuan itu menjadi istrinya. Tidak punya pilihan. Pulang ke rumah hanya akan menerima aib dan malu. Belum tentu orangtua mau menerima mereka. Jadilah mereka istri Tabale si Tuan Raja.
Rumah Tabale berada dalam lingkungan pemukiman Togutil. Ada perjanjian kerjasama dan saling melindungi antara Tabale dengan kepala suku Togutil, Kayampuni.
Hari itu Tabale menerima kabar pernikahan Ramebete dengan Ragota di Waijoi. Pesta kawin meriah. Itu yang memancing amarahnya.
Tabale tak pernah melupakan kejadian tujuh tahun silam. “Aku ingin melihat Karapu menderita. Aku akan membunuh menantunya, menculik Ramabete, memerkosa dia, setelah yakin hamil tujuh bulan, aku antar Ramebete pulang ke pangkuan ayahnya. Betapa sakit hatinya bahwa putrinya mengandung anak Tabale. Ha.. ha.. ha..” Tertawanya menggema dalam rumah.
Tabale punya dendam terhadap Karapu. Tujuh tahun lalu Tabale masih menjadi pembantu Karapu yang waktu itu berdagang minuman keras. Membeli dari kapal asing dan menjual ke warung-warung pesisir.
Suatu hari Karapu menangkap basah perbuatan Tabale menciumi badan Ramebete yang waktu itu berusia sebelas tahun. Karapu marah, memukul sejadi-jadinya. Tabale tidak melawan, selain takut juga tak mampu imbangi kehebatan tarung majikannya. Tubuh Tabale berlumur darah. Dalam keadaan pingsan dia dibuang ke hutan. Tetapi dia selamat, tidak mati.
Tabale berkelana sambil memendam amarah dan dendam, dia belajar ilmu pohon, mendewakan Jou Guwo[1], raja dedemit di hutan Kao. Jou Guwo adalah hantu tertua dan menjadi sesembahan banyak petarung Togutil maupun pesisir.
Hanya mereka yang tidak percaya Tuhan, kaum ateis yang menyembah Jou Guwo. Imbalan yang diberikan raja iblis adalah harta kekayaan atau kekuasaan. Tabale memilih bimbingan ilmu tarung. Dengan ilmu itu dia bisa memperoleht kekayaan, kekuasaan dan ketenaran.
Lima tahun Tabale mendalami ilmu tarung.
Tahun keenam mulailah Tabale mengibar benderanya sebagai manusia berhati iblis, tak punya rasa kasihan, pekerjaannya membunuh, merampok dan memerkosa. Dia
mengawali gebrakan di kampung Dodaga, dia menggunakan sihir lalu menerobos kamar pengantin, membunuh pengantin pria dan memerkosa pengantin wanita di tempat tidur yang sepreinya bersimbah darah pengantin pria.
Pagi hari dia mencabut sihir, banyak orang melihat dia keluar dari rumah pengantin dengan badan berlumur darah. Mereka masuk kamar mendapatkan mayat pengantin pria dan pengantin wanita telanjang bulat. Gadis malang itu berteriak-teriak histeria, sejak hari itu si gadis malang hilang ingatan, gila.
Orang-orang mengejar Tabale.
Terjadi tarung. Enam petarung Dodaga tewas. Lainnya lari.
Ayah pengantin wanita menyewa Patadua, petarung bayaran termahal waktu itu. Tabale memang gila, sadis dan gila. Dia justru mendatangi Patadua di pelabuhan Dodaga. Terjadi tarung.
Tarung tidak lama, Tabale menebas leher Patadua.
Dia menghirup darah korban. “Namaku Tabale.” Teriaknya.
Kabar itu tersiar cepat seantero kampung pesisir seluruh Kao. Sejak itu nama Tabale terkenal sebagai monster yang ditakuti.
Acara nikah selesai. Pengantin duduk di pelaminan diapit Karapu dan Seruni serta Lakopar dan Sasati. Silih berganti tamu mengucap selamat sambil memberi hadiah. Seorang lelaki berpakaian serba putih, jubah dan kopiah putih mendekati pelaminan.
Wajah Karapu pucat pasi.
Tabale tersenyum. “Aku sudah insyaf, lihat pakaianku, aku baru pulang dari Haji. Orang memanggilku tuan haji. Maksudku baik, membawa hadiah kalung emas untuk pengantin wanita, dan doaku semoga hidup bahagia.”
Karapu tidak habis pikir, bagaimana cara Tabale menerobos penjagaan, benarkah sudah insyaf dan sudah haji. Dia hendak mencegah Tabale salaman dengan putrinya demi keselamatan Ramabete, tetapi Tabale berkata dengan lemah lembut dan sopan.
“Aku tidak menyentuh wanita, haram hukumnya. Jadi sampaikan hadiah ini kepada putrimu” Dia menyodor kotak kecil, membukanya dan memperlihatkan kalung emas berkilau.
Karapu takjub akan tindakan Tabale, mengucap. ”Terimakasih.”
Tabale melangkah pergi dan duduk di kursi tamu. Berbaur dengan para tamu. Namun tetamu yang didekatinya, tidak betah duduk lama. Mereka menyingkir dari petarung yang terkenal jahatnya itu.
Seruni berbisik. “Dia Tabale, penjahat itu? Sudah naik haji?”
Karapu berbisik. “Aku tidak percaya!”
Tidak jauh dari pelaminan, Tutumole duduk bersama istrinya Bido dan Ina.
“Itu Tabale. Penjahat paling kejam. Pemerkosa dan pembunuh.” Tutur Tutumole.
“Berpakaian haji, benarkah dia haji?” Bido bertanya.
“Dia penyembah setan bagaimana mungkin haji? Entah apa maksudnya datang, bagaimana mungkin dia berteman dengan Karapu?” Ujar Tutumole.
“Tutu, tadi waktu Karapu salaman dengan orang itu, wajah Karapu pucat apakah dia takut?” Bido memandang Tabale yang duduk di deretan tengah kursi tamu.
“Mungkin Karapu merasa adanya ancaman terhadap putrinya.”
“Barangkali ada pemusuhan antara mereka berdua?” Ina memotong.
“Pasti dendam lama. Hal yang biasa di tanah Kao. Darah bayar darah.”
Tabale duduk sambil memandang keliling. Tak lama kemudian dia melangkah keluar pagar. Dia berhenti di kedai penjual mainan anak.
“Kepala kampung ternyata orang kaya. Seharusnya dia bikin rumah untuk putrinya, hadiah sebagai tanda sayang.” Kata Tabale.
“Sudah. Itu rumah baru untuk putrinya.” Ibu penjual menunjuk rumah Ramebete.
“Rumah mungil yang bagus.” Kata Tabale sambil melangkah menuju pantai dan perahu sewaan yang menantinya. Dia tersenyum puas. “Ramebete kini lebih cantik dan montok. Layak menjadi istriku.”
Selepas salat Isya pekarangan rumah Karapu dipenuhi para gadis dan pemuda. Kursi dan meja tersebar di pekarangan. Ibu-ibu sibuk menata meja dengan berbagai macam masakan kambing, ayam, sapi dan ikan laut.
Pernikahan Ramebete dengan Ragota dihadiri banyak tamu. Tetamu bukan hanya warga Waijoi juga warga kampung tetangga, tua muda, lelaki wanita khususnya pasangan muda mudi. Seperti biasa tradisi pagi hari nikah, malam hari pesta makan minum. Tidak semua pernikahan diwarnai pesta makan minum, bagi warga yang miskin pernikahan diselenggara sederhana.
Malam itu semua warga bergembira terutama para muda mudi. Setelah dua hari bekerja mempersiapkan pernikahan, mereka meyambut malam gembira. Makan minum sembari ngobrol namun yang paling ditunggu adalah acara baronggeng[2]. Muda-mudi menari dan menyanyi sambil mencari jodoh.
Di serambi rumah empat tetua duduk menikmati hidangan dan menyaksikan pesta gembira anak-anak muda. Kepala kampung Karapu, kapitan adat Mabungkas, Sousoulol Tutumole dan Ustad Harun ikut gembira. Tutumole usianya termuda diantara mereka namun dihormati sebagai salah seorang tetua adat.
Belasan obor di sekeliling pekarangan serta sinar bulan purnama membuat pesta makan minum dan baronggeng kian semarak. Di sana sini pasangan muda mudi duduk bersama menyantap makanan sambil ngobrol dan berbisik mesra.
Pengantin Ragota dan Ramebete duduk bersanding di pelaminan menyaksikan teman-temannya makan minum dengan gembira. Keduanya tampak bahagia.
Acara malam itu diawali makan dan minum. Ibu-ibu berada di belakang rumah menyediakan hidangan, tak seorang gadis pun yang bekerja malam itu. Para ibu memberi kesempatan putri-putri mereka bergembira.
Tak lama kemudian beberapa perempuan membawa tabung berisi saguer dan alat musik. Muda-mudi menyambut dengan tepuk tangan, siulan dan teriakan. Beberapa orang saling tunjuk dengan berteriak lalu satu demi satu mengambil alat bunyi dan tabung saguer. Puncak acara yang dinanti-nanti, menikmati malam bersama orang yang dicintai sambil menari.
Empat pemuda maju memainkan alat musik dan menyanyi. Beberapa pasangan menari di tempat terbuka yang tersedia. Sebagian masih menanti saguer menghangatkan badan. Di pelaminan sepasang pengantin menonton dengan senang dan bahagia. Mereka saling berbisik mesra. Ragota menunjuk ke arah Kalai dan Karin.
“Bete, sebenarnya aku cemburu kepada Kalai, mungkin ayahmu menginginkan Kalai sebagai menantu.“
“Tidak mungkin. Sebab ayah baru mengenalnya. Lagipula aku berhak memilih, dan ayah ikut mauku.” Ramebete melanjutkan dengan bisikan menggoda.
Banyak lelaki menginginkan Ramebete. Dia putri kepala kampung yang terkenal hartawan. Alasan kedua, dia cantik. Ragota beruntung. Apalagi diam-diam dia mengincar jabatan kepala kampung. Sebagai menantu dia punya peluang besar mewarisi. Memang jabatan tersebut tidak diwariskan tetapi semua bisa diatur.
“Apakah kau mencintaiku?” Ragota bertanya. Ragota tampan bertubuh atletis, banyak gadis di kampung menyukainya.
“Kini aku istrimu. Aku akan setia padamu.“ Bisik Ramebete.
Pasangan demi pasangan silih berganti menari. Tabung kosong diganti tabung penuh. Minuman keras mulai memengaruhi sebagian orang.
Pesta makin meriah. Tertawa, teriakan, siulan berbaur olok-olok dan canda, suara nyanyi dan bunyi tetabuan makin menambah suasana gembira. Saguer mengalir tanpa henti seperti tidak pernah habis persediaannya. Pasangan-pasangan yang menari silih berganti duduk dan menari.
Di meja yang posisi agak pojok dekat pagar pekarangan Kalai duduk berdua Karin. Tidak jauh dari mereka, Mikala bersama istrinya Katina menemani Bido dan Ina. Malam itu Bido dan Ina tak bisa duduk berdampingan suaminya. Karena Tutumole sebagai sousoulol dipaksa duduk bersama para tetua kampung.
Pengaruh saguer memerahkan paras Karin terutama pipinya. Dia tidak terbiasa minum saguer, tetapi khusus malam ini dia menabrak pantangan. “Kalau aku mabuk, kamu harus menggendong sampai di rumah.”
“Pekerjaan yang paling kusukai adalah menggendong kamu.”
“Ada lagi yang lebih kamu sukai…., meniduri aku.” Karin tersenyum menggoda. Mulutnya yang diwarnai gincu merah mempercantik senyumnya.
Kalai gembira, menenggak saguer.
“Ayo kita menari Lai.“
Kalai menolak, alasan tidak bisa menari. Tetapi Karin memaksa.
Malam itu Karin sengaja tampil cantik dengan merias wajahnya, mengenakan gaun hitam hadiah Lisabet, kalung emas, anting-anting emas hadiah Kalai. Semua yang dia kenakan kontras dengan kulit tubuhnya yang putih dan rambutnya yang pirang coklat. Maka tampaklah kecantikannya yang berbinar disiram sinar bulan dan cahaya obor.
( Bersambung eps 28 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







